Ternak Ayam Kampung (1)

Perbandingan:

Dibanding ayam arab, produktivitas ayam kampung memang kalah jauh (ayam arab 70%, kampung 40%).

Namun ayam kampung mempunyai kelebihan karena tidak mengenal penyusutan investasi. Misal, harga modal Rp 18.000/ ekor (usia produktif), maka jika sudah tidak produktif (usia di atas 2 tahun), nilai jualnya masih tinggi, mengikuti harga standar ayam kampung indukan.

Untuk ayam arab, jika sudah tidak produktif (usia di atas 2 tahun), hanya dihargai 30% dari harga beli, atau sekitar Rp 12.500/ekor.


Tata laksana pemeliharaan ayam kampung:


I. Makanan: Per hari untuk 200 ekor (pemeliharaan efektif)

1. Katul 16 kg (150 ons = per ayam 0,75 ons) = Rp 16.000.

2. Sayuran + cacahan bekicot/wedhel ikan/ikan buangan (plus obat/vitamin) = Rp 7.500 (bisa dicarikan alternatif pakan lainnya).

——————–Jumlah biaya per hari Rp 23.500


II. Hasil: Produktivitas 40%, maka per hari hasilkan = 80 butir. Harga jual per butir Rp 550 (harga jual di bakul; kalau dipasarkan sendiri ke konsumen langsung bisa mencapai Rp 650/butir)

——————- Jumlah hasil total per hari = 80 x Rp 550 = Rp 44.000

Hasil per hari = Rp 44.000 – Rp 23.500 = Rp 20.500


Kandang:

Untuk ayam 200 ekor diperlukan 4 blok kandang yang dibuat los. Masing-masing blok berukuran 2,5 x 4 m terdiri dari ruang semi-tertutup (bisa ditutup rapat bagian depan dengan plastik goni/kain dsb).

Ruang semi-tertutup ini diperlukan untuk tempat bertelor dan tidur ayam.

Di samping itu diperlukan arena umbaran dengan luas 10 x 8 m (80 m2). Luas 80m2 itu meliputi juga kandang semi tertutup yang ada di dalam lingkar arena umbaran.

Pada kandang semi tertutup digunakan lantai tanah dengan ditebari kapur (untuk pemanas ruang dan membunuh bakteri/jamur, dan mencegah bubul).

Di dalam kandang tersebut, dipasang bambu seperti tangga besar, tempat ayam tidur dengan cara nangkring. Pada salah satu sisinya, dipasangi kotak panjang besar yang di dalamnya diberi sekam, tempat ayam bertelor.

Untuk keamanan: Batas arena umbaran dan lingkungan luar dibuat pagar permanen dari pasangan batako setinggi 3,5 m. Kemudian diberi pintu yang bisa dikunci rapat.

Dampak lingkungan:

Kotoran ayam kampung relatif tidak berbau, apalagi di dalam kandang ditebari kapur yang membuat kotoran ayam relatif cepat kering.

Suara ayam relatif tidak berisik.

Ada pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

40 pemikiran pada “Ternak Ayam Kampung (1)

  1. berternak ayam kampung ataw pun ayam bangkok secara intensif ,peluang pasarnya cukup menjanjikan tapi ,ke untungan saya tidak mencapai optimal,dikarnenakan tidak seimbangnya harga PAKAN yang terlalu tinggi.
    tolong bung bagaimana solusinya…???

    Suka

Komentar ditutup.