Harga burung

Harga Burung

Pertanyaan:

Ada yang tahu nggak apa sebabnya harga burung AM dan AK di “sana” lebih mahal?

Jawab:

Saya tidak tahu yang disebut “di sana” itu di mana, cuma saya kira2 itu di daerah Nusa Tenggara atau Bali. Untuk AK (Nusra) atau AM (Bali), kalau kita beli di sana langsung (terutama yang sudah bunyi dan jinak), harganya memang relatif mahal. Hal2 yang saya ketahui, antara lain adalah soal jumlah burung yang dibeli (juga penjuualnya) dan juga berkaitan dengan musim (musim beranak).

Kalau kita beli satu atau dua burung dari sana memang dibandrol mahal, hampir sama atau malah lebih mahal dibanding di Jawa. Sebab, biasanya, yang punya burung cuma satu atau dua ekor (simpanan) bukanlah orang2 yang berburu anakan (untuk AK) di hutan. Jadi, si empunya itu juga adalah penggemar/penghobi atau minimal pedagang lokal. Juga, burung itu adalah burung pilihan sebelum “rombongan”-nya di bawa ke Jawa. Jadi tidak mengherankan kalau harga relatif sama mahalnya dengan di Jawa. Apalagi, mereka tahu yang beli adalah penghobi asal Jawa…uhhh…mereka lebih jual mahal. Sementara itu, para pengepul burung dari Jawa (Jakarta, Sby, Smg dll), kalau membeli burung langsung dari para pemburu/penangkap AK di hutan sana juga dalam jumlah banyak karena memang sedang musim. Para pemburu tidak mau menahan burung mereka lama2 karena selain berisiko mati juga perlu memberi makan yang biayanya nggak murah. Karena beli dalam jumlah banyak dan pas musim, maka harganya sangat2 murah dan sampai di Jawa pun harganya masih murah menurut ukuran para penghobi/pembeli kayak kita2 ini. Para pengepul ini tidak akan pergi ke Nusra sekadar untuk membeli satu-dua ekor apalagi pas tidak musimnya sebab hitungan harganya nggak akan masuk. Sama halnya dengan kasus AM. Untuk diketahui, AM asal Bali kebanyakan adalah hasil semi-penangkaran. Yakni, ada daerah tertentu yang memang sebagai wilayah perkembang biakan AM. AM di sana beranak-pinak setahun sekali dan dari satu generasi ke generasi tidak pernah pindah-pindah hutan/tempat. Jadi, masing2 pemilik kaplingan kebun/ladang/hutan seakan-akan memiliki “penangkaran hutan” untuk AM. Mereka, setiap tahun, “memanen” anakan AM dari kebun/hutan2 mereka masing2, yang satu dengan yang lainnya nggak akan “main jarah” (kayak di Jawa?). Kalau pas musim, satu kawasan ya panen semua dan harganya bisa mejadi murah, apalagi yang beli sana adalah orang2 lama (pedagang langganan).

Mengapa AM di sana tidak punah meski setiap tahun dipanen? Itu karena para pemilik hutan itu bukan orang2 serakah yang memanen semua anakan AM. Pada setiap sarang, hanya diambil satu atau dua ekor (kalau beranak 3 diambil 2, kalau beranak 2 diambil satu). Dengan cara seperti ini, si indukan AM tidak merasa terganggu karena (mungkin) beranggapan bahwa anaknya yang dua (jika beranak 3) atau yang satu (jika beranak 2), jatuh dan mati atau dimakan tikus hutan dll. Oleh karena itu, tahun berikut mereka pasti akan datang lagi ke tempat itu untuk beranak lagi. Demikian kiranya sekelumit cerita yang bisa saya sharingkan di sini. Barangkali ada kawan lain yang bisa menambahi.

(Jawaban atas pertanyaan Om Fortuna di milis BBC)

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

About these ads