Solo Intrigue (11): Akankah Huru-hara Solo Terulang Lagi?

Krisis ekonomi 1997 telah menyebabkan adanya ketidakpercayaan kepada pemerintah. Dampak dari depresiasi rupiah yang tinggi telah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok meningkat semakin tinggi dan ada kekhawatiran terjadinya kelangkaan. Situasi ini mengundang aksi mahasiswa Surakarta dari organisasi intra dan ekstra kampus untuk melakukan demonstrasi.
Momentum yang paling pas adalah menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR Maret 1998, di mana mahasiswa menolak Soeharto menjadi Presiden kembali. Mahasiswa semakin kecewa, manakala ternyata MPR tidak memperhatikan sebagian besar suara rakyat dan memilih untuk mengangkat kembali Soeharto sebagai Presiden pada 11 Maret 1998. Demonstrasi mahasiswa semakin menguat dengan tujuan satu supaya MPR menurunkan kembali Presiden Soeharto.
Di Surakarta pada 17 Maret 1998 terjadi insiden para demonstran mahasiswa dengan aparat yang menyebabkan 3 mahasiswa luka berat dan 30 lainnya luka ringan. Pada 25 Maret 1998, unjuk rasa mahasiswa di UNS mengakibatkan 35 mahasiswa luka-luka. Insiden serupa terjadi pada demonstrasi 15 April 1998 di UNS, 17 April 1998 di UNS, 7 Mei 1998 di UMS, dan 8 Mei 1998 di UNS.
Aksi unjuk rasa mahasiswa mencapai puncaknya ketika terjadi peristiwa di Trisakti yang menelan 4 korban jiwa pada 12 Mei 1998. Oleh sebab itu, dilakukan demonstrasi mahasiswa besar-besaran dari kampus UMS di Pabelan. Pada mulanya demonstrasi hanya di depan kampus UMS, namun rupanya-rupanya banyak masyarakat yang akan bergabung dihalang-halangi oleh aparat. Massa yang diblokir itu, berbalik memasuki Kota Surakarta melalui Jl Slamet Riyadi melakukan tindakan kerusuhan seperti melempar-lempar sampai membakar gedung dan pertokoan yang kebetulan sebagian besar dimiliki oleh pengusaha Tionghoa.
Kerusuhan terjadi selama tiga hari berturut-turut mulai 14 Mei sampai 16 Mei menyebar ke seluruh wilayah Surakarta dan sekitarnya. Obyek-obyek yang dijarah dan dibakar meliputi gedung, bioskop, pusat perbelanjaan, toko strategis di perempatan jalan, bahkan rumah Ketua MPR Harmoko di kompleks perumahan mewah Solo Baru juga menjadi sasaran massa.
Sampai disini, pertanyaan kembali kepada pertanyaan di awal tulisan tentang Solo Intrigue ini: Mengapa di Solo banyak intrigue yang kemudian meletupkan rentetan kerusuhan yang menelan korban harta dan jiwa? Selama ini, setidaknya ada dua pendapat.
Pertama, terdapat anggapan bahwa kerusuhan di Surakarta terjadi secara periodik siklus 10 sampai 15 tahunan. Pendapat ini menjelaskan bahwa kerusuhan seperti memori kolektif yang diwariskan secara turun-temurun antar generasi. Generasi terbaru akan melakukan kerusuhan, karena mereka mempunyai memori ketika ia masih kanak-kanak. Asumsi yang mendasari pendapat ini adalah bahwa konflik horisontal di Surakarta merupakan sesuatu yang laten yang setiap saat dapat meletus.
Pendapat yang kedua menyatakan, hampir semua kerusuhan di Surakarta tidak dapat dilepaskan adanya pihak luar yang bermain. Ini menunjukkan bahwa Kota Surakarta oleh sementara pihak eksternal dianggap masih mempunyai kekuatan sebagai barometer sosial politik di daerah Jawa Tengah. Spekulasi-spekulasi tentang alasan mengapa sering munculnya kerusuhan di Kota Surakarta tetap beredar di kalangan akademisi dan masyarakat.
Menurut saya, berdasar rentetan sejarah Solo sejak jaman kerajaan Mataram Islam, intrik-intrik yang terjadi di Solo yang berbuah aksi kekerasan, pembunuhan dan huru-hara, adalah karena ada benturan kepentingan antar-elite politik, sosial, maupun ekonomi, baik dalam skala lokal maupun nasional. Sementara itu, rakyat bisa digerakkan untuk terlibat dalam intrik ketika mereka merasakan tekanan sosial-ekonomi yang berat. Dengan ikut dalam sebuah gegeran dan huru-hara, mereka berharap bahwa hal itu akan menjadi titik balik ke arah situasi dan kondisi kehidupan yang lebih baik.
Lantas, apakah gegeran di Solo bakal terulang lagi? Ya, jika para elite politik baik lokal maupun nasional tidak tahu diri dan karenanya sampai hati mengorbankan kepentingan rakyat untuk kepentingan diri sendiri. Ya, jika rakyat terlalu lama berada dalam himpitan dan tekanan berat secara sosial-ekonomi.
(Habis)

Sumber: Laporan penelitian Evolusi Ekonomi Kota Solo, PPEP FE UNS

Pernah saya kirim untuk wikimu.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini