Pelatihan awal merpati balap sprint: Pola terbang

Melatih merpati balap sprint harus dengan cara yang benar (sumber foto sripoku.com)

Menyambung tulisan mengenai mencetak burung merpati balap sprint yang saya ambilkan dari Trubus, sekarang   saya akan menuliskan lanjutannya, yakni melatih merpati balap sprint. Hal ini juga sangat penting   karena meski kita punya merpati anakan jawara, kalau dia tidak dibesarkan dalam pelatihan yang baik dan benar, maka mustahil bakal menjadi jawara.

PELATIHAN:

Sehari setelah teloran kedua atau sebulan kemudian (baca tulisan di sini), merpati balap sudah bisa berlatih di halaman atau lapangan. Namun bila pasangan betina belum bertelor, disarankan tidak langsung mencoba si jantan berlatih. Karena keduanya pasti belum ngeket.   Jika dipaksa berlatih, si jantan bakal kabur.

Umumnya waktu latihan dipilih sesudah merpati balap dijemur, sekitar pukul 11 siang. Latihan itu dimulai dengan menyiapkan 2 kandang kecil. Msing-masing kandang dipisahkan 5-10 meter. Mauskkan kedua merpati balap ke dalam kandang, Si jantan kemudian dibiarkan lepas sesaat untuk beradaptasi dan kemudian menghampiri betina.

Mintalah salah satu perawat untuk kembali membawa si jantan ke kandang lagi. Si jantan dapat digoda kembali. Caranya kelepakan betina sampai sayapnya mengembang penuh. Jika giring, si jantan akan terbang kembali mendatangi betina. Latihan ini dilakukan 1-2 hari dengan frekuensi 4-5 kali.

Bila si jantan semakin giring, biasanya setelah teloran ke-3, jarak terbang ditambah sekitar 20-50 meter. Beberapa penangkar memilih langsung 20-50 meter. Hal ini dapat dilakukan asal si burung cerdas. Latihan ini diberikan selama 3-4 hari dengan frekuensi antara 2-5 kali.

TERBANG LURUS

Tujuan terbang pendek jarak 5-1- meter atau 20-50 meter agar si burung mampu terbang lurus. Bila tidak, si jantan akan terbang ke atas, berputar-putar dulu sebelum hingga di betina.

Cara lain agar peluang burung terbang lurus semakin besar, sang joki perlahan-lahan mundur teratur sampai jarak tertentu. Contoh jarak awal pelepas dan joki 10 meter, saat si jantan mulai dilepas, sang joki sudah berjarak sekitar 15 meter.

Pada latihan itu posisi si joki menangkap burung tidak boleh sembarangan. Ia harus jongkok supaya burung terbiasa terbang lurus dan rendah sekitar 2-3 meter dari tanah. Usahakan merpati ditangkap di tanah bukan hinggap di tangan. Jika sejak awal dilatih ditangkap di tangan dengan posisi si joki berdiri, si merpati akan terbang lebih tinggi lagi. Dampaknya di lomba sang joki akan menangkap merpati dengan cara menjambret atau populer dengan sebutan barongsai.

Namun seringkali kesalahan fatal dilakukan oleh joki. Misalnya tangan kiri yang akan menangkap posisinya di atas betina. Akibatnya pandangan si jantan akan terhalang sehingga mengurangi kecepatan terbang. ia terlihat ragu-ragu untuk mendarat. Lebih baik posisi tangan kiri ada di belakang tangan kanan.

POLA TERBANG

Jika merpati mampu terbang lurus, jarak latihan ditambah lagi sampai 200-400 meter. Saat itu karakter burung sudah terlihat. Hal itu tampak saat bertemu lawan tanding. Ia bisa memukul dari atas atau zigzag mengganggu lawan. Ada pula yang cenderung mengusir lawan dengan cara   mengepak sayap. Kebiasaan itu memang sifat bawaan yang tidak bisa dilatih.

Setiap merpati balap memang mempunyai pola terbang yang berbeda. Pola itu berpengaruh pada kecepatan terbang si merpati. Ada 4 pola umum yang dimiliki merpati balap. Namun pemakaian pola ini tergantung sifat bawaan si merpati.

1. Terbang datar lurus ke depan

Pola ini paling disukai joki. Banyak merpati balap handal memiliki cara terbang ini. Kekuatan otot sayap merupakan kuncinya. Ia harus kuat lantaran tridak memanfaatkan gratvitasi bumi sebagai bantuan. Jika otot tidak prima, merpati balap akan kehabisan tenaga dan napas.

2. Terbang menurun kemudian mendatar lurus ke depan

Pola ini menghasilkan kecepatan yang lebih rendah karena perlu waktu untuk menukik sesaat. Cara ini baru efektif dipakai pada lintasan pendek yang mengandalkan keseimbangan badan, reflek sayap dan ekor.

3. Terbang zigzag.

Pola ini jarang dipakai oleh merpati balap lantaran butuh keseimbangan dan refleks tinggi. Cara terbang ini memanfaatkan sudut zigzag untuk memperkecil tekanan angin ketika terbang melawan angin.

4. Terbang melambung dan meluncur ke bawah

Pola ini serupa cara elang memburu mangsa. Tenaga lebih sedikit dikeluarkan. Pasalnya, luncuran awal terbantu oleh gravitasi bumi. Pakem ini mampu mengimbangi terbang datar lurus pada lintasan panjang. Namun tidak efisien pada lintasan pendek lantara ada waktu terbuang ketika melambung.

(Bersambung ke tulisan berikutnya klik di sini)

Ingat kawan, kalau kawan pusing karena merpati balap giring tidak maksimal dan kurang ngeket, kini ada solusi pintar. Klik saja di sini.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

About these ads