Burung dari alam burung paling mahal yang kita pelihara

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK... CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Oleh : Ige.Kristianto (Yayasan Kutilang Indonesia)

Pengantar: Berikut ini adalah sebuah artikel yang ditulis oleh aktivis lingkungan hidup dan konservasi burung, yakni Om Ige.Kristianto, dari Yayasan Kutilang. Sebuah pemikiran yang pantas kita renungkan dan kita diskusikan bersma. Om Kicau.

Ige Kristianto

Saat ini berbagai jenis burung hasil tangkapan alam, seperti kacamata, cabean, berbagai jenis kolibri, ciblek, prenjak, cipoh, dan masih banyak lagi sering kita temukan di pasar dengan harga yang sangat-sangat murah, yaitu pada kisaran lima ribu sampai lima ratus ribu rupiah. Ini terjadi karena kita tidak pernah memberikan penghargaan pada nilai-nilai tidak langsung dari keberadaan burung tersebut di alam.

Kita mungkin sekedar hanya pura-pura tidak tahu bahwa burung kacamata, ciblek, prenjak, dan cipoh misalnya adalah burung pemakan ulat yang sering menjadi hama berbagai jenis tanaman buah atau juga bahwa burung kolibri adalah burung yang membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman.

Ketika burung tersebut kita beli dan kita tempatkan dalam sangkar di rumah kita sama halnya kita menghilangkan peran burung tersebut untuk menjalankan fungsinya. Ketika fungsi ini tidak berjalan, maka para pemilik tanaman buah akan menurun bahkan bias jadi gagal panen. Pada titik ini kita tidak pernah merasa sebagai orang yang telah memberikan kerugian pada orang lain. Sekali lagi kita tidak pernah merasa bersalah atau pura-pura tidak merasa bersalah!

Begitulah komentar salah seorang kawan lama yang baru-baru ini saya temui di dunia maya. Kemudian kami mencoba mencari tahu, mestinya berapakah harga yang tepat untuk seekor burung tangkapan alam. Paling tidak agar ketika saya memelihara burung tersebut, saya tidak perlu lagi merasa bersalah atau harus ikut menanggung kerugian para petani buah kelak di akhirat. Kami mencoba-coba membuat beberapa rumusan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Kita harus memastikan bahwa burung yang kita pelihara tersebut tidak ditangkap dengan jaring, atau jebakan, atau pikat melainkan dipanen dari sarangnya.

Kenapa? Karena berdasarkan beberapa penelitian burung-burung yang hidup di daerah tropis akan segera berbiak kembali ketika anaknya di panen dari sarang.

Bagaimana membedakannya? Hmm… sampai di titik ini kening kami bareng-bareng berkerut. Mungkin dari adanya ring pada kaki burung, sama seperti burung-burung dari penangkaran. Atau beli langsung ke pemburu, jangan beli di pasar atau pengepul dan minta pemburu tersebut untuk menunjukkan lokasi sarangnya. Wah…agak berat memang… tapi mungkin inilah salah satu bagian agar kita terhindar dari kesalahan sebagai perusak lingkungan! Dengan pemanenan dari sarang, kita dapat berharap pada anakan kedua tidak akan dipanen sehingga burung dapat terus melanjutkan proses regenerasinya sehingga tidak akan punah.

2. Lipat duakan harga burung dari alam.

Misalnya kita beli burung seharga lima ribu rupiah, maka uang yang seharusnya kita keluarkan adalah sepuluh ribu rupiah. Kemanakah uang kelebihan itu kita berikan? Uang tersebut dapat kita kumpulkan bersama para pemelihara burung tangkapan alam yang lain untuk melindungi kawasan-kawan konservasi dan mengembalikan kawasan-kawasan hutan yang rusak. Pemerintah telah menentukan beberapa kawasan konservasi dan kawasan hutan lindung. Sebenarnya bersama seluruh warga masyarakat kita telah membayar pajak untuk memastikan kawasan-kawasan hutan tersebut terlindungi, sehingga beragam jenis burung juga dapat terus dilestarikan.

Namun, karena tidak semua pembayar pajak menikmati secara langsung salah satu atau sebagain jenis burung seperti kita, maka kewajiban kita untuk menyumbangkan uang lebih banyak bagi perlindungan keragaman jenis burung tersebut. Uang tersebut dapat kita wujudkan juga dalam bentuk bantuan bibit berbagai jenis pohon yang disukai burung untuk ditanam pada kawasan-kawasan hutan konservasi dan hutan lindung yang telah rusak. Selain untuk meningkatkan penjagaan dan perawatan kawasan-kawan tersebut tentunya.

3. Uang yang terkumpul dari pelipat-duaan harga burung tersebut dapat kita sumbangkan kepada para penangkar yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan penangkaran jenis-jenis burung yang banyak beredar di pasar namun belum bisa ditangkarkan.

Sebagai konsekuensinya, para penangkar ini wajib memberikan pelatihan kepada para penangkar lain yang tertarik untuk menangkarkan burung serupa. Hal ini penting, karena saat ini para penangkar tidak pernah mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun dari pembayar pajak terkait upaya mereka turut melestarikan keanekaragaman jenis burung. Harga burung hasilpenangkaran seringkali menjadi mahal karena diperlukan investasi yang besar untuk uji-coba atau penelitian di awal.

4. Peliharalah hanya burung dari hasil penangkaran.

Pada titik ini kita tidak perlu melipat-duakan harganya untuk disumbangkan bagi kegiatan konservasi dan penangkaran. Kenapa? Karena dengan memelihara burung hasil penangkaran kita pastilah terhindar dari risiko merugikan orang lain, sebaliknya kita akan turut memberikan keuntungan bagi orang lain, senikmat keuntungan yang kita peroleh dari menikmati kemerduan suara burung tersebut setiap pagi dan sore hari di rumah dan saat mereka kita turunkan di lomba.

Demikianlah sekelumit gagasan yang kami bicarakan. Saya berharap mendapatkan masukan yang lebih luas dari sidang pembaca Om Kicau dan agroburung.com. Terima kasih buat Om Duto yang berkenan memuat artikel ini untuk mendapatkan diskusi yang lebih luas dari para kicaumania. Nuwun.

Ige. Kristianto (Yayasan Kutilang Indonesia – www.kutilang.or.id)

Terima kasih atas sumbangan artikelnya Om Ige.
Semoga bisa menjadi bahan perenungan para penghobi burung.Untuk para pembaca omkicau.com, silakan sumbang saran Anda atas artikel ini. Silakan kirim komentar, bisa komentar pendek atau panjang (atau membuat artikel tersendiri dan kirim ke email Om Kicau juga sangat ditunggu).

Kalau belum sempat berkomentar, semoga artikel Om Ige bisa menjadi sebuah “PR” panjang dalam perjalanan kita sebagai penghobi burung.
Salam.

About these ads

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain. Agar tidak tertipu, pastikan Anda membaca artikel ini (klik saja).

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 158.775 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: