Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

Kiki Hoki soal Pasty: Pramuka nggak ada apa-apanya…

“Sekarang mau jalan muter-muter pasar sampai kaki gempor (pegal-pegal, lemas-red) bisa, tak percaya buktikan sendiri,” ujar Yono sambil tersenyum lebar. Yono bersama istrinya sudah lama berdagang jangkrik, pisang, kroto, dan pakan burung lainnya di pasar burung Ngasem, tak jauh dari rumahnya.

Sejak 22 April yang lalu, Yono dan istrinya mesti berangkat lebih awal, sebab jarak yang ditempuh ke tempat jualan memang iebih jauh, sekitar 2 km. Kepindahan itu dilakukan bersama rekan-rekannya sesama pedagang burung yang jumlahnya 287 orang.

Awalnya, Yono dan kawan-kawan merasa keberatan untuk dipindah. “Sebagian dari kami awalnya ragu-ragu dan gelisah. Meskipun dijanjikan lebih bagus dan lebih luas, kami kawatir pelanggan yang selama ini setia dengan kami akan lari atau berpindah,” terang Yono lagi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Adam, pedagang burung yang sering dijadikan tempat mangkal kicau-mania Jogja. Juga ibu Esti dari Warna PS yang menjadi tempat kulakan banyak bakul di Jogja dan sekitarnya.

Semuanya akhirnya memang luluh oleh sosialisasi yang dilakukan intensif oleh Pemkot Jogja, yang punya gawe membangun dan memindahkan pasar satwa, khususnya burung dari Ngasem ke Dongkelan, sekitar 2 km arah Bantul.

Para bakul berpindah secara resmi dengan arak-arakan atau kirab menggunakan 50 andong. Semua berharap apa yang dijanjikan oleh pemerintah itu betul-betul bisa menjadikan nasib mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tak tanggung-tanggung, anggaran yang memakai uang rakyat untuk memanjakan penggemar satwa, khususnya burung di Jogja, baik itu para bakul maupun para calon konsumennya itu cukup bongsor, mencapai lebih dari 5 milyar rupiah. Harap maklum, pasar burung Dongkelan yang bernama resmi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) dibangun di atas lahan seluas 15.605 meter persegi dengan luas bangunan 5.500 meter persegi.

Pasar ini didisain sangat modern dengan konsep berwawasan lingkungan. Itu sebabnya, pepohonan besar yang sebelumnya sudah ada tetap dipertahankan, dan menjadi bagian yang menyatu dengan pasar, kemudian di bawah pepohonan yang rindang itu juga dibuat taman-taman yang mengitari lapak atau kios dan mendampingi kanan-kiri jalan untuk pengunjung.

Alhasil, guyonan dari Yono bahwa berjalan-jalan mengitari Pasty Dongkelan bisa membuat kaki lelah tak sepenuhnya akan terjadi karena lingkungan yang bersih, tertata, dan tampak indah sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama di dalam pasar.

Fasilitas pendukung lainnya pun lengkap, seperti MCK, serta lapangan untuk latihan atau lomba burung. Jalan menuju ke pasar pun lebar dan lancar, demikian pula dengan area parkir yang luas dan tertata rapi.

Bandingkan dengan situasi di Ngasem yang setiap hari selalu macet dan semrawut lalulintasnya. Itu baru di luarnya. Kalau masuk ke dalam pasar Ngasem, langsung terasa sempit, gelap, kalau hujan becek, bau apek, pokoknya secara umum terkesan jorok dan kumuh.

Setelah berjalan satu bulan lebih menempati kios atau lapak baru, para pedagang pun mulai bisa tersenyum. Secara umum, jumlah pengunjung memang lebih banyak dari pada ketika masih di Ngasem. Hal ini tentu saja sangat menjanjikan masa depan mereka.

“Hanya saja, memang belum semua bakul merasakan pelanggalan lama kembali semua. Sebagian memang masih bingung mencari bakul yang sebelumnya menjadi langganannya. Maklum, tempatnya lebih luas, jadi muternya juga butuh lebih panjang,” ujar Mbak Esti.

Kalau bertanya kepada para pengunjung, banyak variasi komentar mereka. Tapi secara umum, mereka memberikan pujian dan salut pada pasar burung ini. Kiki Hoki dari Bandung misalnya, yang biasa jalan-jalan ke pasar Ngasem pun menyanjung tempat baru ini. “Luas, bersih, pokoknya bagus. Pramuka sekarang ndak ada apa-apanya sama di sini.”

Kekawatiran para turis asing yang biasa nyambangi Ngasem tak akan hadir lagi pun sirna. Setiap hari, puluhan turis asing tetap asyik muter-muter di pasar burung Dongkelan.

Pasty Dongkelan tetap menyimpan keunikan yang menarik bagi wisatawan, baik asing maupun domestik. Roben, seorang wisman dari Australia mengaku kagum dengan keunikan pasar burung di Jogja dan di Indonesia pada umumnya, tapi juga memendam keheranan.

“Saya tak habis pikir di sini hewan dan burung-burung liar bisa ditangkap dan diual-belikan dengan bebas ya. Di negeri saya, hampir tak pernah menjumpai hal yang seperti ini. Mungkin ada, tapi saya tidak tahu,” ujarnya sambil mengernyitkan dahi dan mengangkat kedua bahunya. (Agrobis Burung).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

6 Comments »

  1. knlnkn om nama sy ikhwan dri bgor,tlong dnk om gmna bedain jantan/betina cucak jenggot ada ciri khusus’a nggak?mkasih om..sy brhrp om brkenan mnjwb’a..

    Suka

  2. om nanya dikit ya,om ada pengaruh nya tidak cara memaster burung dgn CD dengan sura pelan atau suara keras dgn hasil akhir nya,kalau alamat om duto mana ya,ak mau maen kerumah sekalian beli obat nya dan sekalian nanya nanya hehehe

    Suka

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156.057 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: