Cucak jenggot vs kapas tembak: Pelajaran dari insiden di Valentine Jogja

Masalah cucak jenggot dan kapas tembak menyulut insiden pada lomba burung Valentine Jogja, Minggu 12 Februari 2012 di lapangan Pemda Sleman, Denggung. Pada even yang terganggu guyuran hujan lebat cukup lama itu, Agus Nasa, asal Salatiga, tidak menerimakan kekalahan burung cucak jenggot jagoannya dari burung kapas tembak.

Begitu burungnya hanya mendapatkan koncer B, dan melihat yang mendapat koncer A adalah jenis kapas tembak, ia pun langsung mencak-mencak dan masuk ke ruang juri. Dengan nada tinggi, Agus bertanya, “Apa kurangnya burung saya?”.

“Semua juri yang turun diam tak ada yang bisa menjawab,” kata Agus sebagaimana dikutip teman Om Kicau yang sama-sama berada di dekat terjadinya insiden.

Yang Agus terima saat itu justru tentara yang bertugas menjaga keamanan memegang kerah baju Agus dan menimbulkan keributan. Hanya saja, masalah ini bisa dilerai oleh petugas dan panitia lainnya.

Apa yang sesungguhnya terjadi dan mengapa Agus tidak bisa menerima kekalahan burungnya dari jenis burung kapas tembak?

Menurut Agus, dirinya sengaja hanya mendaftarkan burung cucak jenggotnya di  kelas BINTANG ASMARA, di mana di brosur memang tertulis hanya untuk kelas CUCAK JENGGOT saja, tanpa tambahan kapas tembak.  Di kelas Bintang Cupido, dia tidak mendaftarkan burungnya karena tertulis CUCAK JENGGOT/KAPAS TEMBAK.

“Saya sadar kalau sama-sama kerja, cucak jenggot kalah dari kapas tembak, karena itu saya tidak mendaftar di kelas cupido, sebab berdasar brosur, untuk kelas BINTANG ASMARA hanya ada kelas cucak jenggot , tanpa dicampur kapas tembak. Ini juga konsisten dengan tiketnya, hanya tertulis CUCAK JENGGOT thok. Jadi wajar kan kalau saya tidak mau menerima kekalahan ini,” ujarnya masih dengan nada tinggi. (Untuk referensi ini silakan dibaca artikel “Silangkan burung kapas tembak dan cucak jenggot, hasilnya…”)

Pihak juri sendiri merasa tidak salah, sebab acuannya pada Jadwal yang tertulis kelas CUCAK JENGGOT/KAPAS TEMBAK. Demikian pula dengan panitia, ketika bernegosiasi mencari solusi juga berpedoman pada jadwal yang dianggapnya sebagai PRODUK TERBARU dan sah.

Melalui Mr. H. Bagiya SH ketua Panitia, ditawarkan jalan tengah. Agus yang burungnya menjadi juara 2 dan sesuai brosur seharusnya hanya mendapatkan hadiah 1,5 juta rupiah, ditawarkan mendapatkan tambahan 1 juta rupiah. Tawaran ini ditampik Agus Nasa, yang menuntut tetap mendapatkan hak sebagai juara 1, yaitu hadiah Rp. 4 juta rupiah (Rp. 3 juta + Rp. 1 juta). Sampai menjelang rampung, belum ada kata sepakat di antara dua belah pihak.

Pelajaran apa yang bisa dipetik?

Diperlukan lagi kejelasan dan ketelitian panitia dalam hal menawarkan kelas, khususnya untuk burung-burung yang satu keluarga tapi berbeda sub-spesies. Boleh jadi ini berawal dari kesalahan ketik yang kurang disadari efek sampingnya.

Pada waktu mendatang, panitia harus mempertegas, apakah kelasnya mencampurkan cucak jenggot dan kapas tembak, atau mau memisahkannya.

Selain kalah dari kapas tembak dari sisi kerajinan, secara umum burung cucak jenggot dianggap kalah mental dibanding kapas tembak. Kalau di dekatnya ada kapas tembak yang mengeluarkan tembakan panjang, burung cucak jenggot cenderung diam.

Jenis lain pun bisa menyebabkan ribut

Selain kelas cucak jenggot dan atau  kapas tembak, masih ada beberapa kelas dalam lomba burung yang berpotensi menimbulkan keributan. Sebut saja misalnya kelas kacer yang tidak memisahkan antara kacer hitam (jawa) dengan kacer poci (sumatera/ jawa barat). Juga murai nias (ekor hitam polos) dengan jenis murai sumatera lain. Sejumlah laporan menyebutkan, ada trend juri tidak mau memenangkan burung murai nias di atas jenis sumatera lainnya.

Kenari pun berpotensi memicru problema, yaitu antara kenari standar dan isian. Sejumlah EO menerapkan standar atau pakem penilaiannya yang tidak sama. Di Papburi misalnya, meskipun namanya hanya kelas kenari, tapi burung yang memiliki variasi lagu lebih banyak cenderung mendapat poin lebih. Jenis kenari isian yang sudah kehilangan suara standar, bahkan diberi nilai lebih tinggi dari pada kenari yang hanya mempunyai lagu standar asli kenari.

Di EO independen, sedikit ada titik tengah. Maksudnya, dalam hal lagu, tidak tidak “seteliti” juri Papburi, tapi masih menghargai kenari yang punya variasi lagu lebih banyak. Di PBI, kenari yang telalu banyak lagu malah bisa kalah bila sudah tidak ada suara standarnya.

Nah, para EO, mulailah berbenah… demi ketenangan dan ketertiban pelaksanaan lomba burung di masa-masa mendatang.

Hujan mengguyur arena lomba Valentine Jogja

Hujan mengguyur arena lomba Valentine Jogja

Salam damai dari Om Kicau.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

There are 36 comments

  1. iful

    Mlm om nupang nanya
    Perbedaan antara cak jenggot ama kapas tembak dri segi fisik apa ya om
    Maklum pendatang baru
    Makasih sebelumnya om

  2. angin lelana

    kalo boleh usul buat standar untuk semua dan disebar luaskan biar yang baru blajar pun tahu ini klas apa, kalo yang udah senior juga ribut ksian junior-juniar yang baru blajar (seperti saya ini) mau ikut kelas yang mana burung saya masuk yang mana? kan pusing. matur suwon

  3. cah bagoes

    Mungkin Brosur harus ditulis Dengan Bahasa Burung,Biar lebih jelas & Enggak Bingung siBurungnya,
    mau masuk Dikelas yang mana.hehe
    salam!

  4. taufik

    Setuju om, satu lg kelas yg sering jd keributan, yaitu kelas Ciblek. Ciblek biasa dan Ciblek gunung, sebaiknya terpisah, secara pisik,mental, volume dan tembakan\ngebren, jelas menang gunung. Trima ksh.

    1. Bagus Surya Winarta

      sangat setuju dengan ulasan anda,, membuat ciblek biasa ngebreen dilapangan itu susah setengah mati!, sedangkan membuat ciblek gunung ngebren itu gampang banget, dari segi materi aja sudah beda, fisik, volume dan segala macam, mungkin antara ciblek gunung dan ciblek biasa diangkat sebagai artikel,, kalo dikemas kayaknya menarik deh ,, thanks om duto

Komentar ditutup.