Komentar kicaumania tentang burung “cacat” dilombakan versi BnR

burung mabungPenetapan Yayasan BnR tidak memberi penilaian (diskualifikasi) untuk burung yang tidak sempurna secara fisik di arena lomba burung, termasuk burung dengan dengan jumlah ekor tidak lengkap misalnya, mengundang pro-kontra. Pro kontra itu sendiri diangkat Majalah BnR dengan mewawancarai berbagi kalangan kicaumania. Apa kata mereka?

Mengawali artikel ini ada baiknya kita lihat apa yang disebut burung favorit menurut versi BnR sebagaimana ditulis di majalah BnR edisi Minggu III Maret 2012. Tetapi sebelumnya, silakan disimak dulu artikel ini: Burung bodol didiskualifikasi: Kenal lebih jauh penilaian lomba BnR.

Burung favorit versi BnR

Lomba burung adalah selain irama lagu, durasi kerja dan volume ada beberapa faktor penunjang untuk burung menjadi favorit. Sebelum kita membahas burung favorit, mari kita memahami terlebih dahulu apa arti favorit? Favorit artinya sempurna. Para kicaumania pasti sudah memahami apa arti kata sempurna. Sempurna dari irama lagu, durasi kerja, volume dan penampilan dari burung iyu sendiri.

Penunjang untuk burung diberikan bendera favorit banyak faktor, contoh sebagai berikut:

Kacer, selain irama lagu, volume dan durasi kerja, dari gayanya nilai tambahnya. Mengapa burung yang kena fisik tidak boleh diberi bendera favorit?

Sekarang mari kita bayangkan sendiri, kalau burung yang diberi bendera favorit misalnya ekornya satu atau bulu dadanya semrawut atau bulu kepalanya botak. Apakah burung yang seperti ini akan menjadi burung favorit di dunia perburungan?.

Kita bersama-sama ingin membuat kemajuan di dunia perburungan. Seharusnya kita sendiri bertanya pada hati nurani, enak tidak, kita memandang burung yang fisiknya tidak sempurna?

Dalam hal ini bukan hanya BnR saja kalau fisik tidak bisa masuk kategori burung favorit. Organisasi burung di luar BnR juga melakukan hal yang sama. Karena tadi namanya favorit harus di atas rata-rata baik karena burung tersebut yang terbaik.

Beberapa kicaumania ada yang tidak sejalan untuk menentukan seperti apa burung favorit. “Ya, kan namanya burung . Ada aja burung bulunya nggak rata atau ekornya ada yang patah. Tapi kan burungnya dahsyat,” kata beberapa kicaumania. Bagaimana tanggapan dari orang nomor satu di BnR tentang pernyataan tadi.

“Kalau aku bicara hati nurani selalu melakukan untuk seluruh kicaumania. Aku juga harus mengakui akan pentingnya fisik burung. Contoh, anis kembangku si Marabuntha. Semua tau tidak ada yang bisa mengalahkan burung tersebut. Tapi pada saat dilombakan burung tersebut kembali menunjukkan kedigdayaannya ternyata kalah, mengapa? Secara jujur aku memahami kekalahan itu karena pada saat itu belakang kepala Marabuntha botak. Aku sendiri melihat. Ya, kalau menang lucu juga burung botak menang. Kejadian itu saat di lomba PBI. Jadi mari kita bersama-sama  mengutamakan kepentingan seluruh kicaumania. Kita sama-sama satu suara. Burung favorit itu burung yang sempurna. Termasuk fisiknya benar-benar wujud seekor burung,” kata Bang Boy.

Para kicaumania, BB selalu mencari yang terbaik bagi kicaumania. Sekarang, apa perlu BnR membuka kelas burung khusus yang kena fisik? Kira-kira ada tidak prestise di kelas tersebut? Bisa kita bayangkan kalau kelas ini dibuka.

Jadi mari kita belajar memahami dan mendalami apa arti kata burung favorit. Agar tidak salah kaprah dan bisa mengerti yang terbaik itu yang sempurna. BnR bukan mengintimidasi burung cacat. Burung tersebut juga makhluk Tuhan. Tapi, lebih tidak mempunyai rasa kemanusiaan lagi kalau burung cacat dilombakan oleh BnR.

Oke kicaumania, masih banyak burung yang pantas kita lombakan dan masih banyak burung yang sempurna. Tetap semangat. Mari kita membangun dunia kicaumania ini dengan mengutamakan kepentingan seluruh kicaumania.

Burung cacat fisik menang di lomba, benarkah kemenangan konyol?

Lomba burung berkicau yang sudah merebak digelar di berbagai wilayah seyogyanya merupakan lomba seni suara burung berkicau. Artinya lebih menonjolkan kepada bagaimana masing-masing burung menunjukkan kepawaian dalam melantunkan lagu kicaunya. Namun beberapa fakta ada burung ang mengalami cacat fisik dinobatkan sebagai sang juara. Apakah kemenangan tersebut menyimpang dari kriteria penilaian lomba?

Kemenangan sebagai juara yang diraih burung cacat fisik masih menjadi polemik yang tak berujung hingga saat ini. Pelbagai silang argumentasi antara panitia, juri dengan kicaumania kerap terjadi pada gelaran lomba khususnya disebuah lomba yang dinilai sangat bergengsi. Idealnya burung yang menang harus dapat memenuhi kreteria penilaian yang kini sudah diketahui publik.

Dalam kreteria penilaian lomba burung berkicau seorang juri harus mengacu dan mengisi nilai pada lembaran kertas yang diberi nama rekap juri. Sedikitnya ada empat kolom yang harus diisi juri untuk menilai peserta sebagai bahan menentukan burung yang bisa masuk favorit atau juara. Dalam empat kolom tersebut tertera kreteria ; irama, lagu, volume dan gaya/fisik.

Menurut Dwi Aries, juri yang tinggal di Surabaya, dalam menjalankan tugas, seorang juri yang pertama harus melihat kualitas irama dan lagu selanjutnya volume lagu gaya dan kondisi fisik burung. “Karena lomba burung merupakan lomba seni suara burung berkicau bukan lomba seni gaya burung berkicau, maka irama, lagu dan volume menjadi prioritas. Sedangkan gaya atau fisik menjadi penunjang poin nilai,” jelasnya.

Meski criteria penilaian lomba burung sudah banyak diketahui publik perburungan, faktanya ada kicaumania yang tetap mengikutkan burung yang cacat fisik pada sebuah perlombaan. Fakta demikian ini kata Dwi Aries, sang pemilik burung optimis kalau kemampuan yang dimiliki jagoanya di atas rata-rata burung pada umumnya. “Burung yang tetap dilombakan meski cacat fisik, umumnya mengalami gangguan penglihatan yakni katarak,” ungkapnya.

Sementara menurut Imron pencetak burung juara tinggal di Surabaya, ketika digantangkan, jika cacatnya sangat mencolok dan terlihat jelas dari luar pagar pembatas maka tidak layak jika masuk burung favorit. Namun jika kondisi cacat fisiknya tidak terlihat jelas dan ditunjang kualitas dan stabilitas bagus kiranya layak masuk sebagai burung favorit.

Sedangkan Sinho justru mengaku heran melihat perkembangan sistem penilaian lomba burung saat ini. Menurut kicaumania yang tinggal di Surabaya ini, kreteria fisik sudah diabaikan. Hal ini terbukti beberapa burung juara yang mengalami katarak. “Entah kenapa ya kreteria fisik pada lomba saat ini diabaikan,” ujarnya keheranan.

“Diakui atau tidak bahwa pemahaman dan selera kicaumania sudah ada penyimpangan khususnya pada jenis burung anis merah dan kacer. Pasalnya pada kedua jenis burung tersebut banyak kicaumania lebih setuju pada penampilan gaya dengan asumsi dengan penampilan gaya khas burung tersebut bisa melanturkan lagu secara maksimal,” papar Dwi Aries.

Namun bagi sebagian besar kicaumania sepakat bahwa idealnya burung yang menang dalam sebuah lomba harus benar-benar mendapatkan nilai atau poin bagus sedikitnya dari keempat kreteria yakni irama, lagu, volume, gaya dan fisik. Dan pihak penyelenggara lomba harus tegas dan membuat pakem  yang jelas untuk segera disosialisasikan jauh hari sebelum pelaksanaan lomba. Sikap tegas dan pekem kreteria yang jelas akan meminimalisir kekecewaan kicaumania yang burungnya juara tiba-tiba gugur lantaran mengalami cacat fisik.

Suparno (Kios Komseko Jakarta): Masuk akal, cacat fisik tidak juara!

Suparno - Kios Komseko Jakarta - Masuk Akal

Suparno - Kios Komseko Jakarta - Masuk Akal

Manusia pada umumnya senang melihat keindahan, hal itu sangat manusiawi. Coba Anda lihat pada ajang lomba menyanyi di telivisi meskipun itu lomba menyanyi,para juri melakukan seleksi awal peserta yang bakal tampil di telivisi, cenderung memilih peserta yang punya suara bagus dan penampilan yang menarik. Lagi-lagi itu sangat manusiawi,karena orang senang melihat keindahan.

Begitu juga pada lomba burung berkicau. Kalau cacat fisik pada burung terlihat sangat jelas seperti katarak atau ekor patah, maka kenapa burung itu harus dimenangkan? Memangnya ketika digantangan tidak ada burung lain yang kerja atau diam saja, sehingga hanya burung cacat fisik itu sendiri yang kerja? Jadi kalau burung sama-sama kerja dan kemudian burung yang cacat fisik kualitasnya hanya sedikit lebih baik dari burung yang normal, maka burung cacat fisik tidak patut di menangkan. Apalagi kalau digantangan burung normal banyak tidak terlihat ada kekurangan, meski sebenarnya ada kekurangan sedikit ya tidak apa-apa. Jadi burung cacat fisik adalah yang mutlak kelihatan.

Nah kalau ada burung cacat mutlak dan kemudian digantangkan, maka kesalahan terletak pada para pemain sendiri, kalau mereka tetap mau menggantangkan burung yang cacat fisik. Itu artinya pemain tersebut memaksa juri untuk menilai burung tersebut. Dalam hal ini kalau BnR menerapkan peraturan tersebut bahwa burung cacat fisik tidak juara, maka saya mendukung.

Zainul  – Karawang: Tergantung cacatnya

Zainul  Karawang - Tergantung cacatnya

Zainul Karawang - Tergantung cacatnya

Bisakah burung yang cacat fisik juara? Itu pertanyaan yang jarang dibicarakan tapi penting untuk di bahas bersama. Menurut saya perlu dibahas dulu kreteria burung cacat fisik itu seperti apa. Jadi saya berpendapat tergantung cacatny apa! kalau tampak kelihatan seperti matanya katarak, sayap patah atau kaki patah, pokoknya yang tampak jelas terlihat, burung yang seperti ini tidak boleh dijuarakan walaupun kualitasnya mewah. Pasalnya akan memicu protes dari peserta lain.

Kecuali burung yang tidak terlihat cacat fisiknya oleh mata para kontestan. Kalau tidak terlalu kelihatan sepertinya ia bisa juara. Namun semua kembali kepada para juri untuk menentukan pemenangnya, masalahna para peserta yang mengikuti gelaran kan tidak tahu bahwa burung tersebut ada cacat fisiknya dan yang tahu hanya para juri. Kalau cacat tidak kelihatan dan kualitasnya bagus menurut saya bisa dijuarakan.

Alza BnR Jateng: Mestinya seperti pemilihan model

Alza BnR Jateng - Seharusnya seperti pemilihan model

Alza BnR Jateng - Seharusnya seperti pemilihan model

Jika burung yang menang dalam suatu lomba itu adalah burung cacat, saya sangat tidak setuju, alasannya karena dalam suatu ajang lomba, dicari burung benar-benar yang sempurna. Sempurna yang dimaksud adalah burung yang berkualitas baik dari suara, lagu, gaya, dan fisiknya.

Itulah susahnya mencari burung jagoan untuk beradu di ajang lomba. Bisa diibaratkan seperti ajang pemilihan model, di situ tidak hanya dilihat tampang dan cara berjalannya saja, melainkan juga dibutuhkan intelegensinya yang baik pula. Kesempurnaan inilah yang dicari dalam seleksi burung berkicau.

Djinal Semarang: No Problem!

Djinal Semarang - No Problem

Djinal Semarang - No Problem

Tidak jadi soal pemenang lomba burung adalah burung yang cacat, asal cacatnya tidak terlalu mencolok. Fisik yang saya maksudkan itu, menyangkut apa yang melekat dalam tubuh burung tersebut. Misalnya burung yang menang sebenarnya kena fisik karena salah satu jarinya tidak ada  kukunya, tapi kualitas segalanya tidak ada yang mengalahkan dibanding lawan-lawannya. Mengapa burung seperti itu tidak dimenangkan?

Beda halnya kalau cacatnya terlalu mencolok seperti kakinya patah satu, ya tidak bisa dijuarakan sebagai juara 1. Namun bisa juara 10 besar perlu dipertimbangkan, kalau memiliki kualitas juara. Jangan langsung memvonis burung cacat adalah burung yang kurang baik, malah bisa berbalik.

Irul RO – Bali: Ndak ada ceritanya yang cacat Juara!

Irul RO – Bali Ndak ada cerita cacat juara

Irul RO – Bali Ndak ada cerita cacat juara

Menurut saya dalam lomba burung sudah ada pakem atau kreteria lomba burung. Di antaranya gaya, fisik, irama dan lagu yang dibawakan burung saat tampil di arena kontes. Namun hingga saat ini, tidak jarang atau ada saja burung yang juara padahal matanya katarak atau cacat fisik. Oleh juri sang penilai di lomba tidak terlalu diperhatikan.

Persoalan ini memang harus ditegaskan dari sejak awal. Jika perlu dalam tata tertib atau peraturan lomba sebaiknya disosialisasikan. Jika tidak, boleh jadi ada kerancuan bahkan berujung protes.

Tidak ada burung yang ingin dilahirkan atau mendapat kondisi cacat bawaan. Akan beda persoalan lagi, jika burung cacat lantaran kecelakaan jatuh atau terjepit.

Kalau saya sih nggak setuju because what…. namanya juga lomba burung, harus apple to apple dong! Tapi kalau mau dipaksain sih harusnya, yang brondol dengan yang brondol atau yang katarak dengan yang katarak dan sebagainya. Pendeknya saya vote “tidak setuju” Ndak ada ceritanya yang cacat juara.

B–Jo Betawi: Cacat tidak kentara bisa ditolerir

B-Jo Betwi - Cacat Tidak Kentara Bisa Ditolerir

B-Jo Betwi - Cacat Tidak Kentara Bisa Ditolerir

Di lapangan, burung berkualitas istimewa haruslah mencakup sejumlah hal, mulai dari mental tarung, voleme, sampai isian yang dimilikinya pun haruslah cukup komplit dan mumpuni.

Umumnya, ketiga hal ini menjadi perhatian juri dalam melakukan penilaian suatu jenis burung yang memperoleh gelar juara. Apabila semua faktor di atas telah dimiliki maka bisa dikatakan bahwa burung tersebut layak menyandang predikat sebagai burung juara. Jadi apabila salah satu faktor tersebut tidak dimiliki maka predikat juara pun akan sulit untuk diraih.

Seiring dengan perkembangan hobi burung yang terus meningkat maka banyak inovasi-inovasi baru dan tak heran jadinya kalau muncul pula kriteria anyar yang bisa menentukan kemenangan seekor burung lomba. Tapi intinya, kriteria anyar tersebut tidak akan menyimpang jauh dari pakem yang selama ini telah ada.

Pertanyaan yang muncul kemudian apakah bila ada burung yang memiliki kriteria juara namun memiliki cacat fisik, saya kira burung tersebut masih layak menjadi juara dengan catatan cacat fisiknya tidak terlalu kentara.

Karena dalam lomba burung berkicau yang dilombakan adalah suaranya. Jadi kalau ada cacat fisik yang tidak terlalu kentara, sebenarnya bukanlah persoalan yang penting, apabila burung tersebut telah kerja secara maksimal serta memiliki voleme yang tembus dan mumpuni.

Boy Naruto: Sah saja asal tidak ketahuan

Boy Naruto Bali - Sah saja asal tidak ketahuan

Boy Naruto Bali - Sah saja asal tidak ketahuan

Masalah setuju atau tidak, semua kembali ke makna sebenarnya dalam lomba burung. Dalam lomba burung, tidak hanya menilai dari voleme suara, isian dan gayanya saja. Tetapi, estetika atau eksotisme fisik burung harus menjadi salah satu acuan dalam penilaian.

Saya pribadi, lebih melihat dari sisi keseriusan seseorang yang dengan telaten merawatnya. Mendidik burung, dengan harapan mendapat hasil maksimal dengan ketentuan penilaian dalam sebuah lomba. Penilaian lomba pada saat ini, juri masih hanya  memperhatikan gaya dan suara serta volumenya. Bukan pada bulu atau fisiknya. Menurut saya, sah saja asal tidak ketahuan.

Jika merujuk pada lomba burung, penilaian utamanya adalah kemampuan berkicaunya. Banyak juga burung-burung yang cacat sayap, kaki, ekor bahkan mata katarak dilombakan. Terbukti juga, tidak sedikit yang moncer dan juara. Bahkan, beberapa burung punya kelebihan tersendiri dibalik cacat fisiknya.

Boleh saja. Ada tapinya, burung cacat ada nilai minusnya. Tidak bisa kita samakan meski burung cacat punya keistimewaan lebih dibanding dengan burung dengan postur fisik sehat dan tidak ada cacatnya. Tentu, ini berdampak pada nilai jual. Dan yakin tidak ada kicaumania yang membeli burung cacat dengan harga mewah.

Erik Tasikmalaya: Masih jadi pertimbangan kicaumania

Erik Tasikmalaya - Masih jadi pertimbangan kicaumania

Erik Tasikmalaya - Masih jadi pertimbangan kicaumania

Hingga saat ini fakta di pelbagai gelaran tak bisa dipungkiri bahwa burung yang mengalami cacat fisik, terbukti tidak dapat bersaing dan malah diasingkan dengan burung-burung normal lainnya.

Kicaumania pun kerap menyepelekan burung cacat, karena selain merasa kondisi burung cacat fisik bisa kurang mendukung kinerja burung, burung cacat bisa mempengaruhi juri ketika melakukan penilaian, meskipun itu burung berkualitas.

Meskipun biasanya hanya dilihat seelah mata saja, namun burung yang cacat fisik tak sedikit yang memiliki kualitas materi di atas rata-rata dan ketika burung seperti ini diikutsertakan dilomba, dipastikan akan memikat hati para juri dan kicaumania.

Secara logika, untuk burung kualitas lomba, tentunya harus lebih diutamakan yang memiliki kriteria kesempurnaan fisik, sebagai penunjang kriteria penilaian. Terkecuali bila dari sekian banyak burung yang mengikuti lomba, tidak ada satu pun bekerja maksimal, sementara burung cacat fisik dan dapat bekerja dengan apik dengan memperlihatkan kualitas materi, performa aksinya menawan,maka burung yang cacat fisik layak jadi juara.

Daam Bird Jakarta: Wajar, kalau di Presiden Cup harus mendekati kesempurnaan

Daam Bird Jakarta - Wajar, Kalau di Presiden Cup Harus Mendekati KesempurnaanAjang Presiden Cup 2 adalah ajang nasional yang banyak dinanti-nanti oleh kicaumania. Jadi tentu sangat wajar kalau burung yang tampil di sana diharapkan adalah burung-burung yang mendekati kesempurnaan, artinya kesempurnaan tidak hanya didukung dari tampilan suara ang memenuhi syarat burung jawara, tetapi juga ditunjang oleh penmpilan fisik yang memikat. Ya wajar saja, soal ini kan sekali Presiden Cup.

Jadi kalau burung cacat kemudian tidak masuk nominasi burung jawara juga hal wajar. Sebab di Presiden Cup 2 yang turun adalah burung-burung jawara lomba dari pelbagai daerah. Jadi hampir mustahil kalau di arena seperti Presiden Cup hanya ada burung cacat fisik yang kerja, sementara burung lainnya diam, sehingga burung cacat fisik yang kemudian harus dimenangkan karena burung lainnya tidak kerja.

Hanya perlu diperjelas kriteria cacat fisiknya, dan kriteria tersebut harus di ketahui oleh semua peserta yang akan terjun di arena Presiden Cup 2 sehingga tidak ada kekisruhan.

H. Budiono Bekasi: Fisik dan kualitas harus sejalan

Budiono Bekasi - Fisik dan kualitas harus sejalan

Budiono Bekasi - Fisik dan kualitas harus sejalan

Burung yang layak juara bukan hanyandari segi kualitas suara maupun variasi lagu yang dibawakannya, namun tampilan fisik juga sangat mendukung performa saat di arena apalagi di event sekelas Presiden Cup 2 nanti.

Hal ini bukan suatu bentuk diskriminasi melainkan ketegasan dalam menerapkan peraturan lomba dengan melihat semua aspek yang ada. Jika peraturan tentang burung cacat fisik tidak layak mendapatkan juara atau pun tidak boleh diikutkan dalam kompetisi lomba setidaknya dapat mengurangi ketidak puasan peserta jika melihat hasil penilaian juri.

Jika kita melihat sejarah kompetisi lomba burung berkicau, belum pernah ada burung cacat fisik meraih juara 1. Seandainya burung yang cacat fisik jadi juara pasti menuai kontroversi sesame peserta.

Dengan akan diterapkan aturan ini setidaknya kicaumania yang mempunyai burung yang masuk katagori cacat fisik akan mengurungkan niatnya untuk turun di arena lomba sehingga polemik sekecil mungkin bisa diantisipasi di lomba Presiden Cup 2 nanti.

Mr. Tejo – Jakarta: Kriteria cacat fisik harus jelas

Mr Tejo - Kriteria Cacat Harus Jelas

Mr Tejo - Kriteria Cacat Harus Jelas

Apabila Yayasan BnR berencana akan memasukan kondisi fisik burung dalam kriteria penilaian lomba, maka harus terinci jelas. Jangan sampai upaya perubuhan menuju perbaikan tersebut malah jadi polemik yang bisa menimbulkan kekecewaan bahkan kericuhan di saat pelaksanaan.

Kriteria lomba belakangan ini lebih memperhatikan aspek irama lagu, durasi kerja serta volume. Maka sangat penting untuk mengurai kondisi burung yang masuk kategori cacat fisik. Cacat fisik yang seperti apa. Itu yang harus diperjelas sehingga tidak ngambang. Apabila ngambang sangat dikhawatirkan terjadi pemahaman  berbeda  antara kicaumania dengan panitia. Sosialisasi aturan tersebut harus jauh-jauh hari sudah disampaikan. Kalau kriteria atau pakemnya jelas, maka secara otomatis  kicaumania yang menerjunkan burung di lomba tersebut paham dan akan mematuhi  peraturan yang dibuat penyelenggara.

Misalnya kondisi bulu ekor, sayap dan kuku pada kaki. Apabila ada ketidak sempurnaan pada bagian tersebut, apakah masuk kategori burung cacat fisik? Kemudian muncul pertanyaan: apakah burung yang kondisi fisiknya demikian tidak boleh mengikuti lomba atau cukup dinilai namun tidak dinominasi? Lantas bagaimana teknis pemeriksaan bagi burung yang mengalami cacat fisik? Apakah akan dicek sebelum atau usai lomba? Hal ini patut dijadikan pokok pembahasan bagi tim.

Ini sekedar masukan demi perbaikan BnR dan kicaumania kedepannya, khususnya Pak Boy yang sangat memperhatikan dunia perburungan untuk menuju perubahan yang lebih baik. Apalagi Presiden Cup 2 sudah tinggal beberapa pekan lagi.

Bagaimana pendapat Anda?

 

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

About these ads

There are 26 comments

  1. Rio whd

    Penilaian di kontes burung berkicau ga ada standar yg jelas, baik itu irama , volume, isian n gaya. Yg jelas saya perhatikan pemenangnya orang2 / club2 tertentu, ada apa??? Pemain baru/pemula jgn harap mimpi utk menang, Walaupun punya burung bagus yg punya isian lebih komplit n suara cetar membahana n gaya bertarung yg dasyat.

    1. shesco tanoto

      Juri kebanyakan mandang burung dari siapa si pemiliknya…klo pemiliknya bos2 walaupun burung pas2an bisa juara…tp klo pemiliknya org biasa jngn harap bisa dilirik walaupun burung kejanya dasyat…

  2. Sabiq Klasik

    coba kita tidak berkiblat semata-mata hanya untuk lomba,
    kita butuhnya kan kepuasan batin ini, jadi kita rawat burung cacat dengan sebaik-baiknya. karena kita sebagai manusia yang manusiawi pasti kasihan kalau punya burung yang cacat.

    Atas nama kicaumania yg punya burung cacat.

  3. parto

    jawara….ya jawara maupun cacat. klu faforit ya faforit kan beda jawara sama faforit…..// masak cacat gak bisa jd jawara. si buta dari gua hantu jg jd pendekar. bp. gusdur jg bisa jd presiden….. jd apa salahnya. klu kicau mania ya….. kicaunya.klu keindahannya piara merak aj ya….

    1. shesco tanoto

      Seratus buat om parto…krn lomba burung yg di lombakan suaranya bukan fisiknya…hahahaha…percuma punya burung normal tp suaranya melempem…wkwkwkwk

  4. salbeckham

    Ribet amat mo lomba burung ya. Hehe.. American Idol aja yg menang bukan semua penyanyi yg cantik2 or ganteng2. Malah ada penyanyi yg badannya bongsor bisa menang.. Mending ganti nama aja mas. Jadi lomba burung universe. Kan maunya yg sempurna. Tinggal nambah satu lg tuh penilaiannya yaitu ada acara tny jwb utk ngukur kepintaran tuh burung. Burungnya dapet poin dan bs juara klu ditny ama juri, burungnya ngejawab dgn kicauan atau ngerolnya. Hehe.. Maturnuwun mas…

  5. bestari

    Smua makhluk tdk ada yg mau terlahir cacat…
    Walau cacat tpi prestasi bagus,dia layak utk mendapat perhatian..

    Tapi tetap.. Jeruk vs jeruk.. Melon vs melon..
    Simple kata..
    Burung cacat,kalo tdk dibuka kelas sesama cacat…
    Ya buat senang2 dirumah saja om..
    .
    Cacat bukan berarti SAMPAH !!
    Tapi Cacat tetap Cacat !!

  6. wawan selamet mulyana

    sah sah aja burung cacat juara. simpel aja kalo boleh neeh aturannya misal :
    suara burung nilainya dari 1 s/d 10, penampilan misalnya 1 s/d 7, dan fisik nilainya 1 s/d 5, jadi masing masing faktor mempengaruhi namun pengaruh suaralah yang terpenting. dan apabila ada nilai seri maka yang diambil sebagai juara adalah nilai dengan suara yang terbaik. jadi kurang lebih kaya gito….maaf bila ada salah kata

  7. FATWA

    …….YANG JUARA MESTISNYA BERDASARAKAN TOTAL NILAI……….. SECARA KESELURUHAN………..ARTINYA SAH SAH AJA MISAL BURUNG BUTA… TAPI SUARANYA SANGATA DAHSYATTTT…… HE HE… HINGGA BISA MENUTUPI KECACATANNYA…… :)… TAPI KLO SERTA MERTA BURUNG CACAT LSNG GAK BISA JUARA…. MENURUTKU MALAH GAK FAIR………….TOTAL NILAI AJA BOS….

  8. misbah mania kicau

    RIBET amat mau lomba burung, banyakan aturannya…………kontes burung= kontes suara, kenapa bawa bawa fisik sempurna, manusia aja nggak ada yang sempurna APALAGI BURUNG……….
    NGAPAIN JUGA kita sebut diri kita kicau mania kalau kita mau kontesin fisiknya bukan suara merdunya…
    pokoknya RIBET titik.

    1. nandank si jampank

      itu mah buka kicau mania gan tapi mis burung maniaaaaa….kesel atuda emangnya cacat maunya burung itu…buat apa burung yang mulus,yang cantiik,bergaya lenggaklenggok tpi tapi ga ada suara nya cuma cit..cit…ciitt…dah itu mah jurinya bodoh….
      juri harus ngaca mana kicau mania kalian…itu juri miss gaya burung.

  9. handojo

    kasihan donk….harusnya boleh, karena lombanya aja lomba kicau…..contoh pada salah satu kontes nyanyi, ada yang cacat (buta) masih bisa masuk final. Kecuali lomba postur, kayak miss universe, baru gak boleh cacat.

    1. harwinto

      dari jaman bahelak namanya cacat fisik tidak bisa juara ( fisik permanen ). yang jelas untuk mendapat bendera favorit masih diperhitungkan, namanya juga favorit kan harus sempurna segala2nya.

  10. Om Kicau

    Ini beberapa komentar di FB:

    • 62 orang menyukai ini.
      • Wild Horseskalau burung katarak tapi gak banget boleh gak dilombakan karena burungnya bagus dan gacor……cuma sayangnya ya itu tadi mata sedikit katarak meski belum parah mtr suwun

      • Abina IqbalKategori ca2t menurut BNR y bgaimana? Trimakasih. . .

      • Luiz Adrianstuju sja,tapi harus ada aturan yg jelas ttg kriteria cacat..

      • Azwir Mansetu…tapi ada kepastian…dan toleransinya kalau cuman cacat ekor bisa jadi brg birahi pas lagi di gelanggang…

      • Eddy Wahyudikatarak itu kebanyakan atau oper doses…..menu extra…..antara kerja sama istirahat tidak imbang…

      • Eddy Wahyudikita sdh berhasil ternak kacer……setiap bulan menghasilkan terus…..hanya 1 pasang indukan aja……

      • Heni Javas IrawanSeandainya 2 mata katarak+ 1 jari kaki putus+ekor brodol semua,,, tapi teler gacor,,, bisa atau tidak diikut sertakan lomba . . . Thks

      • Dedi Pramonoklo burung cacat masih ikutan itu mah bukan kicaumania namanya

      • Murgianto AeKriteria ca2tna gmana om.

      • Raditya Imanaputra Artanabro ada yg stock anakkan AK g?

      • Alex RossieЧªήğ penting suaranya bOz,, ksihan brung ccat ЌL☺ d anak tirikan.

      • Papah LeandroKoq ga sekalian,berak di sngkar waktu di gantang di dis juga hahaha…..

      • Vito Carl D’ LeoneMonopoli BNR dlm dunia perburungan… Koq burung cacat bisa diikutkn lomba???? Yg namany lomba itu burung harus sehat lahir batin om… Klo burung cacat dipandang aj gak menarik walaupun gacorny tingkat dewa hahahaaa!!! BNR ada2 aj nih bikin aturan… Harus pake kandang bnr lah… Harus pakai pakan bnr lah… Dll yg ujung2 ny unt keuntungan bnr pisann…

      • Gufron Robiqbos hakekat lomba brg kicau kan memilih brg yg paling bagus kicaunya,dlm hal ini BnR hrs memandang secara obyektif,klo ada lomba brg sehat baru terlihat wajar klo yg cacat tak dpt nilai,hal ini memang dari dulu sdh jadi pembahasan dlm lomba brg.intinya klo judulnya msh lomba brg kicau,biarpun cacat tapi kwalitas kicaunya layak dpt nilai ya hrs di beri nilai…..

      • Anton Setyo NaeRevaburung pitengku ttp tbaek d rmhku

      • Agus Suntorosetuju banget…..kl burung cacat misalnya bulu brarti harus dirapiin dulu… kl cacat fisik harus disembuhin dulu…..kita aja ga mau kan bli burung atau barang ada cacatnya…misalnya tuh burung/barang ccat dikit pasti kita pngn minta diturunin harganya…

      • Iwan Purwantoya sebaiknya kita liat dulu tingkat kecacatanya, bisa ditolerir gk dlm arti waktu kita liat atau pandang. jika gk terlalu mengganggu pandangan kita ya gk masalah seperti misal bulunya kurang 1 atau gk rata, terkecuali misal kakinya cma 1 atau gk ada ekornya, nah itu baru fatal. Tp ya itu semua tergantung kebijaksanaan panitia lomba itu sendiri. Burung jg sma kok dgn manusia, kembali ke kita masing2x bro…

      • Rvl Sidqiepengurus bnr aja ada yg cacat kok bisa jadi pengurus ya? BnR, Biang nya Rusuh!

      • Dadang Gemilangterlalu diskriminatif jika ketidaklengkapan jumlah bulu di diskualifikasi. Sekalian saja si pemilik yang tidak punya kumis atau jenggot di diskualifikasi. Jangan ada diskualifikasi tentang fisik, di nilai saja jangan di diskualifikasi.

      • Dadang Gemilang burung cacat..
        Pengurus cacat..
        BNR cacat..Hayoo apa bedanya?
      • Papah LeandroBerarti panitia harus jeli,klo bisa sebelum membeli tiket panitia harus meliat dulu keadaan burung,kan kasian bagi yg ga ngerti,ini boleh ini tidak

    Irfan Iku Kamal menurut Q ga masalah, yang penting bukan cacat suara.
    cacat fisik hal yang biasa klo emang dsar burung itu sendiri bunyinya bagus ga masalah….

    • Suwandi LebonKategori burung cacat itu seperti apa? Jangan buat aturan ngawur to.. Kalau si burung cacatnya dak fatal ya sah-sah aja dong ikut lomba,bos.

    • Fajar Browniessaya mmpuyai brung kacer,ko knapa y bulu pada leher warnanya tdk begitu hitam.

    • WäkGøes AzmatKhan Pada dasarnya saya juga setuju kalau burung yg cacat fisik tidak dinominasikan juara. Namun alangkah bijaknya bila burung yg cacat itu tidak dikategorikan dlm burung yg bisa diikutkan lomba. Agar tidak menambah kekecewaan peserta lomba.

      Alasannya, diakui atau tidak selain pertimbangan irama dan kerja burung, faktor kesehatan dan penampilan fisik ikut dipertimbangkan juga pada saat kicaumania berburu mencari momongan. Lagi pula kesehatan burung juga menjadi salah satu tanggung jawab majikan terhadap momongannya.

      Maaf bila ada salah kata.

    • Baron Sage Sinformasi terbaru sebelum pertandingan akan ad cek fisik burung & klengkapan pertandingan masing2 peserta, kira betul/ tdk ya..mohon informasinya kicaumania..ap nantiny memakan wkt yg bnyak, sedangkan acara hnya one day

    • Heri SusiloNamanya kesetaraan hak ngoceh. Yg dipakai dasar utama kan ocehnya, yg lain pendukung.jd burung ybs tetap dpt kesempatan trima bendera/poin dr suaranya.tp jujur dia gak dpt poin dr perfomance cacatnya itu.sebetulnya sejak burung kita kurung kan dia udah cacat hidupnya ya bro

    • Dito KatamsoeBurung jg mkhluk ciptaan TUHAN,sma sperti qt.bnyak ko,mnusia yg cacat,tpi memilik kmampuan sma,bahkan lbih dri manusia normal.sma jg sperti brung.lantas,apa pantas,burung yg memiliki suara yahud,tpi tdak layak ikut lomba.pling tdak d pkir kan solusi nya,sperti kelas tersndri,namun hrus jelas kriteria cacat yg d maksud.

    • Togar Simaremareyg nmnya brng kicao yg d nlai psti kn suarx, kl fisikx cacat d nilai dl lh sbrapa pants kkurngan itu tuk d prmasalahkn

    • Dar Madibnr cacat semuanya mo d mono poli dari kandang sampe tempat makan harus seragan burung jg pasti yg juara yg pk ring bnr.

    • Yoe CahyoOtoriter

    • Pak Darumwaduh,berarti bnr tdk punya rasa peri kebinatangan.tdk manghargai nyawa burung,

    • Zakaria MuhammadBukan x hebat itu,burung cacat tapi mengalahkan burung yg tdk cacat….!!!seharus x burung cacat itu jarang mau bunyi,lahhh…kalau dia sampe dpt koncer berarti bagus itu burung x ……tanks

    • Bogrex Waka-wakabuat aturan kok aneh2 aja BNR….

    • Aqila ZahrainiOm klo burung pnya potensi bagus tp cacat gmna

    • Imank Soetaryosalam kenal untuk kicau mania..saya pemula nih..minta info dong..tiket untuk lomba brapa..kriteria apa aja..o ya saya ada burung kacer jawa..thanks ya..

    • Toni Sugiartoom saya bawa burung kacer lokal dari jawa . burungya sekarang setres , apa obatnya biyar sembuh setresny?

    • Kodri SpinBnR hrs memperjelas kriteria ca2t dan tdk lyk koncer jdi kicau mania tau mana BURUNG yg lyk tampil untuk jdi JUARA trim’s

    • Dan’z Ongisnade Aremania DelapantujuhMang brung ca2t bsa d’lmbkan om

    • Irwan BerkicauAsal cacatnya ga sampe burungnya Bisu tuli aja ga masalah… Coz terkadang panitia n juri yg cacat spt itu… burung yg tampil ngliat sapa yg ada di “belakang” nya… Panitia jadi TULI ga mau denger keluhan peserta n Juri jadi BISU kalo dtanya apa kekurangan burung yg layak tp nominasi pun ga dkasih….. Apa perlu lomba di SLB bang….????????

    • Grand DietNek sing ndwe stres po manukmu yo stres mbah….?

  11. bowo_mdn

    Dunia kicau mania menurut saya dunia” seni” Om,…. Tergantung bagaimana kita mengaplikasikannya,…. Dan seni itu relatif,… Tiap orang pnya jiwa seni yg beda2 ibarat mendengarkan musik.. Ada yg suka pop, jaz, rege atau dan sebagainya,… Klo saya sukanya dangdut dan campur sari,….he….3x,.. Itulah indahnya seni,.. Dari perbedaan2 itu klo kta semua mampu menemukan celah2 supaya sejalan seiring dan seirama akan jadi indah dan sempuna,…. Selama ini yg saya ikuti karena perbedaan prinsip dari berbagi kubu,… Tapi klo bicara lomba dan kompetisi,… Memang harus ada “aturan dan ketegasan”. Klo kita tidak bisa menuhinya ya mari kita kembalikan ke diri kita masing2,… Enjoy aja,… Biar asyik,.. Hehehe,… Toh masih ada ruang lain buwat diri kita masing,…. Salam KM.
    Sowon Om,…..

  12. dedy

    Kalo menurut sy dibuat dua lomba.
    1.Kicau faforit mania: burung pemenangnya yg bener2 sempurna / no cacat.

    2. Kicau mania: burung juara dalam hal suara bukan fisik.

    Biar yg punya burung bodi rusak tapi suaranya ga kalah sama yg faforit bisa ikutan lombanya.

    Cuma saran aja om. Hehehe
    Thanks lapak nya.

  13. setyawan

    setuju dengan pendapat MR. TEJO Jakarta !!! harus ada batasan-batasan cacatnya, misal : burung semua kreteria lomba nilai maxial, berhubung bulu sayap patah 1 (itupun letaknya didalam tdk kelihatan), apa harus di menangkan burung yang kurang maximal kerjanya., Terus kalo anis saudara di PEGANG di cek bulu sayapnya boleh ?. satu lagi kalau di cek benar ada yang patah 1 saudara rela mengembalikan Piagam dan uang pembinaannya ??. Jadi batasan2 dan waktu pengecekan harus jelas, biar tidak gamang dan salah persepsi.

  14. Dars

    Nama juga burung favorit emang harus diatas rata 2x peserta lomba, nggak hanya lomba burung dalam lomba nyanyi aja yg juara itu jelas diatas rata 2x baik suara maupun fisik serta gayanya para peserta. Jadi it’s oke no problem.

  15. alun sda

    Burung dipelihara karena hoby dan pastinya untuk dinikmati bersama, namun pelestarian dan ekositemnya perlu juga untuk tetap dijaga bersama2, kalau menyangkut penilaian memang perlu kesempurnaan tapi burung yang cacat sebenarnya berusaha untuk menunjukkan dirinya juga hebat, alangkah lebih baiknya kalau juara Favorit tanpa mendiskriminasikan kondisi fisik..toh kategori fisik hanyalah pertimbangan terakhir kan…tentu kicau mania menikmati burung pertama yg diperhatikan adalah gaya kicaunya…

  16. Alley

    Kalau saya setuju jika burung yang tidak sempurna secara fisik tidak mendapat prioritas dibandingkan yang mulus sempurna. Hal ini jika kita pikirkan dan pertimbangkan secara bijak, akan berdampak positif. Penghobi akan berlomba mencari trik dan tips agar burungnya bisa tampil sempurna baik secara pisik maupun kualitas suara. Biarkan semua berjalan sesuai kodratnya, burung yang cacat secara pisik dijadikan burung rumahan untuk dinikmati kicauannya. Sementara yang tampil sempurna bisa berlaga di arena lomba.
    Salam

  17. dedek

    menurut saya tentang burung cacat..itu harus kita tindak lanjuti..dengan jelas,kalau memang kita semua penggemar kicau maniak kita harus mentidak membeda-bedakan mana tentang burung cacat.itupun kalau memang sudah masuk dalam katagori lomba kenapa kita harus membedakan..?toh itu kan yang kita dengarkan hanya kicauan burung tersebut..di lombapun juri hanya memantau bunyi masteran dan gacornya burung..,kalau sudah begitu kenapa kita harus membedakan burung cacat tersebut…! toh kalaupun burung cacat tersebut malah lebih aktif dari burung yang sempurna…,kalau menurut saran saya…!! mari kita sama-sama melestarikan dan memelihara burung tersebut..kalau memang kita mengakui kicau maniak..jangan membedakan mana burung cacat dan mana burung yg sempurna…!!!terima kasih…hidup kicau maniak…

  18. aarudii

    burung cacat Tidak bisa juara!
    Karena keindaan bukan hanya dilihat dari segi suara melainkan juga penampilan yang bagus.

    kalau pun ingin juara burung cacat itu harus mengikuti lomba yang pesainggnya memiliki kekurangan yang sama, jadi membuat kompetisi yang berbeda kelasnya :)
    thx om

    1. AABergmans

      Dari ke-4 kriteria penilain juri terhadap burung yaitu irama lagu, durasi kerja, volume dan penampilan tidak terlepas dari para kicau mania sendiri dalam hal 4K (Kejelian, Keuletan, Kesabaran dan Kerajian) & 4M (Memilih, Melatih, Mengolah dan Merawat) jagoannya agar dapat tampil maksimal di medan laga.
      - Irama Lagu = KEJELIAN Kicau mania dalam hal MEMILIH irama lagu yg baik untuk Jagoannya.
      - Durasi Kerja = KEULETAN Kicau mania dalam hal MELATIH jagoannya agar bernafas panjang.
      - Volume = KESABARAN kicau mania dalam hal MENGOLAH jagoannya agar memiliki volume kicauan
      maksimal.
      - Penampilan = KERAJIAN kicau mania dalam hal MERAWAT jagoannya agar memiliki fisik yang sempurna
      dari ujung kepala hingga ujung kaki jagoannya.
      Intinya ” Jagoanya Juara, Majikan Bangga” karena jagoannya sudah memiliki harga tinggi hehehehe… :-)
      Kesimpulannya sudah seharusnya Burung Juara itu harus Perfect Luar dan Dalam, bravo Kicau Mania.

Komentar ditutup.