Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

Insiden pemukulan di Lomba Burung Bintaro berakhir damai

Kabar tidak mengenakkan datang dari even lomba burung Bintaro, Jakarta, Minggu 10 Juni 2012. Disebutkan salah seorang peserta memukul salah satu juri. Tidak terima kekalahan, atau ada sebab lain?

Sumber omkicau.com menyebutkan, sejak awal, lomba di Bintaro sudah terasa beraroma panas. Penyebabnya, karena pendaftaran dinilai mahal, sementara peserta sepi. Panitia menentukan agar hadiah bisa keluar utuh, peserta minimal harus 30. Sementara di lapangan peserta paling ramai di kisaran 28. Kelas pleci yang sedang popular saat ini, disebutkan hanya diikuti 5 peserta.

Sejumlah peserta melaporkan penjurian kurang bagus. Khadafi, salah satu peserta mengaku kurang puas dengan dua hal tersebut, penjurian dan pemotongan hadiah. Padahal, Khadafi adalah pemesan tiket terbanyak.

“Daripada marah-marah, bikin sakit hati, dosa lagi, saya memilih pulang saja,” ujar Khadafi. Khadafi memilih meninggalkan arena lomba pada sekitar jam 11.

Kelas Kacer

H SADAT

H SADAT

Brian Rachmad JogjaPeristiwa yang kemudian membuat kabar tersebar kurang sedap terjadi di kelas kacer, sebab berkembang berita H. Sadat memukul salah satu juri, Brian Rachmad – Jogja, ketika kelas kacer sesi kedua selesai dan juri menancapkan bendera koncer.

Benarkah peristiwanya seperti itu dan apa pula penyebabnya? Inilah penelusuran yang berhasil kami himpun.

Wahyu Tangerang, juri senior PBI yang kebetulan ada di lapangan saat sesi kacer kedua, menuturkan, ia melihat kedua jagoan itu sama-sama tampil. Pada akhirnya Solo Berick mendapatkan 4 bendera koncer A, Speed Racer dapat bendera 2 koncer A.

”Sampai penancapan bendera selesai, saya tidak melihat ada peristiewa kericuhan sama sekali. Bahkan waktu itu ada anak buah Sadat di dekat saya, hanya berkomentar pelan dan nyantai, ‘Oh kalah ya’.  Setelah pergi, saya baru dengar katanya ada ramai-ramai.”

Soal tuduhan bahwa juri kurang bagus, Wahyu mengaku kurang sependapat. “Sepanjang lomba tadi, saya melihat secara umum juri kerja bagus. Kalau soal ada peserta kurang puas, ya saya tidak tahulah. Ini pendapat saya yang netral,  tidak bela siapa pun. Tapi suasana lomba memang panas sejak awal, menurut saya karena tiketnya cukup mahal, tapi peserta tidak penuhi target, maksimal saya kira hanya diikuti 28-an peserta, sehingga hadiah dipotong-potong cukup besar, ini memang ikut membuat situasi makin memanas.”

Peserta lain, yang keberatan disebut namanya, dan dikenal sebagai spesialis kacer di Jakarta juga menyebutkan, baik Speed maupun Berick, keduanya kerja bagus. “Tentu ada kekurangan dan kelemahan masing-masing. Kalau melihat penampilan burung di lapangan, menurut saya, cengli-nya kedua burung ya di-tos-kan.”

Ada pemukulan

Dihubungi secara terpisah, Adry perawat Speed Racer yang tinggal di Bangka mengakui memang ada  keramaian atau lebih tepatnya tindakan pemukulan.

“Pangkal masalahnya pada juri dari Jogja, saya sebut saja namanya Brian. Saya sesungguhnya teman baik dia, sama-sama di Grup Kicaumania BB juga. Tapi dia melakukan kesalahan karena selama menjuri berkomunikasi hingga mempengaruhi atau mengajak-ajak juri lain sambil menyebutkan gantangan nomer 39, nomer Solo Berik, ngerolnya lebih bagus. Ngomongnya cukup keras sebab penonton yang di belakangnya sampai pada dengar. Kalau cuma soal menang dan kalah, seandainya tidak ada kejadian mempengaruhi juri lain, saya kira tidak akan sampai seperti itu.”

Adry kemudian menjelaskan di awal lomba, tapi hanya sebentar saja, Speed Racer yang ada di gantangan 18 sempat turun. “Tak sampai tiga detik ketika baru digantangkan. Setelah itu, kerjanya luar biasa. Speed, lagu, power, saya pastikan unggul. Powernya Berick sudah ketutuplah.”

Setelah koncer ditancapkan, Adry mengaku sudah menenangkan H. Sadat supaya tidak protes terlalu keras. “Nanti kita tanya baik-baik melalui panitia,” ujar Adry, sambil menurunkan Speed Racer.

Nah, saat Adry sedang mengerodong Speed Racer, H. Sadat lantas masuk ke ruang juri. Di dalam, ia menemui dan bertanya kepada salah satu juri, Tofik Kuro, juri yang ia kenal. Kebetulan duduk di sebelahnya adalah Brian.

Saat itu, H. Sadat tanya kepada Tofik, di mana kekalahan Speed dari Berick. Tofik disebutkan tidak bisa menjawab. Pada saat bersamaan, Brian disebutkan memasang kedua tangannya di depan muka dalam posisi siap-siap menangkis, seolah-olah akan diserang. Sadat rupanya terprovokasi dengan cara Brian seperti itu, kemudian menempeleng.

“Saya tidak tahu apakah tempelengan dari H. Sadat itu kena atau tidak, sebab posisi saya waktu itu masih di luar mengurus Speed. Pada saat itu, kemudian banyak orang lain yang ikut masuk merengsek ke ruang juri, ikut marah karena akumulasi kejengkelan dari awal mula,” jelas Adry lagi.

Setelah itu, Dicko yang mengawal Berick mendatangi H. Sadat untuk meminta maaf. Menurut Adry, “Dicko mengatakan Brian masih juri muda, belum memahami betul bagaimasan seharusnya berkomunikasi antar-juri di lapangan”.

Agar masalah selesai tuntas, Adry kemudian memohon kepada panitia Edo Lembang, agar bisa dipertemukan dengan Brian secara resmi.

Adri kemudian bertanya kepada Brian. “Brian, tolong jelaskan pada saya secara jujur, secara laki-laki, di mana kalahnya Speed dari Berick. Tolong dijawab yang sebenarnya. Kalau memang benar, pertahankan keyakinananmu sampai mati, tapi kalau memang salah, ya harus mau mengakui kesalahan.”

Waktu itu, Brian menyebutkan Speed kalah kerja. “Tentu saya menyangkal soal ini. Sebab Speed kerjanya luar biasa. Terus saya tanya, bagaimana dengan lagu dan speednya, Brian jawab bagus Speed. Lalu bagaimana dengan powernya, Brian pun menjawab Speed jauh di atasnya.”

Kemudian Adry bertanya, terus kalau begitu, di mana Berick keunggulannya? Brian menjawab, “lebih nagen”.

Adry pun bertanya lagi, kenapa Brian sebagai juri sampai mengajak-ngajak atau mempengaruhi juri lain sambil menyebut Berick lebih ngerol?  “Saya tidak menyebut nomor  gantangan lagi, sebab semua orang sudah pada tahu kalau nomor 39 adalah Berick, dan nomor 18 adalah Speed.”

Menurut Adry, Brian menjawab untuk koordinasi supaya tidak meleset.

“Brian, aku temanmu, saya datang jauh-jauh dari Bangka untuk lomba, kalau buat cari uang dari hadiah, pasti tidak masuk. Saya hanya ingin katakan, juri saya kira harus punya pendirian, tidak takut salah kalau memang yakin dengan pilihannya. Apa yang kamu lakukan menurut saya sudah melampaui tugas juri, itu tugas korlap. Kenapa itu kamu lakukan, logika pasti mengatakan itu ada apa-apanya kan.”

Adry menyebutkan, dengan muka merah seperti mau menangis, Brian menyebutkan dirinya dalam tekanan besar, di satu sisi berhadapan dengan burung Speed, di sisi lain juga berhadapan dengan burung milik temannya di Jogja.

Adry mengaku secara pribadi sudah mau memberikan maaf kepada Brian, apalagi Brian secara tidak langsung sudah mengakui keunggulan Speed. “Tapi tidak tahu bagaimana dengan H. Sadat, pemilik Speed Racer, apakah juga sudah mau memaafkan dan menganggap sudah selesai.”

Adri kemudian pamitan untuk keluar. Baru tiga langkah, Adry ditarik tangannya oleh Brian, isinya memohon bagaimana supaya H. Sadat juga mau menerima maafnya dan bisa menerima kembali Brian seperti sedia kala.

Singkatnya, menurut Adry, Brian kemudian menulis SMS kata permohonan maaf kepada H. Sadat, yang kata-katanya waktu itu juga dipandu oleh Dicko supaya baik dan pas.

Sudah selesai

Hingga tulisan ini diturunkan, omkicau.com belum bisa menghubungi secara langsung Brian Rachmad. Namun Dicko dalam pembicaraan via telepun dengan Om Kicau tadi malam mengatakan masalahnya sudah selesai.

“Ya memang ada salah pada sisi Brian, dia itu juri muda yang kebetulan dalam melakukan komunikasi dengan juri lain terlalu mencolok. Kita tahu kan ada kode-kode komunikasi tertentu antar-juri, nah saat itu dia terlalu keras,” katanya.

Namun demikian, lanjutnya, dari sisi peserta ada kesalahan juga. Seharusnya kalau ada protes dan sebagainya sebaiknya disampaikan kepada panitia.

“Ya mungkin karena terbawa emosi sesaat, bisa saja orang menjadi marah tak terkendali. Namun dari pihak Pak Sadat sudah ada permohonan maaf kepada Brian dan Brian pun sudah minta maaf kalau dirinya sempat membuat peserta emosi. Jadi masalahnya sudah selesai,” katanya.

Om Kicau berharap masalah ini tidak terulang dan masalah antara juri dan peserta Lomba Bintaro bisa selesai sampai di sini – tuntas – sehingga kebersamaan antar-kicaumania Indonesia tetap terjaga.

UPDATE:
Berkaitan dengan artikel ini Om Brian Rachmad memberikan konfirmasi kepada Om Kicau. Dia menyatakan:

Ya Om, itu sudah benar cuma kemarin saat dipukul pukulan hanya mengenai tangan saya karena saya sudah siap pasang tangan di kepala. Lalu kemarin saya tidak mau nangis loh Om semua masih biasa saja, hehehe.
Saya juga masih melanjutkan ngejuri lagi. Kemarin siang saya sudah telpun-telpunan dengan H Sadat langsung dan sudah damai Om. Terimakasih.

Ya demikianlah, akhirnya insiden Bintaro sudah bisa terselesaikan dengan baik.
Salam kompak, salam dari Om Kicau.

(Om Kicau berdasar wawancara dan laporan Waca-Jogja)

Ada pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

30 Comments »

  1. yah begitu lah.kalo juri ga di titip,kaga dpt duit sampingan,semua itu bisnis lah,namanya nyari duit ,bukan cari hobby,.

    Suka

  2. salut bwt om sadat..tp sayang pukulannya gak kena..harusnya tu pukulan jadi perwakilan bwt para kicaumania yg ud di rugikan oleh oknum juri yang gak bertanggung jawab,,ne pelajaran bwt juri2… yang gak pake hati nurani nilai burung..masa gara2 temen deket burung dikoncerin..berarti selama ini menang gara2 di dongkrak juri dong..wah rusak dunia perburungan kl gne caranya.

    Suka

  3. Gini saja, gampannya, kalo anda (pemain, juri, EO, link promo dstnya) sanggup utk mengikuti permainan yg ada di lingkaran setan ini, yaaa silahkan bergelut didalamnya. capailah maksud dan tujuan anda masing2 !!! tujuan pemain misalnya ingin selalu menang (cari caranya, kalo perlu dorong juri dg rupiah), juri yg ingin dpt lebih (carilah caranya, ajak kerjasama donk pemain, EO, dan kwn seprofesi)), EO yg ingin untung guede(carilah caranya, gunting sana gunting sini), link promo (web, media, dll carilah caranya, angkat/.ekspose burung2 tertentu/titipan dr yg punya, nanti gampanglah)

    Nah utk anda yg tidak sanggup utk mengikuti permainan yg bernama lingkaran setan ini, karena anda tau begitu byk uang2 setan yg berterbangan, yaaa sebaiknya byk2nya zikir, dan selalulah berbuat kebaikan.

    Suka

    • maaf ya mas giman sy tidak memakai uang setan. hehe… kita harus berterima kasih pd Tuhan yg mahaesa, (dr mulyana) karena kasus ini sdh dapat diselesaikan, dan ini menjadi pelajaran utk EO, atau penyeleggara lomba agar mengemas sesuatu event supaya lebih profesional, hadiah dipikirkan, quota dipikirkan, SUPAYA KEKECEWAAN TIDAK TERAKUMULASI MENJADI LEDAKAN, ini kan event utk penyaluran penghobby burung , jadi jgn mencari kesempatan dalam kesempitan, intinya sy masih percaya dan yakin masih ada juri yg baik, masih ada EO yg baik, yg memikirkan agar kita semua kicaumania dapat menyalurkan hobbynya :IF THERE IS A WILL , AND THERE ARE MANY WAYS

      Suka

      • Saya setuju dg apa yg om Ferry sampaikan, sy jg berkeyakinan msh ada kok juri yg baik, dsbnya. kyk sy he he he. walau sdh tidak aktif lg/pensiunlah (kr pengen byk2 bertobat dan menghapus dosa) namun lingkungan kesehariannya sy msh bersentuhan dg dunia perburungan ini, sehingga sy tau persisi setiap sat apa yg terjadi didalam sebuah event kontes burung, baik regional maupun nasional. semua msh bisa diperbaiki lah walau hrs akan menemukan lg masalah seperti ini. salam kenal om Ferry….

        Suka

  4. klq boleh saran harusnya tidak dengan kekerasan , klq memang juri n pemain penilainanya merasa benar . ada pemain tidak puas harusnya burung jangan di turunkan dulu,
    burung di dekatkan/ dibandingkan biar jelas perbedaannya, antara pemilik burung jadi jelas tau mana yg layak/pantas jadi yang terbaik n pemilik harus mengakui kekalahannya…walaupun sudah di kasi koncer A itu baru fire play…. trimakasih

    Suka

  5. Saya ompong kicau mania blok tengah.. Pada saat itu saya melihat penjurian kacer, karna saya penasaran nama speed racer sering di sebut2 kicau mania & saya ingin lihat.. Seperti apa speed racer yg sedang di perbincangkan kicau mania.. Pada saat itu speed racer gantangan 18 & solo berik 39.. saya mengakui Solo berrik bagus karna saya sering lihat di blok tengah bisa di bilang merajai di blok tengah.. Untuk skrg ini, tapi kita juga harus mengakui di atas langit masih ada langit.. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri pada saat itu speed racer lebih menonjol.. Dari segi power,speed,lagu & pukulan.. Karna terdengar jelas di luar arena.. Saya hanya kicau mania pinggiran..saya hanya menyampaikan fakta sebenarnya di lapangan.. Menurut saya h.sadat marah itu wajar.. Karna penonton lain juga mengakui speed racer lebih unggul.. Tidak menutup kemungkinan’ Kedepan nya speed racer mendapat lawan yg lebih tangguh.. Karna di atas langit masih ada langit.. Untuk skrg kita harus berlapang dada/mengakui.. Speed racer lebih unggul.. Gak menutup kemungkinan dalam waktu dekat ini.. Speed racer mendapat lawan yg lebih tangguh.. ini lah dunia kicau -salam kicau mania

    Suka

  6. Buat saudara saudaraku seluruh kicau mania, kita harms mengucap syukur pada Tuhan yg maha kuasa, karena memberi rahmat yang luar biasa kepada kita, untuk mengetahui betapa Agung dan Mulianya suatu Kesabaran, semoga kita dapat saling merenungkan dan mengambil hikmah dari kejadian yang kemarin.

    Suka

  7. Itulah kenapa skrng gw lebih demen main di latberan, puas dihati. Kontes burung bukan utk cari duit.. tp cari kepuasan bathin dan itu justru mengeluarkan duit.

    Suka

  8. Lomba mendengarkan burung atau lomba mendengarkan teriakan ?, mas edo lembang yg biasa menjadi ketua panitia, lomba teriak di lembang kan ? Nah itu kesalahan awal dr panitia, yg memang sdh terbiasa dengan lomba teriak, pemicu ke 2 adalah eo yg ingin bermain2 dengan quota peserta, atau mencari keuntungan dengan sistem quota yg menurut sy tidak relevan dengan hadiahnya dan bermaksud agar tidak keluar hadiah pertamanya, sy rasa ini sudah kuno dan akhirnya peserta akan sadar dan meninggalkan eo 2 yg cuma mau mencari keuntungan semata, dengan memanfaatkan peserta pemula, agar tergiur dengan lomba tsbdan hadiahnya, padahal hadiahnya tidak pernah keluar. Pemicu ke 3 adalah : titipan secara langsung dan tidak langsung yg disampaikan oleh bos2 yg memang sdh terbiasa dengan pergaulan dengan juri2 , jadi nantinya tercipta kesan ewuh pakewuh, untuk juri2 memang menjadi dilematis, sdh sepengetahuan umum, juri2 kebanyakkan nyambi sebagai pedagang burung, sebagai broker burung, saran sy kalau menjadi juri, pada saat jual burung jangan menjual janji saat menjadi juri pun jangan jual diri kalau tidak sanggup dengan unsur jual janji dan jual diri, lebih baik anda di rumah saja , juri itu bukan selalu yg terpandai dalam menilai suara burung, juri itu bukan penguasa dalam menentukan burung , juri itu cuma penilai pd saat lomba ,banyak pemilik burung jg mengetahui mutu burung . Saran saya jadilah eo untuk kepentingan dr penghobi burung, boleh untung dan boleh jg rugi dong, masa mau enak saja tetapi giliran sepi masih jg mau mengambil celah agar tetap untung, kasihanilah kicau mania pemula jgn sampai mereka layu sebelum berkembang, untuk juri2 : jgn punya pikiran andalah yg terpandai dlm penilaian burung, walaupun hak juri itu mutlak, jangan merasa anda2 yg ter…………….. Ribuan bahkan jutaan mata yg jg menilai anda sampai suatu saat waktulah yg akan membuat anda lebih dewasa. Dan peserta dan waktu jg yg akan menilai , masih layakkah anda menjadi juri wassalam kicau mania pemalu (pemain masa lalu)

    Suka

  9. tidak gampang jadi juri itu,apalagi juri2 seperti ini kan belum terlatih menurut akedemis hanya mengandalkan pengalaman,ini penting sertifikasi juri, melalui pelatihan agar para juri itu tau kriteria yang di nilai.lomba jangan dijadikan alasan silahturahmi padahal,yang terjadi adalah mencari keuntungan.harus di ingat bahwa lomba itu yang punya modal adalah para peserta dan penyelengara hanya mengumpulkan dana dr peserta lalu dikembalikan sebagai hadiah.arti nya peserta adalah ” RAJA YANG HARUS TERPUASKAN ” juri itu jgn terpengaruh oleh burung bos.sahabat,teman dekat,karena yang memberi honor kalian itu bukan mereka dan juga bukan panitia tapi peserta yang hadir saat itu. salam kicau mania

    Suka

  10. Melihat kejadian kmrn……. Sy berada di lapangan.. Bukan melihat kejanggalan pada penjurian, tp yg saya anggap aneh knp h.sadat sampai melakukan tindakan kekerasan…???? Karena nama h.sadat dikenal ramah di kicau mania…. Setau sy h.sdat blm pernah melakukan tindakan yg begitu… Mungkin benar ada kejanggalan di penjurian.. Hingga dia melakukan hal itu.. Dari kejadian itu bisa kita petik pelajarannya ” pemain skrg bisa dibilang lebih pandai drpd juri” skrg kita pikir buat apa kita beli burung mahal,, klau kita main kkn ,, menangpun kita tidak akan bangga klau kita main juri.,. Toh akhirnya ketauan jg klau main juri… Apalagi kmrn di sesi kacer hanya ada 20ekor… Jadi terlihat benar mana yg lebih unggul sebenarnya…… Salut n bravo buat h.sadat. Ingat pemain lebih pandai drpd juri

    Suka

  11. Hari ini omong kosong semua arena lomba pure mengkedepankan silahturahmi dan prestasi, semua sama saja seperti bangsa/negara ini, semua hanya permainan dan kepentingan dr mereka yg punya ambisi dan kuasa.

    Burung – burung ini lalu menjadi selangait harganya kr memiliki segudang sertifikat, juara yg terkatrol, juara yg dititip, juara yg paksa, tp jika msh menggunakan dg cara2 yg tidak terpuji, harga dan nilai burung yg selangit tersebut juga H A R A M….. !!!

    Suka

  12. harusnya, juri sebelom lomba juri di sumpah dulu,taati aturan tata tertib penjurian,jangan pdang bulu !!!apa burung katakan lah nomor 5 milik si,,,,(tapi tmen nya juri) tapi ga ko ga jln ya dah nilai secara fair lah….? biar ga ribut,,,,

    Suka

  13. Keren abissss… Sebuah insiden pemukulan dalam even lomba burung berkicau di mana berawal dari berbagai alasan sudah cerita lama yang perlu atau tidak perlu kita sikapi. Ada sebab ada akibat. Tpi dalam sudut pandang saya di sini lebih menitik beratkan pada tingkat persaingan (dalam hal ini burung kacer) semakin imbang dan tentunya seruuuuu banget dan juga tuk dewan juri yg kami hormati berkerjalah sesuai dengan sebagai mana mestinya karena kami peserta lomba sudah lebih kritis dan brani dalam bersikap(tp ya jangan sampe sentuhan fisik).
    Bro Brian@ anggap aja ente lagi di gembleng tuk jadi Juri senior.
    H. Sadat@ good job… Tp next gak pake acara kungfu ya Om…

    Suka

  14. Itulah yg terjadi kalau banyak mafia diantara perburungan kita, dimana burung yg bagus bisa saja dikalahkan walaupun tipis tapi tetap menyakitkan, kalau sdh ada kejadian spt itu baru agak sadar tapi gak tau apakah seterusnya akan sadar atau harus ada pemukulan atau insiden lagi

    Suka

  15. Sangat disayangkan bila hoby menjadikan keributan, memang susah menyelenggarakan Lomba sekarang, padahal identifikasi masalahnya sebenarnya sudah jelas seperti :
    1. Juri yang tidak jujur, titipan
    2. Korlap yang tidak maksimal dan kadang juga tidak jujur
    3. Peserta yang tidak fair, mau menang terus dan senang menyogok juri heheheh
    4, EO yang kurang tanggap terhadap kebutuhan Juri dan Peserta ( misal pagar yg terlalu dekat, tiketing, petugas keamanan yang minim )

    dan entah kenapa walaupun masalahnya bisa di identifikasi namun belum dapat diatasi oleh rekan-rekan Kicaumania.

    Hanya bisa berharap dan berdoa, semoga lomba dikemudian hari lebih fair dan jujur.

    Mari utamakan ahlak dari pada sekedar kemenanangan semu.

    Salam

    Arek Pinggiran

    Suka

  16. Walaupun kesalahan dr pihak juri & panitia, bagaimanapun jg kekerasan hrs ditiadakan dr lomba kicau. Mau jd apa kl semua mslh diselesaikan pake emosi & kekerasan. Jgn hanya krn terbawa emosi & sók kuasa trus bs berbuat semaunya. Contohnya sepakbola, walaupun kinerja panita & wasit payah tp pemain tdk boleh menganiaya.

    Suka

    • betul..Saya sependapat dengan om amateur. Rasanya sudah terjadi pergeseran dalam lomba burung. tahun 90 an, Lomba merupakan ajang silaturahmi antar sesama kicaumania. Saat itu urusan menang kalah merupakan hal biasa. Sekarang kondisinya jauh berbeda.Gelaran lomba menjadi ajang kompetisi yang lebih didominasi unsur gengsi dan bisnis. Lomba menjadi ajang untuk menjadi pemenang dan mencari keuntungan semata.Untuk mencapai tujuan itu, segala carapun akan dilakukan. Baik oleh peserta maupun penyelenggara/EO. Dan itulah yang terjadi pada kasus lomba di Bintaro dan tempat lainnya. Semoga kasus di atas menjadi kasus yang terakhir dan maaf kalau saya salah!!

      Suka

  17. Saran pemula buat juri:
    Demi masa depan kicaumania alangkah baiknya mas bryan it di nonaktifkan dulu sementara sbgi juri lomba, atau hanya ditugaskan juri di tempat latberan aj di daerah stempat. Atau jadi peserta lomba aj dlu(indefendent pemula)…..hehe

    Kalau msalah tiket mahal it EO nya yg berlebihan….
    Saran buat EO dari pemula:
    Tahukah EO yg baik seperti ap? Tanyakan kepada lingkungan/kultur yg sumber kekuatanya melimpah. Sebuah EO akan maju apabila mereka sadar?
    SADAR apa yg merekan butuhkan dan mereka andalkan.
    SADAR bahwa EO-EO yg lain juga masih antri dibelakang.
    SADAR bahwa sumber kekuatan EO it adalah modal dari kepercayaan.
    SADAR bahwa nasib EO it ada ditangan massa

    Suka

  18. Saya bingung dengan panitia.. Kalo mau lomba sukses jgn pake juri muda dong, pake juri yg berpengalaman.. Apalagi sempat ada kata Brian menyebutkan dirinya dalam tekanan besar, di satu sisi berhadapan dengan burung Speed, di sisi lain juga berhadapan dengan burung milik temannya di Jogja. Kan aneh.. Lebih baik ga usah juri sob.. Dri pda bikin org emosi n lu banyak kena sumpah serapah dari para pemain.. Gini yg buat org jera untuk ikut lomba.. Gimana ntar kalo lomba gede n lomba yg adu gengsi.. Kalo lu jurinya gitu.. Dijamin lu bangun tidur tau2 dirmh sakit sob..

    Suka

  19. Ini sprti kjdian 2 mggu yg lalu di daerah ciruas kab.serang banten,
    kelas murai batu mega bintang seharusnya tancap bendera no.8 tpi knapa yg hrus msuk juara no.9,pdhal lgu sma skali gk ada,ngeplay jg enggak,dan mantatin/nyingkurin msuh lgi,tpi knp bsa menang.
    Setelah usai lomba sya tanya pda panitia lomba di tenda,itu gantangan no.9 punya siapa”ternyata itu pnya ketua pelaksana yg bernama heris,dan burung tsb.sengaja di titipin juri yg bernama si sutar.
    Inilah dunia KM utk mslh penjurian yg slama ini di sorot pemain,,,msih jauh angan2 seorang pemula bsa mndapatkan selembar sertifikat lomba,yg seharusnya burungnya jln dan isian bongkar smua,,itu smua hnya isapan jempol biasa,,,

    Suka

    • Lomba kicau bintaro 9 walk kemarin tgl 10 juni : tiket mahal, tempat lomba tdk representative, kerja juri tdk profesional,kurangnya control juri pada burung yg mendapatkan gantangan di pinggir ( contohnya pada saat kelas murai batu bintaro 9 walk ) ..

      Suka

    • wah, memang sulit kayanya pemula bwt bs meroket. Jika bgni trs ga akan ada prestasi atau kejutan dlm lomba burung dgn pemula sebagai juara. Huft,,,,,,,, haruskah pemula hanya bisa mencetak burung berpotensi dan hanya bs juara setelah d take over sama pemain2 senior ternama?

      Itu juri muda knp bs jd juri? Sudah berapa lama beliau mengenal burung? Bukankah msh banyak master2 KM yg sarat pengalaman untuk jd juri? contohnya ibarat sepak bola, yg sedang ramai saat ini EURO 2012, para pelatih masing2 negara pastinya dulunya adalah pemain bola. Setidaknya tlh mengenal bola lbh banyak dr pemain negara yg beliau tangani.

      Suka

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156.057 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: