Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

Melacak kegagalan telur MB yang tidak menetas

Beberapa penangkar murai batu (MB), khususnya pemula, kerap mengalami persoalan dengan usahanya. Kasus yang dialami tentu beragam. Kali ini saya ingin mengambil salah satu kasus, yaitu induk betina yang sering gagal menetaskan telur-telurnya. Ayo, kita lacak beberapa faktor kegagalan tersebut.

Kalau telur tidak menetas sesuai dengan jadwal seharusnya (14 hari), coba tunggu sampai hari berikutnya. Tetapi kalau tetap tidak menetas, Anda harus berbulat tekad: pecahkan telur untuk memperkaya ilmu di bidang reproduksi burung.

Bagi yang ingin menangkar, tetapi belum sempat melakukannya, semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Sebagian materi ini juga berlaku atau bisa diterapkan untuk jenis burung berkicau lainnya.

Ketika Anda memecahkan telur yang tidak menetas, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

  1. Ada embrio (bakal piyik), tetapi sudah mati di dalam telur.
  2. Tidak ada embrio di dalam telur, tetapi berbau.
  3. Tidak ada embrio di dalam telur, tetapi tidak berbau.

Baiklah kita bedah satu persatu dari ketiga kemungkinan di atas. Jika ada embrio tetapi sudah mati di dalam telur, sehingga tidak mungkin menetas, maka penyebabnya adalah embrio tidak memperoleh kecukupan gizi, terutama vitamin, yang diperlukan untuk pertumbuhannya.

Embrio (bakal piyik) di dalam telur mulai hari kelima penetasan hingga menjelang menetas. Jika embrio mati, maka telur tidak akan pernah menetas. Kalau telur dipecah, baunya busuk sekali. (Foto: diolah dari avianweb.com)

Embrio (bakal piyik) di dalam telur mulai hari kelima penetasan hingga menjelang menetas. Jika embrio mati, maka telur tidak akan pernah menetas. Kalau telur dipecah, baunya busuk sekali. (Foto: diolah dari avianweb.com)

Embrio yang mati di dalam telur.(foto: avianweb.com)

Embrio yang mati di dalam telur sebelum menetas.
(foto: avianweb.com)

Kemungkinan kedua, tidak ada embrio di dalam telur, tetapi berbau. Jadi, ketika telur dipecah, isinya hanya cairan yang berbau. Cairan yang berbau ini sebenarnya mengindikasikan bahwa di dalam telur sebenarnya sudah ada embrio, tetapi mati di saat masih sangat muda. Biasanya kematian terjadi pada masa 3-5 hari sejak telur dierami.

Jika tidak ada embrio tetapi tidak berbau, atau kemungkinan ketiga, itu menunjukkan telur yang dierami adalah telur infertil, yaitu telur yang sama sekali tidak mengandung sel benih. Sel benih atau disebut discus germinalis itu menempel di permukaan kuning telur (yolk).

telur fertil-dan-infertil

Penyebab telur infertil

Telur infertil disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa jadi karena pejantannya belum siap kawin, atau umurnya kalah tua dari induk betina. Masalah umur burung sulit diketahui oleh penangkar pemula, terutama jika tidak ada catatan (recording) mengenai kapan burung itu menetas.

Kalau Anda membeli induk dari penangkar, coba tanyakan berapa umurnya. Penangkar yang profesional mestinya mempunyai database mengenai burung-burung yang ada dalam kandang penangkarannya, termasuk burung-burung yang siap dijual.

Kalau Anda tetap tidak memperoleh data mengenai umur burung, cobalah periksa sisik-sisik di kakinya. Apabila warnanya belum terlalu solid, dan terlihat seperti basah, berarti burung masih muda alias belum mencapai dewasa kelamin.

Solusinya mesti mengganti burung jantan tersebut dengan pejantan baru yang umurnya lebih tua, meski Anda harus memulai lagi proses penjodohan. Bagaimana cara menjodohkan murai batu, silakan cek artikel ini (lihat bagian pemilihan indukan dan penjodohan).  Kedua pasangan harus sama-sama mencapai dewasa kelamin, dan memiliki birahi tinggi.

Faktor lain penyebab telur infertil adalah salah satu induk, atau kedua induk, tidak mempunyai birahi tinggi sebagaimana burung dewasa pada umumnya. Akibatnya, burung seperti berjodoh tetapi sebenarnya mereka hanya berteman dan tidak pernah kawin.

Hal ini umumnya karena nutrisi (zat gizi) yang dikonsumsi burung dari pakan yang kita berikan belum memenuhi kebutuhan standar calon indukan. Mungkin jumlah (porsinya) sudah ideal, tetapi belum tentu kandungan gizi di dalam pakan itu sudah mencukupi.

Coba lakukan treatment dengan memberikan vitamin dalam pakannya, terutama vitamin A, B, dan E yang sangat dibutuhkan untuk pembibitan. Anda pernah mendengar BirdMature (BMR), salah satu produk unggulan OmKicau?

BMR mengandung multivitamin, multimineral, dan suplemen lain yang lengkap-seimbang, serta bahan aktif yang bermanfaat untuk memenuhi asupan induk jantan maupun induk betina. Selain bermanfaat langsung untuk meningkatkan kesuburan / fertilitas telur, juga dapat menjadi solusi bagi penangkar yang sering mengalami kesulitan dalam menjodohkan induk jantan dan betina.

Jika sudah berjodoh, tetapi tidak mau kawin, treatment ini dapat dilakukan dengan memisahkan dulu kedua induk. Singkirkan pula wadah sarangnya. Selama menjalani terapi, usahakan kedua burung tidak bertemu muka dulu.

Anda akan melihat bagaimana perubahan perilaku burung jantan dan betina. Jika terlihat lebih aktif dan agresif, mulailah dengan proses penjodohan ulang. Apabila sudah berjodoh, burung jantan menjadi jauh lebih trengginas. Demikian pula dengan betina yang tidak ogah-ogahan lagi saat hendak dikawini pasangannya.

Jika perlu, pangkas bulu-bulu di sekitar kloaka

MB jantan, sebagaimana burung jantan pada umumnya, tidak memiliki penis untuk mengawini betina. Saat kawin, burung jantan hanya menempelkan kloakanya ke kloaka betina. Pada saat itulah sperma pejantan yang mengandung sel sperma (semen) masuk ke saluran reproduksi betina.

Sel sperma bisa memancar dengan baik apabila kloaka dari kedua induk bisa saling menempel dengan sangat rapat. Mungkinkah kloaka betina dan jantan ketika kawin tidak menempel rapat? Sangat mungkin, terutama jika terlalu banyak bulu di daerah sekitar kloaka burung jantan, atau burung betina, apalagi pada keduanya.

Cobalah periksa kloaka dari kedua induk yang hendak atau sudah dijodohkan. Jika bulu-bulu di daerah itu terlalu banyak, silakan pangkas hati-hati menggunakan gunting kecil.

Mengatasi problem hormonal induk betina

Dalam beberapa kasus, ada induk MB betina yang beberapa kali berganti pasangan, tapi tetap tidak bisa menetaskan telur-telurnya. Itu berarti ada yang tak beres pada organ reproduksinya atau faktor hormonal.

Jika betina tersebut punya darah juara dari bapaknya, dan Anda berniat mempertahankannya, coba perbaiki pelan-pelan dengan pemberian stimulan hormon estrogren. Misalnya EstroBird, yang selain mampu merangsang pembentukan hormon estrogen, juga berfungsi menambah hormon estrogen secara instan.

Tetapi jika betina tersebut bukan siapa-siapa, keputusan sepenuhnya di tangan Anda. Apakah akan tetap menjalani treatment hormonal seperti di atas, atau segera diganti dengan betina yang baru.

Saya hanya bisa menyarankan, sekiranya harus diganti dengan indukan yang baru, belilah MB betina di tempat penangkaran (bird farm), bukan hasil dari tangkapan alam yang justru membuat Anda butuh waktu lebih lama lagi untuk membiasakan burung dengan kehidupan di kandang penangkaran.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses untuk Anda, salam sukses dari Om Kicau.

Ada pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

1 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156.117 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: