Muara Angke, habitat burung di antara hutan beton

Pemerintah Indonesia sejak dulu sebenarnya sudah memikirkan upaya konservasi berbagai plasma nutfah asli negeri ini, baik flora maupun fauna. Di wilayah DKI Jakarta, misalnya, ada beberapa kawasan yang dianggap penting untuk konservasi alam, termasuk Pulau Rambut dan Muara Angke. Kali ini kita akan mengekspose Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) yang merupakan kawasan ekosistem terpenting bagi keberadaan burung di Pulau  Jawa dan sekitarnya.

Muara Angke tempat penting untuk habitat burung di Pulau Jawa

Muara Angke, salah satu tempat penting untuk habitat burung di Jawa

Apa sih yang dimaksud dengan suaka margasatwa? Mungkin sebagian kicaumania sudah paham, tetapi sebagian lagi (khususnya adik-adik remaja) mungkin belum memahaminya. Suaka margasatwa adalah hutan suaka alam yang memiliki ciri khas berupa keanekaragaman jenis satwa. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sekaligus untuk perkembangbiakannya, diperlukan pembinaan terhadap habitatnya.

Sudah pernah ke Muara Angke, atau lebih khusus lagi ke SMMA? Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi burung dan satwa lainnya di Pulau Jawa. Sebagai satu-satunya hutan bakau yang tersisa di Kota Jakarta, sejarah menunjukan bahwa hutan bakau Muara Angke sejak dulu direncanakan sebagai kawasan hutan lindung.

Hal ini bisa dibuktikan melalui penetapan Muara Angke sebagai cagar alam yang dilakukan sebelum Proklamasi Kemerdeka RI, yaitu melalui SK Gubernur Hindia Belanda Nomor 24 tanggal 18 juni 1939. Pada tahun 1977, kawasan seluas 15,4 hektare (ha) itu kembali ditetapkan sebagai cagar alam melalui SK Menteri Pertanian No. 16/Um/6/19777 tanggal 10 Juni 1977.

Setelah reformasi, statusnya diubah dari cagar alam menjadi suaka margasatwa, berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 755/Kpts-II/98 dengan luas 25,02 Ha. Wah, kok banyak aturan hukum ya? He..he.., sekali-sekali nggak apa-apa, siapa tahu data ini kelak berguna untuk Anda, atau anak-anak Anda.

Hutan bakau yang rindang di kawasan Muara angke menjadi salah satu alternatif tujuan wisata alam di Jakarta

Hutan bakau yang rindang di Muara Angke menjadi salah satu alternatif tujuan wisata alam di Jakarta. Inilah satu-satunya hutan bakau yang tersisa di Ibu Kota.

Kawasan Suakamarga Satwa Muara Angke sangat memegang peran penting dalam pelestarian dan konservasi hewan dan burung langka di Jawa, karena menjadi habitat sejumlah burung yang terancam punah seperti bluwok (Mycteria cinerea) yang juga bisa ditemui di Pulau Rambut, sikatan bakau (Cyornis rufigastra), prenjak jawa / ciblek (Prinia familiaris), cerek jawa (Charadrius javanicus), bubut jawa (Centropus nigrorufous), dan kipasan belang (Rhipidura javanica).

Selain keaneka ragaman jenis burung, di kawasan ini juga bisa dijumpai aneka satwa lainnya seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang hidup berkelompok dan memakan dedaunan muda dan buah-buah bakau sebagai pakan utamanya. Ada juga beberapa spesies reptil seperti ular sanca (Phtyon reticulatus), ular kobra (Naja sputatrix), ular welang (Bungarus fasciatus), ular kadut (Homalopsis buccata), ular cincin mas (Boiga dendrophylla), ular daun (Ahaetula prassina), ular air (Cerberus rhynchops), dan biawak (Varanus salvator).

Rhipidura Javanica di tengah hutan muara angke | photo kompas.com

Kipasan belang di tengah hutan Muara Angke (foto kompas.com)

Sedangkan keanekaragaman tanaman didominasi tumbuhan air payau, seperti bakau (Rhizophora mucronata), api-api (Avicennia alba), pidada (Sonneratia caseolaris), dan buta-buta (Excoecaria agallocha). Beberapa jenis tumbuhan asosiasi bakau juga dapat ditemukan di Muara Angke, misalnya ketapang (Terminalia catapa) dan nipah (Nypa fructicans).

Ada juga tanaman bakau dan non-bakau introduksi (hasil kegiatan reboisasi), seperti waru laut (Hibiscus tilliaceus), tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), nyamplung (Callophylum inophyllum), bintaro (Cerbera manghas), akasia (Acacia auriculiformis), asem (Tamarindus indica), dan lamtoro (Paraseriantes falcataria).

Di beberapa bagian, terutama bagian utara dan selatan SMMA, banyak ditumbuhi semak-semak terutama gelagah (Saccharum spontaneum). Semak-semak ini pun memiliki nilai penting, terutama bagi burung yang hidup di semak seperti bubut jawa. Berdasarkan data BirdLife International 2011, populasi bubut Jawa diperkirakan berkisar antara 2.500-10.000 ekor (individu dewasa).

Secara keseluruhan, bubut jawa mengalami penurunan populasi akibat penangkapan untuk perdagangan. Suaka Margasatwa Muara Angke yang menjadi habitat burung ini juga terancam polusi air, rendahnya regenerasi hutan bakau, serta tekanan pembangunan di sekitar kawasan.

Bubut jawa yang sudah mulai langka | photo: Bernard T. Wahyu Wiryanta (nationalgeographic.co.id)

Bubut jawa yang sudah mulai langka (foto: nationalgeographic.co.id)

Saat ini kawasan SMMA telah kehilangan elang bondol (Haliastus indus) yang merupakan maskot Kota Jakarta. Pada zaman dulu, elang bondol mendiami beberapa wilayah di Jakarta. Namun berkurangnya ruang terbuka hijau membuat keberadaan burung ini makin sulit ditemukan, terlebih dengan adanya perburuan liar terhadap jenis elang ini. Burung elang bondol kini bisa ditemukan di Pulau Kotok Besar, yang lokasinya dekat dengan Muara Angke. Di pulau itulah elang bondol hasil sitaan dirawat dan disiapkan untuk bisa dilepasliarkan.

Selain elang bondol, ada juga elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), yang juga hasil sitaan. Kondisinya sangat menghawatirkan, karena beberapa burung mengalami kondisi fisik yang menyedihkan seperti kaki pincang dan sayap patah akibat perawatan tidak bertanggung jawab dari yang membeli atau memburu burung tersebut.

Kembali ke Muara Angke. Kawasan yang berlokasi tidak jauh dari komplek Perumahan Pantai Indah Kapuk ini menampung setidaknya 91 spesies burung, terdiri atas 28 spesies burung air dan 63 spesies burung hutan. Dari spesies tersebut,  17 diantaranya merupakan burung dilindungi dan hampir punah. Birdlife Internasional telah memasukkan Suaka Margasatwa Muara Angke sebagai salah satu daerah penting bagi burung di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu tujuan wisata alam, kawasan konservasi dan suaka margasatwa ini  menjadi salah satu pilihan bagi Anda dan keluarga yang menyukai hobi bird watching atau mengamati burung dan hewan. Boleh jadi, inilah salah satu kawasan konservasi alam paling unik, karena habitatnya yang berada di tengah “hutan beton” seperti Perumahan Pantai Indah Kapuk.

Bahkan pihak pengelola Taman Suakamarga Satwa ini menyediakan perahu (boat) untuk mengarungi muara sungai Angke, sekaligus menuju Pulau Burung yang terletak tidak jauh dari hutan Angke. Namun trip ini hanya dilakukan pada jam 15.00, karena pada saat itulah burung-burung mulai keluar dan terbang secara bergerombol.

Untuk menuju kawasan ini, Anda harus terlebih dulu mendapatkan izin dari Departeman Kehutanan – Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam – Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, dengan alamat Jalan Salemba Raya No 9, Jakarta Pusat.

Kapan berangkat?

Salam sukses, Salam dari Om Kicau.

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain. Agar tidak tertipu, pastikan Anda membaca artikel ini (klik saja).

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini