Secuil cerita (tentang burung) dari Melbourne

Oleh Ige Kristianto

Malam ini, Om Kicau mendapat kiriman artikel istimewa, dari sobat lama, yang kini nun jauh di sana: Australia. Om Ige Kristianto, direktur eksekutif Yayasan Kutilang Indonesia, sudah beberapa bulan terakhir ini berada di Australia. Yayasan inilah yang mengelola website kutilang.or.id, yang juga menjadi salah satu referensi bagi omkicau.com. Ketika mengirim artikel mengenai dunia perburungan di Australia, Om Ige dengan kerendahan hati menyebut identitas dirinya sebagai koresponden omkicau.com di Victoria, Australia. Selamat menikmati.

Menggali informasi tentang burung di seputaran Melbourne (Victoria, Australia) memang tak semudah di Jogja. Bahkan selama hampir tiga bulan keliling-keliling kompleks, hanya ada satu rumah yang terlihat memelihara burung. Itupun hanya dua ekor kenari dan empat ekor parkit.

Saya lalu menyempatkan dolan ke Victoria Market, salah satu pasar yang menjadi tujuan wisatawan yang datang ke Melbourne. Ternyata hanya ada dua petshop, yang mana ruangannya pun terlalu sempit untuk burung. Jenis burung yang dijual pun tak lebih dari hitungan jari tangan.

Display burung yang dijual oleh petshop di Victoria Market.

Display burung yang dijual oleh petshop di Victoria Market.

Saya lalu membandingkannya dengan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), Taman Pasar Burung Depok Solo, atau Pasar Burung Karimata Semarang. Jumlah burung yang dijual di dua petshop Victoria Market hanya seujung kuku jari ketiga pasar burung tersebut. Fakta-fakta ini akan berbanding terbalik ketika kita berbicara tentang anjing dan kucing.

Anjing dan kucing menempati urutan pertama sebagai satwa piaraan paling popular di Australia. Sebaliknya, burung adalah satwa piaraan terpopular di Indonesia. Di Australia, orang berjalan kaki bersama anjing piaraannya merupakan pemandangan yang sangat umum. Ya, sama umumnya kalau kita melihat orang menggendong sangkar burung sambil naik motor di Jogja.

Perilaku yang agak unik, meski bagi sebagian dari kita mungkin terlihat menjijikan, adalah melihat orang-orang itu memunguti kotoran (feces) anjing, sesaat setelah anjing piaraannya buang air besar (pup). Kotoran anjing itu akan terus dibawanya sampai sang pemilik menemukan tempat sampah. Perilaku unik seperti inilah yang membuat tas plastik tetap laku di Australia.

Meski banyak warga memelihara anjing dan kucing, namun saya sangat jarang melihat kedua hewan itu berkeliaran sendirian di luar rumah. Pemerintah Kota memiliki semacam organisasi khusus untuk memburu anjing dan kucing liar. Pemerintah juga mewajibkan setiap pemilik untuk memasang chip (identitas) pada anjing dan kucing peliharaannya. Jadi, jika mereka hilang, bisa mudah dikembalikan kepada pemiliknya. Anjing dan kucing yang tanpa chip boleh dimiliki siapapun yang menginginkan.

Bagaimana dengan nasib kucing-kucing liar yang sengaja dilepasliarkan untuk mengendalikan hama tikus dan kelinci di areal persawahan? Ini yang sekarang menjadi problem di Australia. Dulu, sekitar awal tahun 1800-an, atau lebih dari dua abad silam, Pemerintah Australia berusaha mengendalikan tikus dan kelinci yang menjadi hama tanaman pertanian dengan cara melepasliarkan ribuan kucing.

Kucing-kucing liar itu tentu sudah beranak-pinak, bahkan mencapai puluhan generasi. Dampaknya, populasinya sudah tak terkendali, bahkan telah menginvasi kawasan-kawasan konservasi. Kucing-kucing liar itu kini merupakan penyebab utama kepunahan burung-burung yang hidup di permukaan tanah seperti gemak, cabak, parkit, serta beberapa jenis mamalia kecil endemik daratan Australia.

Kondisinya sekarang makin tragis. Kucing-kucing yang dulu dilepasliarkan untuk membasmi tikus dan kelinci, kini justru menjadi target buruan utama setiap penembak di Australia. Hal ini menjadi topik perdebatan sengit antara aktivis animal welfare dan para penggiat konservasi keanekaragaman hayati di negara tersebut.

Burung sebagai teman

Pakan burung jauh lebih murah daripada pakan anjing dan kucing.

Pakan burung jauh lebih murah daripada pakan anjing dan kucing.

Ada cerita lain mengenai dunia perburungan di Australia. Berdasarkan hasil survai Jepson dan Ladle (2010), alasan orang Indonesia memelihara burung adalah untuk mengembalikan suasana desa ke kota. Bagaimana di Australia? Alasan utama mereka memelihara burung justru untuk accompany, atau sebagai teman.

Alasan serupa juga diungkapkan para pemelihara anjing dan kucing. Hanya saja, biaya perawatan (termasuk pakan) burung di Australia lebih murah daripada anjing dan kucing. Mungkin alasan inilah yang membuat  jenis burung paruh bengkok lebih disenangi, apalagi kelompok parrot dikenal dapat dilatih untuk berbicara, dijadikan teman / sahabat, dan terkadang bisa diumbar tanpa takut burung bakal terbang menghilang.

Adapun burung jenis finch atau burung pemakan biji, terutama kenari, mempunyai sejarah tersendiri di Australia. Kenari sering dijadikan sebagai teman baik (untuk tidak mengatakannya sebagai tumbal) terutama bagi para penambang batubara.

Konon, burung kenari sering digunakan para petambang untuk menguji kandungan gas beracun di dalam sumur-sumur tambang. Jika kenari tak berkicau lagi saat dimasukkan ke dalam lubang galian, maka proses penggalian akan dihentikan. Mengapa? Sebab bisa dipastikan di dalam lubang tersebut terdapat gas beracun.

Mengintip petshop di Victoria

Hal pertama yang mudah diketahui saat kita mendatangi petshop di Australia, khususnya di Victoria, adalah harga. Yang paling menarik adalah harga lovebird (LB). LB non-klep hanya dibandrol AUSD 35 (setara Rp 350.000) per ekor atau AUSD 65 (Rp 650.000) per pasang. Sedangkan LB klep dibanderol seharga AUSD 250 (Rp 2,5 juta) per ekor.

Harga lovebird klep jauh lebih mahal daripada non-klep.

Harga lovebird klep jauh lebih mahal daripada non-klep.

Mengapa selisihnya bisa sangat jauh? Pertanyaan itu belum dapat terjawab. Ketika saya bertanya kepada pelayan toko, dia justru balik bertanya, “Menurut Anda, berapa harga yang pantas?”.  Karena belum cukup kaya untuk menjadi pemelihara burung di sini, maka saya pun mundur teratur.

Burung bayan

Burung bayan dijual dengan harga “nego”.

Selebihnya, seekor parkit dijual pada kisaran harga AUSD 25 – 30 (Rp 25.000 – Rp 30.000). Berbagai jenis finch seperti zebra finch, java, peking, dan sebagainya menjadi burung termurah, yaitu AUSD 12 atau hanya Rp 120.000. Sementara kenari red-factor dibanderol seharga AUSD 65 (Rp 650.000), dan kenari kuning AUSD 40 (Rp 400.000). Adapun kakatua gallerita dan bayan tidak memiliki harga pasti, karena label yang tertera hanya bertuliskan “nego”.

Kenari red factor

Kenari red factor hanya AUSD 65 (Rp 650.000)

Gelatik jawa hasil penangkaran di Melbourne.

Gelatik jawa hasil penangkaran di Melbourne.

Menurut pelayan kedua petshop itu, semua burung yang dijual merupakan hasil penangkaran. Tapi, sialnya, mereka merahasiakan alamat para penangkar burung di sekitar Melbourne. Ya sudah, semoga lain waktu saya bisa menjumpai para penangkar di sini. Kalau bisa ketemu, akan saya share kembali untuk para pembaca omkicau.com.

Salam dari Desa Brunswick, Kota Moreland, Victoria, Australia.

Semoga cerita Om Ige Kristianto bisa menambah wawasan kita mengenai dunia perburungan di Australia.

Salam sukses, Salam dari Om Kicau.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

There are 2 comments

Komentar ditutup.