About these ads

Kabinet Pelestari Burung Indonesia (PBI) 2013-2018 harus ubah pesimisme jadi optimisme

Kabinet Pelestari Burung Indonesia (PBI) 2013-2018 harus ubah pesimisme jadi optimisme

Bagaimana kinerja kabinet baru Pelestari Burung Indonesia (PBI) periode 2013-2018 nanti? Salah satu opini yang muncul di media massa ternyata bernada pesimistis. Salah satu di antaranya adalah tulisan Om Wahyu Dwi Widodo di Agrobur Edisi 672 Maret 2013. Pesimisme itu berangkat dari susunan pengurus yang akan mendampingi Pak Bagya nanti. Lanjut membaca

About these ads

Pelajaran dari Washington: Menganiaya burung diganjar 6 bulan

Beginilah kalau hukum sudah ditegakkan. Tak peduli siapakah yang jadi korbannya, selama itu makhluk hidup, maka risiko harus ditanggung sendiri. Hal ini dialami Richard J Atkinson, pria berusia 63 tahun, yang divonis bersalah oleh hakim di Washington karena terbukti menusuk burung nuri dengan garpu dan merusak rumah milik mantan pacarnya. Lanjut membaca

Panduan menjadi EO Latber burung

Referensi Wajib Baca

Maraknya lomba burung berkicau, apalagi dalam format sederhana seperti latihan burung berrhadiah (Latber) dan latihan prestasi (Latpres), terkadang sering menggoda kicaumania yang kebetulan pernah atau sering terlibat dalam penyelenggaraan even-even tertentu seperti festival band, seminar, lomba anak sehat, dan sebagainya. Penyelenggara even biasa disebut sebagai event organizer (EO), hal ini juga dijumpai pada latber burung. Pernahkah terbersit dalam pikiran untuk menjadi EO Latber burung berkicau? Kalau berminat, berikut panduan lengkapnya. Lanjut membaca

Seandainya ada mantel untuk burung

Kesulitan yang terjadi akibat perisitiwa tertentu sering melahirkan ide yang bisa menjadi solusi, sekaligus membuka peluang bisnis baru yang nilainya cukup besar. Misalnya saat terjadi hujan dalam lomba burung. Pernakah terpikir untuk memproduksi mantel burung? Lanjut membaca

Ada cerita bersambung tentang burung langka di Om Kicau

Ada cerita bersambung tentang burung langka di Om Kicau

Posting Om Kicau kali ini mungkin sedikit nyeleneh, yaitu cerita bersambung (cerber) berjudul “Karena Aku Peduli Enggang Gading” karya Dudung Abdul Muslim. Tokoh utamanya adalah Kinanti, jurnalis cantik yang berkerja di majalah lingkungan hidup, dan diminta atasannya melakukan investigasi terhadap sindikat perdagangan ilegal paruh enggang gading. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (tamat)

Lelaki perlente itu seperti mendapat durian runtuh. Dinda, perempuan yang sebenarnya bernama Kinanti, baru saja menelepon dan menunggunya di sebuah hotel berbintang di Jalan Sudirman. Katanya, Dinda ingin melunasi semua transaksinya hari ini juga. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 6)

Ponsel tiada henti-henti berdering. Email penuh dengan pesan baru. Semua itu gara-gara enggang gading, tetapi Kinanti merespon seluruh komentar pembaca dengan senang hati. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 5)

Jakarta benar-benar makin tidak bersahabat dengan warganya. Macet, panas, waswas, dan cemas bercampuraduk menjadi satu. Jakarta hanya serasa surga, ketika kita sudah tiba di rumah, kantor, atau gedung berpendingin udara, sambil mendengarkan musik kegemaran, menyantap makanan kesukaan, bercengkerama dengan keluarga atau sahabat setia. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 4)

Jogja sudah jauh berubah dari masa-masa ketika Kinanti kuliah. Daerah marginal seperti Ring Road Utara, Maguwoharjo, dan Jalan Adisucipto mengalami pertumbuhan pesat, mulai dari pembangunan kampus, gedung olahraga, jalan layang, hingga revitalisasi bangunan lama seperti Hotel Ambarukmo yang menjadi Ambarukmo Palace. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 3)

Pagi ini terasa indah sekali. Puncak Merapi memang sedikit tertutup awan, namun tak mengurangi keindahan alam Maguwoharjo. Beberapa petak sawah di depan rumah dalam waktu dekat mengalami panen.

Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 2)

Malam sudah cukup lama menyapa alam. Sedikit kelam, mungkin karena mendengar isak tangis tiada berkesudahan di rumah itu. Rukmini menangis di kamarnya. Dari balik jendela, dia melihat anaknya duduk sendirian di atas tikar pandan yang digelar di kebun, di bawah pohon sukun. Sejak isya tadi, ia telah berada di sana. Lanjut membaca

Cerita bersambung: Karena aku peduli enggang gading (bagian 1)

Keletak andong terdengar keras, tetapi harmonis, tatkala melintasi jalan berbatu di desa itu. Beberapa anak berseragam putih-merah jalan berjajar dengan riang. Seorang pemuda bertelanjang dada menggenjot sepeda dengan kencang, melampaui laju andong. Karung berisi rerumputan tergolek di jok belakang, terjepit kencang oleh karet hitam bekas ban sepeda motor. Lanjut membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42.231 pengikut lainnya.