About these ads

Cendet macan (tiger shrike) bersuara mirip senapan

Cendet macan (tiger shrike) bersuara mirip senapan

Cendet / pentet merupakan salah satu burung kicauan yang digemari di Indonesia, apalagi burung ini merupakan tipe fighter sejati. Cendet yang ada di Indonesia dan dilombakan memiliki nama spesies Lanius schach. Di seluruh dunia terdapat 28 jenis  cendet, salah satunya akan kita bahas di sini, yaitu cendet macan / cendet loreng atau tiger shrike (Lanius tigrinus). Spesies ini tidak dijumpai di Indonesia, karena habitatnya di kawasan Siberia dan Asia Timur. Tapi, sebagaimana anis siberia, pada musim dingin cendet macan bermigrasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Lanjut membaca

About these ads

Rahasia pentet jawara dari Om Nicho

Rahasia pentet jawara dari Om Nicho

Om Nicho dulu merupakan moderator pentet di forum kicaumania.or.id. Karena kesibukan kerja, dia memutuskan mengundurkan diri. Meski demikian, dia tetap setia berbagi ilmu mengenai perawatan burung pentet di forum yang inspiratif tersebut. Artikel kali ini mengungkap rahasia perawatan pentet jawara dari Om Nicho, khususnya mengenai setelan extra fooding (EF) untuk rawatan harian dan rawatan jelang lomba, sebagaimana ditulisnya dalam salah satu threat di forum tersebut. Lanjut membaca

Sekali lagi mengenai pentet salto

Sekali lagi mengenai pentet salto

Apa yang menyebabkan burung pentet atau cendet salto ? Pertanyaan tersebut mungkin lebih tepat dijawab oleh Anda yang memelihara pentet. Mengapa jawaban saya begitu? Karena jawabannya memang terletak pada perawatan harian yang dilakukan oleh pemilik atau perawat terhadap pentetnya. Saya, dia, atau mereka tentu tidak tahu apa yang Anda berikan kepada pentet di rumah Anda, baik soal pakan maupun perawatan harian lainnya. Lanjut membaca

Dobel kerodong jelang lomba: strategi mengatasi cendet yang terlalu gacor

Referensi Wajib Baca

Sebagian kicaumania yang datang ke Pakde Karwo Cup di Surabaya (11/11) berdecak kagum melihat penampilan cendet Peterpan milik Mr Fajar (Bali Peace). Penampilannya yang full rolling, diselingi tembakan-tembakan dahsyat, rapat, dan bertenaga, membuat penampilan Peterpan terlihat melebihi musuh-musuhnya. Tapi tidak banyak yang tahu, sebenarnya ada problem yang dihadapi Peterpan, dan akhirnya bisa diatasi Om Fajar dengan strategi yang tepat. Lanjut membaca

Solusi cendet cabuti bulu ekornya sendiri

Referensi Wajib Baca

Burung cendet merupakan tipikal fighter, alias memiliki temperamen tinggi jika bertemu dengan sesama cendet lainnya. Ia langsung on fire  untuk ngoceh. Tetapi jiwa fighter-nya akan berkurang, bahkan hilang, ketika ia mengalami gatal-gatal pada bulu-bulunya. Lebih parah lagi jika cendet sampai mencabuti bulu-bulunya, terutama bulu ekornya. OMG…, apa yang mesti dilakukan? Lanjut membaca

Burung cendet Madura, harga meroket dan terancam punah….

Burung cendet Madura, harga meroket dan terancam punah….
Trotolan cendet madura - mereka terancam punah

Trotolan cendet madura - mereka terancam punah

Seorang sobat dunia maya dari Madura, Om Mili Yuner Terkaya SeSumenep, mengatakan di Halaman Hobi Burung Kicauan dan Penangkaran, bahwa burung cendet liar di daerah Madura terutama Sumenep yang terkenal dengan suara kristalnya sudah punah akibat penangkapan induk secara besar-besaran sejak tahun 1999. Sampai sekarang di Sumenep hanya tinggal dua kecamatan yang ada polulasi cendetnya.

“Seharusnya PBI (Pelestari Burung Indonesia) menyikapi hal ini dan bertindak tegas. Sedangkan PBI Sumenep hanya diam saja tidak ada tindakan tegas dan hanya menikmati burung yang sudah hampir punah ini. Yang lebih menyedihkan lagi, yang ditangkap induknya bukan anakannya. Penangkapan indukan cendet liar di hutan Sumenep sudah sangat memperihatinkan, padahal kalau indukan ditangkap hanya 20 persen saja yang bisa hidup di penangkaran,” katanya.

Di halaman yang sama, Om Andhi Kemoy mengatakan sebenarnya bukan cuma PBI saja yg harus menyikapi hal ini tapi juga kita semua. Burung ditangkapi karena banyak permintaan pasar semntara kebanyakan penghobi cuma mau memelihara dan melombakannya. Hanya sebagian kecil yang punya niat baik menangkarkan buat tujuan konservasi. Beruntunglah burung-burung yang bersuara jelek, jadi cuma dicuekin dan bisa tetap bebas di alam liar.

Om Mili Yuner Terkaya SeSumenep pun mengatakan, “Betul juga. Tapi bagaimana cara agar burung yang terutama bisa dilombakan menjadi lestari? Ironisnya PBI yang berarti pelestari burung Indonesia tidak ambil tindakan, hanya menikmatinya saja. Kan malu sama namanya…!” Burung yang sudah punah di Kabupaten Sumenep, lanjutnya, antara lain prenjak, branjangan, kacer dan jalak hitam. Burung yang hampir punah cendet, perkutut dan ayam hutan (induk ayam bekisar).

Menurut Om Andhi Kemoy, sepertinya dengan adanya kelas ring sedikit membantu konservasi burung-burung lomba. Tapi sayangnya lebih banyak EO yang mikir cari untung ketimbang buka kelas ring. PBI cuma stakeholder, masyarakat penghobi burung yang lebih punya peranan penting.

Mili Yuner Terkaya SeSumenep pun menyambut baik. “Yap, betul itu, kelas ring sangat baik untuk mengantisipasi kepunahan burung. Tapi bagaimana cara mencetuskannya? Saya tidak breeding apa-apa, sebab saya tinggal di Pulau Kangean yang terpencil di tengah laut Jawa – termasuk Kabupaten Sumenep. Di sini banyak binatang yang dilindungi seperti harimau, rusa, elang kepala putih dan lainnya. Begitu juga di sini, harimau sudah tinggal beberapa ekor saja, rusa sering diburu untuk diambil daging, tanduk dan tengkoraknya. Kalau elang kepala putih alhamdulillah masih banyak walau sering diburu.

Persepsi dan kondisi pasar cendet asal Madura

Benarkah apa yang dikatakan Om Mili Yuner? Bagaimana kondisi pasar cendet (pentet, toet) saat ini dan bagaimana pula persepsi masyarakat kicaumania  terhadap cendet asal Madura?

Ya, sebagaimana ditulis Tabloid Agrobur, secara awam, cendetmania mengenal 3 kawasan penghasi cendel berkualitas, khususnya di Jatim. Rangking pertama dipegang Madura, kawasan penghasil cendet yang sudah terkenal, khususnya di ranah nasional.

Belakangan, ada kawasan lain yang iktu meramaikan bursa pasar cendet, di antaranya Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Situbondo. Selanjutnya kawasan ini masuk dalam daerah Tapal Kuda Kuda. Sedangkan kawasan Iainnya antara lain, Bojonegoro, Tuban, Babat, Lamongan dan sekitarnya, masuk dalam kawasan Pantura.

Kawasan-kawasan ini kemudian kemudian menjadi pemasok cendet anakan yang tersebar ke berbagai kota di Jatim, dan beberapa kawasan lainnya di negeri ini.

Khusus cendet dari Pulau Garam, Madura, konon harga anakannya sudah melonjak drastis. Harganya bisa 3 kali lipat dari daerah-daerah lainnya. Bahkan para pemburu cendet anakan yang  mengatakan, stok cendet Madura mulai menipis. Kalau toh ada, harganya sudah kelewat rnahal “Sulit sekarang dapat pasokan langsung dari Madura, karena dari Madura sudah disortir dulu para pemain yang langsung datang ke Madura,” papar Agung, pengepul cendet asal Surabaya yang belakangan mulai kesulitan mendapat materi.

Harga anakan — masih meloloh, dari Madura sudah dibandrol Rp 150 ribu per ekor. Padahal, dari kawasan Tapal Kuda dan Pantura, masih di kisaran Rp 50 ribu per ekor. ”Kalau cendet di Madura sendiri, justru lebih mahal dibandingkan ambil dari para pengepul,” timpalnya.

Kini beberapa pasar burung Surabaya mulai diramaikan cendet asal Tapal Kuda dan Pantura. Kawasan yang mulai diramaikan cendet asal Banyuwangi, Bojonegoro dan kota di luar Madura, antara lain Pasar Burung Kalondo dan Pasar Burung Kupang.

“Kini lagi kebanjiran cendet dari Banyuwangi, tap para pembeli masih fanatik dengan cendet Madura,” ujar Syafii, pedagang cendet di Pasar Kupang, Surabaya.

Menurutnya, pembeli sudah tersugesti dengan cendet Madura. Mereka sudah meyakini kalau cendet dari Madura, materinya pasti bagus. Padahal, materi dari kawasan lain juga punya potensi.

“‘Kalau anakan sudah makan voer, harganya bisa di atas Rp 150 ribu,” ujar Saipul, pedagang burung di kawasan Sawotratap, Sidoarjo.

Kendati harganya mahal, pemain masih banyak menjatuhkan pilihan pada cendet Madura. Mereka meyakini, materi yang berasal dan Pulau Garam memiliki stabilitas performa dan fisik yang proporsional.

Demikian sobat, kondisi pasar cendet Madura sebagaimana ditulis Tabloid Agrobur Edisi Juli 2011. Oleh karena itu, pantas kiranya kalau Om Mili Yuner cukup prihatin dengan masa depan burung cendet ini.

Bagaimana menurut sobat? Siapkah mulai menangkarkan cendet? Salam prihatin, salam dari Om Kicau.

Performa murai batu vs kacer, cucak ijo dan cendet: Antara mitos dan fakta (3)

Berikut ini adalah artikel ketiga (baca dulu artikel pertama dan kedua, ya) dari rangkaian artikel pro-kontra perawatan burung fighter atau petarung yang saya ambil dari Tabloid Agrobis Burung. Perlu saya tekankan, bahwa isi artikel ini tidak mewakili pandangan pengelola blog, Om Kicau. Silakan Anda cermati dengan seksama, khususnya untuk para pemula. Untuk mereka yang sudah malang melintang di dunia burung, ditunggu masukannya. Salam, Om Kicau.

Hingga kini, antara mitos atau fakta tentang berbagai pantangan murai batu masih menjadi perdebatan muraimania. Sebagian ada yang mengamini bila murai batu ketemu burung sejenis fighter, bakal mengurangi performa di lapangan. Tetapi ada yang menepis anggapan itu. Semua dikembalikan pada karakter dari si ekor panjang tersebut. Bila diyakini besutan Anda tidak bisa bertemu burung sejenis, sebaiknya pisahkan atau asingkan dari suara kacer, tledekan atau murai batu.

Petarung yang banyak berasal dari dataran Sumatera dan Kalimantan memiliki porsi fighter lebih dibandingkan jenis lainnya. Sifat ini memang dibawa dari jenis yang masuk dalam famili pemakan serangga. Lanjut membaca

Burung cendet atau pentet, riwayatmu…

Sudah lama saya pengin menulis halaman khusus burung cendet. Tetapi keinginan itu tidak juga terealisasi. Pada akhirnya, halaman itu bisa selesai setelah mengumpulkan “semangat tua” pelan-pelan, hehehe. Lanjut membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42.269 pengikut lainnya.