Solo Intrigue (1): Bermula Dari Intrik Antar-Raja

Solo adalah sebuah kota yang unik. Secara geografis, nama Solo menunjuk pada nama sebuah kota madya di Jawa Tengah seluas 44 km2. Namun Solo juga diklaim sebagai sebuah teritori budaya oleh masyarakat kabupaten di sekelilingnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, dan Sragen. Budaya Solo, yang disebut surakartan, bahkan melingkupi wilayah bekas kerajaan Mataram Islam.…

About these ads

Harga naik, siapa peduli?

Budaya kenduri, jelas memberikan dukungan nyata bagi perkembangan industri tikar. Ada kematian, kenduri. Ada kelahiran, kenduri. Dan sepertinya belum pernah ada cerita kenduri dilakukan ala standing party. Pastilah dengan cara lesehan dan semua itu butuh tikar. Juga, tikar digunakan oleh semua “jenis” manusia. Orang yang punya hobi gaple, melaksanakan hajatnya beralaskan tikar. Orang yang punya hobi beribadah, juga berlama-lama sujud menyembah Sang Pencipta beralaskan tikar.

Membutakan hati menulikan nurani

Perasaan kehilangan atas keluarga, harta dan benda, serta rasa kesepian, kesakitan, bingung dan linglung adalah sekian akibat dari bencana. Hanya saja, saat ini perasaan demikian nyaris merata dirasakan para korban tsunami dan itu kita sebut sebagai bencana besar. Oleh karena itu, besar pula perhatian dan kepedulian kita. Tetapi bencana “kecil”, apakah selama ini kita sempat menengoknya?

Di sekitar kita, tidak kurang orang yang terampas hak-haknya. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kesakitan, kedinginan, kehilangan orang-orang terkasihnya dan diserobot penghidupannya. Mereka juga bingung dan linglung. Tetapi itu semua kita sebut bencana “kecil” dan bahkan kita menganggapnya bukanlah bencana. Jangankan tergerak untuk menolong atau sekadar bersimpati, kita bahkan tidak peduli.