Agro Topik: Lagi soal penyembuhan 19 jenis kanker dengan daun sirsak – © Om Kicau

Agro Topik: Lagi soal penyembuhan 19 jenis kanker dengan daun sirsak – <a href="//wp.me/pfHAQ-8Mg">© Om Kicau</a>

Artikel ini masih membahas masalah tanaman obat dan kaitannya dengan penyakit kanker sebagaimana pernah saya turunkan di artikel berjudul “Agro topik: Lawan kanker, daun sirsak vs kemoterapi (ribuan kali lebih kuat)“. Kali ini adalah cerita tentang keberhasilan penggunaan tanaman itu sebagaimana diresepkan oleh dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir kepada para pasien 19 jenis kanker sejak 9 tahun lalu. Dia meresepkan daun sirsak untuk pengobatan kanker ini.

Daun sirsak sebagai pengobatan kanker“Kondisi mereka membaik,” kata dokter ahli bedah dan kanker alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu.

Penyakit maut itu memberi isyarat dengan sederhana, sekujur tubuh sering sakit dan pegal. “Bila capai sedikit gampang masuk angin dan sakit perut,” kata Rustiani. Namun, makin hari kondisi Rustiani kian parah. “Seluruh badan terasa sakit seperti ada binatang yang mengoyakngoyak,” kata perempuan 42 tahun itu. Tak tahan lagi menanggung siksa itu, Rustiani memeriksakan diri ke dokter di sebuah rumahsakit di Bandung, Jawa Barat. Lanjut membaca

Agro topik: Lawan kanker, daun sirsak vs kemoterapi (ribuan kali lebih kuat)

‘Selamat ya, sudah hamil.’ Yanti Sumiati bertubi-tubi menerima ucapan itu dari rekan kerja, tetangga, dan saudara pada Mei 2010. Perutnya membesar. Banyak orang menerka ia hamil 5 bulan. Hati Yanti justru remuk‑redam. Sebab, bukan janin dalam kandungan, tetapi kanker serviks yang merenggut nyawa seorang perempuan setiap 4 menit.

Yanti Sumiati mengetahui kanker serviks itu ketika ia memeriksakan diri di sebuah klinik di Warungbuncit, Kotamadya Jakarta Selatan. Bagian bawah perut sakit, ‘Seperti ditusuk-tusuk, nyeri sekali,’ kata perempuan kelahiran Bogor, Jawa Barat, 20 Agustus 1978 itu. Rasa sakit menjalar ke kaki kiri. Kondisi itulah yang mendorong Yanti bergegas ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr Slamet Zaeny SpOG, pada 6 Mei 2010. Lanjut membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42.608 pengikut lainnya.