Tips mengatasi burung jalak suren kurang gacor

Jalak suren dikenal sebagai jenis burung yang cerewet dan berisik. Justru itulah daya tariknya sehingga burung ini banyak dipelihara di Indonesia, termasuk untuk dijadikan burung master. Namun jalak suren seringkali mengalami perubahan performa, misalnya pernah gacor (rajin berkicau) kemudian menjadi kurang gacor.

Jalak suren jawa yang penuh gaya
Jalak suren jawa yang penuh gaya

Kasus yang sering terjadi adalah jalak suren terlihat rajin bunyi di tangan pemilik lama. Anda lantas tertarik untuk membelinya. Tetapi setiba di rumah, jalak suren menjadi kurang gacor.

Perlu diketahui, di seluruh dunia terdapat lima subspesies (ras) burung jalak suren. Dua ras terdapat di negeri kita, yaitu jalak suren jawa (Gracupica contra jalla) dan jalak suren kalimantan (Gracupica contra floweri).

Jalak suren jawa memiliki wilayah persebaran terbatas di Sumatera, Jawa, dan Bali. Subspesies ini termasuk burung endemik di Indonesia. Ciri khasnya adalah bulu di atas kepalanya berwarna hitam, daerah di sekitar mata dikelilingi warna oranye yang lebih luas daripada ras lainnya. Namun bercak putih di daerah pipi relatif sempit dibandingkan dengan ras lainnya.

Maaf menyela: Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis... Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Adapun jalak suren kalimantan hanya dijumpai di Kalimantan, meski subspesies ini ditemukan pula di negeri jiran seperti Thailand, Kamboja, dan Laos. Ciri khasnya adalah memiliki bulu putih di bagian kepala, yang membentang hingga ke atas mata.

Kemampuan berkicau jalak suren jawa dianggap lebih bagus daripada jalak suren kalimantan. Selain itu, jalak suren jawa juga lebih jinak. Itu sebabnya, jalak suren jawa lebih popular ketimbang jalak suren kalimantan.

jalak malaysia
Jalak suren kalimantan | Foto: flickr/punkbrdr

Di pasar burung, kita sering melihat jalak suren dalam kondisi masih muda atau trotolan. Agar burung ini nantinya memiliki kepintaran meniru beragam suara dan penuh gaya, diperlukan pola perawatan secara tepat. Referensinya bisa Anda lihat kembali dalam tautan di bawah ini:

Perawatan jalak suren trotolan agar kelak rajin berbunyi

Jalak suren dewasa memiliki gaya unik, yang di kalangan kicaumania sering disebut gaya garuda dan gaya ngompa. Namun celotehannya yang ramai dan sangat berisik itulah yang menjadi daya tarik tersendiri.

Namun seperti disinggung di bagian awal tulisan ini, sering terjadi kasus jalak suren yang sebelumnya gacor berubah perilakunya sehingga menjadi kurang rajin bunyi. Hal ini umumnya terjadi pada burung yang baru dibeli, meski bisa juga karena faktor lain. Berikut ini beberapa penyebab jalak suren menjadi kurang rajin berbunyi:

  • Sebelumnya burung terbiasa digoda atau dimanja, sehingga hanya mau berbunyi kalau sering digoda.
  • Jalak suren biasa digantung di tempat ramai dan berisik. Ketika sangkarnya dipindah ke tempat yang kurang ramai atau sepi, burung menjadi kurang gacor lagi.
  • Terjadi perubahan pola pakan, terutama untuk jenis dan jumlah extra fooding (EF) yang diberikan.
  • Burung dalam kondisi kurang sehat atau kurang fit.

Untuk mengatasinya bisa dilakukan beberapa terapi dan perawatan sebagai berikut:

  • Burung yang baru dibeli membutuhkan waktu beberapa hari untuk beradaptasi. Untuk mempercepat proses adaptasi, sekaligus mengenalkan pada lingkungan barunya, ada baiknya jalak suren digantang di tempat yang berbeda-beda setiap harinya (berpindah-pindah tempat).
  • Karakter jalak suren yang mau bunyi ketika digoda atau di tempat ramai tidak bisa diubah begitu saja. Butuh waktu dan adaptasi agar burung mau bunyi kapan saja dan di mana saja. Untuk mempercepat adaptasinya, berikan pakan bergizi setiap hari, dan jangan lupakan multivitamin seperti BirdVit dalam rawatan hariannya.
  • Jalak suren perlu diembunkan secara rutin untuk merangsangnya lebih rajin berbunyi. Pada saat diembunkan, burung bisa diberikan ulat kandang sebanyak satu cepuk setiap hari, atau 1 sendok teh kroto segar (cukup dua hari sekali).
  • Berikan pakan buah-buahan secara bervariasi, misalnya pisang kepok, pepaya dan apel. Selain itu, dapat pula diberi potongan dari campuran buah-buahan yang disimpan dalam satu wadah / cepuk. Untuk meningkatkan staminanya, pakan buah-buahan bisa dicampur dengan 1 sendok madu.
  • Jangan malas membersihkan sangkarnya. Apalagi jalak suren termasuk burung yang sangat jorok. Burung ini bisa menjadi kurang rajin bunyi setelah mengambil pakan di dasar sangkar yang penuh kotoran.
  • Jangan lupakan aktivitas mandi dan jemur setiap harinya.

Apabila perawatan di atas bisa diterapkan secara rutin, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama jalak suren yang baru dibeli akan kembali mengeluarkan celoteh-celotehnya secara rajin.

Penting:

  1. Burung Anda kurang joss dan mudah gembos? Baca dulu yang ini.
  2. Tanya Om Kicau? Klik saja Curhat.
  3. Cek artikel menarik lainnya di bawah ini:



ANDA PERLU DESIGN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA? KLIK GAMBAR DI BAWAH INI YA…

JASA DESAIN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA BURUNG

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK… CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain.

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

1 Comment

  1. Menurut saya, istilah jalak suren kalimantan adalah keliru.
    Karena 2 ras yg ada (jalla & floweri) tdk ada di alam liar bumi Borneo
    Kan lucu namanya suren kalimantan tp di alam Kalimantan sendiri malah brg ini tidak pernah ada/tercatat.
    Sama halnya dgn Tangkar Centrong yg dipanggil murai Irian (???)
    Subspecies and Distribution (HBW)
    G. c. contra (Linnaeus, 1758) – extreme E Pakistan (Lahore area), N & C India (E to W Assam, S to extreme N Karnataka and N Andhra Pradesh), S Nepal and Bangladesh.
    G. c. sordida (Ripley, 1950) – NE India (E Assam).
    G. c. superciliaris (Blyth, 1863) – NE India (Manipur), Myanmar (except S & E) and SW China (SW Yunnan).
    G. c. floweri (Sharpe, 1897) – S & E Myanmar, S China (SE Yunnan), Thailand (except E), NW Laos and Cambodia.
    G. c. jalla (Horsfield, 1821) – Sumatra, Java and Bali.

Komentar ditutup.