Entah sosok guru mana yang digambarkan Iwan Fals dalam lagu Guru Oemar Bakri. Namun bagi saya, lagu tersebut bukan sekadar stereotip kondisi guru pada akhir dekade 1970 ketika lagu itu dirilis. Sebab, setiap mendengar Oemar Bakri, muncullah sebuah gambar hidup yang bergerak perlahan di ingatan saya. Slow motion itu adalah rekaman kehidupan seorang laki-laki yang kini berusia 80 tahun. Seorang lelaki pensiunan guru, yang selama ini saya panggil “Ayah”.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Meski setahun lagi usia ayah genap sepuluh windu, beliau masih jauh dari pantas untuk disebut lelaki renta. Orang bisa saja mengatakan sudah seharusnya kalau ayah hidup dengan dikelilingi anak-anak, para cucu, atau cicitnya. Mereka seharusnya selalu mengawasi dan menjaganya. Tetapi tidak demikian dengan ayah. Hidup berdua bersama ibu yang setia mendampinginya, kondisi kesehatan ayah masih lebih dari cukup untuk sekadar menjaga diri. Tujuh orang anaknya, termasuk saya, masing-masing mencari penghidupan di tempat yang berlainan.

Di sebuah desa bernama Muntung, di lereng timur laut Gunung Sindoro, ayah menapaki hari tua dengan menyimpan beragam kenangan hidup. Bagi orang lain, kenangan hidup beliau mungkin terdengar sebagai kenangan hidup biasa saja. Tetapi entah mengapa, ketika kakek dari sepuluh cucu dan dikaruniai seorang cicit itu bertutur runtut tentang kenangan hidupnya, yang terdengar di telinga saya adalah biografi seorang lelaki luar biasa.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

***

Hampir sama dengan Oemar Bakri-nya Iwan Fals yang menjadi “guru jujur berbakti” selama 40 tahun, ayah pun menjalani 39 tahun hidupnya sebagai seorang guru. Tahun 1949, dari sekolah rakyat (SR) di sebuah desa bernama Cilungkrang, ayah mengawali karir. Dimulai dari pelosok desa yang berhawa dingin di Wonosobo itu, ayah berpindah-pindah tugas. Sempat mengajar 16 tahun di sejumlah SR di Kota Magelang, selanjutnya ayah berpindah-pindah tugas dari satu desa terpencil ke desa terpencil lainnya di lereng kaki Sindoro, sampai akhirnya pensiun pada 1988.

Tak sekadar jauh dari rambahan angkutan umum, akses ke tempat tugas ayah kala itu hanyalah jalanan sempit berkelak-kelok, menurun dan mendaki. Penuh kubangan air di musim penghujan, bersimbah debu coklat setinggi mata kaki saat dijerang kemarau panjang. Tak seberuntung Oemar Bakri yang mempunyai sepeda kumbang, andalan ayah hanyalah sepeda angin. Pit onthel, demikian kami menyebutnya, karena sepeda itu memang harus di-onthel atau dikayuh agar bisa melaju di jalan mendatar apalagi mendaki.

Sepeda ayah bukanlah sepeda sembarangan. Dialah yang selama ini menemani dan mengantar ke mana pun ayah pergi. Karena nyaris tiap hari sejak 1949 mengayuhnya, saat ini ayah masih terlihat bugar meski warna putih telah mendominasi rambut di kepalanya. Tidak sekali dua kali ayah mengayuh sepeda untuk menyambangi anak-anaknya yang bertebaran di berbagai tempat. Jangankan jarak belasan kilometer, bahkan puluhan kilometer beliau jangkau dengan kayuhan sepeda.

Pernah suatu kali, ayah menempuh jarak 180 km pergi pulang Muntung-Jogjakarta untuk mengantar uang saku kuliah saya. Masih terekam jelas di ingatan ini, betapa ayah datang bersimbahkan peluh tetapi ada senyuman tersungging di bibirnya. Dengan senyum itu pula, ayah menyambut deraan panas atau guyuran hujan ketika pergi ataupun pulang mengajar. Dan senyum yang sama, ayah berikan sebagai tanggapan atas tatap mata iba dari orang-orang yang melihat muka, badan dan bajunya selalu kuyup oleh keringat yang membanjir karena mengayuh sepeda.

Tak terhitung kali sepeda itu juga “menyelamatkan” keluarga kami. Entah karena kami perlu biaya sekolah, atau bahkan demi mendapatkan sejumlah piring nasi, maka untuk sementara pegadaian adalah tempat singgahnya. Lebih dari sekadar alat transportasi, sepeda ayah ternyata menjadi modal andalan demi mendapatkan pinjaman uang.

Jika sudah demikian, maka ayah harus berjalan kaki belasan kilometer setiap hari untuk memenuhi kewajibannya sebagai guru di desa terpencil. Tetapi tidak ada keluh kesah keluar dari mulut beliau. Kehidupan ayah jalani sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya saja pernah beberapa kali terjadi, ayah harus pontang-panting mencari pinjaman demi menebus sepeda yang telah habis masa gadainya. Ayah akan melupakan rasa malu jika hal itu memang harus dilakukan demi mendapatkan kembali sepeda kebanggaannya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Kalau ayah bangga dengan sepedanya, barangkali sepeda itu juga merasa bangga dengan cara ayah merawatnya. Meski puluhan tahun menapaki ribuan kilometer jalanan berlubang atau bercomberan, juga terbentur-bentur bebatuan yang berserakan, tak pernah sepeda ayah gembos di jalan. Ya, puluhan tahun bersepeda, tak pernah beliau mengalami gembos ban!

Selalu sedia payung sebelum hujan, itulah pepatah yang beliau pedomani. Bukan sekadar bahan hapalan untuk para muridnya di sekolah, pepatah itu benar-benar menjadi salah satu falsafah hidup ayah. Sama seperti merawat sepeda yang ayah lakukan setiap saat, maka beliau pun merawat dan menjaga diri agar tetap kuat, bugar dan sehat setiap saat. Maka demikianlah ayah, tetap suka mengayuh pit onthel demi menjaga kebugaran fisiknya.

“Lebih dari sekadar olah fisik atau raga, perlu juga olah jiwa. Kalau hal itu sudah dilakukan, maka selanjutnya kita cukupkan dengan berserah diri kepadaNya,” kata beliau suatu ketika.

Olah jiwa itulah yang barangkali membuat ayah tidak perlu makan hati meskipun gajinya selalu dikebiri layaknya Oemar Bakri. Demikian memang kenyataannya, profesi guru tidak pernah membuat ayah merasa sedih melakoni kehidupan ini. “Rumangsaku seneng terus (Rasa-rasanya bahagia selalu), kata beliau soal suka duka menjadi guru.

Rumangsa seneng terus, kata ayah, bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Semua mengalir apa adanya. Perasaan itu pula yang ayah kembangkan manakala membesarkan, mendampingi dan membimbing kami, anak-anaknya. Dengan segala keterbatasan hidup seorang guru desa, satu persatu dari kami beliau antar menjadi manusia-manusia dewasa dan mandiri. Kalau kecukupan sandang, pangan dan papan menjadi standar kemandirian, maka itu telah kami dapatkan atas keringat dan pengabdian beliau sebagai seorang ayah.

***

Alih-alih punya murid yang suka berkelahi ala murid Oemar Bakri, para murid ayah selalu memberinya kebanggaan. Paling tidak, itulah cerita yang pernah saya dengar dari beliau. Di bawah asuhan ayah, pada awal dekade 1960, murid-murid SR 6 Tidar Magelang adalah jawara-jawara kasti yang sangat disegani lawan.

Hanya saja tidak seperti Oemar Bakri, ayah tidak banyak menciptakan menteri, profesor, doktor, ataupun insinyur. Bagaimana mungkin ayah bisa menciptakan banyak orang semacam itu kalau sebagian besar murid beliau bahkan tidak pernah melanjutkan sekolah selepas SR ataupun SD? Bagaimana mungkin ayah bisa membuat otak orang seperti otak Habibie kalau murid-murid beliau banyak yang kekurangan gizi karena hanya makan sekali dalam sehari?

Meski tidak satupun murid ayah yang menjadi menteri, tak berarti ayah adalah guru yang tidak berguna. Pastilah ayah juga bukan manusia yang tak bermakna. Paling tidak, meski harus bersepeda menyusuri jalan yang bersisikan tebing-tebing tinggi, atau merambat di antara dua jurang yang dalam, ayah telah berusaha menyampaikan sejumput warta. Warta bagi penduduk lereng gunung tentang ilmu dan peradaban lain di luar desa mereka.

Kalau pun sosok ayah sebagai guru dinilai tidak bermakna bagi kehidupan di sekelilingnya, maka sosok beliau tetaplah teramat bermakna bagi kami; anak-anak, para cucu dan cicitnya. Sebab kami meyakini bahwa seseorang akan menjadi bermakna bukan karena jabatan atau profesinya. Seseorang akan menjadi sangat bermakna karena dia bisa melakoni fitrahnya sebagai manusia.

Lebih dari sekadar bisa menjalankan profesi sebagai guru, ayah menjadi sangat luar biasa bermakna karena dia benar-benar telah berhasil menjadikan dirinya sebagai seorang ayah. Ayah telah pensiun dari profesi guru, tetapi dia tidak pernah pensiun dari menjadi seorang ayah. Lelaki yang membesarkan kami dengan kucuran keringatnya. Lelaki yang membimbing kami dengan limpahan kasih sayangnya.

Ayahku, lelaki luar biasa, justru karena dia adalah seorang ayah….(*)

Duto Sri Cahyono

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.