Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Suatu ketika datanglah kepada saya seseorang yang mengaku anggota tim sukses calon bupati. Orang itu tidak asing bagi saya karena dia memang kenalan saya ketika kuliah di Jogja pada tahun 80-an. Lama tidak pernah bertemu, obrolan basa-basi seorang kenalan lama pun kami gelar. Dia bercerita, saat ini dirinya merasa beruntung mendapat pekerjaan seperti yang dia cita-citakan. Tidak ada lagi cerita ngrekasa seperti yang pernah kami alami di bangku kuliah.

Saya tidak tahu ke mana arah pembicaraan kawan satu itu sampai pada suatu saat dia berbisik-bisik tentang adanya sebuah proyek untuk saya: Jadi anggota tim suskes calon kepala daerah. Karena melihat saya tidak menunjukkan ekspresi terkejut, menolak atau setuju, dia terus nyerocos tentang berbagai keuntungan jika kami menjadi tim suskses calon kepala daerah itu.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Mulailah dia bercerita tentang keandalan dan kehebatan sang calon yang perlu kami dukung. Singkat kata, menurut dia, sang calon itu adalah orang yang benar-benar pantas didukung karena berbagai alasan. Mulai dari soal moral yang dia katakan jauh dari mental korup dan perilaku KKN lain sampai kepada kepedulian sang calon terhadap rakyat kecil. Pokoknya, segala hal yang baik-baik dia kemukakan, seakan-akan saya adalah calon pemilih dalam Pilkada itu sendiri.

***

Sampai cerita soal kebaikan sang calon, dia tetap melihat saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa kecuali mengangguk-angguk tanpa kata. Dia mungkin merasa ceritanya kurang menarik minat saya, meskipun saya sendiri sebenarnya memang belum sampai taraf berminat atau tidak berminat. Saya lihat dia tidak gelisah melihat sikap diam saya. Malah dengan merapatkan tempat duduk kami, dia menceritakan sejumlah keuntungan bagi saya kalau masuk menjadi tim sukses calon kepala daerah.

Tugas utama saya, katanya, bersama-sama anggota tim lain membuat proposal tentang suata cara kampanye yang efektif bagi sang calon. Kami kemudian harus mempresentasikan proposal itu di hadapan sang calon kepala daerah. Soal pelaksanaan kampanye, menurut dia, sudah ada yang mengerjakannya sendiri. Hanya dengan membuat proposal semacam itu bersama anggota tim lain, saya dijanjikan mendapat sejumlah rupiah yang cukup besar. Paling tidak, sebesar gaji saya selama sekian bulan.

Tetap dengan menjaga ekspresi wajah agar tidak kelihatan berminat atau tidak berminat, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak akan mampu membuat proposal semacam itu. Alasannya, saya bukanlah seorang konseptor komunikasi. Mendengar alasan itu, dia mengatakan tidak percaya, sebab pekerjaan saya selama ini, katanya, sangat pas untuk pekerjaan itu. Dan karenanya, dia percaya akan kemampuan saya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Dibujuk sampai sedemikian jauh, saya tetap menunjukkan ekspresi seperti sedia kala. Ketika dia terus mendesak agar saya menerima pekerjaan itu, saya bertanya tentang konsekuensinya jika program kampanye itu gagal, yakni sang calon tidak terpilih sebagai kepala daerah. Tidak menjawab pertanyaan saya, dia malah tersenyum. Ketika wajah saya menunjukkan ekspresi heran, dia hanya berkata singkat, tetapi masih dengan tersenyum, “Ya, itu nasib sang calon. Yang penting kita sudah bekerja sesuai pesanan dan dibayar…”

***

Bengong. Itulah ekspresi yang mungkin dia lihat di wajah saya mendengar jawabannya. “Kita kan pekerja profesional. Kita bekerja dan dibayar. Soal keberhasilan atau kegagalan, bukan semata-mata karena faktor pekerjaan kita.”

Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara pikir kawan saya yang satu itu. Bagaimana bisa dia menghubungkan profesionalisme dengan pekerjaan seorang anggota tim sukses calon kepala daerah. Sebab, di Indonesia ini belum dikenal adanya tim sukses dalam Pilkada sebagai suatu profesi. Juga, bekerja profesional, bagi dia mungkin adalah semata-mata bekerja dan mendapat bayaran. Tidak perlu etika, tidak perlu menggunakan hati nurani.

Tetapi saya tidak percaya kalau semua anggota tim sukses adalah orang-orang seperti kawan saya itu. Kalau semua seperti dia, maka menangislah para calon kepala daerah karena dia ternyata hanya dikelilingi para benalu. Karena tim benalu, maka proyek ini-itu yang mereka usulkan pun sekadar dijadikan ladang mencari uang. Kalau pada akhirnya perjalanan sang kandidat terhenti di tengah jalan, para benalu pun pergi satu-persatu tanpa beban.

Apakah berperilaku seperti benalu atau bukan, tim sukses calon kepala daerah pada akhirnya memang benar-benar tim yang pasti sukses. Kalaupun kandidat mereka gagal, maka mereka telah sukses, paling tidak, mendapatkan pekerjaan. Karena pekerjaan adalah tanggung jawab, seharusnyalah mereka bekerja dengan amanah dan tidak lari dari garis kebenaran yang terletak di dasar paling dalam hati nurani. Semoga.

(Duto Sri Cahyono, SOLOPOS, 25 April 2005)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.