Ketika berlangsung Family Gathering (FG) I keluarga kicaumania.or.id (KM) di Jogja, 28 Desember 2008, saya melontarkan gagasan agar KM juga menjadi motor untuk apa yang disebut bird beatuy contest. Apa dan bagaimanakah itu?

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Itu adalah suatu keinginan untuk pelestarian burung secara keseluruhan. Faktanya, saat ini banyak burung yang terlunta-lunta dan mati terkapar setelah lama hidup tersia-sia. Mengapa? Karena tidak mendapat perawatan yang semestinya.

Ya, karena dia tidak memiliki suara bagus sebagus yang diharaokan pemilknya. Ketika burung dianggap jelek suaranya, kapan dia akan hidup bahagia di tangan kicaumaniak?Mereka yang suka memelihara burung2 “apkiran” dengan harga murah-meriah biasanya belum paham memelihara burung secara baik. Sementara mereka yang paham, melulu merawat dengan baik burung2 yang “bersuara bagus”.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Benarkah burung dengan suara tidak bagus, layak disia-siakan?

Kondisi ini juga menyebabkan semangat menangkar di antara penghobi burung memudar manakala mereka hanya mempunyai indukan-indukan yang berpostur tubuh bagus tetapi kacau di suara.

Inti dari semuanya, kembali ke masalah pelestarian burung. “Sahabat alam” demikian konon motto KM. Tetapi mengapa isi KM melulu berembuk soal burung yang suaranya menggelegar dengan isian yang beraneka macam? Alhasil, kita telah melakukan pendzaliman karena tidak memberi hak hidup secara layak kepada semua makhluk hidup bernama burung.

Berapa ribu ekor burung di alam yang ditangkapi ketika akhirnya dia harus hidup merana di sangkar-sangkar emas yang dibuat manusia?Berkaitan dengan pemikiran yang bisa dikatakan “sok idealis” itulah saya mengusulkan hal itu.

Faktanya juga, banyak KMer’s yang sudah “kehabisan nafas” untuk teriak-teriak di arena lomba kicauan. Entah itu nafas yang berupa waktu, tenaga, pikiran maupun dana. Ketika mereka merasakan hal itu, hobi burung malah menambah stress.

Jika KM menjadi motor penggerak lomba performa burung (bird beauty contest) untuk semua kelas burung dan bisa sukses, maka katakan saja itu sekadar “penebus dosa” kita yang telah sekian lama “memenjarakan” ribuan bahkan jutaan burung yang seharusnya hidup nyaman di alam liar.

Untuk merealisasikan hal itu memang tidak mudah. Sebab kita harus membuat kategori-kategori tertentu untuk penilaian bird beauty contest. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Oleh karena itu, saya sedang memberi “PR” pada diri saya sendiri untuk membuat kategori penilaian semacam itu.Saat ini, saya sedang mengolah referensi penilaian yang digunakan oleh African Love Bird Society (ALBS). Mereka punya klasifikasi yang bisa dipedomani.

Untuk kontes kenari juga sudah dilakukan di berbagai tempat. Itu juga bisa menjadi acuan untuk penilaian. Semua bisa diramu dan digunakan untuk menjadi dasar penilaian bird beauty contest.

Kriteria Penilaian

Dalam kaitan inilah perlu kiranya dipikirkan mengenai kriteria apa yang disebut “beauty of bird” . Dalam pemikiran saya kriteria itu bisa meliputi:1. Otentikasi warna bulu/kaki/mata (kecerahan, kekontrasan dsb)

2. Proporsionalitas body (simetris-asimetris, perbandingan panjang kaki dan body yang terluhat dari luar, dsb)

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

3. Kesehatan umum (mata, paruh, kaki, body)

4. Keutuhan bulu (jumlah masing-masing bulu sayap, ekor dsb).

Taruhlah kalau itu menjadi kriteria umum dengan parameter yang jelas, maka penilaian bisa dilakukan dimulai dari:1. “Penilaian tanpa pegang” yakni untuk menilai parameter point 1 (otentikasi warna bulu/kaki/mata).

2. “Penilaian tanpa pegang” untuk menilai parameter poin 2 (proporsionalitas).

3. dan 4. bisa dinilai “tanpa pegang” dilanjutkan dengan “penilaian dengan dipegang” dan dicek langsung dengan melihat secara cermat dan dihitung jumlah lar/bulu sayap dan ekor.

Jadi nanti, para pecandu kontes ini akan merawat burung mereka dengan terbiasa memegangnya, mengelus-elusnya dan bahkan mencium-ciumnya, hehehee, dan makin sayang deh sama burung….

Lebih dari itu, pada event yang sama, bisa digelar “unique bird contest”, misalnya burung yang punya kaki cuma satu tetapi kondisinya fit; burung yang tidak punya sayap; burung albino dsb…. Itu semua adalah “keindahan” yang juga diberikan oleh-Nya kepada makhluk bumi.

Mimpi lain soal “lagu galur murni”

Mimpi yang lain dari saya untuk mewujudkan kicaumania sebagai “sahabat alam” adalah mewujudkan lomba kicauan burung hasil tangkaran tetapi yang bisa bersuara “murni” sesuai suara/lagunya di alam sana.

Kalau dulu MB sangat populer karena suara air mancurnya yang khas, saat ini kita malah menyulap MB jadi bersuara cililin, ciblek, CJ, burung gereja dan sebagainya. Jujur saja, suara asli MB di telinga saya, lebih merdu dan “nyamleng” ketimbang suara cililin ataupun CJ.

Ketika kita menjadi seorang KMer’s, maka paradigma kita tentang suara burung benar-benar distir oleh paradigma lomba burung “versi saat ini”. Akibatnya apa? Menyusul punah pula burung-burung isian yang seharusnya masih aman dan nyaman hidup di alam sana.

Berkaitan dengan inilah sangat bagus jika ada EO lomba mencoba membuat kelas tersendiri dalam lomba burung kicauan, yakni kelas “lagu murni” burung bersangkutan. Kalau pesertanya belum banyak, bisa saja dibuat kelas campuran. Tentukan, mana di antara burung kelas campuran itu yang melagukan suara sepersis “lagu nenek moyang” mereka masing-masing.

Kalau dalam breeding dikenal apa yang disebut galur murni secara genetis, maka perlu kiranya penghobi burung memelihara “lagu galur murni” spesies burung yang ada di alam.Kalau hal ini tidak terjaga, maka bisa jadi anak cucu kita kelak tidak lagi bisa mengenal lagu murni MB, kacer, AM, AK dsb. Yang mereka kenal, semua burung itu lagunya sama. Kalau tidak lagu cililin ya CJ, ciblek, burung gereja, pleci dan sedikit jenis lainnya.

Ironisnya, karena burung-burung isian tidak pernah ada yang tergerak untuk menangkarkan, maka burung-burung itu punah dari alam semesta. Mereka menjadi almarhum semua dengan meninggalkan “lagu” yang belakangan malah menjadi lagu “trade-mark”-nya MB, kacer, sulingan, AM, AK dsb.

Jadilah ada pepatah, “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, cucak jenggot mati meninggalkan lagu”. Joke berikutnya jadi sangat tidak enak didengar, yakni “penghobi burung pergi meninggalkan dosa….”

Salam,Duto Solo

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895