PENGANTAR:

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Ketika saya surfing di Internet, saya menemukan berkas PDF “KABAR BURUNG”, sebuah penerbitan di bawah naungan YAYASAN KUTILANG. Ada sejumlah tulisan lama, yang menurut saya menarik untuk disimak, yakni keprihatinan atas maraknya lomba burung yang berakibat semakin berkurangnya populasi burung di alam. Tulisan tersebut adalah sebagai berikut:

Berbagai even lomba burung diadakan setiap minggunya. Burung-burung tersebut diadu keindahan suaranya. Siapa yang terbaik dia yang menang. Namun tetap saja kepuasan berada pada pemiliknya.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Cuaca pagi itu cukup cerah matahari bersinar terang di langit yang biru. Burung-burung terdengar riuh berkicauan. Di sebuah lapangan yang tidak terlalu besar di kawasan Karang Gayam,Jogjakarta. Sejumlah mobil berderet di pinggir lapangan berpagar besi itu. Tiang-tiang berjejer rapi menjulang memenuhi areal lapangan. Tampak orang-orang sedang asik memperhatikan sejumlah burung yang sedang digantangkan dalam sangkar di pucuk tiang,, mendengarkan nyanyian merdu suara sang burung. Ini adalah arena latihan lomba burung berkicau. Sekitar 40-an ekor burung perkutut tengah mengikuti latihan yang digelar secara rutin. Burung-burung tersebut dilatih agar bersuara indah, menurut keinginan sang empunya. Mereka dipersiapkan untuk ikut serta dalam even perlombaan.

Lomba burung berkicau kian marak diselenggarakan di berbagai kota khususnya di Plau Jwa. Dari data buletin Agroburung tercatat lebih dari 10 perlombaan burung berkicau diadakan setiap minggunya. Jenis burung yang dilombakan pun bermacam-macam, dari jenis anis, murai, punglor, poksay, cucak dan yang saat ini paling banyak digemari adalah jenis perkutut. Even seperti ini seringkali diadakan di kota-kota besar, lomba yang biasa diadakan bisa dibilang cukup berkelas, nama Gubernur Cup, Bupati Cup, Kapolri Cup, sering muncul menarik perhatian para penggemar burung berkicau.

Sesuai dengan namanya “lomba burung berkicau”, penilaian didasarkan pada suara/ kicauan masing-masing burung. Kriteria lomba dilakukan menurut jenis dan umur burung. Ada patokan tertentu atau standar penilaian, bagaimana seekor burung harus bersuara agar bisa masuk ke dalam nominasi. Selain hadiah senilai jutaan rupiah yang diperebutkan, ada hal lain yang dikejar oleh para penggemar burung dalam setiap perlombaan : Prestise !!. Semakin banyak lomba yang dimenangkan apalagi dalam even lomba yang berkelas, maka burung kicauannya akan semakin tinggiharganya. Seekor burung juara bisa dihargai hingga jutaan rupiah. “Susi susanti”, nama seekor burung perkututjuara milik Haji Muhamad, seorang penggemar burung, disinyalir pernah ditawar bahkan hingga 3 milyar rupiah.

Bisnis Hobi

Hobi memelihara burung ini nampaknya telah menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan. Burung yang baik menjadi incaran penggemar dan peternak. Penggemar tertarik mengikutsertakan burung dalam lomba, sedangkan peternak tertarik mengembangbiakan keturunannya yang bernilai jual tinggi.

Sebagai contoh, mahalnya seekor perkutut dan mudahnya jenis ini diternakkan banyak menarik minat orang menernakkannya. Keuntungannya tidak bisa dibilang kecil. Sebut saja mr U, salah seorang pengusaha sekaligus pemilik sebuah penangkaran burung perkutut di Jogja. Dari usaha menangkarkan perkutut saja ia mampu membeli sebuah rumah yang cukup mewah lengkap dengan fasilitas kendaraannya. Bagaimana tidak, seekor perkutut kualitas juara hasil tangkarannya berharga ratusan ribu bahkan hingga puluhan juta rupiah. Tak pelak ia merawat burungburung itu seperti anaknya sendiri.

Kicau mania atau kung mania (khusus untuk penggemar perkutut) demikian panggilan untuk para penggemar burung berkicau ini. Mereka terdiri atas orangorang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seantero Nusantara. Mereka berlomba-lomba mendapatkan burung yang terbaik. Oleh karenanya bisa dimaklumi bila harga burung itu selangit Para penangkar burung selalu berupaya untuk menghasilkan burung yang bersuara bagus. Bahkan terkadang dilakukan pembastaran dengan mengkawinsilangkan antar spesies (kasus yang sering adalah puter dengan derkuku). Selain itu pula dilakukan inbreeding atau perkawinan sedarah untuk mendapatkan keturunan yang memiliki kualitas suara sebaik induknya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Pelan tapi pasti bila upaya para penangkar tersebut tidak mengindahkan kaidah-kaidah alam yang berlaku, lama kelamaan mereka akan dihadapkan pada kondisi dimana burung mereka berkurang daya tahannya terhadap suatu penyakit, dan saat di alam populasinya hanya sedikit serta tidak mempunyai ketahanan terhadap penyakit tersebut, maka akan berakibat kehancuran bagi burung tersebut.

Lomba burung tampaknya menjadi hobi kelas atas. Burung yang bersuara emas hasil penangkaran hanya bisa dimiliki oleh orang-orang dengan modal kuat. Sementara orang yang bermodal kecil terpaksanya gigit jari karena tidak mampu membeli atau terpaksa mencoba mendapatkannya dari alam. Inilah yang mungkin menyebabkan berkurangnya populasi burung di alam. Di masa uang sulit dicari seperti saat sekarang ini, permintaan akan burung bisa menjadi solusi instan bagi yang membutuhkan duit dengan menjual dan mengambil dari alam.

Penandaan hasil penangkaran dengan cincin (atau biasa disebut “ring”) tidak dapat mencegah pengambilan dari alam. harga ring yang cukup murah, mendorong para penangkap di alam untuk memasangkan ring tersebut pada burung-burung hasil tangkapannya.

Kian giatnya even lomba burung ini dilakukan, ternyata tidak banyak memberi andil yang merata bagi kesejahteraan masyarakat apalagi bagi kelestarian alam. Kecenderungan yang ada semakin meningkatnya frekuensi lomba, semakin meningkat pula jumlah dan jenis burung yang diperdagangkan.

Kebutuhan akan burung lomba kian bertambah.

Sebagai gambaran, setiap lomba diikuti oleh lebih dari seratus bahkan dapat mencapai angka ribuan ekor burung. Bisa dibayangkan berapa banyak burung yang diikutkan lomba setiap tahunnya, jika setiap minggunya digelar puluhan lomba. Meski beberapa burung mungkin mengikuti lebih dari satu kali even, tetap saja data tidak dapat menghapus kenyataan betapa banyak burung yang hidup tidak pada tempatnya, bahkan tersiksa karena harus bersuara sekehendak “tuan”nya.

Usaha penangkaran burung mungkin dapat menjadi jawaban. Namun hingga sejauh mana usaha penangkaran burung tersebut bisa berhasil masih perlu dipertanyakan. Hanya sebagian kecil dari jenis burung, semisal perkutut dan derkuku, yang berhasil ditangkarkan. Sedangkan burung-burung jenis lain (murai, anis, cucak dll.) yang juga banyak dilombakan masih termasuk sulit untuk ditangkarkan, sementara kebutuhannya masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan kemampuan produksi dari industri penangkaran yang ada. Akibatnya, kembali, penangkapan di alam menjadi sebuah pilihan. Artinya,upaya penangkaran burung-burung lomba dapat diibaratkan sebagai upaya mengatasi masalah dengan mendatangkan masalah baru.

Masalah ini kemudian ditambah lagi dengan diintroduksinya berbagai spesies asing, yang bukan asli Indonesia, yang ikut disertakan dalam lomba. Jenis love bird, hwa mei dan jenis-jenis lain sengaja diimpor oleh para penggemar burung karena dianggap mempunyai suara yang bagus. Dari segi konservasi, introduksi suatu spesies menjadi sebuah momok yang menakutkan karena, pada banyak kasus, introduksi suatu spesies terbukti menyebabkan kepunahan bagi jenis asli. Lihat saja pada kasus perkutut. Kini perkutut yang marak dalam lomba-lomba adalah perkutut bangkok. Perkutut lokal mulai kehilangan pamornya, bahkan di rumahnya sendiri.

Satu suara demi sebuah kepuasan

Burung-burung kicauan ini telah menjadi sebuah komoditi bisnis semata. Mereka dipaksa untuk bersuara bagus, bersuara emas menurut standar penilaian lomba burung. Sebuah usaha monokulturisasi dimana burungburung tersebut pada akhimya harus memiliki suara yang sama dalam setiap jenisnya. Padahal, bukankah keindahan itu sesunguhnya terletak pada keanekaragamannya ?

Demi usahanya mendapatkan burung bersuara emas tersebut segala cara dilakukan, termasuk pembastaran dan inbreeding, yang jelas-jelas mengancam keanekaragaman genetik dari suatu spesies.

Dan demi sebuah kepuasan itu para kicau mania (atau kiranya lebih tepat disebut kicau maniac) tersebut rela merogoh kantungnya hingga jutaan rupiah.

Uang menjadi standar baru bagi sebuah kepuasan. Semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin besar kepuasan yang didapat. Dan bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki uang, tidakkah mereka juga berhak mendapat kepuasan itu ?!

Akhirnya, saat burung terakhir di alam telah ditangkap, manusia akan sadar kebebasan burungburung tersebut tak akan pernah tergantikan oleh uang. (*W)

Yayasan Kutilang Indonesia For Bird Conservation adalah lembaga non profit yang bergerak dalam bidang konservasi burung untuk melestarikan lingkungan.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895