Naiknya popularitas burung kicauan, disertai meningkatnya penggemar pemula, ternyata dimanfaatkan sejumlah pedagang nakal dengan menjual burung yang diakuinya berjenis kelamin jantan dan sudah ngevoer agar harganya lebih tinggi. Selain itu, penipuan dengan menggunakan ring palsu juga marak terjadi. Kabar terbaru yang dilansir beritakebumen.info mengungkap adanya penipuan yang dilakukan pedagang burung dadakan yang nakal, dengan mengakui murai batu yang dijualnya adalah burung hasil penangkaran. Mereka menunjukkan ring yang terpasang pada kaki burung tersebut.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Cermat dalam memilih dan mencari burung di pasar burung | foto ilustrasi

Salah seorang korban penipuan dari pedagang nakal tersebut adalah Agus Riswanto (34). Warga Kebumen itu mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 800.000, lantaran membeli murai batu di pasar burung. Si pedagang menawarkan MB ring yang diakuinya murai batu medan yang didapatkan dari hasil tangkapan dari burung yang lepas dari sangkar di wilayah Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo.

Ternyata, setelah dibawa ke rumah, burung tidak bisa bertengger dalam sangkar, akibat kakinya yang luka. Bahkan, tak lama kemudian, burung mati. Kemungkinan kaki yang luka tersebut akibat ring yang dipaksakan untuk dipasang.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Ketua Paguyuban Pedagang Burung di Pasar Koplak Kebumen, Edi (46), mengatakan praktik semacam itu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, dan memakan banyak korban banyak khususnya dari kalangan penggemar pemula.

Burung tipu-tipu tersebut kerap dihargai Rp 800.000 per ekor. Padahal harga standar burung yang didapatkan dari hasil tangkapan jaring hanya sekitar Rp 300.000 / ekor. Untuk itu, Edi mengimbau agar pembeli lebih berhati-hati dan harus bisa memilih dan membedakan, terutama jika ada pedagang yang menawarkan burung dengan menggunakan besek.

Edi juga menjelaskan, ciri-ciri burung yang dijual pedagang nakal ini umumnya memiliki ring yang pemasangannya seperti dipaksakan. Akibatnya, pada kaki terdapat goresan atau luka yang membuat burung tidak bisa bertengger. Umumnya, burung tangkapan jaring tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kebanyakan akan mati. “Biasanya, korban penipuan adalah penggemar burung pemula,” ujarnya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Senada dengan Edi, pedagang lain yang juga turut berjualan di Pasar Burung Kebumen, Hafid (35), mengatakan bahwa pelaku penipuan ini biasanya datang ke pasar secara berkelompok, sekitar 3 – 5 orang. Mereka biasanya datang dari wilayah Solo dan Jogja, membawa murai batu yang diakuinya dari Medan, Lampung dan Kalimantan, “Pelaku kemudian berpencar ke beberapa sudut pasar dan mencai mangsa, ” katanya.

Penggemar pemula biasanya akan langsung tertarik begitu mendengar burung yang dijualnya adalah murai batu medan atau murai batu lampung. Apalagi jika melihat burung tersebut mengenakan ring pada kakinya, sehingga sangat bernafsu untuk memilikinya. Harga yang ditawarkan pun cukup murah dibandingkan dengan murai batu dengan ring.

Namun setelah diperiksa, ternyata ring tersebut palsu dan burung tersebut bukanlah dari jenis yang ditawarkan, melainkan didapat dari hasil tangkapan jaring. Jadi, sama sekali belum ngevoer. Begitu sampai di rumah, pembeli langsung memasukkan burung ke dalam sangkar, dan memberinya voer,  sehingga burung tidak mau makan, stres, dan rentan mati. Apalagi kakinya terluka.

Untuk itu, penggemar burung khususnya yang masih pemula harus selalu waspada dan cermat sebelum membeli. Disarankan membeli dari pedagang burung yang sudah menetap. atau memiliki kios / tempat sendiri. Jika suatu hari ada masalah, burung bisa dikembalikan atau ditukar dengan burung lainnya.

Selain itu, jangan terpengaruh atau terburu nafsu melihat penawaran harga yang murah, apalagi jika burung tersebut terlihat menggunakan cincin atau ring. Sebab burung bakalan hasil tangkaran biasanya dijual seharga Rp 1 juta – Rp 1,5 juta per ekor. Adapun burung dewasa dijual paling murah Rp 2 juta – Rp 3 juta per ekor. Jadi, pemasangan ring pada murai liar atau bakalan ini merupakan sebuah trik untuk mengelabui pembeli.

Meskip begitu, para pedagang asli di Pasar Koplak mengaku tidak bisa mengusir para pelaku penipuan tersebut. Sebab, semua tergantung dari kesadaran dan pengetahuan calon pembeli. Umumnya, pembeli yang sudah hafal dan mengerti burung tidak akan membeli burung dari pedagang besekan tersebut.

Beberapa waktu lalu, Om Kicau menurunkan artikel mengenai panduan dan tips berburu burung di pasar burung. Karena itu, silakan buka kembali arsipnya di sini, sebagai  bekal bagi Anda dalam hunting di pasar burung. Baca juga artikel Hindari beli burung dalam “karung”

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.