Anis merah Milioner milik Gustut  (Tabanan BC) baru berumur 1,5 tahun, tetapi kemapanannya tidak kalah dari gaco-gaco lawas. Dalam kontes Gebyar Tahun Baru di lapangan Pondok Indah Denpasar, 19 Januari lalu, anis merah Milioner mencatat prestasi sensasional, tiga kali juara 1 alias hattrick. Gaco yang sehari-hari dirawat Ucup ini menjuarai Kelas Bintang A, Bintang B, dan Eksekutif A. Padahal, menurut Ucup, Milioner dirawat dengan porsi jangkrik minimalis, rata-rata dua ekor per hari.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Dalam memberikan jangkrik, Ucup biasanya mengamati dulu kondisi birahi burung. Apabila birahinya terlihat berlebihan, dia tidak ragu mengurangi porsi jangkrik hanya menjadi 1 ekor per hari. Namun, ketika birahi burung terlihat kurang, terkadang porsi jangkrik ditambah seekor.

“Bahkan sehari setelah lomba, atau hari Senin, Milioner sama sekali tidak diberi jangkrik. Baru diberi lagi pada hari Selasa,” kata Ucup, seperti dikutip Tabloid Agrobur (Edisi No 714 – Minggu IV Januari 2014).

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...
Gustut dan Ucup yakin Milioner makin moncer. (Foto: Agrobur)

Persaingan anis merah di Bali, sebagaimana di Blok Timur dan Blok Barat, memang sangat ketat. Tapi melihat penampilan anis merah Milioner dalam satu bulan terakhir, juga umurnya yang relatif masih muda, Gustut dan Ucup sama-sama optimistis gaconya bisa berbicara banyak dalam beberapa even ke depan.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Sebelum tampil dalam Gebyar Tahun Baru di Denpasar, Gustut juga sempat menurunkan anis merah Milioner dalam even Banyuwangi Open (29/12/2013), dengan hasil juara 1, juara 2, dan juara 3. Dua kali gaco ini dikalahkan Bellagio, anis merah jawara nasional milik Ming Basket (Surabaya). Namun, secara keseluruhan, penampilan Milioner dalam even ini tidak mengecewakan.

Setiap berlomba, Milioner selalu menampilkan gaya telernya yang full ndoyong kiri dan kanan, serta diseliling gaya lelep, sejak awal digantang hingga akhir lomba. Semua gaya ini dilakukannya dalam kondisi nancep di atas tangkringan, sambil terus menyanyikan lagu-lagu isiannya.

Yang menarik, Gustut juga tidak terlalu banyak memberikan isian untuk anis merah andalannya. Dia hanya memasternya dengan penggalan suara ayam dan burung gereja tarung. “Saya hanya memakai master sonic sederhana,” kata Gustut.

Mengapa isiannya juga minimalis? Menurut Gustut, tujuannya agar anis merah tidak terlalu dibebani suara master yang terlalu banyak, sehingga malah membuat burung kesulitan dalam merangkai lagu-lagunya. Jika anis merah kesulitan merangkai lagu-lagunya, biasanya burung juga susah nancep saat teler.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.