Artikel ini masih membahas masalah tanaman obat dan kaitannya dengan penyakit kanker sebagaimana pernah saya turunkan di artikel berjudul “Agro topik: Lawan kanker, daun sirsak vs kemoterapi (ribuan kali lebih kuat)“. Kali ini adalah cerita tentang keberhasilan penggunaan tanaman itu sebagaimana diresepkan oleh dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir kepada para pasien 19 jenis kanker sejak 9 tahun lalu. Dia meresepkan daun sirsak untuk pengobatan kanker ini.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

“Kondisi mereka membaik,” kata dokter ahli bedah dan kanker alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu.

Penyakit maut itu memberi isyarat dengan sederhana, sekujur tubuh sering sakit dan pegal. “Bila capai sedikit gampang masuk angin dan sakit perut,” kata Rustiani. Namun, makin hari kondisi Rustiani kian parah. “Seluruh badan terasa sakit seperti ada binatang yang mengoyakngoyak,” kata perempuan 42 tahun itu. Tak tahan lagi menanggung siksa itu, Rustiani memeriksakan diri ke dokter di sebuah rumahsakit di Bandung, Jawa Barat.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Ia menjalani rangkaian pemeriksaan seperti CT Scan (Computer Tomography), endoskopi, dan kolonoskopi. Berdasarkan hasil pemeriksaan itu, dokter mendiagnosis Rustiani menderita kanker usus. Di ususnya terdapat massa sepanjang 7 – 10 cm. Ia tak mampu membendung air mata. “Saya tak pernah membayangkan menderita kanker usus. Padahal, saya termasuk apik dalam hal makanan. Tidak pernah menggunakan penyedap rasa dalam masakan, tidak makan yang pedas-pedas, tidak sering mengonsumsi daging, dan tidak pernah minum alkohol,” kata Rustiani.

Daun sirsak

Untuk mengatasi penyakit maut itu, dokter menyarankan Rustiani untuk menjalani operasi bedah. Selain itu, ia juga harus menjalani 6 kali kemoterapi karena sel kanker menyebar ke hati. Namun, ia batal menjalani kemoterapi karena keterbatasan dana. “Biaya sekali kemoterapi Rp11-juta. Saya harus menjalani 6 kali sehingga total biaya Rp66-juta hanya untuk obat saja, belum termasuk biaya rumahsakit dan dokter,” kata Rustiani. Di tengah kegalauan itu, ia teringat surat elektronik tentang sirsak.

Setelah membaca detail dan berselancar, jadilah Rustiani mengonsumsi rebusan daun sirsak mulai 17 Agustus 2010. Ia merebus 10 daun sirsak dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Hasil rebusan itu ia minum dua kali pada pagi dan sore. Sepekan mengonsumsi, Rustiani mulai merasakan perubahan. “Ngilu di bagian bawah perut yang sering terasa jadi hilang. Selain itu, perut kembung pascaoperasi juga kembali normal dan menjadi enak makan,” kata Rustiani.

Menurut ahli terapi kolon, dr Oetjoeng Handajanto, gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi daging berlebihan memang penyebab dominan kanker usus. Pilihan makanan secara langsung mempengaruhi perkembangan kanker usus besar. “Usus besar selalu dilewati oleh bahanbahan karsinogenik yang masuk ke tubuh,” kata dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitat Bochum, Jerman, itu. Sel-sel usus besar yang terpapar zat-zat kimia dari makanan, polusi, dan racun-racun dari sampah makanan akan memicu munculnya sel abnormal atau polip.

Menurut dr Aru W Sudoyo SpPD dari Divisi Hematologi dan Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) penyebab kanker kolon beragam. “Namun, makanan merupakan faktor paling penting dalam proses terjadinya kanker kolon. Makanan tinggi lemak, terutama hewani, merupakan faktor risiko kanker usus,” kata dr Aru. Penelitian terbaru menunjukkan perokok jangka panjang atau 30 – 40 tahun, berisiko 1,5 – 3 kali lebih besar terkena kanker kolon. Diperkirakan satu dari lima kasus kanker usus besar di Amerika Serikat karena merokok.

Di Indonesia jumlah kasus kanker kolon pada usia muda lebih banyak daripada di negara maju. “Di negara maju kasus kanker kolon pada usia muda hanya 3%, sedangkan di Indonesia mencapai 30%,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu. Lebih dari 30% pasien kanker kolon di tanahair berusia di bawah 40 tahun. Penyebab besarnya angka itu belum diketahui. Namun, diduga kuat akibat infeksi seperti diare, serta dipicu gaya hidup tidak sehat.

Resep dokter

Kasus yang menimpa Andi Emanto lain lagi. Bagi dia berkemih saat paling menyiksa. Urine menetes perlahan, interval panjang, dan rasa nyeri. Celakanya, setiap malam ia terbangun 4 – 5 kali untuk berkemih. Semula ia menduga anyang-anyangan, tetapi 2 bulan kemudian gangguan itu tak kunjung berakhir. Andi Emanto tak tahan lagi menanggung siksa itu. Ia bergegas memeriksakan diri di sebuah rumahsakit di Surabaya, Jawa Timur.

Andi menjalani ultrasonografi, biopsi atau pengambilan sampel jaringan, dan tes darah. Dokter mendiagnosis Andi Emanto positif mengidap kanker prostat. Nilai PSA (prostate specific antigen atau indikator kanker prostat) Andi mencapai 40; angka PSA normal, 10. Dokter mengatakan kanker prostat itu termasuk grade II.

Untuk mengatasi sumbatan itu, dokter hanya mengerok jaringan prostat. Harap mafhum, Andi Emanto mengalami hiperplasia alias pembengkakan prostat. Ketika organ itu membengkak atau hiperplasia, menekan uretra sehingga urine sulit keluar dan menumpuk di kantong kemih. Menurut ahli urologi, dr Ahmad Bi Utomo SpU di Surakarta, Jawa Tengah, pengerokan adalah mengambil sebagian prostat untuk melancarkan jalan urine. Usai pengerokan pria 74 tahun itu memang lancar berkemih.

Namun, beberapa bulan kemudian, gangguan seperti di atas muncul lagi. Pada Oktober 2010, Andi menemui dr Zainal Gani di Malang, Jawa Timur. Ketika itulah Zainal Gani meresepkan daun sirsak. Konsultan pengembangan burung walet itu mengonsumsi hasil rebusan 7 daun sirsak dalam 3 gelas air. Setelah mendidih dan tersisa satu gelas, ia meminumnya 3 kali sehari. Karena menganggap repot, ia minta kapsul ektrak daun sirsak kepada dr Zainal Gani. Maka sebulan berselang, ia rutin mengonsumsi 3 kapsul 3 kali sehari.

Bersamaan dengan itu ia juga menjalani hidup sehat seperti meninggalkan konsumsi daging sapi, kambing, dan ayam. Sejak dua bulan rutin mengonsumsi daun sirsak, ia lancar berkemih dan tanpa rasa nyeri. Sayang, ia belum memeriksakan diri ke dokter.

Tertarik acetogenins

Saat ini memang kian banyak dokter yang meresepkan atau sekadar menganjurkan daun sirsak kepada para pasien beragam kanker. Zainal Gani yang menangani Andi Emanto, salah satu di antaranya. Dokter alumnus Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu meresepkan daun sirsak sejak Agustus 2010 setelah memperoleh informasi hasil riset di mancanegara. Informasi itu berupa senyawa aktif acetogenins dalam daun sirsak yang sangat manjur dan selektif mengatasi target sasaran.

Acetogenins hanya menyerang sel kanker dengan menghambat produksi adenosina trifosfat (ATP) sebagai sumber energi. Dampaknya mitosis atau pembelahan sel kanker, pun terhambat. Sel kanker membelah sangat cepat, yakni setiap 2 – 5 jam; sel normal, 7 – 14 hari. Pembelahan cepat keruan saja memerlukan energi besar dari ATP. Jika pasokan energi berkurang akibat ATP terhambat, maka aktivitas sel kanker melamban, dan terjadi apoptosis alias program bunuh diri sel. Tamat sudah riwayat sel kanker.

Zainal Gani mengutip hasil riset peneliti di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin yang bekerja sama dengan peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD (baca Daun Sirsak vs Kemoterapi Trubus Januari 2011). Itulah sebabnya ketika Andi berkonsultasi mengenai kanker prostat yang ia idap, dr Zainal Gani meresepkan daun sirsak.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Untuk memudahkan pasien, dokter kelahiran Banyuwangi 10 November 1946 itu mengekstrasi daun sirsak. Kebetulan di halaman belakang rumahnya yang jembar, ia menanam sirsak. Umur 10 tahun, pohon sirsak itu tumbuh setinggi atap. Dari pohon itulah Gani membikin rata-rata 500 kapsul per bulan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Dokter yang meresepkan herbal sejak krisis moneter pada 1998 itu biasanya mengombinasikan daun sirsak dengan herbal lain.

Kanker vs mukjizat?

Walau memberikan simplisia daun sirsak kepada para pasien, tetapi dr Setiawan Dalimartha lebih senang disebut menganjurkan daripada meresepkan. “Kalau meresepkan itu hanya untuk obat keras yang dibeli di apotek,” kata dokter yang menjadi Sekretaris Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Provinsi Jakarta itu. Setiawan “meresepkan” daun sirsak hanya kepada pasien kanker dari berbagai kota seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya.

“Pasien umumnya datang pada stadium lanjut. Bahkan, setelah dokter menyatakan sebaiknya dirawat di rumah saja (kondisi pasien sangat parah, red),” kata dokter alumnus Universitas Tarumanagara itu. Sedangkan yang datang pada stadium dini pada umumnya pasien kanker payudara dan kanker paru. Salah seorang pasien, sebut saja Rengganis, datang dengan kondisi mengenaskan. Ia mengidap kanker nasofaring atau bagian hulu kerongkongan yang berhubungan dengan hidung.

Celakanya sel kanker menyebar ke otak dan merusak os maxillaris sinistra alias tulang pipi kiri sebagaimana hasil pencitraan resonansi magnetik (MRI magnetic resonance imaging) dan foto tengkorak. Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur itu memberikan beberapa herbal, termasuk daun sirsak. Rengganis merebus 20 daun sirsak dalam 3 gelas air hingga mendididh dan tersisa 1 gelas. Ia mengonsumsi segelas rebusan daun sirsak setiap pagi.

“Ternyata responnya positif. Ada perbaikan kondisi tubuh, tumor tidak teraba lagi setelah mengonsumsi ramuan dan rebusan daun sirsak selama sebulan,” kata Setiawan. Menurut Setiawan, “Ini salah satu kasus yang mengejutkan, karena kasus itu adalah kanker stadium lanjut yang umumnya sudah tidak respons dengan pengobatan. Untuk kasus-kasus seperti itu, dalam benak saya hanya ada satu jawaban, dia mendapat mukjizat dari Tuhan.”

Dokter kelahiran 25 Agustus 1950 itu mengatakan senyawa dalam daun sirsak menyebabkan matinya sel kanker atau apoptosis. Senyawa alkaloid itu juga menghentikan atau memutus aliran darah ke sel kanker. Dampaknya sel kanker tidak mendapat pasokan makanan sehingga akhirnya pertumbuhan terhenti.

19 Kanker

Dokter lain yang meresepkan daun Annona muricata kepada para pasien adalah dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir di Serpong, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu daya tembus senyawa aktif dalam daun sirsak ke sel kanker sangat kuat. Selain itu daun sirsak juga mampu melokalisir sel kanker. Ia meresepkan ekstraksi daun sirsak dalam kapsul kepada para pasien kanker sejak 2002.

Total ada 19 jenis penyakit kanker yang pasiennya ia resepkan daun sirsak seperti kanker payudara, kanker usus, dan paru-paru. Harap mafhum, “Semua bagian tubuh manusia berpotensi terserang kanker, kecuali rambut dan kuku,” kata ahli kanker yang mendalami pengobatan tradisonal, dr Willie Japaries MARS. Pasien dr Paulus, dokter ahli bedah dan ahli lepra, 80% memang pasien kanker yang datang dari berbagai kota.

Mantan direktur Rumahsakit Sitanala, Kabupaten Tangerang, Banten, itu senantiasa meresepkan daun sirsak secara majemuk. “Tak ada peluru ajaib untuk menembak kanker. Tanaman obat harus campuran sehingga sinergis dan hasil maksimal. Sinergisme juga menetralisir efek samping,” kata Paulus. Menurut Paulus herbal pendamping itu sangat individual sehingga tak dapat digeneralisir.

Dokter yang 8 tahun bertugas di Uganda dan Etiopia itu mencontohkan jika ginjal pasien kanker bermasalah, maka ia menambahkan kejibeling Strobilanthes crispus atau kumis kucing Orthosiphon aristatus. Paulus mengatakan peran daun sirsak dan herbal lain itu hanya 40%. Selebihnya andil banyak faktor seperti sikap, gaya hidup, dan kondisi kejiwaan. “Penyerapan obat di usus lebih baik, jika (pasien) tak stres,” kata Paulus.

Lihatlah kondisi Diana Darmawan yang mengidap kanker payudara ganas stadium 2C. Bobot tubuh perempuan 45 tahun itu anjlok, perut terasa panas, muntah terus-menerus, rambut, alis, dan bulu mata rontok tidak bersisa. Kulit yang semula putih bersih berubah warna menjadi ungu keabu-abuan. Itu akibat kemoterapi di Pusat Kanker Nasional Singapura. Sepekan kemudian ia menemui dr Paulus. Meski kondisi memburuk, tetapi Diana optimis setelah memperoleh dukungan dari keluarga. Itu membantu mempercepat pemulihan.

Untuk memulihkan kondisi tubuh, ibu 3 anak itu mengonsumsi kombinasi herbal, daun sirsak, sambiloto, dan temulawak resep dari dr Paulus. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari masing-masing sebuah kapsul. Tiga bulan kemudian, kondisi kian membaik dengan indikasi hilangnya keluhankeluhan itu. Kulit Diana juga kembali bersih. Akhir Januari 2011, ia kembali memeriksakan diri di Pusat Kanker Nasional Singapura. Hasilnya, sel kanker tak terdeteksi di tubuh Diana. Menurut dr Paulus, pascakemoterapi 20% sel kanker masih tersisa.

Lebih luas

Dokter kepresidenan, dr Hardhi Pranata SpS MARS, turut menganjurkan daun sirsak, terutama kepada pasien kanker usus besar, kanker paruparu, kankier prostat, dan kanker payudara. Selain itu Ketua Umum Himpunan Dokter Herbal Medik Indonesia itu juga menganjurkan pemanfaatan daun sirsak kepada pasien penyakit saraf. Menurut Hardhi, daun sirsak bersifat menenangkan. Seorang pasiennya mengidap kanker payudara studium 2, kondisinya terus membaik setelah rutin mengonsumsi rebusan daun sirsak.

“Acetogenins dalam daun sirsak mengendalikan mitokondria yang overacting. Bila mitokondria normal, maka pertumbuhan sel kanker dapat terkendali,” kata alumnus Universitas Indonesia itu. Hardhi menganjurkan pasien itu untuk menjalani kemoterapi. Kondisinya baik, rambut tak rontok. Bahkan nafsu makan meningkat sehingga bobot tubuh bertambah. “Di sanalah tanaman herbal bekerja menjaga dan memulihkan tubuh,” kata Hardhi.

Dokter dan herbalis di Ciputat, Kotamadya Tangerang Selatan, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Erna Cipta Fahmi, juga meresepkan sirsak untuk para pasien, tetapi lebih banyak buah daripada daun. Selain kepada pasien kista, dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu juga meresepkan buah sirsak untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan ginjal seperti asam urat dan hipertensi.

Dr Prapti Utami juga menganjurkan daun sirsak untuk mengatasi kanker. Kepada para pasien, pemilik Klinik Evergreen itu hanya menjelaskan cara mengolah, dosis dan frekuensi konsumsi daun sirsak. Pasienlah yang mesti mencari daun sirsak segar karena relatif mudah. Sayang, Prapti belum memantau kondisi para pasien pascakonsumsi daun sirsak.

Dokter dan herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja belum meresepkan daun sirsak kepada para pasien. Sebab, pasokan bahan baku masih terbatas. Meski demikian ia tertarik meresepkan karena daun sirsak memiliki kelebihan ketimbang herbal untuk kanker lainnya. Sidi membandingkan dengan kunir putih Curcuma zedoaria yang juga berkhasiat antikanker. Tanaman anggota famili Zingiberaceae itu mengandung protein yang hanya efektif untuk menghambat mitosis sel kanker dari kelenjar. Beberapa contoh kanker kelenjar adalah kanker prostat dan adenokarsinoma alias pankreas. Bagaimana dengan daun sirsak? Alumnus Fakultas kedokteran Universitas Gadjah Mada itu mengatakan bahwa cakupan khasiat daun sirsak lebih luas daripada kunir putih.

Selain mujarab mengatasi sel kanker dari kelenjar, daun sirsak juga tokcer mengendalikan kanker yang berasal dari sel jaringan ikat. Contohnya antara lain fibroadenokarsinoma pada kanker payudara dan kanker rahim.

Diturunkan di omkicau.com, dengan ijin khusus kepada member trubus-online.co.id yang dibolehkan menyebarluaskan artikel Trubus dengan menyebutkan sumber aselinya.  (Sardi Duryatmo/Peliput: Endah Kurnia Wirawati, Evy Syariefa Firstantinovi, Imam Wiguna, Lastioro Anmi Tambunan, Rosy Nur Apriyanti, Tri Istianingsih: trubus-online.co.id)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895