Penetapan Yayasan BnR tidak memberi penilaian (diskualifikasi) untuk burung yang tidak sempurna secara fisik di arena lomba burung, termasuk burung dengan dengan jumlah ekor tidak lengkap misalnya, mengundang pro-kontra. Pro kontra itu sendiri diangkat Majalah BnR dengan mewawancarai berbagi kalangan kicaumania. Apa kata mereka?

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Mengawali artikel ini ada baiknya kita lihat apa yang disebut burung favorit menurut versi BnR sebagaimana ditulis di majalah BnR edisi Minggu III Maret 2012. Tetapi sebelumnya, silakan disimak dulu artikel ini: Burung bodol didiskualifikasi: Kenal lebih jauh penilaian lomba BnR.

Burung favorit versi BnR

Lomba burung adalah selain irama lagu, durasi kerja dan volume ada beberapa faktor penunjang untuk burung menjadi favorit. Sebelum kita membahas burung favorit, mari kita memahami terlebih dahulu apa arti favorit? Favorit artinya sempurna. Para kicaumania pasti sudah memahami apa arti kata sempurna. Sempurna dari irama lagu, durasi kerja, volume dan penampilan dari burung iyu sendiri.

Penunjang untuk burung diberikan bendera favorit banyak faktor, contoh sebagai berikut:

Kacer, selain irama lagu, volume dan durasi kerja, dari gayanya nilai tambahnya. Mengapa burung yang kena fisik tidak boleh diberi bendera favorit?

Sekarang mari kita bayangkan sendiri, kalau burung yang diberi bendera favorit misalnya ekornya satu atau bulu dadanya semrawut atau bulu kepalanya botak. Apakah burung yang seperti ini akan menjadi burung favorit di dunia perburungan?.

Kita bersama-sama ingin membuat kemajuan di dunia perburungan. Seharusnya kita sendiri bertanya pada hati nurani, enak tidak, kita memandang burung yang fisiknya tidak sempurna?

Dalam hal ini bukan hanya BnR saja kalau fisik tidak bisa masuk kategori burung favorit. Organisasi burung di luar BnR juga melakukan hal yang sama. Karena tadi namanya favorit harus di atas rata-rata baik karena burung tersebut yang terbaik.

Beberapa kicaumania ada yang tidak sejalan untuk menentukan seperti apa burung favorit. “Ya, kan namanya burung . Ada aja burung bulunya nggak rata atau ekornya ada yang patah. Tapi kan burungnya dahsyat,” kata beberapa kicaumania. Bagaimana tanggapan dari orang nomor satu di BnR tentang pernyataan tadi.

“Kalau aku bicara hati nurani selalu melakukan untuk seluruh kicaumania. Aku juga harus mengakui akan pentingnya fisik burung. Contoh, anis kembangku si Marabuntha. Semua tau tidak ada yang bisa mengalahkan burung tersebut. Tapi pada saat dilombakan burung tersebut kembali menunjukkan kedigdayaannya ternyata kalah, mengapa? Secara jujur aku memahami kekalahan itu karena pada saat itu belakang kepala Marabuntha botak. Aku sendiri melihat. Ya, kalau menang lucu juga burung botak menang. Kejadian itu saat di lomba PBI. Jadi mari kita bersama-sama  mengutamakan kepentingan seluruh kicaumania. Kita sama-sama satu suara. Burung favorit itu burung yang sempurna. Termasuk fisiknya benar-benar wujud seekor burung,” kata Bang Boy.

Para kicaumania, BB selalu mencari yang terbaik bagi kicaumania. Sekarang, apa perlu BnR membuka kelas burung khusus yang kena fisik? Kira-kira ada tidak prestise di kelas tersebut? Bisa kita bayangkan kalau kelas ini dibuka.

Jadi mari kita belajar memahami dan mendalami apa arti kata burung favorit. Agar tidak salah kaprah dan bisa mengerti yang terbaik itu yang sempurna. BnR bukan mengintimidasi burung cacat. Burung tersebut juga makhluk Tuhan. Tapi, lebih tidak mempunyai rasa kemanusiaan lagi kalau burung cacat dilombakan oleh BnR.

Oke kicaumania, masih banyak burung yang pantas kita lombakan dan masih banyak burung yang sempurna. Tetap semangat. Mari kita membangun dunia kicaumania ini dengan mengutamakan kepentingan seluruh kicaumania.

Burung cacat fisik menang di lomba, benarkah kemenangan konyol?

Lomba burung berkicau yang sudah merebak digelar di berbagai wilayah seyogyanya merupakan lomba seni suara burung berkicau. Artinya lebih menonjolkan kepada bagaimana masing-masing burung menunjukkan kepawaian dalam melantunkan lagu kicaunya. Namun beberapa fakta ada burung ang mengalami cacat fisik dinobatkan sebagai sang juara. Apakah kemenangan tersebut menyimpang dari kriteria penilaian lomba?

Kemenangan sebagai juara yang diraih burung cacat fisik masih menjadi polemik yang tak berujung hingga saat ini. Pelbagai silang argumentasi antara panitia, juri dengan kicaumania kerap terjadi pada gelaran lomba khususnya disebuah lomba yang dinilai sangat bergengsi. Idealnya burung yang menang harus dapat memenuhi kreteria penilaian yang kini sudah diketahui publik.

Dalam kreteria penilaian lomba burung berkicau seorang juri harus mengacu dan mengisi nilai pada lembaran kertas yang diberi nama rekap juri. Sedikitnya ada empat kolom yang harus diisi juri untuk menilai peserta sebagai bahan menentukan burung yang bisa masuk favorit atau juara. Dalam empat kolom tersebut tertera kreteria ; irama, lagu, volume dan gaya/fisik.

Menurut Dwi Aries, juri yang tinggal di Surabaya, dalam menjalankan tugas, seorang juri yang pertama harus melihat kualitas irama dan lagu selanjutnya volume lagu gaya dan kondisi fisik burung. “Karena lomba burung merupakan lomba seni suara burung berkicau bukan lomba seni gaya burung berkicau, maka irama, lagu dan volume menjadi prioritas. Sedangkan gaya atau fisik menjadi penunjang poin nilai,” jelasnya.

Meski criteria penilaian lomba burung sudah banyak diketahui publik perburungan, faktanya ada kicaumania yang tetap mengikutkan burung yang cacat fisik pada sebuah perlombaan. Fakta demikian ini kata Dwi Aries, sang pemilik burung optimis kalau kemampuan yang dimiliki jagoanya di atas rata-rata burung pada umumnya. “Burung yang tetap dilombakan meski cacat fisik, umumnya mengalami gangguan penglihatan yakni katarak,” ungkapnya.

Sementara menurut Imron pencetak burung juara tinggal di Surabaya, ketika digantangkan, jika cacatnya sangat mencolok dan terlihat jelas dari luar pagar pembatas maka tidak layak jika masuk burung favorit. Namun jika kondisi cacat fisiknya tidak terlihat jelas dan ditunjang kualitas dan stabilitas bagus kiranya layak masuk sebagai burung favorit.

Sedangkan Sinho justru mengaku heran melihat perkembangan sistem penilaian lomba burung saat ini. Menurut kicaumania yang tinggal di Surabaya ini, kreteria fisik sudah diabaikan. Hal ini terbukti beberapa burung juara yang mengalami katarak. “Entah kenapa ya kreteria fisik pada lomba saat ini diabaikan,” ujarnya keheranan.

“Diakui atau tidak bahwa pemahaman dan selera kicaumania sudah ada penyimpangan khususnya pada jenis burung anis merah dan kacer. Pasalnya pada kedua jenis burung tersebut banyak kicaumania lebih setuju pada penampilan gaya dengan asumsi dengan penampilan gaya khas burung tersebut bisa melanturkan lagu secara maksimal,” papar Dwi Aries.

Namun bagi sebagian besar kicaumania sepakat bahwa idealnya burung yang menang dalam sebuah lomba harus benar-benar mendapatkan nilai atau poin bagus sedikitnya dari keempat kreteria yakni irama, lagu, volume, gaya dan fisik. Dan pihak penyelenggara lomba harus tegas dan membuat pakem  yang jelas untuk segera disosialisasikan jauh hari sebelum pelaksanaan lomba. Sikap tegas dan pekem kreteria yang jelas akan meminimalisir kekecewaan kicaumania yang burungnya juara tiba-tiba gugur lantaran mengalami cacat fisik.

Suparno (Kios Komseko Jakarta): Masuk akal, cacat fisik tidak juara!

Suparno - Kios Komseko Jakarta - Masuk Akal

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Manusia pada umumnya senang melihat keindahan, hal itu sangat manusiawi. Coba Anda lihat pada ajang lomba menyanyi di telivisi meskipun itu lomba menyanyi,para juri melakukan seleksi awal peserta yang bakal tampil di telivisi, cenderung memilih peserta yang punya suara bagus dan penampilan yang menarik. Lagi-lagi itu sangat manusiawi,karena orang senang melihat keindahan.

Begitu juga pada lomba burung berkicau. Kalau cacat fisik pada burung terlihat sangat jelas seperti katarak atau ekor patah, maka kenapa burung itu harus dimenangkan? Memangnya ketika digantangan tidak ada burung lain yang kerja atau diam saja, sehingga hanya burung cacat fisik itu sendiri yang kerja? Jadi kalau burung sama-sama kerja dan kemudian burung yang cacat fisik kualitasnya hanya sedikit lebih baik dari burung yang normal, maka burung cacat fisik tidak patut di menangkan. Apalagi kalau digantangan burung normal banyak tidak terlihat ada kekurangan, meski sebenarnya ada kekurangan sedikit ya tidak apa-apa. Jadi burung cacat fisik adalah yang mutlak kelihatan.

Nah kalau ada burung cacat mutlak dan kemudian digantangkan, maka kesalahan terletak pada para pemain sendiri, kalau mereka tetap mau menggantangkan burung yang cacat fisik. Itu artinya pemain tersebut memaksa juri untuk menilai burung tersebut. Dalam hal ini kalau BnR menerapkan peraturan tersebut bahwa burung cacat fisik tidak juara, maka saya mendukung.

Zainul  – Karawang: Tergantung cacatnya

Zainul Karawang - Tergantung cacatnya

Bisakah burung yang cacat fisik juara? Itu pertanyaan yang jarang dibicarakan tapi penting untuk di bahas bersama. Menurut saya perlu dibahas dulu kreteria burung cacat fisik itu seperti apa. Jadi saya berpendapat tergantung cacatny apa! kalau tampak kelihatan seperti matanya katarak, sayap patah atau kaki patah, pokoknya yang tampak jelas terlihat, burung yang seperti ini tidak boleh dijuarakan walaupun kualitasnya mewah. Pasalnya akan memicu protes dari peserta lain.

Kecuali burung yang tidak terlihat cacat fisiknya oleh mata para kontestan. Kalau tidak terlalu kelihatan sepertinya ia bisa juara. Namun semua kembali kepada para juri untuk menentukan pemenangnya, masalahna para peserta yang mengikuti gelaran kan tidak tahu bahwa burung tersebut ada cacat fisiknya dan yang tahu hanya para juri. Kalau cacat tidak kelihatan dan kualitasnya bagus menurut saya bisa dijuarakan.

Alza BnR Jateng: Mestinya seperti pemilihan model

Alza BnR Jateng - Seharusnya seperti pemilihan model

Jika burung yang menang dalam suatu lomba itu adalah burung cacat, saya sangat tidak setuju, alasannya karena dalam suatu ajang lomba, dicari burung benar-benar yang sempurna. Sempurna yang dimaksud adalah burung yang berkualitas baik dari suara, lagu, gaya, dan fisiknya.

Itulah susahnya mencari burung jagoan untuk beradu di ajang lomba. Bisa diibaratkan seperti ajang pemilihan model, di situ tidak hanya dilihat tampang dan cara berjalannya saja, melainkan juga dibutuhkan intelegensinya yang baik pula. Kesempurnaan inilah yang dicari dalam seleksi burung berkicau.

Djinal Semarang: No Problem!

Djinal Semarang - No Problem

Tidak jadi soal pemenang lomba burung adalah burung yang cacat, asal cacatnya tidak terlalu mencolok. Fisik yang saya maksudkan itu, menyangkut apa yang melekat dalam tubuh burung tersebut. Misalnya burung yang menang sebenarnya kena fisik karena salah satu jarinya tidak ada  kukunya, tapi kualitas segalanya tidak ada yang mengalahkan dibanding lawan-lawannya. Mengapa burung seperti itu tidak dimenangkan?

Beda halnya kalau cacatnya terlalu mencolok seperti kakinya patah satu, ya tidak bisa dijuarakan sebagai juara 1. Namun bisa juara 10 besar perlu dipertimbangkan, kalau memiliki kualitas juara. Jangan langsung memvonis burung cacat adalah burung yang kurang baik, malah bisa berbalik.

Irul RO – Bali: Ndak ada ceritanya yang cacat Juara!

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Irul RO – Bali Ndak ada cerita cacat juara

Menurut saya dalam lomba burung sudah ada pakem atau kreteria lomba burung. Di antaranya gaya, fisik, irama dan lagu yang dibawakan burung saat tampil di arena kontes. Namun hingga saat ini, tidak jarang atau ada saja burung yang juara padahal matanya katarak atau cacat fisik. Oleh juri sang penilai di lomba tidak terlalu diperhatikan.

Persoalan ini memang harus ditegaskan dari sejak awal. Jika perlu dalam tata tertib atau peraturan lomba sebaiknya disosialisasikan. Jika tidak, boleh jadi ada kerancuan bahkan berujung protes.

Tidak ada burung yang ingin dilahirkan atau mendapat kondisi cacat bawaan. Akan beda persoalan lagi, jika burung cacat lantaran kecelakaan jatuh atau terjepit.

Kalau saya sih nggak setuju because what…. namanya juga lomba burung, harus apple to apple dong! Tapi kalau mau dipaksain sih harusnya, yang brondol dengan yang brondol atau yang katarak dengan yang katarak dan sebagainya. Pendeknya saya vote “tidak setuju” Ndak ada ceritanya yang cacat juara.

B–Jo Betawi: Cacat tidak kentara bisa ditolerir

B-Jo Betwi - Cacat Tidak Kentara Bisa Ditolerir

Di lapangan, burung berkualitas istimewa haruslah mencakup sejumlah hal, mulai dari mental tarung, voleme, sampai isian yang dimilikinya pun haruslah cukup komplit dan mumpuni.

Umumnya, ketiga hal ini menjadi perhatian juri dalam melakukan penilaian suatu jenis burung yang memperoleh gelar juara. Apabila semua faktor di atas telah dimiliki maka bisa dikatakan bahwa burung tersebut layak menyandang predikat sebagai burung juara. Jadi apabila salah satu faktor tersebut tidak dimiliki maka predikat juara pun akan sulit untuk diraih.

Seiring dengan perkembangan hobi burung yang terus meningkat maka banyak inovasi-inovasi baru dan tak heran jadinya kalau muncul pula kriteria anyar yang bisa menentukan kemenangan seekor burung lomba. Tapi intinya, kriteria anyar tersebut tidak akan menyimpang jauh dari pakem yang selama ini telah ada.

Pertanyaan yang muncul kemudian apakah bila ada burung yang memiliki kriteria juara namun memiliki cacat fisik, saya kira burung tersebut masih layak menjadi juara dengan catatan cacat fisiknya tidak terlalu kentara.

Karena dalam lomba burung berkicau yang dilombakan adalah suaranya. Jadi kalau ada cacat fisik yang tidak terlalu kentara, sebenarnya bukanlah persoalan yang penting, apabila burung tersebut telah kerja secara maksimal serta memiliki voleme yang tembus dan mumpuni.

Boy Naruto: Sah saja asal tidak ketahuan

Boy Naruto Bali - Sah saja asal tidak ketahuan

Masalah setuju atau tidak, semua kembali ke makna sebenarnya dalam lomba burung. Dalam lomba burung, tidak hanya menilai dari voleme suara, isian dan gayanya saja. Tetapi, estetika atau eksotisme fisik burung harus menjadi salah satu acuan dalam penilaian.

Saya pribadi, lebih melihat dari sisi keseriusan seseorang yang dengan telaten merawatnya. Mendidik burung, dengan harapan mendapat hasil maksimal dengan ketentuan penilaian dalam sebuah lomba. Penilaian lomba pada saat ini, juri masih hanya  memperhatikan gaya dan suara serta volumenya. Bukan pada bulu atau fisiknya. Menurut saya, sah saja asal tidak ketahuan.

Jika merujuk pada lomba burung, penilaian utamanya adalah kemampuan berkicaunya. Banyak juga burung-burung yang cacat sayap, kaki, ekor bahkan mata katarak dilombakan. Terbukti juga, tidak sedikit yang moncer dan juara. Bahkan, beberapa burung punya kelebihan tersendiri dibalik cacat fisiknya.

Boleh saja. Ada tapinya, burung cacat ada nilai minusnya. Tidak bisa kita samakan meski burung cacat punya keistimewaan lebih dibanding dengan burung dengan postur fisik sehat dan tidak ada cacatnya. Tentu, ini berdampak pada nilai jual. Dan yakin tidak ada kicaumania yang membeli burung cacat dengan harga mewah.

Erik Tasikmalaya: Masih jadi pertimbangan kicaumania

Erik Tasikmalaya - Masih jadi pertimbangan kicaumania

Hingga saat ini fakta di pelbagai gelaran tak bisa dipungkiri bahwa burung yang mengalami cacat fisik, terbukti tidak dapat bersaing dan malah diasingkan dengan burung-burung normal lainnya.

Kicaumania pun kerap menyepelekan burung cacat, karena selain merasa kondisi burung cacat fisik bisa kurang mendukung kinerja burung, burung cacat bisa mempengaruhi juri ketika melakukan penilaian, meskipun itu burung berkualitas.

Meskipun biasanya hanya dilihat seelah mata saja, namun burung yang cacat fisik tak sedikit yang memiliki kualitas materi di atas rata-rata dan ketika burung seperti ini diikutsertakan dilomba, dipastikan akan memikat hati para juri dan kicaumania.

Secara logika, untuk burung kualitas lomba, tentunya harus lebih diutamakan yang memiliki kriteria kesempurnaan fisik, sebagai penunjang kriteria penilaian. Terkecuali bila dari sekian banyak burung yang mengikuti lomba, tidak ada satu pun bekerja maksimal, sementara burung cacat fisik dan dapat bekerja dengan apik dengan memperlihatkan kualitas materi, performa aksinya menawan,maka burung yang cacat fisik layak jadi juara.

Daam Bird Jakarta: Wajar, kalau di Presiden Cup harus mendekati kesempurnaan

Ajang Presiden Cup 2 adalah ajang nasional yang banyak dinanti-nanti oleh kicaumania. Jadi tentu sangat wajar kalau burung yang tampil di sana diharapkan adalah burung-burung yang mendekati kesempurnaan, artinya kesempurnaan tidak hanya didukung dari tampilan suara ang memenuhi syarat burung jawara, tetapi juga ditunjang oleh penmpilan fisik yang memikat. Ya wajar saja, soal ini kan sekali Presiden Cup.

Jadi kalau burung cacat kemudian tidak masuk nominasi burung jawara juga hal wajar. Sebab di Presiden Cup 2 yang turun adalah burung-burung jawara lomba dari pelbagai daerah. Jadi hampir mustahil kalau di arena seperti Presiden Cup hanya ada burung cacat fisik yang kerja, sementara burung lainnya diam, sehingga burung cacat fisik yang kemudian harus dimenangkan karena burung lainnya tidak kerja.

Hanya perlu diperjelas kriteria cacat fisiknya, dan kriteria tersebut harus di ketahui oleh semua peserta yang akan terjun di arena Presiden Cup 2 sehingga tidak ada kekisruhan.

H. Budiono Bekasi: Fisik dan kualitas harus sejalan

Budiono Bekasi - Fisik dan kualitas harus sejalan

Burung yang layak juara bukan hanyandari segi kualitas suara maupun variasi lagu yang dibawakannya, namun tampilan fisik juga sangat mendukung performa saat di arena apalagi di event sekelas Presiden Cup 2 nanti.

Hal ini bukan suatu bentuk diskriminasi melainkan ketegasan dalam menerapkan peraturan lomba dengan melihat semua aspek yang ada. Jika peraturan tentang burung cacat fisik tidak layak mendapatkan juara atau pun tidak boleh diikutkan dalam kompetisi lomba setidaknya dapat mengurangi ketidak puasan peserta jika melihat hasil penilaian juri.

Jika kita melihat sejarah kompetisi lomba burung berkicau, belum pernah ada burung cacat fisik meraih juara 1. Seandainya burung yang cacat fisik jadi juara pasti menuai kontroversi sesame peserta.

Dengan akan diterapkan aturan ini setidaknya kicaumania yang mempunyai burung yang masuk katagori cacat fisik akan mengurungkan niatnya untuk turun di arena lomba sehingga polemik sekecil mungkin bisa diantisipasi di lomba Presiden Cup 2 nanti.

Mr. Tejo – Jakarta: Kriteria cacat fisik harus jelas

Mr Tejo - Kriteria Cacat Harus Jelas

Apabila Yayasan BnR berencana akan memasukan kondisi fisik burung dalam kriteria penilaian lomba, maka harus terinci jelas. Jangan sampai upaya perubuhan menuju perbaikan tersebut malah jadi polemik yang bisa menimbulkan kekecewaan bahkan kericuhan di saat pelaksanaan.

Kriteria lomba belakangan ini lebih memperhatikan aspek irama lagu, durasi kerja serta volume. Maka sangat penting untuk mengurai kondisi burung yang masuk kategori cacat fisik. Cacat fisik yang seperti apa. Itu yang harus diperjelas sehingga tidak ngambang. Apabila ngambang sangat dikhawatirkan terjadi pemahaman  berbeda  antara kicaumania dengan panitia. Sosialisasi aturan tersebut harus jauh-jauh hari sudah disampaikan. Kalau kriteria atau pakemnya jelas, maka secara otomatis  kicaumania yang menerjunkan burung di lomba tersebut paham dan akan mematuhi  peraturan yang dibuat penyelenggara.

Misalnya kondisi bulu ekor, sayap dan kuku pada kaki. Apabila ada ketidak sempurnaan pada bagian tersebut, apakah masuk kategori burung cacat fisik? Kemudian muncul pertanyaan: apakah burung yang kondisi fisiknya demikian tidak boleh mengikuti lomba atau cukup dinilai namun tidak dinominasi? Lantas bagaimana teknis pemeriksaan bagi burung yang mengalami cacat fisik? Apakah akan dicek sebelum atau usai lomba? Hal ini patut dijadikan pokok pembahasan bagi tim.

Ini sekedar masukan demi perbaikan BnR dan kicaumania kedepannya, khususnya Pak Boy yang sangat memperhatikan dunia perburungan untuk menuju perubahan yang lebih baik. Apalagi Presiden Cup 2 sudah tinggal beberapa pekan lagi.

Bagaimana pendapat Anda?

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895