Mencoba berkilas balik perjalanan lomba burung yang pernah populer di masanya tetapi kini sudah tidak dibuka lagi kelasnya, diakui membuka kenangan mendalam pada diri tokoh-tokoh yang pernah berkecipung di sana pada suatu saat di waktu yang lampau itu.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Tinggal kenangan piala-piala burung jawara

Di Kalimantan Timur khusunya Samarinda banyak kicaumania yang sempat mengorbitkan sejumlah burung jawara di masing-masing kelas lomba burung berkicau yang kini sudah tidak dibuka lagi.

Seperti pada kisaran tahun 1998 -2001, murai batu medan Tyson milik Titi Aneka Baut bersaing ketat dengan Mutiara andalan Pak Yanto serta dibayangi Laviola milik Muhid yang sering mendominasi kejuaraan.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Masih di era yang sama, punglor kembang Popay andalan Ceming selalu berebut juara dengan Rembulan andalan Pak Ramadhan. Disusul kelas decu Pangeran andalan H Deri dan Drogba milik H Agus GP dan Boncu miik Tau Lie yang selalu nampil di jamannya, serta kelas hwa mei yang memunculkan nama Pengecut dan Wayang milik Tau Lie yang langganan jadi juara, serta Putri Salju andalan Budi disusul Kingkong milik H. Deri.

Di era 2000-2006, tledekan yang sampai dibuka 2 kelas juga memunculkan nama Ayam Gepuk andalan H. Agus GP yang jadi raja sampai-sampai Michel – pemain kawakan Surabaya – kesengsem dengan penampilan Ayam Gepuk dan langsung memboyongnya pada waktu itu.

Dan cucak ranti yang sempat booming dengan 2 kelas juga sempat memunculkan nama Kapten Vijay.

Memang dari nama jago tersebut di antaranya sudah tidak ada bahkan sebagian tokoh-tokoh tersebut sudah tidak main burung lagi alias pensiun.

“Dulu fair-playnya sangat kental karena patokan lomba belum pakai nominal uang,” tambah Tau Lie tokoh senior Samarinda.

Meredupnya lomba pada kelas-kelas tersebut banyak faktornya, seperti bahan/bakalan burung itu sendiri susah didapat di Kaltim karena pasokan bakalan dari Jawa serta pakan alami di daerah ini seperti kroto dan ulat kandang sangat terbatas.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

“Pemain lebih senang mengikuti trend yang lagi booming, juga burung bakalan yang mudah didapat seperti cucak hijau, kacer, murai borneo dan lainnya,” jelas H. Agus GP.

Di Kalimantan, ada beberapa kelas lomba yang terancam terdegradasi seperti cucakrawa, punglor/anis merah serta srindit. Memang sangat disayangkan bila sampai akhirnya cucakrawa dan punglor merah sampai benar-benar terdegradasi di Pulau Borneo. Apalagi cucakrawa adalah salah satu burung ikon andalan Kalimantan.

“Kita berusaha tetap membuka cucakrawa dan punglor merah walau rata-rata hanya 5-8  peserta tiap kelasnya agar pemain tetap semangat untuk melestarikannya,” sambung Agung MC mewakili aspirasi teman-teman kicaumania juga para EO.

Sementara serindit pun semakin riskan untuk bertahan dengan setiap Iombanya hanya diikuti maksimal 8 ekor burung.
Rangkaian artikel “Burung terpinggirkan di ajang lomba Agrobis Burung”:

.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895