Alkisah, dalam acara barter burung di Kota Malang, sekitar tahun 2006, ada seekor anis merah (AM) bernasib malang. Dia seperti disia-siakan pemiliknya, sehingga harus dibawa ke acara barter. Masa lalunya begitu kelam, sehingga beberapa orang menolak untuk mengambilnya. Namun, setahun kemudian, burung ini menjadi jawara tak terkalahkan di sejumlah lomba. Namanya bahkan menjadi legenda sampai sekarang: Juventus !!!

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

JUVENTUS: ANIS MERAH LEGENDARIS [ foto: kicaumania.or.id ]
Kisah ini saya rangkum dari thread Bang Jost di forum kicaumania.or.id, sebagai inspirasi bagi Anda dalam memperlakukan burung piaraan di rumah: apapun jenisnya. Intinya tak perlu patah semangat ketika burung belum sesuai dengan keinginan Anda. Sebaliknya, justru Anda yang mesti mengenal karakter burung, sehingga bisa memenuhi keinginannya.

Dilego seharga Rp 350.000

Seperti disinggung di awal tulisan ini, Juventus dihadirkan dalam acara barter burung di Malang. Itu berarti dia bakal dilego. Akhirnya, burung ini berpindah tangan ke Udin Lumajang yang menukarnya dengan seekor blackthroat.

Udin kemudian memperlihatkan anis merah itu kepada Bang Jost. “Kondisinya jan wuelek tenan (jelek sekali). Sayap kiri turun, dan burung nggak bisa mandi di karamba mandi. Saat itu saya bilang, terus burung kayak gini mau buat apa? Bunyi saja nggak,” tutur Bang Jost.

Malam itu juga, Juventus langsung diajari mandi pakai karamba. Burung dipegang dan dimasukkan dalam karamba, sampai meronta-ronta. Di dalam karamba, Juventus tidak bisa tenang dan beberapa kali menabrak dinding karamba.

Karena tetap tidak mau mandi, akhirnya burung dikembalikan ke sangkarnya dan digantang di depan rumah. Namun tubuhnya malah seperti menggigil, dan tentu saja tidak mampu bersuara. Sangkar pun dipindah ke lantai, alias tidak digantang lagi.

Ditunggu sampai dua minggu, anis merah ini tetap saja membisu. Akhirnya Juventus dibawa ke pasar burung. Tahu kan maksudnya? Ya, rencananya mau dilego, dengan banderol Rp 350.000.

Belum sempat tawar-menawar dengan pedagang, datanglah lelaki bernama Albert. Kendati Juventus tetap membisu, rupanya Albert tertarik dan membeli burung tersebut.

Cetak quattrick di GRBC Lumajang

Beberapa bulan kemudian, Juventus tiba-tiba muncul di pasar burung. Bukan untuk dilego, tapi mengikuti latber. Sebelum tampil, ia dicas dengan anis merah betina yang ngeper. Begitu digantang, dia langsung ngepot-ngepot, kakinya ngangkat-ngangkat, dan bisa jadi juara.

Penampilan Juventus terpantau langsung oleh Om Thai. Lelaki yang wafat di tahun 2011 itu membeli Juventus dengan harga Rp 2,5 juta. Beberapa hari setelah itu, Om Thai menerjunkannya di even GRBC Lumajang.

Inilah lomba besar pertama yang diikuti Juventus, dan turun di empat sesi sekaligus. Hebatnya lagi, Juventus mampu mencetak quattrick juara 1. Semua pelomba dan penonton tercengang melihat aksi anis merah yang satu ini, yang dulu sempat tersia-siakan.

Prestasi Juventus selanjutnya terus moncer dan nyaris tak tertandingi sepanjang tahun 2007 -2008. Para pelomba lama sering menyamakannya dengan kehebatan Zamorano, anis merah legendaris di era 1998 – 2000.

Banyak kicaumania yang tertarik membeli Juventus dari Om Thai. Dan yang beruntung mendapatkannya adalah Om Bagya (PBI Bantul), yang kini menjadi Ketua Panitia Valentine Day Jogja. Konon, Om Bagya tidak membawa burung ini ke Jogja, namun tetap memercayakan perawatannya kepada perawat lama di Lumajang. Sebab takut mempengaruhi performa Juventus.

Selama dalam kepemilikan Om Bagya, Juventus masih beberapa kali menjuarai lomba. Tetapi sesuai dengan hukum alam, umur burung memang tidak dapat dibohongi. Om Bagya lantas menjadikannya sebagai indukan, yang antara lain menghasilkan Juventus Jr.

Meski belum sehebat bapaknya, setidaknya sang junior pernah jadi juara 2 Kelas Anis Merah Bintang dalam HUT Ungaran BC (21/10), kalah dari Violet milik Mr Ming Masket Surabaya. Di kelas AM Sejati, Juventus Jr berada di urutan ke-8.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Kalau mau mendengar aksi Juventus (bukan Juventus Jr lho), silakan lihat tayangan video berikut ini :

Masteran untuk Juventus

Lagu yang sering dikeluarkan Juventus saat lomba adalah tonjolan dari:

  • Jalak suren ( cikrek, cikrek, cikrek )
  • Cucak jenggot ( crek, crek, crek )
  • Cililin ( chit, chit, chit)
  • Rio-Rio ( tit, tit,tit, chit)

Catatan:

  • Jalak suren dan cililin baru ditempelkan ketika Juventus mabung.
  • Tonjolan yang sering keluar adalah Rio-Rio
  • Lagu yang sering keluar seperti ngerolnya cendet.

Sebenarnya power Juventus termasuk biasa-biasa saja, atau seperti anis merah standar. Mungkin kondisi yang tidak terlalu kurang atau berlebih power inilah yang membuatnya mampu ngerol dan teler dalam waktu lama di arena lomba.

POSTUR TAK MEYAKINKAN, PRESTASI TAK DIRAGUKAN [ Foto : kicaumania.or.id ]

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Perawatan harian Juventus

Berikut ini perawatan harian anis merah Juventus, selama berada di tangan Om Thai :

  • Pukul 06.00, buka kerodong dan burung dianginkan selama 30 menit sambil diberi 1 ekor cacing (selesai pukul 06.30).
  • Selanjutnya burung dimandikan. Ingat, karena Juventus tidak mau pakai karamba mandi, dia dimandikan dengan cara disemprot pakai hand sprayer. Jumlah air yang dibutuhkan sekitar 7-10 botol (1 botol = 1,5 liter).
  • Usai mandi, sangkar langsung dibersihkan.
  • Berikan 5 ekor jangkrik  dan 1 ekor cacing.
  • Jemur secukupnya. Lama penjemuran fleksibel, disesuaikan dengan kondisi burung dan kondisi cuaca. Pernah dijemur selama 30 menit sudah terlihat kepanasan, tapi pernah selama 1 jam tidak kepanasan. Intinya, saat dijemur harus selalu dikontrol kondisi paruhnya, apakah kerap buka-tutup pertanda burung sudah kepanasan.
  • Selesai dijemur, dianginkan secukupnya sampai bunyi atau teler.
  • Burung dikerodong dan dimasukkan ke rumah.
  • Sore hari, kerodong dibuka dan burung dianginkan, diberi 3 ekor jangkrik.
  • Sore hari tidak dimandikan, karena Juventus tidak suka air.

Sebagai catatan, buah hanya diberikan hari Senin dan Rabu, dengan rincian sebagai berikut :

  • Senin : papaya, untuk mengontrol birahinya.
  • Rabu : apel, untuk penyeharan dan menambah tenaga. Jika birahinya agak tinggi, apel bisa diganti dengan pisang.

Perawatan menjelang lomba:

  • Secara umum sama dengan perawatan harian, plus pemberian kroto 1 sendok teh. Apabila birahinya agak tinggi, porsi kroto bisa dkurangi.
  • Sabtu malam (H-1), burung dimandikan dengan cara disemprot.

Perawatan saat lomba:

  • Menjelang lomba sesi I, Juventus dicas dengan anis merah betina, diberi 2 ekor jangkrik.
  • Selesai sesi I, atau menjelang sesi II, kembali dicas dan diberi 2 ekor jangkrik.
  • Selesai sesi II, atau menjelang sesi III, dicas lagi dan diberi 2 ekor jangkrik.
  • Demikian seterusnya. Intinya, setiap mau turun dicas dan diberi 2 ekor jangkrik.

Catatan soal anis merah betina:

  • Cewek untuk ngecas tidak pernah ditempatkan satu rumah, tetapi selalu dibawa saat lomba.
  • Juventus sudah ganti pasangan sampai 14 kali, tipe cewek yang disukainya yang ngleper sambil menggerakkan ekornya.

Demikian cerita mengenai Juventus, salah satu anis merah legendaris di negeri ini, yang sengaja saya rewrite untuk membuktikan bahwa kata kunci mencetak burung berprestasi sebenarnya lebih terletak pada faktor perawatan dan mengenal karakter burung. Contoh:

  • Ketika Juventus tidak mau mandi pakai karamba, jangan dipaksakan. Anda bisa menggantinya dengan metode semprot.
  • Juventus harus dicas dengan betina yang sering ngleper-ngleper.
  • Ketika anis merah sudah megap-megap saat dijemur selama 30 menit saja, ya mesti segera diangkat dan dipindahkan ke tempat sejuk.

Kisah inspiratif lain dari burung yang secara fisik kurang meyakinkan, namun prestasinya tak diragukan, bisa dilihat pada artikel MB Aladin milik Khadafi: Bukti katuranggan tak selalu terkait prestasi.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.