Belum lama ini, redaksi omkicau.com menerima email dari Om I Wayan Raga dari Bontang, Kalimantan Timur. Ceritanya, Desember lalu, beliau berkunjung ke kampung halaman istrinya di Desa Pangala (Batu Lea), Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Di sana ada kandang berisi tiga ekor burung yang belum pernah dilihatnya. Ia lalu membuka internet dan mencari informasi tentang burung ini, namun tidak ketemu.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

“Ukurannya seperti burung jalak. Penduduk setempat menyebutnya burung tokting. Senangnya makan laron dan buah-buahan seperti pisang. Pola makannya hampir sama dengan burung jalak, yaitu nafsu makannya kuat dan sering buang kotoran,” tutur Om Wayan.

Menjelang balik ke Bontang, adik iparnya yang tahu kalau Om Wayan hobi memelihara burung, menawarkan ketiga burung tersebut, dan diterimanya dengan senang hati. Om Wayan lalu memotret burung tersebut dan mengirimkannya ke redaksi omkicau.com, untuk menanyakan jenis burung apa yang diperolehnya dari Toraja.

Sebenarnya feeling Om Wayan sudah tepat. Postur tubuh dan pola makannya mirip burung jalak. Dalam khazanah perburungan nasional, inilah yang disebut jalak alis api atau orang-orang manca menyebutnya fiery-browed myna (terkadang disebut flame-browed myna).

Berikut ini gambar kiriman dari Om Wayan :

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Habitat dan kebiasaan

BURUNG JALAK ALIS API DI ALAM BEBAS

Dalam daftar IUCN, jalak alis api ditetapkan dalam status Least Concern (tidak terlalu mengkhawatirkan). Jalak alis api memiliki nama spesies Enodes erythrophris, dan termasuk burung endemik di Sulawesi. Ada tiga subspesies jalak alis api, yaitu:

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

  • Enodes erythrophris rythrophris : habitat di Sulawesi Utara.
  • Enodes erythrophris centralis : habitat di wilayah utara, tengah, dan tenggara Sulawes.
  • Enodes erythrophris leptorhynchus : habitat di wilayah tengah dan selatan Sulawesi.

Burung ini termasuk dalam keluarga Sturnidae, atau lebih popular dengan sebutan keluarga jalak. Tak heran jika Om Wayan melihat cara makannya yang rakus, suka buang kotoran, dan postur tubuhnya menyerupai burung jalak.

Di alam bebas, mereka hidup  di hutan pegunungan, dataran rendah, atau terkadang di tepi hutan. Meski bisa hidup di dataran rendah, jalak alis api lebih sering mendiami kawasan dengan ketinggian 1.000 – 1.500 meter dari permukaan laut (dpl). Beberapa individu mampu bertahan di ketinggian 2.300 meter dpl.

Biasanya mereka hidup dalam koloni kecil (berpasangan atau bertiga), namun ada juga yang hidup dalam kelompok yang lebih besar. Mereka senang menclok di tanaman buah, karena buah merupakan pakan utamanya selain invertebrata.

Induk jantan dan betina membangun sarang dengan memanfaatkan lubang-lubang pepohonan, dengan ketinggian sekitar 4 meter dari permukaan tanah. Jumlah telur 3-4 butir, dengan masa pengeraman sekitar 14 hari.

Karakter fisik

  • Burung jalak alis api memiliki panjang tubuh sekitar 27 – 28 cm.
  • Bagian atas kepalanya berwarna oranye-kemerahan, dimulai dari lubang hidung (nares), kemudian ke atas hingga bagian atas mata, hingga hampir mencapai tengkuk. Ini menjadi ciri khas jalak alis api.
  • Kepala bagian samping (wajah dan pipi) berwarna hitam kelabu, demikian juga bulu di bagian bawah tubuhnya (mulai dari tenggorokan, dada, hingga perut).
  • Bulu-bulu sayap hijau zaitun atau hijau-kecokelatan.
  • Bagian pantat kuning keemasan, baik sebelah atas maupun bawah (perut bagian akhir, termasuk bulu halus di daerah kloaka).
  • Bulu ekor cokelat, diselingi kuning zaitun.
  • Kedua kaki (shank) dan cakar berwarna kuning kunyit, sedangkan paruh berwarna hitam.
MEMBANGUN SARANG DI LUBANG PEPOHONAN

Secara umum, burung ini cukup cantik. Tetapi apakah suaranya juga cantik? Silakan dengar sendiri.

Suara burung jalak alis api di alam bebas

DOWNLOAD

Mungkin kalau sudah dimaster bisa bagus juga. Ada yang mencoba?

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.