Sejak penukaran tiket BnR Award, Sabtu (2/3) lalu, Bang Boy selaku bos BnR tak canggung turun ke lapangan. Dia langsung menyapa para peserta. Nampaknya ia sudah akrab dengan sebagian peserta dari semua kalangan. Pada hari lomba, Minggu (3/3), ketika turun hujan lebat dan genangan air terjadi di mana-mana, Bang Boy juga tetap aktif keliling menyambangi para peserta untuk memberi semangat, sekaligus mendengarkan dan menampung aspirasi maupun masukan dari para peserta.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Bang Boy menyapa peserta di atas genangan air pada even BnR Award di Cibubur (3/3)

“Dengan cara seperti itu, saya tahu betul perasaan para pemain, juga apa yang dibutuhkannya. Ini sudah saya lakukan sejak masih jadi pemain. Dari situ pula saya bisa menyimpulkan bahwa lomba itu sangat indah kalau yang dilombakan itu hanya burungnya saja, bukan burung yang yang mewakili pemiliknya,” tuturnya.

Faham maksudnya kan? Pemilik itu manusia, punya nafsu, termasuk nafsu selalu ingin menang dan tidak mau kalah atau mengakui kehebatan burung lain. Sebaliknya, burung hanya memiliki insting atau naluri berkicau. Burung akan berkicau sesuai dengan situasi dan kondisi, terutama kondisi fisik dan mentalnya.

Burung tidak peduli mau kalah atau menang. Kalau menang, burung juga tidak akan meloncat-loncat kegirangan. Kalau kalah pun tidak akan marah-marah, menabrak-nabrak sangkar.

Nah, apabila burung sampai mewakili para pemiliknya, maka unggas ini seperti didesain selalu menang, tidak peduli apakah performanya bagus atau jelek. Mungkin performanya bagus, tapi musuh-musuhnya jauh lebih bagus. Begitu dinyatakan kalah, pemiliknya lalu marah, sedangkan burungnya mungkin masih asyik berkicau, he..he…

“Makanya, saya mencetuskan penggunaan sangkar seragam, agar tidak ada kesan juri memilih karena menghafal seluruh atau sebagian detil sangkar. Ide ini sejak awal banyak yang mencibir, tapi sekarang  terbukti makin banyak yang bisa menerimanya,” ujarnya.

Memang dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Di even BnR Award kali ini, sangkar seragam baru diterapkan secara ketat di Kelas Best of the Best (BOB). Sangkar wajib BnR, tanpa tambahan aksesoris apapun yang bisa menjadi pembeda atau petunjuk bahwa sangkar ini milik orang tertentu.

“Pangkringan misalnya, harus yang lurus, tidak boleh bentuk lain seperti T. Kancing pintu juga tidak boleh nyleneh, penambahan stiker pada bagian  tertentu, pemberian warna pada kaki sangkar, dan lain-lain, sama sekali tidak dibolehkan. Pokoknya, tambahan apapun, termasuk kolak pakan minum yang membuatnya menjadi tampak berbeda dari yang lain, juga tidak boleh,” kata Bang Boy.

Meski soal ini sudah sangat gamplang dijelaskan dalam banyak edisi di Tabloid BnR, tetap saja masih ada peserta yang membandel. Entah apakah karena tidak faham, atau sengaja mencoba mencuri-curi. Soal ini inilah yang menjadi titik awal insiden di Kelas Murai Batu BOB, sehingga sesi yang sudah berjalan dibatalkan dan diulang pada sesi lain. Jadi, pemicunya bukan karena ada peserta yang berteriak-teriak.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Insiden di Kelas Murai Batu BOB bermula dari penancapan bendera dis akibat pelanggaran terhadap ketentuan penggunaan sangkar dan aksesorisnya.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Bang Boy sendiri memantau dan mengecek langsung ke lapangan, dan melihat banyak sangkar yang melanggar aturan main ini. Maka, dengan tegas dia menyuruh panitia untuk menancapkan bendera diskualifikasi. Baginya, aturan yang dibuat dengan serius memang harus dijaga dengan serius pula.

“Nah, peserta yang mendapat bendera diskualifikasi, terutama joki-jokinya, kemudian berteriak-teriak  dari pinggir lapangan. Itu pertanda mereka tidak mau menerima keputusan tegas dari panitia. Sebagian lalu menerobos masuk dan menurunkan burungnya, lantas diikuti sejumlah peserta lainnya,” jelas Bang Boy, sekaligus menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

Bang Boy turun langsung ke lapangan untuk menenangkan peserta.

Apakah itu berarti kurang sosialisasi? Menjawab pertanyaan omkicau.com, Bang Boy menolak anggapan tersebut. Sebab aturan ini sangat umum dan diterapkan pada kelas tertentu di semua even yang menggunakan juri BnR. Namun, kejadian ini mestinya juga menjadi pelajaran bagi semua kicaumania, terutama yang sering datang ke even BnR, untuk tidak mencoba lagi “main-main” dengan aturan yang sudah sangat jelas serta sanksinya yang tegas.

Yamaani, peserta kawakan dari Jayakarta Team, juga mendukung penerapan aturan yang tegas, konsekuen, dan konsisten sepanjang lomba. Nekad melanggar, berarti harus siap dengan sanksi berupa bendera diskualifikasi.

Menyeragamkan sangkar merupakan salah satu upaya untuk menjaga agar lomba bisa berjalan fair play, dengan pemikiran juri fokus menilai burung, bukan melihat kurungannya. Pada lomba konvensional di luar BnR yang mengenakan sangkar bebas, semua orang, mulai dari peserta hingga juri, bisa saja menghafal burung nomor sekian milik siapa, hanya dengan melihat sangkarnya.

Upaya lainnya yang dilakukan adalah menerapkan sistem nominasi, di mana keputusan memilih burung yang layak mendapat nominasi merupakan keputusan bersama antara para juri dan pengawas. Tetapi selama menilai, mereka tidak boleh saling komunikasi.

Selain itu, dia juga sudah mendidik peserta untuk bisa melombakan burung tanpa harus teriak-teriak. Di even-even lain, kalau burung kerja tidak diteriaki, ada kekhawatiran juri tidak pernah memantaunya.

“Memang butuh upaya ekstra, termasuk jumlah petugas yang memadai, untuk menjaga aturan ini. Banyak peserta yang sudah telanjur menganggap lomba burung ya identik dengan teriakan. Tanpa teriak, serasa kurang puas. Banyak alasan untuk membenarkan teriakan dalam lomba burung. Padahal, budaya seperti itu mencerminkan kekunoan,” tambah Bang Boy.

Upaya-upaya itu, meski mungkin belum sepenuhnya sempurna, tetap harus selalu diupayakan dan dilakuan pembenahan. Caranya, seperti yang dilakukan Bang Boy, dengan terus menyapa para peserta dan mendengar langsung masukan dari mereka.

Yang jelas, terlepas dari insiden pengulangan Kelas Murai Batu BOB, kontes BnR Award 2013 secara umum berlangsung sukses, dan mampu menyedot 2.600 peserta!!! Wow, rekor Pakde Karwo Cup II (November 2012) tumbang deh… (Waca Jogja)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.