Sudah berapa lama Anda tidak mendengar suara kicauan ciblek maupun jenis burung kicauan lainnya, baik di halaman rumah maupun di taman kota-taman kota ? Jawabannya pasti serempak: “Sudah terlalu lama”. Ya, di negeri ini, keberadaan burung-burung di perkotaan sudah tersisihkan oleh kemajuan pembangunan, tanpa diimbangi dengan kelestarian lingkungan. Jangankan burung, orang-orang di perkotaan pun sangat mendamba ruang terbuka hijau di daerahnya bisa dipulihkan seperti dulu.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Taman kota sebaiknya difungsikan juga untuk habitat berbagai jenis burung.

—–

Sebenarnya keberadaan burung-burung liar di perkotaan merupakan salah satu tanda kualitas lingkungan di wilayah tersebut masih asri dan terjaga. Bahkan di beberapa negara, harga rumah tinggal sangat ditentukan oleh kualitas lingkungan di sekitarnya.

Di Inggris, misalnya, calon pembeli lebih menghendaki rumah yang di pekarangannya sering didatangi burung liar, meski harganya lebih tinggi sekalipun. Makin bervariasi jenis burung yang terdapat di pekarangan, makin tinggi pulai nilai jual properti tersebut ( silakan buka kembali beritanya di sini ).

Sejumlah kota besar di Indonesia, yang lingkungan permukimannya cukup padat, masalah lingkungan seperti ini seringkali terabaikan. Banyak ruang terbuka hijau yang mestinya menjadi paru-paru kota sudah beralih fungsi menjadi perumahan dalam kota (town house) atau daerah komersial. Akibatnya, pohon-pohon rindang yang merupakan habitat dan tempat bersarang burung-burung liar menjadi tempat untuk menggantung tenda dagangan atau tempat jajanan.

Bahkan ruang terbuka hijau di pinggir-pinggir sungai yang mestinya dijaga bersama antara pemerintah daerah dan warga setempat, karena merupakan ekosistem berbagai jenis satwa liar, berubah menjadi permukiman liar dan dipenuhi sampah. Kondisi ini menunjukan kualitas lingkungan dalam kota sudah sangat buruk.

Padahal keberadaan burung-burung liar di perkotaan bukan hanya menjadi indikator keasrian lingkungan, tapi juga bermanfaat dari aspek ekologi. Secara ekologis, burung memiliki peranan penting sebagai penyerbuk tanaman, penebar biji-bijian, hingga pengendali ulat. Bukan hanya itu, burung juga memiliki peran dan tugas penting sebagai peringatan dini atas perubahan lingkungan atau pencemaran dan rusaknya vegetasi.

Taman kota juga bisa menjadi lapang hiburan bagi warga kota, untuk mencari udara segar, juga bisa berfungsi sebagai penyaring karbondioksida (CO2) yang berasal dari cemaran udara seperti asap knalpot, pabrik, serta pembakaran sampah.

Jika kondisi taman kota dibiarkan terbengkalai, atau tidak ditata sebagaimana mestinya, maka fungsi tersebut tak akan pernah kita nikmati. Meski banyak pohon rindang, tetapi jika dipenuhi pedagang, sampah, dan polusi lainnya, tentu burung dan satwa liar pun ogah mampir, apalagi berkembang biak di sana. Tidak sedikit taman kota yang beralih fungsi menjadi kawasan kuliner dan tempat jajanan, yang jelas-jelas mengubah fungsi utama dan tujuan dari taman kota itu sendiri.

Lalu bagaimana bentuk taman kota yang baik dan bisa mencerminkan kondisi serta kualitas lingkungan dari sebuah kota ?

Bentuk taman kota yang sesuai untuk ekosistem burung liar

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Menurut Johan Iskandar, guru besar Etnobiologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), agar burung-burung liar betah di perkotaan, maka kita harus memperhatikan beberapa hal yang merupakan ragam habitat dari burung itu sendiri.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Contohnya taman pepohonan, kolam, dan sungai yang besifat mengundang berbagai jenis burung untuk masuk dan berhabitat di dalam area tersebut. “Untuk taman pepohonan, sebaiknya didesain dengan aneka tanaman tajuk berlapis seperti rumput, semak, herbal, serta pepohonan yang tinggi dan menjulang, “ungkapnya kepada Burung Indonesia.

Bahkan, pohon yang ditanam untuk mengisi taman pun sebaiknya menggunakan tanaman buah-buahan, bunga, dan palem. Sebab, selain berfungsi sebagai sumber pakan bagi burung pemakan buah dan pengisap madu, tanaman tersebut juga menjadi habitat dan tempat bersarang burung-burung liar yang datang ke lokasi tersebut.

Alasan logisnya, ada hubungan positif antara keragaman lapisan tajuk vegetasi dan aneka jenis burung. Taman dengan tajuk vegetasi berlapis biasanya dihuni aneka jenis burung daripada taman dengan struktur homogen. Sebab, struktur vegetasi kompleks sangat memungkinkan hidupnya jenis burung yang senang di permukaan tanah, semak, atau pepohonan.

Burung-burung seperti cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cekakak sungai (Todirhamphus chloris), dan raja-udang biru (Alcedo coerulescens) termasuk jenis burung dengan pakan organisme yang hidup di air atau sungai. Jika sungai tempat mereka mencari pakan tercemar oleh sampah dan limbah industri, bisa dipastikan burung akan segara meninggalkan lokasi tersebut dan ogah kembali lagi. Begitu juga burung sejenis ciblek atau burung kicauan lain yang berhabitat di pinggir-pinggir sungai dan semak-semak belukar.

Selain itu, ada faktor paling menentukan dalam merawat dan menjaga keberadaan burung dan satwa liar di dalam taman perkotaan atau ruang terbuka hijau dalam kawasan permukiman dan perkotaan, yaitu perilaku warga kota itu sendiri.

Warga kota harus mulai terbiasa hidup berdampingan dengan burung dan satwa liar dalam taman atau ruang terbuka hijau tersebut. Sebab, percuma kita menjaga kondisi lingkungan dan habitatnya, tapi burung kerap diburu atau ditangkapi.

Taman Kencana di Kota Bogor memang asri, tetapi adakah burung liar di sana?

—-

Tidak bisa dipungkiri, semua orang pasti merindukan kehadiran suara burung liar, baik di halaman maupun di dalam taman kota. Beberapa taman kota di luar negeri, termasuk  Malaysia dan Singapura, masih menjadi surga bagi burung-burung liar. Burung-burung di taman kota seolah akrab dengan pengunjung taman tersebut dan bisa hidup berdampingan. Ah, mengapa kita tidak bisa ya?

Untuk menuju impian tersebut, kita bisa memulainya dari rumah kita, dengan menanam tanaman yang bisa mengundang berbagai jenis burung liar, syukur-syukur  berkembang biak di halaman rumah. Adapun jenis tanaman yang bisa mengundang kehadiran burung liar bisa dilihat kembali di sini.

Yuk, kepada seluruh stakeholders di masing-masing kota, kita renungkan bersama masalah ini. Betapa indah jika di taman kota, warga kota bisa bercengkerama dengan keluarga dan kolega, sementara burung-burung liar pun asyik dalam kehidupannya sendiri, bersama pasangannya, juga anakan-anakannya. Kita tidak ganggu mereka, dan mereka pun tidak ganggu kita (kecuali sesekali ketimpa kotoran burung, he.. he.. he..).

Semoga bisa menjadi renungan bersama.

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.