Namanya juga kelas bebas. Jenis dan tipe kenari apapun boleh ikut. Boleh kenari standar, semi-isian, maupun isian. Boleh kenari bongsor maupun imut, bahkan boleh kenari warna apa saja. Namun, karena keragaman itulah, terkadang sebagian juri memiliki preferensi (selera / pilihan) tersendiri, meski tak semua juri demikian.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Banyak tudingan sebagian juri lebih sreg terhadap kenari bongsor ketimbang kenari kecil, mendahulukan kenari standar daripada kenari isian atau sebaliknya. Sebenarnya, bagaimana penilaian kenari di kelas bebas? Untuk menjelaskan penilaian kenari di kelas bebas, Om Kicau akan mengutip penjelasan Om Agus Sanjaya, pengamat kenari sekaligus juri lomba di IKBPS Solo.

Persaingan ketat di kelas kenari dalam Liga Ronggolawe Jabodetabek Seri IX.

—-

Om Agus Sanjaya saat ini tugas di Balikpapan, dan sering sekali membantu Om Kicau dalam liputan lomba burung berkicau di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur.

Penjelasan tentang penilaian kenari di kelas bebas ini pernah dimuat dalam Tabloid Agrobur Edisi No 711 – Minggu I Januari 2014, yang bagus dijadikan referensi bagi para kenarimania yang ingin dan / atau pernah melombakan burungnya.

Di beberapa daerah, seperti Kalimantan Timur, jarang sekali ada kelas khusus kenari standar dan isian, apalagi kenari besar dan kecil. Yang ada hanya kelas bebas / campuran. Kondisi ini juga dijumpai di sebagian besar daerah di Indonesia.

Menurut Om Agus, idealnya memang dilakukan pemisahan, terutama antara kenari isian dan kenari standar. Namun, dia bisa memahami mengapa sejumlah event organizer (EO) akhirnya hanya membuka kelas bebas. Misalnya kekhawatiran peserta terbelah di kelas masing-masing  sehingga setiap sesi tidak bisa penuh atau mendekati penuh.

Kondisi seperti ini mungkin masih bisa difahami, daripada membuka kelas standar saja tetapi tidak membuka kelas isian, atau membuka kelas standar dan kelas bebas, namun meniadakan kelas isian. Kondisi yang disebut terakhir ini umumnya terjadi di Jabodetabek, terutama pada even besar yang digelar dan / atau disokong sponsorships tertentu (lihat artikelnya di sini).

Sebeb membuka kelas standar, tetapi meniadakan kelas isian, jelas mengingkari azas keadilan dan membelenggu hak pemilik kenari isian untuk melombakan burungnya.

Aspek irama dan lagu kenari

Suasana lomba WMP Cup (8/12/2013) di kelas kenari yang full peserta.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Dalam percakapannya dengan Tabloid Agrobur, Om Agus Sanjaya menjelaskan dua prinsip utama dalam penilaian kenari, yaitu aspek irama dan lagu.

Aspek irama mencakup beberapa hal, misalnya cengkok dasar, panjang dan pendeknya lagu, suara alunan (intonasi naik / turun) yang dibawakan kenari saat bernyanyi. Ada yang seperti suara gemericik air, suara bergema, dan sebagainya.

Selain itu, volume juga perlu didengar dengan seksama, terutama tebal dan tipis, keras dan  nyaring, serta asuara besar (ngebass) dan suara kecil (treble).

Adapun aspek lagu meliputi variasi lagu yang dibawakan kenari. Tentu saja variasi lagu pada kenari standar berbeda dari kenari isian. Ketika dilombakan bersama, yang penting lagu dapat dibawakan dengan bagus dan enak didengar di telinga.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Sebagaimana perkutu, suara kenari sebenarnya masih bisa dibagi lagi menjadi suara depan, suara tengah, dan suara belakang. Dulu, banyak dijumpai kenari yang memiliki lagu dengan suara depan kencang, suara tengah mengalun sedang, lantas suara belakang mengalun pelan-pelan dan akhirnya stop, kemudian bunyi kembali (mulai dari suara depan lagi).

Tetapi sekarang, sulit menemukan kenari dengan lagu seperti itu. Namun, hal itu tidak terlalu signifikan dalam konteks penilaian sekarang, meski jika didengar terasa lebih enak.

Dari dua aspek dasar tersebut, irama dan lagu, intinya kicauan burung harus bagus serta enak didengar. Nah, kata bagus ini meliputi ada dan tidaknya cengkokan, intonasi naik turun lagu yang dinyanyikan, dan durasinya sangat panjang.

Suara panjang itu pun harus memperhatikan apakah ada suara angkatan (suara depan), suara tengah, dan suara belakang. “Volumenya harus tebal, kencang, keras, nyaring, agar terdengar di telinga tim juri saat menilainya,” kata Om Agus.

Di luar kedua aspek dasar itu, juri juga akan memperhatikan kestabilan kenari saat bernyanyi dalam waktu yang disediakan. Durasi kestabilan berkicau minimal harus mencapai 70% dari waktu yang disediakan panitia.

Semua kenari punya hak sama untuk dinilai

Agus Sanjaya ketika mengikuti kontes Papburi Klaten (22/12/2013).

—-

Seluruh kriteria ini berlaku untuk kenari standar dan isian, juga kenari bongsor dan kecil. Ini biasanya diterapkan dalam penjurian lomba burung yang independen (non-Papburi, non-PBI, non-BnR).

“Jadi, dalam kelas bebas, semua kenari memiliki hak yang sama untuk dinilai. Tidak peduli kenari isian, standar, bongsor, maupun kecil. Semuanya tergantung irama, lagu, volume, dan durasi kestabilan berkicau,” jelas Om Agus.

Sebagai contoh, kenari isian memiliki lagu bagus, tetapi kerjanya kurang stabil (tak mencapai 70% dari waktu yang disediakan panitia). Posisinya bisa tergeser kenari standar yang punya irama, lagu, dan volume yang dahsyat, durasi bernyanyi panjang, dan kestabilan kerjanya bisa lebih dari 70%.

Tetapi kalau kenari isian memiliki irama lagu yang bagus, voleume keras dan panjang, dapat bekerja maksimal (lebih dari 70% waktu yang disediakan), peluang menjadi juara lebih besar daripada kenari standar dengan kualitas yang sama. Mengapa?

“Sebab jika ada dua kenari, yang satu isian dan satunya lagi standar, sama-sama kerja bagus, kualitas dan kriterianya dalam bernyanyi imbang, maka juri akan lebih mengedepankan isian. Soalnya mengisi lagu pada kenari itu tidak mudah. Jadi, kita menghargai sang perawat yang bersusah-payah memaster kenarinya agar tetap stabil dan tidak glender. Jadi kita ambil kenari isian sebagai pemenangnya,” tutur Om Agus.

Bagaimana dengan kenari bodi besar dan kecil? Selama ini banyak yang menganggap kenari bongsor ketika bunyi langsung menutup semua lapangan, atau istilahnya volumenya tembus. Tetapi dalam penilaian lomba, juri bukan sekadar melihat hal itu. Juri juga akan mencermati frekuensi bunyi dari kenari bongsor itu berapa kali?

Apabila rajin bunyi, alias stabil, punya irama, lagu, dan volume di atas rata-rata, ya bisa saja menang. Tetapi jika tidak, misalnya hanya bunyi 2-3 kali saja, meski volume, lagu, dan irama bagus, kenari besar bisa kalah dari kenari kecil yang rajin bunyi, serta memiliki volume, lagu, dan irama yang bagus dan panjang.

Kenari kecil mengalahkan bongsor sudah beberapa kali terjadi dalam kontes Papburi Klaten, yang memang bisa dikatakan “bebas kepentingan”. Hanya saja, di luar even Papburi, rasanya jarang terjadi kenari kecil mengalahkan kenari besar.

Dalam konteks inilah, upaya event organizer tertentu seperti BnR untuk memisahkan kenari besar dan kenari kecil patut diapresiasi. Persoalannya, mengapa pemisahan hanya dilakukan untuk kenari standar besar dan kenari standar kecil? Mengapa itu tidak dilakukan pula untuk kenari isian besar dan kenari isian kecil?

Semoga menjadi renungan kita bersama.

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.