Penangkaran murai batu Bintang Arwana BF awalnya lebih fokus ke indukan berekor panjang. Tetapi belakangan ini, Om Triyanto selaku pemilik lebih suka menggunakan murai batu ekor pendek. Berdasarkan pengalamannya, murai batu ekor pendek memiliki stamina luar biasa, bahkan bisa main hingga empat sesi.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

“Tentu ini pandangan subjektif, dan belum teruji secara ilmiah. Tetapi beberapa burung yang saya jadikan indukan, misalnya Raja Cilik, merupakan murai batu ekor pendek dan kerap menjuarai even di Jabodetabek,” tutur Om Triyanto.

Raja Cilik, murai batu berekor pendek milik Bintang Arawan BF.

MB Raja Cilik dibeli Om Triyanto dari Om Fuksin Bangka, sekitar Juli 2014. Tongkrongannya gagah dan berekor pendek. Sebelum mabung, Om Triyanto pernah menurunkannya dalam even nasional Royal Cup 2015 di Lapangan Banteng Jakarta (2/8) dan meraih juara ketiga.

Sebelum dimiliki Om Fuksin, Raja Cilik sering menjuarai even-even di Bangka. Murai ini memang berasal dari hutan Bangka. Postur badannya lebih pendek daripada murai medan. Ekornya juga pendek.

Bagian dadanya agak membusung, terutama ketika sedang bertarung menghadapi lawan-lawannya. Volumenya pun tembus. “Saya diberi tahu dari pemilik sebelumnya kalau Raja Cilik merupakan murai asli hutan Bangka,” jelas Om Triyanto.

Tongkrongan MB Raja Cilik saat masih di Bangka.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Karena Bintang Arwana BF memang fokus mencetak anakan murai batu yang kelak prospek di arena lomba, maka Om Triyono lebih suka menggunakan indukan yang ekornya pendek. Dia memboyong sejumlah murai jawara milik Om Fuksin Bangka, seperti Raja Cilik, Agogo, Samurai, Reinkarnasi, dan lain-lain.

Murai batu Reinkarnasi, salah satu andalan di lapangan.

“Sebagian untuk mainan ke lapangan, sebagian lagi jadi indukan di kandang ternak Bintang Arwana BF yang ada di Karawang dan Bogor,” tambah lelaki asal Pontianak yang sejak lama dikenal sebagai pembudidaya ikan arwana itu.

Kini Om Triyanto juga aktif mengikuti lomba burung kicauan, serta beternak murai batu. Awalnya dia beternak murai batu hanya untuk digunakan sendiri ke lapangan.

“Beberapa sahabat dekat kemudian berminat membeli, akhirnya sebagian trotolan saya jual dengan banderol mulai dari tiga setengah juta hingga lima juta rupiah per ekor,” jelasnya.

Salah satu hasil ternaknya, Optimus, bahkan sudah moncer di lapangan meski baru berumur satu tahun. Sebagian produknya menggunakan kode ring BA BF, sebagian kini ring BnR.

Om Tryanto di depan kandang ternak murai batunya.

Sampai saat ini sudah ada lebih dari 10 petak kandang yang dimilikinya. Memang tak banyak, karena dia tidak mengejar kuantitas, melainkan kualitas produk. Bahkan Om Triyanto kerap bongkar-pasang pasangan induk, terutama jika kualitas anakan belum sesuai dengan harapannya.

“Makanya produksinya tidak terlalu banyak. Sebab kita mencari kualitas anakannya, dan itu dominan ada pada induk betinanya,” ujarnya lagi.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Karena itu pula, sebagian besar anakan yang berkelamin betina tidak dijualnya, tetapi disiapkan agar kelak bisa menjadi indukan di kandang ternaknya. Untuk induk jantan, dia lebih suka hunting jagoan-jagoan yang pernah juara, termasuk beberapa murai hebat yang dibelinya dari Om Fuksin Sunter.

Induk murai batu betina pun melalui seleksi ketat.

Melalui seleksi induk jantan dan induk betina, maka anakan yang dihasilkan umumnya punya mental bertempur yang bagus, dengan volume di atas rata-rata.

Anakan diasuh induknya sendiri

Kandang ternak tertata rapi dan bersih. Konstruksi kandang terbuat dari rangka aluminium, berlapis kawat halus, yang ditempatkan di dalam ruangan (indoor).

Kandang-kandang ini berada di teras rumah, yang bagian atasnya ditutup. Lokasinya bersebelahan dengan ruang tamu. Dengan demikian, para tamu bisa melihat langsung kandang melalui kaca.

Menurut Om Triyanto, induk murai batu tidak meski harus jinak. Sedikit liar juga lebih bagus. Karena itu, agar anakan murai kelak tak terlalu jinak, maka sejak menetas sengaja dirawat induknya sampai bisa makan sendiri.

Proses penjodohan tidak jauh berbeda dari apa yang dilakukan para penangkar murai batu lainnya. Calon induk jantan dimasukkan dalam sangkar kecil, kemudian sangkar dimasukkan dalam kandang ternak. Adapun calon induk betina dibiarkan bebas di kandang ternak. Keduanya kemudian saling mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan kandang.

Setelah saling mengenal, induk jantan dikeluarkan dari sangkar kecil, dan dibiarkan berjodoh dengan calon pasangannya. Kotak sarang ditempatkan pada setiap sudut kandang. Lantai kandang dari tanah yang berpasir, dilengkapi pepohonan kecil dalam pot, serta bak mandi berisi air bersih.

Salah satu pasangan induk yang siap berproduksi,

Induk betina rata-rata bertelur sebanyak 2-3 butir. Saat induk betina mengeram, induk jantan tetap dibiarkan di dalam kandang.

Setelah menetas, anakan tetap diasuh indukannya sampai benar-benar bisa makan sendiri (biasanya umur 1 bulan atau lebih). “Setelah itu dipanen. Trotolan murai batu memang agak giras, tidak terlalu jinak, tapi justru lebih baik jika nantinya mau dilombakan,” jelas Om Triyanto.

Trotolan murai batu produksi Bintang Arwana BF.

Kelemahan dari model penangkaran ini adalah produktivitas induk sangat terbatas. Keunggulannya, pertumbuhan anakan murai batu lebih alami, lebih sehat, lebih segar, dan lebih lincah. Volumenya pun nantinya lebih lantang. (d’one)

Om Triyanto: Binis penangkaran arwana tetap eksis.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.