No Picture
KOLOM

Harga naik, siapa peduli?

Budaya kenduri, jelas memberikan dukungan nyata bagi perkembangan industri tikar. Ada kematian, kenduri. Ada kelahiran, kenduri. Dan sepertinya belum pernah ada cerita kenduri dilakukan ala standing party. Pastilah dengan cara lesehan dan semua itu butuh tikar. Juga, tikar digunakan oleh semua “jenis” manusia. Orang yang punya hobi gaple, melaksanakan hajatnya beralaskan tikar. Orang yang punya hobi beribadah, juga berlama-lama sujud menyembah Sang Pencipta beralaskan tikar. […]

No Picture
KOLOM

Blok Ambalat, Blok M dan blokong…

Memang akhirnya demikianlah nasib Blok Ambalat. Kalau itu ibarat bagian tubuh kita, maka dia tidak ubahnya dengan blokong alias pantat. Kalau sekarang diklaim sebagai milik Malaysia, anggap saja pantat kita sedang bisulan. Tidak perlu rasa sakit itu melebar ke soal kedaulatan negara dan harga diri. […]

No Picture
KOLOM

Maling intelek

Plagiat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang berarti “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri…; jiplakan”. Namun, saya cenderung sependapat dengan Arya B Gaduh, yang menulis tentang persoalan plagiat ini di weblog-nya, bahwa esensi penjiplakan bukanlah “pengambilan” tetapi “pencurian”. Sebab, seperti dikatakannya, akar kata “plagiat” berasal dari bahasa Latin, plagiarius, yang berarti “penculik”, dan plagiare yang berarti “mencuri”. […]

No Picture
KOLOM

Tim (pasti) sukses

Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara pikir kawan saya yang satu itu. Bagaimana bisa dia menghubungkan profesionalisme dengan pekerjaan seorang anggota tim sukses calon kepala daerah. Sebab, di Indonesia ini belum dikenal adanya tim sukses dalam Pilkada sebagai suatu profesi. Juga, bekerja profesional, bagi dia mungkin adalah semata-mata bekerja dan mendapat bayaran. Tidak perlu etika, tidak perlu menggunakan hati nurani. […]

No Picture
KOLOM

Budaya telanjang

Budaya telanjang kita, budaya bugil kita, pada satu sisi, berjalan seiring dengan maraknya pornografi dan pornoaksi pada sisi yang lain. Yang pertama muncul sebagai akibat dari dorongan keinginan mengejar materi, yang kedua muncul sebagai akibat mengejar pemuas nafsu berahi. Keduanya sama-sama memamerkan ketelanjangan. Yang pertama pamer ketelanjangan tindakan, yang kedua memamerkan ketelanjangan raga. […]

No Picture
KOLOM

MU dan Pilkada

Demikianlah kenyataannya. Meskipun uang bertumpuk, bukanlah jaminan bagi siapa saja untuk bisa merebut kursi kekuasaan. Calon yang tidak didukung taktik dan strategi yang pas untuk menyiasati segala lika-liku perjalanan Pilkada, pastilah tak bakalan memenangi kompetisi. […]

No Picture
KOLOM

Tragedi itu bernama ujian nasional…

Itu semua adalah kenyataan, seperti halnya kenyataan bahwa pemerintah belum mampu menyediakan anggaran pendidikan sebanyak yang digariskan oleh konstitusi. Itulah faktanya, sebagaimana fakta bahwa pemerintah belum bisa memberikan pendidikan yang adil dan merata kepada seluruh warganya. Dan yang lebih nyata lagi adalah betapa Mendiknas telah cuci tangan atas kegagalan puluhan ribu siswa untuk melewati ujian nasional. […]

No Picture
KOLOM

Bersama (siapa) kita bisa (apa)?

Dengan pikiran mereka pula, manusia bisa mengatasi naluri kebinatangan dan bertindak menusiawi. Perbuatan mereka bukan semata-mata actus hominis yang disetir hukum biologi, tetapi adalah actus humanus karena sarat dengan pertimbangan akal dan budi. Manusia juga bukan makhluk yang penyendiri, karena dia adalah makhluk yang harus hidup bersama dengan yang lain (zoon politikon). […]

No Picture
KOLOM

Pornografi versus presiden

Nilai-nilai kepantasan dan kepatutan, itulah sesungguhnya yang menyebabkan sebuah komunitas sepakat mengikatkan diri di bawah aturan hukum. Ketika aturan hukum tertentu tidak mampu lagi melindungi nilai-nilai kepantasan dan kepatutan, pada saat itulah aturan hukum baru dirumuskan. Namun ada kalanya proses ini macet karena terjadi tarik-ulur kepentingan di dalam masyarakat. Di sinilah gerak langkah seorang pemimpin dibutuhkan. Di sinilah peran pemimpin sangat menentukan. […]

No Picture
KOLOM

Membutakan hati menulikan nurani

Perasaan kehilangan atas keluarga, harta dan benda, serta rasa kesepian, kesakitan, bingung dan linglung adalah sekian akibat dari bencana. Hanya saja, saat ini perasaan demikian nyaris merata dirasakan para korban tsunami dan itu kita sebut sebagai bencana besar. Oleh karena itu, besar pula perhatian dan kepedulian kita. Tetapi bencana “kecil”, apakah selama ini kita sempat menengoknya?

Di sekitar kita, tidak kurang orang yang terampas hak-haknya. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kesakitan, kedinginan, kehilangan orang-orang terkasihnya dan diserobot penghidupannya. Mereka juga bingung dan linglung. Tetapi itu semua kita sebut bencana “kecil” dan bahkan kita menganggapnya bukanlah bencana. Jangankan tergerak untuk menolong atau sekadar bersimpati, kita bahkan tidak peduli. […]

No Picture
KOLOM

Sejarah Aceh, sejarah abu-abu

Namun selain abu-abu asli, bumi Aceh penuh dengan catatan abu-abu yang membingungkan. Sejarah Aceh pasca kemerdekaan Indonesia adalah sejarah abu-abu yang telah direkayasa. Penguasa merekayasa data dan fakta sebagai jalan pembenar untuk melakukan kekerasan, sedang kelompok pemberontak merekayasa data dan fakta sebagai pembenar untuk memisahkan diri dari pangkuan republik ini. […]