Lagi, cerita muasal ayam ketawa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Rumah di salah satu sudut kompleks Angkatan Udara di Makassar, Sulawesi Selatan, itu berbeda dengan rumah lainnya yang hening dan sunyi. Di sana gelak tawa terdengar saling bersahutan. Tawa ceria yang panjang – mirip tawa mendiang mbah surip – mengubah suasana sepi kompleks menjadi riuh.

Gelak tawa itu bukan berasal dari para prajurit yang bersenda gurau. Suara itu berasal dari ayam ketawa koleksi Serma Widi Kristanto. Ayam ketawa? Ya, ayam ketawa ialah ayam yang suara kokoknya mirip orang tertawa ngakak. Ia ayam endemik dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. “Dalam bahasa Bugis disebut manu gaga. Manu artinya ayam dan gaga berarti tergagap-gagap,” tutur Widi.

Sudah 5 tahun lamanya belasan ayam ketawa menemani aktivitas Widi sehari-hari. “Pagi menjadi lebih ceria berkat kehadiran mereka,” kata kelahiran Madiun 47 tahun silam itu. Menurut Aksa Mahmud, tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan, di masa silam ayam ketawa menjadi klangenan dan penanda status sosial para raja dan bangsawan Bugis yang tinggal di Sidrap. Sementara rakyat jelata segan memelihara sebagai tanda hormat. Makanya jumlah ayam ketawa pun terbatas.

Populer

Sayang, setelah era kerajaan berlalu, ayam ketawa tak lagi dilirik sebagai klangenan istimewa. Ia pun bercampurbaur dengan ayam kampung sebagai ayam potong. “Kualitas ketawanya menurun sehingga butuh pemurnian darah. Jumlahnya pun kian langka,” kata Widi. Baru 5 tahun belakangan para penangkar di Sidrap melakukan pemurnian agar kualitas suara lebih baik: panjang dan khas.

Itu bermula saat banyak prajurit TNI Angkatan Udara yang bersuku Jawa dan bertugas di Sidrap terkesima mendengar kokok yang khas dan berbeda dengan ayam di Pulau Jawa. “Pria Jawa umumnya menyukai ayam sebagai klangenan. Mereka lantas menyarankan masyarakat setempat memurnikan,” kata Widi. Dari para penangkar di Sidrap, ayam ketawa menyebar ke hobiis di berbagai daerah.

Salah satunya Prof Dr Der Soz Gumilar Rusliwa Soemantri, rektor Universitas Indonesia, yang mengoleksi 2 pasang ayam ketawa sejak November 2010. Pun Pulungan di Jakarta Pusat dan Ayuk Rina di Depok, Jawa Barat, yang memelihara 3 pasang sejak Oktober 2010.

“Ini satu-satunya ayam asli Indonesia yang suaranya khas dan tidak ditemui di belahan dunia lain. Tugas kita melestarikan bahkan memperkenalkannya ke seluruh dunia,” kata Gumilar.

Tiga tipe

Menurut Denawi Usman, hobiis ayam ketawa di Semarang, Jawa Tengah, ada 3 tipe ayam ketawa berdasarkan bunyi suaranya. Yang paling populer ialah tipe gaga. Kokoknya mengalun dengan jeda sedang, mirip orang tertawa ngakak. Berikutnya tipe dodo: jeda antarkokok lebih panjang, mirip ketawa Mbah Surip. Yang terakhir tipe geretek dengan jeda antarkokok pendek. Menurut Kapten M Teguh, perwira yang juga hobiis ayam ketawa, ketiga tipe kokok itu sudah ada sejak era kerajaan dulu. Belakangan tipe gaga populer dengan sebutan tipe dangdut. Sementara tipe dodo lazim dikenal dengan nama tipe slow.

“Yang paling bagus tipe slow tapi yang paling populer tipe dangdut,” kata Usman. Menurut Widi, kualitas kedua tipe suara itu kian baik bila ada suara pembuka, tengah, dan penutup. Contohnya “Kuk kruk khu, kha…kha…kha…kha…kha…kha…, kuuuk.”

Meski ayam ketawa dinikmati suaranya, tapi hobiis membedakannya berdasarkan warna: bakka, lappung, ceppaga, korro, ijo buata, dan bori tase”. “Enam warna ini dipercaya mendatangkan hoki,” kata Widi. Yang paling digemari bakka karena bersih dan elegan. Dasar putih mengkilap dihiasi sedikit bulu hitam, merah, dan jingga dengan kaki hitam atau putih.

Lappung: warna dasar bulu hitam dengan kombinasi merah hati, dan mata putih. Ceppaga, berwarna dasar hitam dengan bulu hitam dan putih, disertai bintik putih di tubuh sampai pangkal leher dan kaki hitam. Sementara korro, berwarna dasar hitam dengan dihiasi hijau atau putih dan kuning mengkilap. Kaki kuning atau hitam.

Di luar itu dikenal pula warna dasar lain yaitu ijo buata dan bori tase”. Yang disebut pertama warna dasar hijau dihiasi merah, diselingi warna hitam di sayap, kaki warna kuning. Sementara bori tase” berwarna dasar bulu merah dihiasi bintik bintik kuning keemasan. “Berdasarkan warna itu ayam ketawa diberi nama,” kata Widi. Misal, ayam berwarna dasar putih bertipe dangdut disebut bakka dangdut. Nah, siapa mau dibangunkan tidur oleh ayam ketawa? (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yajri dan Imam Wiguna - Trubus)

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain. Agar tidak tertipu, pastikan Anda membaca artikel ini (klik saja).

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja). Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

There are 2 comments

  1. dwi poerwantoro

    mohon kontak person bpk widi atau tlg hub saya di 081 803 089 383 saya tinggal di mojokerto ingin kerjasama dg bpk .. trim’s

Komentar ditutup.