Ini sekadar cerita sukses penangkar burung yang terselip di antara cerita jatuh bangun dunia penangkaran burung Indonesia. Di balik cerita sukses pun, terkadang tersembunyi cerita duka, hanya saja seringkali sengaja tersembunyi atau disembunyikan si empunya cerita.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

KOMO BERSAMA PULUHAN INDUKAN TERPILIH

PEJANTAN F3 – seperti pabrik

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

MEMASTER ANAKAN

Kira-kira dua tahun yang lalu, Komo, pemilik Dika BF Boyolali, memberanikan diri ber-invtestasi membeli seekor pejantan kenari F3  warna kuning seharga 8 juta rupiah. Komo mengaku kesengsem sebab secara katuranggan memang bagus, lagunya juga bagus. Lebih dari itu, Komo memiliki feeling bila pejantan ini bakal “jadi”, mampu ngawin dan ngisi dengan baik, sehingga investasinya tak akan sia-sia.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Investasi yang tak sia-sia. Sebab, pejantan ini bila dihitung-hitung, sudah menghasilkan lebih dari 60 ekor anakan. Satu anakan dari pejantan F3 yang satu ini, dibandrol harganya mulai 750 ribu – 1 juta rupiah. Artinya, satu penjantan selama dua tahun ini, sudah memberikan pemasukan lebih dari 50 juta rupiah!

“Waktu itu membeli seharga 8 juta sebenarnya juga terasa mahal, itu jumlah yang banyak. Apalagi juga selalu ada risiko bisa gagal jadi pejantan yang baik. Tapi saya mungkin beruntung ya. Sekarang jelas tidak dijual, ditawar 15 sampai 20 juta pun tak akan saya lepas.”

Komo sudah memulai breeding kenari sejak 2005 yang lalu. Sekarang mengandalkan tiga penjantan Yorkshire, F2, dan F3. Adapun betina atau babonnya, lebih dari 50 ekor.

Ragu berani melayani permintaan luar Jawa

Hampir semua anakannya terserap pasar, terutama dipakai untuk kulakan para hunter kenari di kawasan Solo Raya, namun juga ada pelanggan luar kota seperti Tangerang serta Jabodetabek.

Komo juga menyebutkan sejumlah jagoan juara, yang berasal dari anakannya. Namun dengan alasan etika, ia meminta tidak ditulis.

“Yang pegang sekarang juga pengorbit kenari yang cukup dikenal, jadi Anda pasti tahu bahkan juga mengenalnya.”

Sebenarnya banyak juga dari luar pulau yang menghubungi Komo dan minta dikirim anakan kenari.

“Tapi saya tolak, saya belum berani risikonya. Kalau yang masih satu pulau, dan saya sudah kenal baik orangnya taka pa-apa, sudah saling percaya. Tapi kalau orang baru, saya lebih senang kalau memang pas ada stok, datang langsung, lihat sendiri barangnya, kalau suka silakan ambil dengan kondisi yang ia ketahui. Lebih fair, dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.”

Belakangan, Komo juga memilih anakan untuk dibesarkan dan dimaster sendiri. Jumlahnya sekitar 10 ekor, antara lain dimaster dengan lagu blackthroat dengan memanfaatkan pemutar suara elektronik.

Salah satu anakannya ia lombakan ke Papburi Klaten, 17 Juni yang lalu, yaitu Hammer dan berhasil menjadi juara 2 reguler.

“Tapi waktu itu juga langsung laku Mas,” ujar Komo tanpa mau menyebut nilainya.

Semoga, Anda para penangkar burung, bisa mengikuti jejak Dika BF Boyolali. (Waca-Jogja)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895