Kasihan bener nih nasib burung serindit. Gara-gara jadi maskot Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau, burung ini menjadi burung yang paling banyak dicari untuk dipelihara di Pekanbaru, Riau. Paling tidak itulah kisah yang diceritakan wartawan yang melakukan pengamatan atas transaksi burung  ini di pasar burung di Pekanbaru.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Dalam sangkar besi yang tak begitu besar, demikian ceritanya sebagaimana dimuat solopos.com, belasan burung serindit lahap mematuk-matuk pakan yang diberikan Chairul Hadi, 35, pedagang burung di Pasar Palapa, Pekanbaru. Burung-burung itu baru saja dikirimkan seorang tukang pikat atau penangkap burung langganannya dari kampung pinggiran Pekanbaru.

Menurut Hadi Madura, panggilan akrab Chairul Hadi (lantaran ia berasal dari Pulau Madura), ia memang biasa menerima burung-burung Serindit hasil pikatan dari hutan – bukan hasil penangkaran- untuk dijual kembali di pasar burung terbesar di Pekanbaru itu.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Hadi sengaja memesan banyak burung serindit, karena akhir-akhir ini banyak pengunjung pasar yang menanyakan burung lincah bergelar Si Panglima Hijau itu. Serindit saat ini memang menjadi fauna paling tersohor di Pekanbaru, karena menjadi Maskot PON XVIII/2012 Riau itu.

“Banyak pengunjung yang tiba-tiba menanyakan apakah saya menjual burung serindit,” kata bapak dua anak itu. Beberapa dari mereka, kata Hadi, membeli burung berparuh hitam itu. Menurut Hadi, Serindit termasuk burung yang favorit, meskipun bukan burung kicauan “kelas satu”, seperti halnya murai batu, kenari, cucakrowo, lovebird, anis merah ataupun anis kembang.

Di Pasar Palapa, seekor serindit dijual Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, harga yang relatif murah dibanding murai batu yang bisa mencapai Rp3 jutaan. Menurut Hadi, sebenarnya serindit sangat cocok untuk penggemar burung pemula. Burung bertubuh 12 sentimeter yang lincah dan pemberani itu, cocok dipelihara oleh penggemar awam, karena mudah pemeliharaannya. “Tak perlu susah-susah atau mahal pakannya. Kasih nasi saja, serindit pasti mau,” katanya berkelakar.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Serindit terkadang juga disandingkan oleh pemilik burung murai batu, untuk dijadikan “master”, agar kicauan Murai batu menjadi kian varitif dan melengking. Ini lantaran kicauannya memiliki irama yang panjang, tajam dan keras. Namun pada masa melayu Riau klasik, burung Serindit memiliki tempat istimewa dan bahkan terikat dalam tali sejarah yang panjang dengan masyarakat Bumi Lancang Kuning.

Burung serindit

Rakyat Melayu Riau mengabadikan serindit dalam berbagai cerita rakyat. Dalam dongeng rakyat Melayu yang kerap dikisahkan oleh penutur lisan, serindit menjadi simbol kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati dan kearifan. “Itulah mengapa serindit masuk pula dalam lambang Propinsi Riau, yakni pada hulu keris yang disebut hulu keris kepala serindit,” kata budayawan Riau Anas Aismana.

Dulu pada tiap-tiap teritis rumah rakyat Melayu Riau tak jauh dari ambang pintu muka, tergantung burung serindit yang menjadi penanda kearifan dan kerendahan hati sang empunya, serta penolak bala. Sekarang masyarakat Riau, apalagi generasi mudanya amat jarang melihat apalagi mengenal lebih dalam burung bernama latin Loriculus galgulus (Linnaeus) itu. Burung yang termasuk dalam ordo psittaciformes dan famili Psittacidae atau burung paruh bengkok itu makin sulit ditemui di Pekanbaru, karena pohon-pohon tempat hinggap, mencari makan, dan bersarang, telah disulap menjadi hutan beton.

Serikat Antarbangsa bagi Konservasi Alam (IUCN/International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), dalam IUCN Red List, menetapkan status konservasi burung Serindit pada level “Least Concern” (LC), atau berisiko rendah. Artinya burung yang lincah dan enerjik itu, masih ada di alam bebas, namun agar tak terancam kehidupannya, habitat aslinya perlu dipelihara.

UICN Red List selama ini dinilai merupakan sistem klasifikasi spesies yang paling objektif mengenai kelangkaan suatu spesies. Burung serindit perlu diberi ruang hidup dengan menciptakan kantung-kantung habitat, agar Riau, yang selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki populasi serindit yang terbesar, tetap menjadi pemilik sah satwa identitas Bumi Lancang Kuning. (*)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895