Lelaki perlente itu seperti mendapat durian runtuh. Dinda, perempuan yang sebenarnya bernama Kinanti, baru saja menelepon dan menunggunya di sebuah hotel berbintang di Jalan Sudirman. Katanya, Dinda ingin melunasi semua transaksinya hari ini juga.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Anggito mengaca cukup lama di kamar. Berkali-kali ia membetulkan t-shirt yang ujung bawahnya menyelelip di balik jins hitam. Berkali-kali ia merapikan kumis dan jenggot. Berkali-kali ia mencium lengan kiri-kanan, seperti tak percaya apakah yang disemprotkan itu wewangian atau desinfektan.

Pikiran bisnis dan pikiran kotor mengantarnya ke pelataran rumah, tempat sedan mewah sudah menunggu pemiliknya. Dengan harapan membuncah, dia melarikan mobilnya ke hotel yang dimaksud.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Hanya berselang satu-dua menit setelah mobil menghilang dari kompleks perumahan itu, muncullah mobil polisi. Delapan petugas kepolisian merangsek masuk ke rumah mewah milik Anggito, dan mengumpulkan semua orang yang ada di rumah itu. Terlihat dua satpam yang biasa bertugas di pos penjagaan, Bram dan Rio yang pernah dijumpai Kinanti saat membawa kardus berisi produk berbahan paruh enggang gading, serta dua perempuan setengah baya yang diduga pembantu rumah tangga.

Dua polisi mengawal mereka di ruang tamu untuk memastikan tak ada seorang pun yang berkomunikasi dengan pihak lain. Enam polisi lainnya masuk ke dalam, menggeledah dari ruang yang satu ke ruang lain.

Seorang polisi kembali ke ruang tamu, mengontak pimpinannya yang masih berada di mobil polisi. “Siap komandan! Bukti sudah ditemukan. Siap, laksanakan!”

Lima polisi lainnya silih berganti mengeluarkan beberapa kardus. Tiga kardus berisi paruh enggang gading yang belum diolah. Inilah bukti terkuat untuk menjerat Anggito sebagai tersangka perdagangan paruh enggang gading.

Di ruang berbeda, di sebuah hotel berbintang, Anggito sedang merayu Dinda yang tak lain adalah Kinanti. Sempat panik, Kinanti terus mengulur-ulur waktu.

“Kita selesaikan dulu transaksi ini, oke?”

“Kupikir sudah ditransfer,” ujar Anggito.

“Tadinya aku berpikir seperti itu. Tapi aku mau minta diskon tambahan, dengan imbalan kita bisa pelesir entah kemana…”

“Oke! Diskon tambahan sepuluh persen. Setuju?”

Belum sempat Kinanti menjawab, terdengar ketukan pintu kamar hotel. Kinanti yang paham apa yang akan terjadi, karena hadir saat penyusunan skenario, segera membuka pintu.

“Jangan bergerak!!!”

Dua petugas kepolisian menodongkan senjata ke arah Anggito.

“Anda bernama Anggito?”

“Bu..bu.. kan Pak!!!”

Kinanti coba menggoda. “Lho… lho… ada apa ini? Ada apa dengan Mas Anggito?”

“Saudara jangan berbohong. Perempuan ini juga memanggil Anda dengan Mas Anggito!”

Polisi meminta Anggito mengeluarkan identitasnya. Lelaki perlente itu tak bisa mengelak lagi. Pada KTP jelas tertulis nama Anggito Hernowo, dengan pasfoto yang sama dengan rupa lelaki itu.

Salah seorang polisi menunjukkan surat penangkapan terhadap dirinya. “Saudara kami tangkap karena terlibat dalam perdagangan ilegal paruh enggang gading!”

Anggito sempat menatap Kinanti, tetapi yang ditatap masih saja mengeluarkan jurus penyamarannya. “Kok Pak Polisi bisa tahu? Itu bukan paruh enggang gading, tetapi campuran antara bubur kayu Kalimantan dan material fiber”.

Tanpa banyak membuang waktu, polisi pun menggelandang Anggito keluar kamar hotel.

Penyamaran Kinanti berakhir dengan sukses. Setidaknya, ia sudah memiliki bahan tulisan yang lengkap dan detal, yang tak bakal dimiliki media lain. Kini dia tinggal menunggu proses penyidikan, termasuk dugaan keterlibatan Rinto mantan tunangannya.

BKSDA KALBAR AMANKAN RATUSAN PARUH ENGGANG GADING YANG AKAN DISELUNDUPKAN KE JAKARTA DAN CHINA.

*****

Hujan deras mengguyur Lebakbulus. Sore ini, Kinanti sengaja mendatangi rumah Rinto di kawasan itu.

“Maafkan Anti, Mas,” ujarnya sambil terisak dan bersimpuh di depan lutut lelaki yang pernah dicintainya.

“Sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu,” hibur Rinto, sambil mengusap rambut kepala perempuan itu.

“Anti benar-benar minta maaf. Anti begitu keji menuduh Mas Rinto”.

“Sudahlah… Manusia adalah tempat salah! Hanya manusia bijak yang mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Kamu pun termasuk manusia bijak”.

Hasil pemeriksaan polisi terhadap Anggito tidak menunjukkan keterlibatan Rinto dalam sindikat tersebut, sebagaimana kecurigaan Kinanti yang membuat hubungannya dengan lelaki itu berantakan.

“Kalau dulu Mas mau mendengar kritikku, tentu tidak akan ada kecurigaan seperti ini,” kata Kinanti, setelah tangisnya mereda.

“Ya nggak mungkin aku menarik produk yang sedang dipamerkan. Mau dikemanakan muka ini?”

“Kalau dulu Mas nggak ngotot soal bahan baku pembuatan produk kerajinan itu, tentu Anti tidak akan senekat itu”.

“Karena aku memang benar-benar nggak tahu soal bahan bakunya. Aku sekadar diminta menjawab seperti itu, setiap kali ada pengunjung yang bertanya”.

“Kalau dulu Mas memberitahu alamat pemasok produk yang katanya dari Kalimantan, mungkin Anti tak akan pernah memutuskan pertunangan kita”.

“Karena itulah syarat yang diajukan Anggito. Dia berani membayar sewa stand dua kali lipat dari harga standar. Dia juga yang berani memberikan komisi paling besar untuk setiap produk terjual di arena pameran. Tapi, ya itu salahku juga. Ini menjadi pelajaran bagiku sebagai event organizer,” ujar Rinto.

Kinanti mendengarkan penjelasan Rinto dengan kepala tertunduk. Ia belum memiliki keberanian untuk menatap wajah lelaki itu.

“Kamu tidak tanya, mengapa aku melakukan itu semua?”

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

“Boleh langsung Mas jawab sendiri?”

“Ya, karena aku harus mengumpulkan uang untuk rencana pernikahan kita. Eh… ending-nya kok malah begini. Sudah banting tulang ngumpulin uang, ternyata tak jadi menikah. Ya sudah, kuberikan saja uang itu ke pihak lain”.

“Apa??? Uang itu diserahkan ke pihak lain? Berarti kita tidak jadi menikah?”

“Lho, kan kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita. Aku coba jelaskan semuanya, kamu malah masuk ke toilet dan menguncinya dari dalam”.

Tanpa sadar, Kinanti kembali menangis. Benar-benar batal rencananya untuk menikah dengan Rinto. Sudah sedemikian terluka lelaki itu, sehingga tidak mau menerimanya kembali.

Rinto merasa di atas angin. Kalau biasanya Kinanti kerap mengggodanya dengan jokes cerdas, kini saat yang tepat untuk membalas. Sambil mengulum senyum, karena Kinanti tetap lebih sering menunduk, Rinto berkata, “Kamu tidak bertanya siapa pihak lain itu?”

Kinanti yang cerdas kembali merasa seperti perempuan yang tidak pernah kuliah. Iya, mengapa tak menanyakan hal itu. “Boleh Mas jawab sendiri?”

“Pihak lain itu adalah bank!”

“Bank??? Jadi, uang untuk pernikahan itu masih ada?”

Rinto tak menjawab, hanya mengangguk sambil terus mengulum senyum. Puas rasanya bisa menggoda Kinanti. Lega rasanya ketika perempuan yang dicintainya mau menyadari kesalahannya.

“Tetapi ada satu keraguanku kepadamu, Anti….”

“Mas masih meragukan Anti? Gara-gara insiden itu?”

“Ya, gara-gara enggang gading”.

“Apa yang membuat Mas ragu kepada Anti?”

“Ternyata kamu lebih menyayangi enggang gading daripada aku, calon suamimu. Aku takut, suatu saat kita bersitegang lagi gara-gara enggang gading”.

Terkesiap juga Kinanti mendengar kekhawatiran Rinto.

“Bukannya aku lebih menyayangi enggang gading daripada Mas Rinto. Dengar ya Mas. Semua ini karena aku peduli enggang gading, juga spesies langka lainnya yang sudah termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi,” tutur Kinanti, meyakinan lelaki itu.

“Oh, itu berarti kamu lebih memedulikan enggang gading daripada aku?” Rinto terus menggoda.

“Aduh… gimana sih?”

Tiba-tiba Kinanti mulai menyadari kalau sedang digoda Rinto. Ia sempat mengangkat muka, dan melihat lelaki itu menahan senyum.

“Pokoknya begini. Aku menyayangi Mas, dan siap menjadi istri Mas. Aku siap menjadi ibu dari anak-anak Mas. Aku siap jadi mertua dari menantu Mas. Aku siap jadi nenek dari cucu-cucu Mas. Aku siap…”

“Stop!!! Kapan kita menikah?”

“Terserah Mas. Lebih cepat lebih baik!”

“Oke, bersama kita bisa!!!”

*****

Keletak andong terdengar keras di atas jalan berbatu, melintasi Kali Tempur, dan berhenti di depan rumah Rukmini. Si pemilik rumah sedang melamun di warungnya, persis di samping rumah.

“Hayooo…. lagi ngelamunin siapa?”

Perempuan setengah baya itu kaget bukan kepalang. Kepala hingga bahu dan dadanya tersentak, menuju ke sumber suara.

“Astaga, Anti!!! Kamu datang lagi??? Tidak memberitahu Ibu lagi???”

Kinanti tidak menjawab. Ia mencium tangan Ibu, sambil cengengesan melihat kekagetan perempuan yang dikasihinya itu.

Rukmini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat sikap anak tunggalnya ini. Tiba-tiba dia didera kecemasan, takut ada kabar buruk lagi yang didengarnya. Di usia menjelang senja, terkadang jantungnya tidak sekuat dulu setiap menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan.

“Ibu senang Anti datang lagi kan?”

“Ya senang to, Nduk. Cuma, kenapa tidak menelepon dulu?”

“Kan mau bikin kejutan?”

“Kejutan apa lagi to?”

“Harus cerita di sini? Tidak dipersilakan masuk ke dalam rumah dulu?”

Rukmini tertawa mendengar kejenakaan anaknya. Mata hatinya tahu persis, Kinanti sedang bahagia. Semoga mata hatinya tidak keliru.

Ibu dan anak ini kemudian masuk ke dalam rumah, menuju ke ruang tamu yang kerap menjadi arena bercengkerama berdua.

Kinanti sudah mau bicara, tetapi terlanjur disela ibunya. “Tidak mandi-mandi dulu, lalu makan-makan dulu?”

“Nanti saja! Ini breaking news, nggak boleh ditunda-tunda,” goda Kinanti.

“Oalah Nduk, nyus-nyus itu apa sih, Ibu nggak dong….”

Kinanti lalu menceritakan kabar baik mengenai hubungannya dengan Rinto. Bukan main senangnya hati perempuan setengah baya itu mendengar penuturan anaknya. Ditatapnya Merapi dengan mata berbinar, seperti hendak berkabar, semoga Kiai Petruk ikut senang dan tak lagi memuntahkan lahar. (Dudung Abdul Muslim – Tamat)

Link Terkait

Salam dari Om Kicau.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.