Sebagian besar burung finch memiliki ekor pendek, tetapi tidak demikian dengan pin-tailed whydah (Vidua macroura). Ekornya panjang, sekitar 12 – 13 cm, atau satu setengah kali panjang tubuhnya. Penampilannya cantik, dan memiliki kemampuan berkicau bahkan bersiul dengan sangat bagus. Burung finch dari Afrika ini nampaknya mulai beredar di pasaran Indonesia, setidaknya di sejumlah kota besar atau melalui penjualan online. Artikel ini bisa menjadi panduan awal dalam pemeliharaan pin-tailed whydah (waduh, susah untuk mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia).

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Banyak keunikan dari burung finch yang satu ini. Soal ekor yang panjang, misalnya, ternyata akan bertambah panjang menjelang musim kawin tiba. Kalau semula “hanya” 12-13 cm, menjelang musim kawin bisa bertambah menjadi 20 cm.

Namun hanya burung jantan yang memiliki ekor panjang. Dengan demikian, mudah sekali untuk membedakan jenis kelamin pin-tailed whydah.

Keunikan lain dari burung ini adalah karakternya yang mirip burung kedasih dan cuckoo, yaitu sering meletakkan telurnya di dalam sarang burung finch lainnya.

Tapi berbeda dari kedasih dan cuckoo yang membuang telur milik burung yang diganggunya dan meletakkan telurnya agar dierami burung tersebut, pin-tailed whydah sama sekali tidak mengganggu telur yang sedang dierami burung lain. Ia cuma menitipkan telur-telurnya yang berjumlah 2-4 butit, untuk dierami burung lain.

Perbedaan jantan dan betina

Seperti dijelaskan di atas, hanya burung jantan yang memiliki ekor panjang. Warna ekornya hitam. Apabila dicermati, hanya ada tiga helai bulu yang sangat panjang.Bulu tubuhnya didominasi warna hitam dan putih, yang sekilas mirip kacer.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Bagian punggung berwarna hitam, sedangkan bagian dada hingga perut berwarna putih. Sayapnya juga berwarna gelap, dengan beberapa garis putih. Ciri lain dari burung jantan adalah mahkota atau bagian atas kepalanya yang hitam.

Adapun burung betina hanya memiliki warna bulu cokelat kusam, dan bagian dada hingga perut abu-abu. Ekornya pendek, sama seperti burung finch umumnya. Paruhnya berwarna merah menyala, sama seperti burung jantan.

BURUNG JANTAN (KIRI) DAN BURUNG BETINA

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Habitat dan perkembangbiakan

Habitat burung pin-tailed whydah umumnya padang gurun di Afrika. Di alam bebas, mereka memiliki wilayah teritorial masing-masing yang harus dijaganya dari burung sejenis, terutama pada saat musim kawin. Tidak mengherankan, jika burung jantan akan berubah menjadi fighter ketika melihat pejantan lainnya memasuki wilayah teritorialnya.

Kini burung pin-tailed whydah makin digemari di kicaumania sejumlah negara, baik di Eropa, China, hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Ini karena ocehannya yang merdu, bervariasi, dan pandai bersiul. Tidak sedikit pula yang menangkarkannya, meski sejauh ini saya belum melihat ada penangkar pin-tailed whydah di Indonesia.

Menurut pengakuan beberapa penangkar di mancanegara, burung ini ternyata bisa juga membuat sarang di kandang penangkaran. Kemudian mengerami telur-telurnya sampai menetas. Apakah karena mereka tahu bahwa di penangkaran tak ada burung lain yang bisa dititipi telurnya sebagaimana di alam bebas?

Makanan burung ini sama seperti kenari dan burung finch lainnya, yaitu biji-bijian seperti millet, buah, dan sayuran.Secara umum, metode penangkarannya tidak jauh berbeda dari burung berkicau lainnya. Mungkin yang membedakan adalah tinggi kandang yang harus disesuaikan dengan panjang ekornya.

Ok, daripada penasaran, berikut adalah video aksi burung finch ekor panjang atau pin-tailed whydah, yang pasti akan membuat Anda kesengsem dan kepincut :

Semoga bisa menambah wasasan kita bersama.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.