Metode ini sekilas seperti gambling atau trial and error. Tetapi berdasarkan pengalaman empiris Dr drh Edi Boedi Santosa MP, juga praktik yang diterapkan selama bertahun-tahun oleh Ridho Arianto (breeder kenari di Jogja), perkawinan kenari yang terjadi dalam rentang waktu pukul 13.00 – 18.00 akan memperbesar peluang mendapatkan anakan / piyik kenari berkelamin jantan.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Sebenarnya kenari betina sangat penting dalam penangkaran, karena dialah yang akan menurunkan sebagian besar sifatnya kepada anaknya yang berkelamin jantan. Tetapi, fakta kebenaran terkadang belum bisa berjalan beriringan dengan fakta kebiasaan atau keyakinan masyarakat penggemar serta penangkar kenari itu sendiri.

Nyatanya, sampai saat ini kenari jantan masih mendapat perhatian lebih, serta dihargai lebih mahal ketimbang kenari betina. Karena itu, banyak yang melakukan berbagai upaya agar pasangan kenari di penangkarannya bisa menghasilkan anakan jantan lebih banyak daripada betina.

Pada manusia, ada metode khusus mengenai hal itu, dengan pengaturan suasana asam-basa, serta pengaturan waktu perkawinan berdasarkan masa subur. Sedangkan pada burung, khususnya kenari, pengaturan waktu lebih dipilih karena burung betina tidak memiliki siklus birahi.

Penelitian empiris pernah dilakukan pakar burung Indonesia dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, Dr drh Edi Boedi Santosa MP, yang sekarang menjabat pembina Pabpuri, ketua Q’Maxs, serta pengasuh rubrik konsultasi di Tabloid Agrobur.

Berdasarkan penelitiannya, ternyata pasangan kenari yang dikawinkan dalam rentang waktu pukul 13.00 hingga waktu maghrib (sekitar pukul 18.00) akan menghasilkan anakan jantan lebih banyak daripada anakan betina.

Om Ridho Arianto (Figas Bird Farm Jogja)

Hasil penelitian ini kemudian diterapkan Ridho Aprianto, pemilik Figas Bird Farm di Pogung Lor Jogja, selama beberapa tahun dengan hasil yang selalu sama. Setiap bulan, penangkarannya menghasilkan rata-rata 24 ekor anakan.

Dari jumlah tersebut, 17-20 ekor berkelamin jantan. Itu berarti persentase anakan jantan mencapai 70,8 – 83,3 %, selebihnya betina. “Bahkan ada tiga telur dari satu indukan, yang setelah menetas, ternyata semuanya jantan,” kata Ridho.

Apakah batasan waktu maghrib bersifat mengikat? Menurut Ridho, ia pernah mencoba mengawinkan kenari melampaui waktu maghrib. “Sampai jam delapan malam masih oke, meski persentase anakan jantan mulai menurun,” ujarnya, seperti dikutip Tabloid Kicauan.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Anakan kenari

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Ridho pernah juga mencoba mengawinkan kenari pada pagi hari. Ternyata persentase anakan betina memang lebih banyak daripada anakan jantan. Karena itu, dia menolak jika hasil yang diperolehnya hanya kebetulan, karena sudah dicoba selama bertahun-tahun dengan hasil yang sama.

Untuk mencapai hasil maksimal, tentu induk jantan dan induk betina harus memenuhi syarat umur, yaitu berusia minimal 8 bulan (betina) dan 1 tahun (jantan). Untuk mengoptimalkan birahi pasangan induk, sekaligus meningkatkan fertilitas dan daya tetas telur yang dierami, berikan suplemen khusus seperti BirdMature.

Agar perkawinan bisa dilaksanakan pada rentang waktu tersebut (13.00 – 18.00), kedua induk jangan dicampur dulu, tetapi cukup didekatkan kedua sangkarnya. Jika memiliki kandang penjodohan cukup luas, induk betina dibiarkan bebas di dalamnya. Sedangkan induk jantan dimasukkan dalam sangkar harian, tetapi berada di dalam kandang penangkaran.

Induk jantan baru disatukan dengan betina setelah pukul 13.00.

Jika induk jantan sudah mulai mengeluarkan suara ngerol, dan induk betina akan ngeper mendengar suara jantan, ini berarti kedua induk sudah siap untuk dikawinkan. Tetapi tunggu dulu sampai betina mulai memunguti bahan sarang, dan membawanya ke kotak sarang.

Selanjutnya tinggal melihat jam. Begitu melewati pukul 13.00, lepaskan induk jantan dari sangkar, sehingga akan mengawini induk betina.  Selamat mencoba.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.