Awalnya, tiga tahun lalu, Suudi atau kerap disapa Uut kesulitan mendapatkan murai batu berkualitas bagus. Kalaupun ada, harganya sering tidak terjangkau. Jalan satu-satunya adalah menangkarkannya, sekaligus ikut membantu pelestarian murai batu di alam liar yang kini makin langka. Untuk mencetak burung kualitas lomba, Suudi menyilangkan (crossing) antara murai batu medan jantan dan murai batu nias raja betina. Hasilnya, gaco umur 8 bulan, apalagi yang memiliki ciri balak enam pada ekornya, sudah moncer di lapangan.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Om Suudi (kanan) bersama anaknya di kandang penangkaran.

Menurut Om Suudi, dengan memiliki usaha penangkaran yang diberinya nama Sufi Bird Farm, dia bisa memperoleh manfaat ekonomi, sekaligus bisa tetap bermain di berbagai even.

“Sebab, kita bisa leluasa memilih anakan murai batu berdasarkan kualitasnya, dan bisa disiapkan sejak dini sebagai burung lomba,” kata Om Suudi, ketika ditemui Om Kicau di kediamannya, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Saat memulai penangkaran, Om Suudi hunting beberapa murai batu prospek dari rekan-rekan terdekatnya. Seleksi indukan dilakukan secara ketat. Untuk pejantan, dia memilih murai batu medan. Adapun untuk induk betina, dia menggunakan murai batu nias raja. Petak-petak kandang  sederhana, yang berjumlah 7 unit, dibangun di atas dak rumahnya.

Sebagai penghobi burung sejati, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil memasangkan pasangan murai batu, apalagi sampai berproduksi. “Kalau dari hasil penangkaran sendiri, kita bisa lebih puas,” ungkap Om Suudi.

Meski jumlah indukan masih terbatas, Sufi BF sudah mulai memetik hasil maksimal. Tak terasa, selama tiga tahun ini dia sudah menghasilkan sekitar 200 ekor anakan. Bahkan penangkaran yang dikembangkannya ini terbilang lancar alias tanpa kendala. Mulai dari awal penjodohan hingga produksi dilalui tanpa kesulitan berarti.

Kelebihan persilangan MB Medan dan Nias Raja

Induk jantan murai batu medan.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Murai batu medan, yang sebenarnya berasal dari Aceh dan / atau perbatasan Sumatera Utara – Aceh, selama ini dikenal sebagai burung berkualitas. Cirinya adalah memiliki ekor panjang dan berpostur besar. Adapun murai batu nias raja sebenarnya sama seperti murai batu nias, dengan ciri khas ekor hitam (blacktail).

“Murai betina ekor hitam, apalagi yang balak enam, memang paling digemari. Sebagian besar anakannya juga akan berekor hitam, bahkan balak enam. Banyak yang suka, karena mental tempur dan volumenya bagus,” katanya.

Pada sebagian MB blacktail, tak seluruh bulu ekornya berwarna hitam. Ada bercak / noktah putih di beberapa helai bulunya. Nah, nias raja yang memiliki enam bercak putih, atau biasa disebut sebagai balak enam, inilah yang banyak dicari murai mania.

Induk betina murai batu nias raja.

Mengapa sebagian besar filial / keturunan pertama (F1) dari persilangan MB medan dan MB nias raja juga memiliki ekor hitam? Sebagaimana dijelaskan dalam artikel terdahulu, gen warna hitam pada unggas, mamalia, bahkan manusia, umumnya bersifat dominan terhadap gen warna putih yang bersifat resesif (silakan cek artikel Persilangan murai batu berbeda warna dan panjang ekornya).

Ada beberapa alasan mengapa Om Suudi melakukan persilangan antara MB medan jantan dan MB nias raja betina. Murai medan, kata dia, memiliki mental tempur yang bagus, memiliki karakter ngeroll-nembak, dan volumenya di atas rata-rata.

Sementara MB nias raja memiliki sifat nagen / anteng di atas tangkringan sambil bunyi dan mampu membongkar lagu-lagu isiannya. Bahkan kalau sudah bunyi, kepala MB nias raja bisa merunduk hingga ke bawah. “Sambil sujud-sujud ke bawah, burung mampu membongkar lagu-lagunya,” ungkapnya.

Nah, perpaduan ini diharapkan bisa menghasilkan anakan yang sesuai dengan harapan. Dan, hal itu diakuinya memang terbukti. Banyak anakannya memiliki karakter dan tipe dari kedua indukannya. “Makanya, anakan di Sufi BF biasanya memiliki ekor hitam dan balak enam,” ujar Om Suudi.

Sebulan panen 10-15 anakan

Setiap bulan, Om Suudi rata-rata bisa memanen 10 – 15 ekor anakan. Sebab induk betina biasanya bertelur sebanyak 3 – 4 butir, dan biasanya menetas semua. Proses penjodohan berkalan singkat, hanya 1 hari sejak diperkenalkan.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Anakan hasil persilangan MB medan dan MB nias raja.

“Saya juga heran, ternyata menangkar murai batu tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Yang paling utama betinanya sudah siap, jantan sudah gacor, keduanya dalam kondisi bagus. Jika semua syarat itu terpenuhi, pasti burung cepat jodoh dan berproduksi,” jelasnya.

Pasangan induk yang sudah jodoh ditempatkan di atas petak kandang ber ukuran 2 x 1,5 meter dan tinggi 2 meter. Bahkan beberapa petak kandang lainnya sengaja dibuat lebih kecil, namun tetap berproduksi. Suasana di dalam kandang tampak terang, karena bagian depan yang dilapisi kawat halus sengaja dibiarkan terbuka.

Sebagian kandang menggunakan konsep terbuka dan tertutup, tergantung karakter induk masing-masing. Sebab ada pasangan yang lancar berproduksi di kandang tertutup, tapi ada juga yang sebaliknya. Di sela-sela kandang murai, Om Suudi juga menangkar aneka jenis lovebird warna dan sudah berproduksi sejak lama.

Untuk kebutuhan mandi burung, Om Suudi menempatkan bak mandi di dalam kandang, yang airnya setiap saat selalu diganti dengan air bersih. Disediakan pula pohon kecil sebagai penyejuk, untuk mengantisipasi udara panas di dalam kandang.

Om Suudi sedang mengontrol indukan murai batu di kandangnya.

Extra fooding (EF) untuk indukan

Bagaimana dengan extra fooding (EF) untuk indukan? Setiap pasangan induk, kata Om Suudi, diberi jangkrik secara ad libitum alias sekenyangnya, terutama ketika induk betina sedang bawa anakan.

Pada masa penjodohan dan persiapan bertelur, dia juga memberikan 10 ekor ulat hongkong 10 ekor per pasangan. Sedangkan cacing diberikan hanya ketika induk betina sedang meloloh anaknya.

Anakan yang sudah berumur 1 minggu langsung dipanen, atau dipisahkan dari induknya untuk dirawat sendiri oleh Om Suudi. “Umur ini sudah aman untuk dipanen,” kata dia.

Anakan yang dirawat pemilik cenderung lebih jinak dan lebih mudah mengkonsumsi voer. Selain itu, program pemasteran juga lebih mudah. Sebab dimaster dengan burung jenis apa saja cepat masuk.

Adapun anakan yang diasuh induknya hingga besar cenderung lebih giras / liar. Burung pun hanya menyukai jangkrik, kroto, ulat, dan cacing, terutama jika tidak dibiasakan makan voer. “Tapi karakter induk lebih cepat diturunkan kepada anakannya, misalnya gaya ngeplay saat lomba, irama lagu, maupun mental tempurnya,” terangnya.

Begitu dipanen umur 1 minggu, tambah Om Suudi, anakan dipelihara dalam kandang khusus yang dilengkapi dengan lampu penghangat. Bahan lolohan berupa adonan voer, kroto, dan jangkrik muda yang sudah dihaluskan.

Pada umur 2 minggu, anakan murai batu langsung dipasangi ring kode Sufi BF. Jika sudah berumur 28 hari, anakan sudah belajar nangkring dalam kandang khusus tersebut. Pada periode ini, biasanya anak burung sudah belajar makan sendiri. Untuk melatihnya rajin makan, kita bisa memberinya ulat hongkong setiap hari dengan jumlah disesuaikan.

Ngomong-ngomong, berapa harga trotolan murai batu umur 1 bulan di Sufi BF? Harga bervariasi dalam kisaran Rp 2,5 juta – Rp 3 juta per ekor, tergantung kualitas anakan.

Yang paling banyak dicari adalah jika anakan tersebut memiliki ekor hitam dan balak enam. “Pemesan biasanya indent, sebab anakan yang menetas tidak selalu memiliki ciri balak enam,” kata Om Suudi.

Anakan balak enam memiliki karakter yang merupakan kumpulan sifat unggul dari bapak dan ibunya. Dan, sejauh pengamatan Om Suudi, hal ini sering terbukti di arena lomba.

Hasil crossing umur 8 bulan, balak enam, moncer di lapangan.

Murai batu balak enam, menurut sebagian penggemar murai, dianggap memiliki kualitas lebih. Bahkan pada umur 8 bulan pun sering mencorong di berbagai even. Anda berminat? (d’one)

Produk Sufi BF selalu diburu pembeli, bahkan sering indent.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.