Sebagian kicaumania terkadang bingung untuk memperlakukan burung bakalan yang baru saja dibelinya. Ada yang ingin buru-buru merawatnya agar segera bunyi, dengan risiko burung sulit sekali untuk dijinakkan atau cenderung liar. Ada pula yang ingin menjinakkannya terlebih dulu, meski dia harus bersabar menunggu cukup lama untuk mendengar kicauannya. Menurut Anda, lebih baik mana? Dijinakkan dulu? Atau langsung dilatih agar cepat bunyi?

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Memilih burung bakalan harus cermat, agar mudah dijinakkkan dan rajin bunyi.

—-

Perlu diketahui, burung kicauan yang didapatkan sejak kondisinya masih bakalan tidak selamanya memiliki perilaku liar. Ada kicaumania yang baru beberapa hari mendapatkan burung bakalan, eh… burung sudah mulai menunjukkan tanda-tanda jinak.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Pada kasus lain, ada juga sebagian kicaumania yang baru beberapa hari memelihara burung bakalan, namun burung sudah langsung bunyi. Dua kasus di atas sekadar menunjukkan, dalam memelihara burung, terkadang ada juga faktor keberuntungan. Kasus yang disebut terakhir biasanya terjadi ketika burung yang dibelinya ini sebenarnya sudah dewasa, dan sudah jadi / setengah jadi secara alami di habitatnya.

Jika kebetulan burung yang Anda peroleh masih berusia muda, maka proses penjinakan akan berjalan relatif lebih cepat. Sebaliknya, untuk proses berbunyi, Anda mesti sedikit bersabar dulu.

Namun kalau Anda mendapatkan burung yang baru saja dewasa, dalam arti sudah melewati mabung pertama, biasanya burung sudah mau bunyi, meski belum bisa disebut gacor. Proses penjinakan pun masih bisa dibilang mudah, meski lebih mudah burung muda.

Nah, terkadang kita mendapatkan burung yang benar-benar telah dewasa (mature). Di sini, proses penjinakan menjadi lebih sulit, serta butuh kesabaran ekstra. Soal bunyi pun belum pasti. Mengingat burung dewasa hasil tangkapan relatif lebih mudah stres, maka burung yang mestinya sudah gacor bisa berubah pendiam sejak ada di rumah Anda.

Beberapa gambaran di atas setidaknya bisa menjadi pertimbangan bagi Anda dalam memilih burung bakalan yang cocok.

Kalaupun kita terlanjur memelihara atau membeli burung bakalan yang ternyata memiliki karakter luar biasa liar, meski sudah lama dirawat serta dilakukan berbagai upaya penjinakan, maka sangat dimungkinkan burung tersebut sudah berusia sangat dewasa. Hal ini akan membuat proses penjinakan menjadi lebih lama, dan kecil kemungkinan untuk berhasil menjinakannya.

Karena itu, hindari membeli burung bakalan yang sudah berusia mature. Seharusnya burung-burung tersebut dibiarkan berkembang biak di habitatnya, karena pada usia tersebut burung-burung ini sedang produktif.

Tindakan untuk tidak membeli burung tangkapan hutan yang sudah dewasa memiliki dua manfaat :

  • Memberi efek jera kepada para pemikat. Karena tak ada / jarang yang mau membeli burung dewasa, pemikat tidak akan mau lagi menangkap burung-burung yang seharusnya berkembang biak di alam liar.
  • Pedagang pun tidak mau lagi menerima pasokan burung dewasa, karena sepi peminat.
  • Dua hal di atas, yang bersumber dari keengganan kita untuk membeli burung dewasa, secara tak langsung ikut membantu melestarikan populasi burung di alam liar.

Bagaimana kalau burung dijinakkan dulu?

Om Kicau lebih menganjurkan agar burung diusahakan bisa jinak terlebih dulu, karena akan memiliki efek ikutan di kemudian hari. Misalnya, untuk penanganan gangguan kesehatan tertentu, yang mengharuskan pemilik / perawat untuk memegangnya, maka burung jinak lebih aman dari potensi stres.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Beberapa waktu lalu, ada pembaca yang melaporkan burungnya mati setelah diberi obat yang dimasukkan langsung ke paruhnya (kebetulan bukan obat produk Om Kicau, he.. he.. he…). Dia lalu bertanya, apakah si burung mati gara-gara obat?

Om Kicau tetap khusnudz-dzon dengan produk lain. Bukan obatnya yang membuat burung mati, tapi boleh jadi karena burung belum jinak, ditambah lagi dengan cara memegang yang salah sehingga menekan dada, terlebih bagian jantungnya. Benar saja, saat Om Kicau menanyakan hal itu, yang bersangkutan mengaku kalau burung masih liar, dan selama ini dia belum pernah memegang burung.

Burung yang belum jinak pasti akan bermasalah ketika bertemu dengan orang, atau mendengar kegaduhan di sekitarnya. Dalam kondisi berlarut-larut, burung lama-lama stres, dan tak akan pernah bunyi. Bahkan bukan tidak mungkin nafsu makan melorot drastis, hingga kurus, dan…. (silakan tebak sendiri).

Karena itu, lebih utama burung dijinakkan terlebih dulu. Masalah bunyi dapat difikirkan kalau burung benar-benar merasa nyaman berada di dalam sangkar dan berada di lingkungan sekitarnya.

Makin muda usia burung bakalan, makin tinggi tingkat keberhasilan Anda dalam menjinakkan burung. Nah, sebagai referensi bagi Anda, berikut ini beberapa panduan menjinakkan burung :

Pada awalnya, burung yang sedang dijinakkan memang akan mengalami stres, karena belum terbiasa. Mereka belum terbiasa melihat keramaian dan lalu-lalang manusia di sekitarnya. Jadi wajar jika mereka belum dapat berkicau dengan rajin.

Namun, setelah beberapa hari mendapat pelatihan, biasanya burung mulai beradaptasi dan lambat-laun mulai berkicau meski di hadapan banyak orang. Hal ini menunjukan kalau kondisi mentalnya sudah dapat menerima lingkungan di sekitarnya,dan menganggap manusia bukan ancaman serius bagi keselamatannya.

Bagaimana kalau burung dilatih agar bunyi dulu?

Ada juga sebagian kicaumania yang tetap menghendaki agar burung bakalannya segera bunyi, sehingga tidak mau menjinakkannya terlebih dulu. Burung langsung dilatih agar rajin bunyi, sehingga tak perlu digantang di di tempat ramai, melainkan cukup di tempat sepi yang jarang dilewati orang.

Burung memang lebih cepat berkicau, sepanjang pakan sudah tidak menjadi masalah baginya. Artinya, burung sudah mau maikan voer, mau makan jangkrik, mau makan kroto, dan sebagainya. Namun karena tidak diberi treatment yang bisa membuatnya jinak, tentu mentalnya sangat labil.

Ada beberapa individu burung yang setelah rajin bunyi, kemudian menjalani proses penjinakan dan berhasil. Namun, ada juga yang gagal, sehingga performa suaranya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi mentalnya. Ini kerap dialami beberapa kicaumania, dan sebagian di antaranya pernah menyampaikan keluhannya ke redaksi omkicau.com. Misalnya, burung di rumah rajin bunyi, tetapi ketika dibawa ke arena lomba selalu diam.

Burung yang dibiarkan bunyi dulu, seringkali sulit dijinakkan. Apalagi jika umur burung terus bertambah, dan proses penjinakan dimulai ketika burung sudah beberapa bulan melewati umur dewasa kelamin.

Umumnya, burung yang masih liar ini tetap fight saat bertemu lawan-lawannya. Tetapi ketika melihat banyak kerumunan orang, atau mendengar keriuhan suara manusia, semangat tempur langsung drop karena memang belum jinak.

Dari uraian di atas, Om Kicau lebih menyarankan untuk menjinakkan burung terlebih dulu, minimal jinak lalat (semi-jinak). Setelah itu dapat dilanjutkan dengan pelatihan khusus agar burung rajin bunyi. Soal perawatan burung bakalan agar rajin berbunyi, silakan baca kembali artikel Prakondisi agar burung bakalan rajin bunyi.

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.