Even akbar Jayakarta Cup di Lapangan Banteng Jakarta, Minggu (3/11) lalu, memunculkan kejutan besar, khususnya di kelas murai batu. Sebab juara 1 kelas paling bergengsi, yaitu Kelas Jayakarta, berhadiah Rp 25 juta, adalah burung yang belum banyak dikenal. Namanya Rock’n Roll, milik Om Sukarto dari Cicurug. Gaco ini mengalahkan beberapa murai terbaik nasional saat ini, seperti Kiamat, Pelor Mas, Super Bejo, Suara Sakti, dan sebagainya.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Tahukah Anda, Rock’n Roll tak lain adalah murai batu Rudox SKL 670  yang dulu milik Om Novi (Cimahi) dan pernah dimuat profilnya di Om Kicau usai menjuarai Gubernur Jabar Cup – Galamedia X di Bandung, 13 Oktober lalu, juga di kelas paling bergengsi. Kok bisa? Ikuti kisah selengkapnya.

Om Sukarto dan murai batu Rock’n Roll yang dulu bernama Rudox.

—-

Om Sukarto bisa dibilang belum lama berkiprah di dunia murai batu, tetapi keseriusannya dalam hunting murai batu prospek hasil breeding (penangkaran) patut diacungi jempol. Dia optimistis dengan gebrakan sejumlah event organizer (EO) papan atas, yang dipelopori pendiri / Ketua Yayasan BnR: Bang Boy, untuk lebih mengutamakan burung-burung hasil tangkaran dalam even-even tahun 2014.

Ya, Bang Boy dan Tim BnR sudah mencanangkan, tahun depan akan lebih memprioritaskan burung hasil breeding, termasuk memberikan hadiah yang lebih besar, agar peserta lebih fokus melombakan burung ring.

“Saya pun sejak awal memang mengutamakan hunting murai batu hasil penangkaran, karena lebih cepat diturunkan ke lomba,” tutur Om Sukarto.

Untuk memoles MB hasil tangkapan hutan, kata dia, dibutuhkan waktu minimal 2-3 kali mabung. Itupun belum tentu membuahkan hasil maksimal. Sebaliknya, memoles MB hasil tangkaran jauh lebih ekspres. Sekali mabung saja sudah bisa kelihatan hasilnya. Setidaknya, isiannya sudah dapat didengar.

“Selain itu, kalau tidak dari sekarang membiasakan hunting burung tangkaran, mau kapan lagi kita dapat berpartisipasi dalam melestarikan flora dan fauna negeri ini?,” tambah Om Sukarto.

Sepenggal kisah hunting Rock’n Roll

Dengan alasan itu pula, dia tak mau membeli murai batu tangkapan hutan, tetapi burung hasil breeding. Kebetulan, Om Sukarto mendapat info dari rekannya tentang murai batu belia, dan baru sekali mabung dewasa, tetapi sudah moncer di berbagai even, termasuk even nasional Galamedia Cup X di Bandung.

Om Novi, pemilik lama MB Rudox yang kini berganti nama Rock’n Roll.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Burung yang dimaksud adalah Rudox, ring SKL 670, milik Om Novi dari Cimahi. Sesuai dengan ring kode, Om Novi memperolehnya dari Ir H Syamsul Saputro, owner SKL Bird Farm yang bermarkas di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat. Om Novi memang berkali-kali membeli murai batu dari SKL, alias sudah menjadi langganan.

“Rekan yang memberi info ini bukan sekadar tergiur oleh prestasi Rudox, tetapi lebih pada kinerja murai tersebut yang sangat dahsyat di usia belia. Jadi, saya membayangkan akan jadi seperti apa Rudox ketika umurnya bertambah mapan,” jelas Om Sukarto.

Sebenarnya info itu sudah disampaikannya sebelum even Galamedia Cup X. Makanya, ketika even akbar itu digelar, Om Sukarto mengirim tim pemantau untuk mengamati penampilan Rudox di Galamedia Cup, tanpa sepengetahuan Om Novi. Rudox akhirnya nangkring di urutan teratas, pada kelas paling bergengsi, yaitu Kelas Gubernur.

Murai batu Rock’n Roll baru sekali mabung dewasa.

—-

“Kinerjanya memang sangat bagus, hampir tanpa jeda, sejak awal digantang hingga akhir lomba,” cerita Om Sukarto, menirukan laporan tim pemantaunya.

Saat itu, tembakan andalan Rudox didominasi cililin, lovebird, disambung cucak jenggot. Adapun lagu andalannya adalah kenari, yang dibawakannya dengan sangat indah, persis seperti burung kenari saja. Saat ngerol, Rudox dengan fasih membawa aneka lagu burung-burung kecil, seperti kolibri, siri-siri, dan perenjak. Pokoknya mewah, wah… wah… wah… !!!

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Hari terus berlalu. Om Sukarto terus menimbang-nimbang untuk meminang Rudox. Akhirnya, keputusan bulat diambilnya: segera ke rumah Om Novi di Cisangkan, Cimahi, untuk menyampaikan hasratnya meminang Rudox.

Jumat (1/11) lalu, usai Sholat Jumat, Om Sukarto langsung berkunjung ke rumah Om Novi. Tiba di tempat tujuan, dia sudah tidak sabar untuk segera melihat sosok Rudox dari dekat.

Hhmm…memang tidak bisa dimungkiri, tampang Rudox sangat sangar dan punya kharisma tersendiri. Semua informasi yang disampaikan Om Kicau, dalam tulisan mengenai Rudox, terbukti benar semuanya. Ah, bagaimanapun caranya, gaco ini harus bisa saya bawa ke Cicurug hari itu juga,” kenang Om Sukarto.

Tampang sangar, sorot mata tajam, dan punya kharisma tersendiri.

—-

Proses transaksi singkat dan bersahabat

Bayangkan, peristiwa itu terjadi hanya dua hari sebelum Rudox diturunkan dalam even tingkat nasional Jayakarta Cup. Akhirnya, hari itu juga, terjadi deal dan transaksi yang sangat singkat dan bersahabat.

Ini pengakuan Om Novi, “Begitu saya mengajukan penawaran,  Om Sukarto langsung oke. Benar-benar singkat dan bersahabat, nggak pakai ribet”.

Kalau boleh tahu, berapa sih maharnya? Menjawab pertanyaan Om Kicau, Om Novi hanya tertawa kecil. “Ya, yang penting cukuplah untuk meminang gacoan baru dari SKL BF lagi,” jawab Om Novi diplomatis.

Meski merasa kehilangan, Om Novi tetap optimistis masih bisa melahirkan gaco-gaco jawara lagi. Sebab materi dasar yang diperolehnya dari SKL memang sangat berkualitas. Apalagi dia masih punya beberapa gaco baru, yang semuanya berasal dari hasil penangkaran Om Syamsul Saputro.

Misalnya, anakan Contador SKL 612, Atlantis SKL 999, dan yang terakhir dipinangnya adalah Nusantara SKL 464. Selain itu masih ada dua ekor anakan trah jawara dari kandang Napoleon SKL 88 dan KDM SKL 850. Walah, komplet banget amunisi Om Novi.

“Semuanya memang sengaja saya siapkan untuk meramaikan kelas murai batu di tahun 2014. Semoga tahun depan burung ring makin berjaya dan makin diperhitungkan,” jelas Om Novi.

Persiapan mepet menuju Jayakarta Cup

Meski persiapan mepet, Rock’n Roll mengalahkan gac0-gaco top nasional.

Kembali ke Om Sukarto. Setelah take-over Rudox beres, Om Sukarto dan rombongan pamit pulang. Jika selama ini muncul guyonan, kalau sudah kenyang dengan suguhan tuan rumah langsung pulang, kali ini berbeda: habis take-over murai jawara langsung pamit, he… he…

Setiba di rumah, tanpa bancakan, tanpa bagi-bagi bubur beras merah, Om Sukarto langsung mengganti nama Rudox menjadi Rock’n Roll. “Nama baru ini disesuaikan dengan kinerja burung yang selalu aktif di tangkringan,” jelas Om Sukarto.

Praktis, Om Sukarto hanya memiliki waktu merawat gaco barunya mulai Jumat sore hingga Minggu pagi, alias kurang dari 2 x 24 jam. Minggu (3/11) pagi, burung sudah dibawa ke Lapangan Banteng Jakarta, dan langsung menantang puluhan murai batu papan atas di negeri ini.

Om Sukarto tak mau rakus dengan menurunkan gaco mudanya di beberapa sesi. “Cukup turun satu kali saja, tapi di kelas paling bergengsi. Hal ini juga dilakukan Om Novi saat berlaga di Galamedia Cup, hanya sekali, tapi di kelas utama,” tambah dia.

Hasilnya, seperti telah diketahui publik, Rock’n Roll yang sebenarnya identik dengan Rudox SKL 670, bisa mengalahkan puluhan murai papan atas nasional yang umumnya hasil tangkapan hutan. Padahal burung ini sama sekali tidak memiliki persiapan khusus untuk mengikuti even sebesar Jayakarta Cup.

“Bagaimana mau menyiapkan secara khusus. Deal saja Jumat siang menjelang sore. Persiapannya hanya sehari lebih beberapa jam saja. Itu karena materi dasarnya dari Pak Haji Syamsul memang sudah yahud, dirawat dan dimaster sejak piyikan, dan Om Novi juga piawai membesut murai jawara,” tandasnya.

Om Sukarto berharap, semoga ke depan makin banyak murai batu hasil budidaya manusia yang turun di berbagai lomba. Sebab sudah berkali-kali terbukti, performa suara dan gayanya tidak kalah dari burung hasil tangkapan hutan, termasuk yang ditunjukkan Rock’n Roll di Jayakarta Cup.

Rock’n Roll, buktik murai tangkaran tak kalah dari tangkapan hutan.

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.