Silvereye, terkadang disebut wax-eye (Zosterops lateralis ), masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan beberapa spesies burung pleci di Indonesia, mulai dari kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), kacamata jawa ((Zosterops flavus), kacamata gunung (Zosterops montanus), kacamata enggano (Zosterops salvadorii), dan sebagainya. Mungkin lantaran kondisi iklim di habitat aslinya yang jauh berbeda, yaitu di kawasan Pasifik, tipe suara kicauannya sedikit berbeda dari pleci yang ada di negeri kita.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Burung silvereye, kerabat pleci dari kawasan Pasifik.

—-

Silvereye, atau kacamata perak, merupakan nama resmi yang disepakati kalangan ornitholog dunia. Meski demikian, cincin mata burung ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari burung kacamata yang ada di Asia, yang hampir semuanya menyandang nama belakang white-eye. Misalnya pleci gunung disebut mountain white-eye, atau pleci biasa disebut oriental white-eye.

Kacamata perak merupakan burung pengicau berukuran kecil yang hanya ada di wilayah selatan dan barat Samudera Pasifik, seperti Australia, Selandia Baru, Tasmania, Kepulauan Fiji, Vanutu, Kaledonia Baru, dan beberapa pulau kecil lainnya di kawasan tersebut.

Meski dinamakan silvereye, cincin mata tetap putih.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

—-

Sebenarnya burung ini awalnya hanya dijumpai di Australia. Keberadaan silvereye di Selandia Baru, misalnya, pertama kali tercatat pada tahun 1832. Pada tahun 1856, mereka ditemukan dalam jumlah lebih besar lagi. Beberapa ahli menduga, keberadaan mereka akibat tersapu badai ke arah timur.

Meski demikian, Pemerintah Selandia Baru menganggap silvereye sebagai spesies asli negerinya, dan memiliki nama lokal tauhou. Tauhou merupakan bahasa Maori, suku asli di Selandia Baru, yang bisa diartikan sebagai “pendatang baru”.