Para pemilik burung cendet jawara di Jawa, terutama di Jawa Timur, mengakui jika ulat kandang bisa memberi efek lebih dahsyat ketika burung bertarung di arena lomba. Cendet pun akan terlihat lebih ngotot dan nagen pada tangkringan. Karena itu, ulat kandang menjadi extra fooding (EF) pilihan bagi sebagian besar pemain cendet ketimbang kroto. Tapi tunggu dulu! Tidak semua cendet cocok diberi ulat kandang. Banyak bukti yang menguatkan hal tersebut.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Masalah ulat kandang sebagai EF pilihan bagi cendet, khususnya burung lomba, pernah dikupas apik oleh Tabloid Agrobur (Edisi No 729 – Minggu II Mei 2014).

Dua provinsi, yaitu Kalimantan Timur dan Bali, dijelajahi jurnalis Agrobur untuk menemukan benang merah tentang urgensi penggunaan ulat kandang. Berikut laporannya yang disunting ulang oleh Om Kicau.

1. Ulat kandang kurang cocok untuk daerah panas

Ulat kandang diyakini bisa membuat cendet lebih ngotot dan nagen.

Ulat kandang memang diyakini elektif dalam meningkatkan perfoma cendet. Extra fooding (EF) yang satu ini diakui para pemain mampu membuat penampilan cendet lebih ngotot dan nagen.

Salah satu pengorbit cendet jawara yang menggunakan ulat kandang sebagai menu hariannya, di samping jangkrik, adalah Om Budihardjo.

(Baca juga: Perawatan cendet all in one ala Om Budijardjo)

Namun ulat kandang biasanya hanya efektif digunakan di daerah yang kondisi cuacanya relatif sejuk, seperti di sekitar Malang, Blitar, dan Bogor.

Kalau diterapkan di daerah berhawa relatif panas seperti Denpasar, Semarang, atau Jakarta, agaknya ulat kandang kurang cocok. Sebab cendet mudah mengalami over birahi yang membuat penampilan di lapangan munting-munting.

Beberapa cendet jawara pun terbiasa mengkonsumsi kroto, misalnya Monster milik Om Agung Budiman (Lihat: Cendet Monster, pendekar lawas yang tampil kembali).

Beberapa pemain cendet di Bali lebih suka membeli cendet Jawa yang terbiasa makan jangkrik dan kroto. Fenomena ini sama seperti yang dilakukan kicaumania di Kalimantan Timur saat membeli cendet dari Jawa.

Memang pilihan utamanya adalah mencari cendet dari Jawa yang sudah biasa mengkonsumsi kroto dan jangkrik. Tetapi apabila susah mendapatkan cendet dengan kriteria seperti itu, sebagian pemain terpaksa membeli burung yang rutin mengkonsumsi ulat kandang.

Nah, di sinilah muncul persoalan. Setidaknya, hal ini pernah dialami Christiano Falino (pemilik cendet Sirag Sareg dan Jaga Jarak) serta Andi Dwirasa (pemilik cendet Dewa Racun).

Burung-burung jawara tersebut dibelinya dari Jawa, dan tatkala dibeli dalam kondisi terbiasa makan ulat kandang. Ketika diturunkan dalam beberapa even di Bali yang hawanya relatif lebih panas, gaco-gaco ini malah tidak mau nampil.

Padahal Om Christiano Falino tetap meneruskan perawatan lama dengan memberikan ulat kandang. Faktanya, burung malah tidak bisa nampil di Bali.

Karena itu, saat rontok bulu, Om Christian mengganti ulat kandang dengan kroto. Alhasil Sirag Sarek moncer setiap berlomba.

“Mengubah setingan dari ulat kandang ke kroto sebaiknya dilakukan saat rontok bulu. Kalau kondisi masih fit, lalu kita mengubang setingan, maka burung malah drop,” ujar Om Christian.

Hal yang sama pernah dialami Om Andi Dwirasa. Cendet Dewa Racun yang dibesutnya juga berasal dari Jawa, dan di tangan pemilik lama terbiasa mengkonsumsi ulat kandang.

“Setelah di Bali, saya tetap menggunakan setingan lama. Burung justru tidak mau tampil. Saat rontok bulu, saya ubah setingan dari UK ke kroto. Hasilnya, performa Dewa Racun mengalami peningkatan, bahkan sudah tidak lagi ngedrop ketika melihat lawan-lawannya,” jelas Om Andi.

2. Lebih baik pilih cendet yang terbiasa makan kroto

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Agung Budiman bersama cendet Monster yang terbiasa makan kroto.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Berdasarkan pengalaman para pemain di Bali, dianjurkan bagi cendetmania yang tinggal di daerah panas untuk membeli burung yang terbiasa makan kroto. Di Jawa sudah banyak cendet bagus yang biasa pakai kroto, termasuk di Banyuwangi dan Madura yang merupakan gudang cendet berprestasi.

Jika sudah dibiasakan makan kroto, cendet akan terbiasa juga dan perfomanya tetap mantap. Ini bisa dibuktikan pada cendet Peterpan dan New Peterpan milik Mr Fajar (Bali Peace) yang sering menang di even nasional. Padahal, kedua gaco ini terbiasa mengkonsumsi kroto, bukan ulat kandang.

Selain cocok diterapkan di daerah berhawa panas, tips ini juga bisa diterapkan di daerah yang selama ini pasokan ulat kandang tidak bisa ajeg. Di Kalimantan Timur, misalnya, mencari ulat hongkong jauh lebih mudah daripada ulat hongkong.

Beberapa cendetmania di Kalimantan Timur juga pernah kerepotan saat membeli cendet jawara dari Jawa. Di tangan pemilik lama, burung sudah punya prestasi. Tetapi di tangan pemilik baru, performa burung tidak seperti yang diharapkan.

Perubahan performa ini ternyata disebabkan terjadinya perubahan jenis pakan. Sebab burung yang dibeli sebelumnya terbiasa mengkonsumsi ulat kandang.

Ulat kandang inilah yang membuat penampilan cendet di lapangan bisa lebih dahsyat, dengan durasi kerja konon yang lebih lama. Mau tak mau, ketika burung tiba di Kalimantan, harus selalu disediakan ulat kandang.

Repotnya, pasokan ulat kandang di Kalimantan tidak bisa ajeg seperti di Jawa. Alhasil, pemilik cendet kerap kehabisan stok, sehingga mempengaruhi penampilannya di lapangan.

Beberapa cendetmania lalu mencoba setelan baru, khususnya pascamabung. Menurut Om Sugeng, cendet yang terbiasa makan ulat kandang memang susah nampil lagi setelah mabungnya rampung.

“Untuk dapat kembali ke penampilan stabil dibutuhkan waktu agak panjang, sekitar dua bulan,” jelas pengorbit cendet XB1 tersebut.

3. Sesuaikan porsi dan jenis EF

Fajar bersama kru dan cendet Peterpan yang juga biasa makan kroto. (Foto: Tabloid Agrobur)

Karena itulah, kalau ingin membeli cendet, yang paling aman adalah memilih burung dengan setelan biasa, yaitu jangkrik sebagai EF harian dan kroto secara berkala.

Burung setiap pagi dan sore diberi jangkrik, masing-masing 5 ekor. Kroto dapat diberikan sebanyak 1 sendok makan, maksimal dua kali seminggu.

Mandi dilakukan setiap pagi, kemudian dijemur hingga pukul 12.00. Usai dijemur, burung dianginkan sebentar, selanjutnya dikerodong.

Sore hari kerodong dibuka, sambil dianginkan dan diberi 5 ekor jangkrik. Setelah itu dikerodong lagi, dan diistirahatkan sampai esok hari.

Setelan lomba yang aman pun tidak perlu aneh-aneh. Tiba di lapangan, kerodong bisa dibuka, lantas burung dianginkan sambil diberi 1 ekor jangkrik dan kroto secukupnya. Sekitar dua sesi sebelum digantang,  burung dikerodong.

Jika mau tampil pada sesi kedua atau ketiga, cendet bisa diberi asupan ulat hongkong. Sebab kondisi burung yang habis berlomba di satu sesi biasanya agak menurun, sehingga perlu digenjot dengan EF tersebut.

Setelan ini juga dapat diterapkan pada cendet yang sudah bisa diubah kebiasaan makannya dari ulat kandang ke kroto.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.