Sobat kicaumania, ini ada berita berjudul “Demi Konservasi, Kontes Burung Berkicau Perlu Dibatasi” yang merupakan liputan atas sebuah diskusi tentang konservasi satwa liar. Menurut hemat Om Kicau, berita ini perlu disikapi secara bijak dan kita kaji lebih mendalam terkait pelestarian alam sekaligus kelestarian ekonomi dan kesejahteraan semua pihak terkait dalam hobi burung.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Berikut ini adalah berita selengkapnya yang dilansir beritasatu.com:

Kontes burung Indonesia dianggap berpengaruh dalam berkurangnya burung-burung berkicau endemik di Indonesia. Diharapkan ada regulasi terkait lomba burung berkicau, untuk mempertahankan keberadaan burung-burung berkicau di alam liar.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) di Safari Lodge, Taman Safari Indonesia, Cisarua, Jawa Barat, Sabtu (30/8).

Indonesia mempunyai banyak jenis burung berkicau dari setiap endemik Indonesia. Namun masyarakat masih sangat menyukai lomba-lomba burung berkicau.

Salah satu pengamat burung berkicau, Berto mengatakan, perlombaan kicau burung saat ini sudah dilakukan setiap hari dengan nilai tinggi. Dan ia juga melihat, saat ini ada pergeseran lomba burung berkicau dengan menggunakan burung biasa.

“Kontes burung bukan lagi burung bersuara merdu. Saat ini sudah menggunakan Burung Gereja, Burung Pelatuk, Raja Udang, yang secara dipaksa untuk dikontes,” kata dia.

Endang Budi Utami dari Perhimpunan Burung Indonesia (PBI) menjelaskan, memelihara burung berkicau (songbird) telah dilakukan masyakarat sejak lama dan jumlahnya terus berkembang. Indikatornya, kegiatan lomba atau kontes berkicau makin banyak digelar di berbagai daerah.

Pada 1998, PBI menemukan kontes burung membuat jumlah populasi burung di alam liar berkurang, termasuk burung-burung asli Indonesia, seperti Curig Bali (sturnus meianopterus), Poksai Kuda (garrulax rufifrons), dan Ekek Geling (garrulax leucolophus).

Endang menyarankan, sebaiknya penangkaran burung-burung berkicau dapat diperbanyak, sehingga dapat mempertahankan populasinya.

Sementara Koordinator Foksi Tony Sumampau menjelaskan, dari sisi nilai ekonomi, perlombaan burung berkicau dapat mencapai Rp 3,3 triliun per tahun.

“Harus ada regulasi yang bagus untuk membatasi perlombaan jenis-jenis burung berkicau, termasuk juga aturan main terkait perburuan burung berkicau di alam liar,” kata dia.

Tony menambahkan, nantinya bisa diusulkan regulasi terkait kelestarian burung berkicau dalam penangkaran burung oleh pemerintah. Diskusi ini juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Kehutanan, pemerhati burung, dan para penangkar burung.

Menurut hemat Om Kicau, apa yang disampaikan dan dibahas dalam diskusi tersebut adalah isu lama, yang telah diresponse dengan berbagai pendapat dan sekaligus aksi oleh para penghobi burung, termasuk di dalamnya para penangkar burung.

Terlepas dari kekhawatiran yang mengemuka dalam diskusi tersebut, fakta juga menunjukkan bahwa penghobi burung, khususnya para penangkar burung, telah berhasil melipatgandakan populasi sejumlah burung yang dulu terancam punah, misalnya burung jalak bali, jalak suren dan banyak lagi jenis burung lainnya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Berkat para penghobi burung, jalak bali bisa “diselamatkan” dari kepunahan.(Foto: Agrobur)
Tanpa campur tangan penghobi burung, jalak suren sudah lama punah.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Fakta juga menunjukkan bahwa PBI juga telah membatasi jenis burung yang bisa dilombakan, yakni burung-burung yang bukan burung dilindungi serta burung-burung hasil penangkaran.

Hanya saja, kita tetapi harus memperhatikan apa dan bagaimana kekhawatiran yang disampaikan “pihak luar” yang tidak atau belum memahami apa dan bagaimana dunia kicauan.

Sebagaimana visi dan misi website omkicau.com ini, maka marilah kita menjalankan hobi secara bermartabat untuk kesejahteraan dan kelestarian lingkungan. Dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mendorong para penggemar/penghobi burung untuk memanfaatkan burung hasil penangkaran (breeding) untuk menekan pemanfaatan burung tangkapan hutan, demi menjaga kelestarian plasma nutfah asli Indonesia.
  2. Memberikan pemahaman mengenai perawatan serta penangkaran burung secara baik dan benar, sebagai manifestasi rasa sayang manusia terhadap makhluk lain ciptaan Tuhan Maha Pencipta.
  3. Memberikan informasi dan panduan mengenai penangkaran/pemuliabiakan flora dan fauna sehingga bisa membuka peluang lapangan kerja khususnya bagi generasi muda.

Dengan demikian, maka kita bisa mewujudkan komunitas burung sebagai komunitas yang bisa membawa kemanfaatan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Bagaimana menurut pendapat sobat?

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.