Blackthroat termasuk salah satu jenis burung finch yang berasal dari Afrika. Karena suaranya merdu dan punya irama lagu ngerol panjang, burung ini cepat popular di Indonesia dan banyak diminati kicaumania. Tidak sedikit yang menjadikan blackthroat sebagai burung master, terutama untuk kenari isian.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Dulu, dalam lomba burung kicauan, blackthroat pernah ditempatkan dalam kelas tersendiri. Tetapi, saat ini, para pengelola event organizer (EO) jarang membuka kelas blackthroat, sehingga ditempatkan dalam kelas campuran impor.

Karena habitat aslinya di negara-negara Afrika, maka istilah blackthroat lokal sebenarnya kurang tepat. Tetapi istilah ini digunakan untuk memudahkan Anda dalam membedakan antara blackthroat yang didatangkan langsung dari Afrika dan blackthroat yang sukses dibudidayakan di Indonesia.

Sudah banyak kicaumania di Indonesia yang sukses menangkar blackthroat lokal. Salah satunya adalah Om Arif, pemilik Trisakti Bird Farm (BF), yang bermarkas di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Om Arif di depan kandang ternak blackthroat yang disusun berjajar dan bertingkat.

Om Arif tertarik menangkar burung ini, karena peminatnya cukup banyak serta nilai jualnya relatif tinggi. Kali ini, Om Arif ingin memberikan tips beternak blackthroat lokal secara mudah dan sederhana, sesuai dengan pengalaman Trisakti BF selama ini.

Blackthroat yang didatangkan dari Afrika umumnya terdiri atas dua ras, yakni blackthroat botswana dan blackthroat senegal, mengacu pada negeri asalnya. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Sebenarnya, dari mana pun asalnya, kedua ras ini tetap sama saja. Yang penting rajin bunyi, bisa ngerol panjang tanpa henti, volumenya keras, sambil buka sayap dengan irama lagu senggang-senggang,” kata Om Arif Trisakti.

Nah, ketika blackthroat senegal maupun blackthroat botswana diternak di Indonesia dan beranak-pinak, sejatinya ia sudah bisa disebut blackthroat lokal, meski darahnya 100% sama seperti blackthoat impor. Tapi beternak blackthroat lokal lebih jauh lebih mudah, lantaran burung sudah beradaptasi dengan iklim dan cuaca di Indonesia.

Tahap awal menangkar blackthroat lokal

Jika berminat menangkar blackthroat lokal, Anda harus menyiapkan dulu kandangnya. Kandang burung finch ini tidak terlalu luas, karena ukurannya hanya 60 cm (panjang), 30 cm (lebar), dan 30 cm (tinggi).

Petak-petak kandang ini bisa disusun berjejer dan bertingkat, sehingga sangat menghemat ruangan. Tak sedikit pula yang menempelkan kandang-kandang ini pada dinding rumah.

Siapkan pula kotak sarang yang berisi serabut daun cemara, atau bisa juga ditambah kapas. Fungsi daun cemara antara lain membuat burung nyaman saat bertelur dan mengerami telur. Adapun kapas memiliki fungsi untuk melapisi sarang saat induk hendak membulatkan sarangnya.

Idealnya, kandang ternak ini dilengkapi dengan lampu. Sebab blackthroat sering panik dan ngelabrak kalau kondisi kandangnya gelap. “Karena posisi kandang blackthroat saya ada di dalam ruangan, jadi lampu tetap saya nyalakan baik siang maupun malam,“ jelas Om Arif.

Apabila kandang dan sarang sudah siap, Anda bisa mulai hunting calon induk jantan dan betina. Pilihlah blackthroat jantan dan betina yang sudah dewasa (umur 7-8 bulan), sehingga bisa langsung dijodohkan.

“Yang penting, burung jantan sudah nggacor, sehat, dan tidak dalam keadaan mabung (rontok bulu),” tambah Om Arif.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Pasangan induk blackthroat lokal siap produksi.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Pasangan blackthroat yang sudah berjodoh akan menyusun / membuat bulatan sarang, lantas keduanya akan selalu bercumbu dan berduaan. Tak lama kemudian, burung jantan akan mengawini betinanya.

Sekitar dua hari setelah kawin, induk betina akan bertelur hingga 2-3 butir. Telur-telur selanjutnya akan dierami selama 14 hari.

Menurut Om Arif, keberhasilan penetasan bisa diprediksi sejak awal melalui pengamatan mata. Apabila telur-telur itu berubah warna menjadi kebiruan seminggu setelah dierami, berarti bakal menetas.

Anakan yang menetas akan diasuh induk betina dan induk jantan. Berikanlah pakan utama berupa bijian kepada induknya, dan pakan tambahan / extra fooding (EF) berupa daun sawi yang diselingi telur puyuh rebus. Induk akan meloloh anaknya dari bahan-bahan pakan tersebut.

Anakan blackthroat usai dipanen dari kandang induknya.

Sekitar umur 1 bulan, anakan sudah bisa makan sendiri. Setelah itu bisa disapih / dipisahkan dari kedua induknya. Anakan jantan akan rajin bunyi ngeriwik jika sudah berumur 2 bulan lebih. Jika anakan punya mental bagus, dia akan rajin bunyi meski ditempatkan pada lingkungan yang ramai / sering dilalui orang-orang sekitar.

Saat anakan disapih, pasangan induk diistirahatkan sebentar selama beberapa hari (biasanya 1 minggu), kemudian disatukan atau dijodohkan kembali agar segera berproduksi.

Jika induk betina sudah berproduksi sebanyak tiga periode berturut-turut, Om Arif menyarankan supaya diistirahatkan dalam kandang aviary. Kalau sudah birahi lagi, ditandai dengan bunyi memanggil-manggil, si betina bisa dijodohkan lagi dengan burung jantan yang sudah nggacor dan sering buka sayap.

Om Arif Trisakti menyeleksi anakan blackthroat yang siap dipasarkan.

Saat ini harga seekor blackthroat muda yang sudah makan sendiri dan sudah ngeriwik sekitar Rp 1 juta. “Kami juga menyediakan pasangan induk siap produksi,” tambah Om Arif.  Selain blackthroat, Trisakti BF juga menyediakan aneka jenis burung finch impor, mulai dari mozambik, gold amadine, red siskin, zebra finch, hingga aneka jenis kenari dan ayam golden pheasant. (d’one)

Om Arif / Trisakti Bird Farm

Alamat lengkap klik di sini.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.