Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

JAKARTA (KM) – Semakin sulitnya kicaumania mendapatkan burung Branjangan (Mirafra Javanica) idamannya, yaitu Branjangan Jawa, banyak yang beralih ke burung kerabat Branjangan yang datang dari negeri seberang di antaranya Pailing, Sanma, dan Sonca.

Burung-burung Branjangan impor yang sudah mulai mudah ditemui di pasar burung ini menjadi pilihan karena kemampuan berkicaunya tidak kalah dengan Branjangan dalam negeri. Meski tidak terdapat kelas khusus di lomba-lomba burung berkicau, namun Branjangan impor ini bisa diikutsertakan dalam kelas Campuran Import jika dibuka kelasnya.

Selain kicauannya yang merdu, Branjangan impor ini juga memiliki gaya eksotis saat berkicau. Ditambah lagi untuk perawatannya juga bisa dikatakan cukup mudah tidak jauh berbeda dengan perawatan burung Branjangan dalam negeri. Sehingga tidak salah jika Branjangan-branjangan impor ini sangat bagus untuk dijadikan burung masteran burung-burung maskot seperti Murai Batu, Kacer, Cucak Ijo, dan lain-lain.

Nah, kali ini Rubrik KM akan membahas Branjangan impor agar para kicaumania memahami dan mengenali seperti apa itu burung Pailing, Sonca, dan Sanma agar lebih semangat dalam merawatnya dan berhenti berburu Branjangan dalam negeri yang semakin punah di habitatnya.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Pailing (Melanocorypha mongolica)

Pailing di dunia internasional dikenal dengan nama mongolian lark (Melanocorypha mongolica) yang termasuk dalam keluarga Alaudidae. Pailing hanya bisa ditemukan di China, Mongolia, dan Russia. Mirip dengan burung Branjangan dalam negeri, Pailing memiliki warna bulu coklat dengan motif batik dengan garis hitam melingkar pada bagian dadanya. Perbedaannya, tubuh Pailing lebih besar daripada Branjangan.

Pailing juga dikenal sebagai salah satu burung yang pintar meniru suara burung lain dengan sempurna. Keistimewaan lain yang membedakannya dari burung lain adalah mampu memanjangkan lehernya jika mencium sesuatu yang mencurigakan.

Paling mampu terbang secara vertikal dengan ketinggian mencapai puluhan meter dari atas permukaan tanah. Burung ini juga mampu berkicau sambil terbang naik turun secara vertikal dengan menghentakkan sayapnya selama 1 jam penuh. Gaya itu dilakukannya untuk memberitahukan kepada burung sejenis atau burung lain bahwa wilayah tersebut adalah wilayah teritorialnya.

Jika ingin memelihara burung ini, dianjurkan memelihara saat burung masih muda Atau masih anakan. Sebab jika membeli hasil tangkapan muda hutan (MH), maka proses penjinakan membutuhkan waktu lama, bahkan harus menunggu 8-12 bulan agar burung rajin berbunyi atau gacor.

Di kalangan kicaumania, ada tiga jenis burung lark ini yang beredar di pasaran yaitu Mongolian lark (ML) dengan nama spesies Melanocorypha mongolica,. Tibetan lark (TL) dengan nama spesies Melanocorypha maxima, dan Calandra lark (CL) dengan nama spesies Melanocorypha calandra.

Pailing yang pernah popular di Indonesia pada era 1990-an adalah jenis ML. Tetapi seiring waktu, beredar pula CL dan TL dengan penampilan yang hampir mirip. Ketiga spesies ini memiliki kemampuan berkicau yang hampir sama, mampu bersuara ngeroll , lantang, dan penuh isian.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Sanma (Alauda Gulgula)

Sanma merupakan sekelompok burung yang berada dalam keluarga lark (Alaudidae), dengan genus Alauda. Sanma yang paling dikenal kicaumania dalam negeri adalah Sanma oriental atau oriental skylark (Alauda gulgula). Disebut skylark dalam literatur perburungan internasional karena burung ini sering terbang di langit.

Sanma merupakan kerabat dekat Branjangan dan Pailing. Mereka memiliki karakter yang hampir sama. Ketiga spesies ini juga sama-sama tidak mempunyai kemampuan mencengkeram secara baik, cara berjalan seperti ayam. Karena itulah, sangkar burung Sanma, Branjangan, dan Pailing tidak menggunakan tangkringan, melainkan menggunakan tenggeran bundar yang disangga tiang kecil.

Gaya berkicaunya juga hampir mirip, yakni hovering (gaya terbang vertikal dari atas ke bawah), ngleper (kedua sayap digetarkan saat berkicau), dan mampu bersuara ngeroll , lantang, dan penuh isian.

Di kalangan kicaumania, ada tiga jenis burung lark ini yang beredar di pasaran yaitu Sanma Oriental atau Oriental Skylark (Alauda gulgula), Sanma Eurasia atau Eurasian Skylark (Alauda arvensis), Sanma Jepang atau Japanese Skylark (Alauda japonica), dan Sanma Raso Raso Lark (Alauda razae).

Keempat spesies Sanma ini sebenarnya sama-sama mempunyai performa suara yang bagus, namun sebagian besar kicaumania beranggapan dari empat jenis tersebut, Sanma Eurasia memiliki kualitas suara terbaik.

Sonca (Chim Viet Son Ca)

Sonca atau yang biasa dikenal Branjangan Vietnam ini masih menjadi perdebatan di kalangan kicaumania Indonesia. Di vietnam, burung ini dikenal dengan sebutan Chim Viet Son Ca, terkadang ada juga yang menyebutnya Chim Son Ca, sementara di Indonesia cukup disebut Sonca.

Burung yang satu ini memang masih belum begitu dikenal di Indonesia. Selain masih jarang dijumpai, harganya juga sangat tinggi, bisa mencapai Rp5 juta per ekor.

Dibandingkan dengan dua burung di atas, Sonca merupakan yang paling mirip dengan Branjangan baik dalam hal fisik, suara maupun karakter. Hanya tubuhnya yang sedikit lebih besar daripada Branjangan lokal.

Meski memiliki kemiripan yang paling mendekati, ternyata Sonca belum dipastikan termasuk spesies yang sama dengan Branjangan lokal, atau dari subspesies lain, bahkan atau justru merupakan spesies tersendiri. Karena jika Branjangan lokal yang kita kenal selama ini termasuk spesies Mirafra javanica yang terdapat 16 ras, dan tiga di antaranya terdapat di Indonesia. Sedangkan Sonca bisa jadi termasuk dalam spesies Mirafra javanica williamsoni yang wilayah persebarannya meliputi Vietnam, Myanmar, Kamboja, Laos, Thailand, serta wilayah selatan China.

Meski informasi terkait burung ini masih sedikit, namun untuk urusan kualitas kicauannya dipastikan tidak kalah dengan Branjangan, Pailing, maupun Sanma. Meski memiliki gaya berkicau yang hampir mirip dengan tiga burung tersebut, namun untuk urusan kerajinannya dalam bernyanyi, Sonca adalah juaranya. Sehingga tak heran jika meski harganya masih sangat mahal, kicaumania tidak ragu-ragu merogoh koceknya demi mengoleksi burung asal negara tetangga ini.

(giriondeadline/km)

 

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.