Om Arsadi Rusdika, peternak lovebird dari Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, sempat bete. Pasalnya, ring Dikta BF yang digunakan untuk penangkarannya dipalsukan orang. Itu terjadi tahun lalu. Karena itu, dia lalu memutuskan mengganti nama Dikta BF menjadi Rusdika BF, yang merupakan penggalan nama terakhirnya.
Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.
Om Dika, sapaan akrabnya, sehari-hari bekerja sebagai petani sayur mayur (cabai, kubis, kentang), dan juga menanam tanaman perkebunan seperti kopi arabika. Dia mulai beternak lovebird pada bulan Oktober 2012 dengan Nama Dikta BF.
Saat itu, Om Dika hanya memiliki dua pasang induk yang dibeli dari temannya di Kota Sungai Penuh. Setelah menunggu sekitar satu tahun, induk hanya bertelur dan bertelur saja, tetapi tak kunjung menetas. “Setelah diteliti, ternyata saya kena tipu. Induk yang dibeli betina semua,” kata Om Dika kepada omkicau.com.
Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.
Om Dika menyadari, saat itu pengetahuan dan pengalamannya dalam beternak lovebird masih minim. Usai kejadian tersebut, dia lalu menjual dan mengganti induk baru, yang dibeli dari saudara sepupu yang mukim di Merangin, Kabupaten Bangko.
Sekitar 3 bulan kemudian, induk baru pun bertelur dan menghasilkan 3 ekor anakan. Tetapi, lagi-lagi karena masih minim pengalaman, hanya seekor anak saja yang bertahan hidup.
Keberhasilan Om Dika mulai nampak pada awal tahun 2014. Ketika itu, 4 ekor anak dari 2 pasang induk bisa hidup sampai dewasa. Keempat lovebird itu tidak dijual untuk dibesarkan dan dijadikan materi induk baru. Hingga tahun 2015, Om Dika sudah memiliki delapan pasang induk.
Kini, Rusdika BF sudah memiliki 18 pasang induk. Untuk penjodohan Om Dika menggunakan sistem umbar / kandang koloni. “Pertimbangannya, lovebird kan punya naluri dalam memilih pasangannya sendiri. Dengan kandang koloni, burung bisa lebih bebas bergerak,” jelas Om Dika.
Menjaga kebersihan menjadi rutinitas sehari-hari, mulai dari kebersihan tempat pakan dan minum, aktif menjemur burung, hingga membersihkan kandang tiap hari. Bahkan seminggu sekali, kandang dibersihkan menggunakan desinfektan.
Untuk pakan utama lovebird, Rusdika BF menggunakan milet putih dan milet merah dengan perbandingan 70:30. Pakan tambahan / extra fooding (EF) setiap hari diselang-seling antara jagung, apel, serta kangkung, yang dicampur daun pepaya. “Seminggu sekali, saya berikan pakan penguat berupa kuaci (biji bunga matahari) dan canary seed,” tambah Om Dika.
Berbeda dari sebagian besar penangkar lovebird, Rusdika BF tidak melakukan panen dini terhadap anakan-anakan lovebird yang sudah berumur 1-2 minggu. Om Dika tetap membiarkan sang induk merawat anak-anaknya hingga umur 1,5 bulan. Setelah itu baru dipisahkan, kemudian diajari makan milet.
Sebagian besar lovebird hasil breeding Rusdika BF dijemput langsung oleh pelanggan yang datang ke rumah Om Dika. Sebagian lainnya dijual di beberapa kios burung yang sudah menjadi mitra usahanya.
Ditanya mengenai omzet penjualan per bulan, Om Dika tidak bisa memastikannya. Sebab terkadang panen anakan lovebird berlimpah, tetapi pernah juga nyaris tidak panen.
Tetapi, kalau diambil reratanya, Rusdika BF dalam setahun bisa menjual 80-100 ekor lovebird, dengan harga rata-rata Rp 300.000 / ekor.
Bagi calon peternak, atau peternak pemula, Om Dika berpesan agar belajar dulu mengenai ciri-ciri lovebird jantan dan betina, serta umur siap tangkar. Sebab banyak penangkar pemula yang sulit membedakan jenis kelamin dan usia siap tangkar,” tandas Om Dika. (neolithikum)
Breeding lovebird Rusdika BF
Kontak: Om Dika (WA 0812-23-66-7777)
Alamat: Jalan Terminal Baru No 02 RT 01, Dusun Karya, Desa Koto Lebu, Kecamatan Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi.