Melatih lovebird agar jinak dan menjadi teman bermain

Sudah lama saya punya obsesi menjadikan burung-burung hasil tangkaran sebagai teman bermain dan bukan sebagai “obyek permainan”. Yah, akhirnya kesempatan untuk “mencetak” burung sebagai teman bermain itu datang juga.

Ceritanya bermula ketika saya main ke rumah Om Dwi “LoveBird” Jogja pada Jumat sore hari bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 2009 lalu.

Setelah ngobrol dan cerita apa saja, mulai burung-burung lovebird Om Dwi yang sudah mulai menuai gelar jawara, sampai soal penyakit burung lovebird, prospek lovebird dan sebagainya, mulailah kami ngobrol soal perlunya penghobi “mencetak” burung sebagai teman bermain dan bukan sekadar obyek permainan. Mudahnya, ya membuat burung hasil penangkaran menjadi jinak dan tidak perlu dikurung di sangkar.

Sepakat dengan obrolan itu, maka terangkutlah empat anakan lovebird Om Dwi ke Solo untuk saya pelihara dengan cara disuapi tangan manusia agar nantinya menjadi jinak.

Anakan lovebird yang saya angkut bukan lovebird-lovebird sembarangan. Tiga anakan warna hijau kepala hitam adalah anakan dari lovebird jawara yang punya teriakan “ngekek” panjang. Sedangkan satu anakan warna putih (mirip albino tetapi mata warna hitam), adalah anakan sepasang lovebird warna hitam (body dan kepala warna hitam).

Sekadar tahu saja, salah satu anakan lovebird produksi Om Dwi “LoveBird” Jogja yang diberi nama Samber Gledek, sudah mulai menuai gelar jawara. Setelah dilatih di sejumlah arena latihan bersama (Latber), maka ketika diturunkan di Lomba Papburi Solo, November lalu, dia menyabet juara I. Gelar juara 2 juga disabet ketika ikut dalam Lomba Pra-Piala Presiden di Jogja belum lama ini.  Dia hanya kalah stabil saja dibanding Juara 1, yakni LoveBird “Bule” punya Henry Mahkota Team Jakarta, yang memang sudah malang melintang di arena lomba.

Pelatihan

Ya, empat dari anakan lovebird-lovebird trah jawara itulah yang sekarang menghubi salah satu ruangan di rumah saya, untuk setiap sore disuapi langsung dengan tangan manusia agar jinak dan bisa menjadi teman bermain.

Karenanya, burung-burung itu pun mulai saya latih untuk bergaul dengan manusia, terutama keluarga saya di rumah. Sementara, selain saya jinakkan, saya juga memaster lovebird-lovebird itu dengan suara lovebird dari MP3 player. Kalaupun nantinya terisi suara burung lain karena saya di rumah juga sedang memaster 4 anakan murai batu (3 dari penangkaran Lintang BF Solo punya Mas Samino dan 1 dari penangkaran “Black BF” Cilacap punya Om Bajak Laut – semuanya anakan jawara), maka itu saya anggap sebagai risiko karena burung anakan masih sangat gampang meniru suara isian apapun yang mereka dengar.

Nah, ini memang sekadar cerita pengantar tentang sesuatu yang saya inginkan bahwa pada saatnya nanti ada juga lomba burung dengan ditilik dari sisi kesehatan dan keindahannya, bukan sekadar kontes suara. Inilah salah satu dari rintisan saya untuk apa yang pernah saya tulis di sini:

http://omkicau.com/2009/01/bird-beauty-contest-dan-kontes-lagu-galur-murni/

Salam cicitcuit…

Sepasang indukan hitam-hitam ketika mengerami telurnya yang antara lain keluar Si Albino

Sepasang indukan hitam-hitam ketika mengerami telurnya yang antara lain keluar Si Albino. Foto diambil dari burunglovebird.com punya Om Dwi.


diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

Tentang iklan-iklan ini

There are 2 comments

Komentar ditutup.