REVOLUSI LOMBA BURUNG INDONESIA

REVOLUSI LOMBA BURUNG

Oleh Yustinus Sapto Widoyo

Ini adalah sebuah tulisan yang berisi analisis, tinjauan etis, dan tuturan “sejarah” lomba burung di Indonesia yang menurut Om Kicau sangat menarik dan pantas menjadi salah satu referensi pemahaman kita akan lomba burung. Ditulis oleh Yustinus Sapto Widoyo di Agrobis Burung, tulisan ini merupakan referensi “wajib” yang Om Kicau rekomendasikan untuk Anda para penghobi burung. Siapa Yustinus Sapto Widoyo? Simak saja tuturannya di bawah ini.

BAGIAN I

“Yang kecil menyokong yang besar”

Sudah lama sekali saya tidak aktif mengikuti perkembangan lomba burung nasional, dan baru mulai kembali terjun bulan Juni 2009, yaitu ketika saya kembali tugas kerja di Surabaya.

Awal aktif mengikuti hobby lomba burung berkicau pertama kali ketika bertugas di kota Probolinggo pada tahun 1997, dan kemudian pindah tugas ke Banjarmasin pada 1998 -2002. Justru ketika berada di Banjarmasin inilah, kecintaan saya terhadap kicauan semakin menggila, di samping sebagai pemain/peserta lomba, saya juga ikut terjun sebagai juri (klas lokalan) -maupun event organizer. Dengan bendera Liga Sampoerna, saya menyelenggarakan lomba hampir di seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, bahkan beberapa kali membuat big event di Kota Surabaya (waktu itu lokasinya di Kebun Bibit).

Sejak tahun 2003 sampai dengan awal tahun 2009 saya hampir dikatakan vacum mengikuti lomba burung (tapi tetap memelihara), yaitu selama bertugas sebentar di Jakarta kemudian pindah lagi ke Pekanbaru dan Medan.

Selama di Pekanbaru, saya beberapa kali iseng-iseng mengikuti lomba di sana. Bahkan, ketika setahun di Medan hampir tidak pernah ada lomba, namun saya masih suka keluyuran untuk mencari burung sampai ke pedalaman Aceh (Kab. Takengon). Sampai hari ini saya. masih bermimpi bisa memelihara murai batu “Brek” di dekat danau air tawar – Takengon, namun si empunya belum bersedia melepasnya.

Mulai bulan Mei 2009, saya kembali bertugas di Jawa, tepatnya di kota Surabaya.

Pada saat bos pertama kali memberitahu kepindahan saya ke Jawa, dalam hati saya berteriak kegirangan. Bukan karena daerahnya dekat keluarga besar saya, tetapi karena saya akan bisa aktif lagi menyalurkan hobby lomba burung. Dan, hal ini jugalah yang dikatakan oleh istri saya waktu pertama kali saya beritahu bahwa saya akan pindah ke Surabaya, spontan istri mengatakan: “Enak bangetlah papa, bisa lomba burung lagi sepuas-puasnya.”

Tidak lama kemudian saya melakukan kontak dengan teman-teman lama yang masih aktif di kicauan untuk menanyakan berbagai hal tentang lomba di masa kini, burung apa yang trend, dan organizer apa yang sedang “in”.

Saya mulai berlangganan majalah mingguan Agro Burung untuk mengikuti perkembangan hobby kicauan. Ternyata lomba burung berkicau bukan semakin surut, tetapi justru semakin semarak, bahkan klasifikasinyna mulai dari klas latberan tingkat RT (kalau tidak berlebihan dikatakan demikian) sampai dengan tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah.

Saya sungguh tercenggang, ketika membaca iklan-iklan rencana lomba, bahwa semua sudah berbandrol hadiah uang. Lomba satu dengan lomba lainnya seolah-olah “jor-joran” (bersaing) besar-besaran hadiah uang yang akan diberikan kepada pemenang.

Kemudian saya mencoba melakukan analisa sederhana untuk rhengetahui perbedaan lomba burung di masa kini dibanding masa lalu, Kurang lebih perbedaan tersebut/ antara lain:

1. HADIAH LOMBA

Jaman dulu berupa tropi (piala) dan piagam. Dahulu, dengan modal jumlah piagamyang bisa dikumpulkan orang bisa membuka harga jual gacoan setinggi-tingginya. Piala/tropi akan dipajang di lemari atau buffet ruang tamu untuk kebanggaan, bahkan beberapa penghobby membuatkan lemari khusus untuk tropi hasil lomba burung.

Tetapi jaman sekarang, semakin sulit menemukan lomba dengan hadiah tropi, semua hadiah mayoritas berupa uang tunai. Pada jaman dulu, hadiah material yang diberikan pemenang paling tinggi berupa barang, misal juara I mendapat hadiah piagam, tropi, plus vcd player (contoh).

Tetapi, jaman sekarang juara I bisa mendapat uang tunai 5 juta, 10juta, bahkan 30juta rupiah. Apakah lomba burung sudah menjadi suatu industri, sehingga faktor ekonomi menjadi ukuran tertinggi?

2. BESARAN HADIAH

Pada jaman dulu, apabila peserta ingin memperoleh hadiah lebih besar (uang tunai ataupun barang), maka harus bisa menjadi juara umum kelompok/paguyuban (BC) atau single fighter. Namun, di jaman sekarang justru juara umum hadiahnya jauh lebih kecil daripada juara pemenang tunggalnya (winner).

Menurut saya ada hal yang hilang dari perubahan jaman ini, bahwa nilai-nilai kekompakan team, paguyuban, sosial, kekeluargaani semakin menipis digantikan oleh kompetisi individualisme.

Orang/peserta didorong untuk meraih prestasi burungnya secara individual, sehingga hukum alamlah yang akan berlaku, yang paling kuat (hebat, harga beli mahal, koneksitas tinggi) yang akan berpeluang menang. Untuk mendapatkan uang besar, tidak perlu tergabung dalam “paguyuban”, cukup dengan memaksimalkan gacoannya sendiri dan menang.

3. DOORPRIZE

Daya tarik lomba jaman dahulu adalah besaran nilai doorprize yang disediakan oleh panitia, bisa berupa alat elektronik, motor, atau bahkan mobil (meskipun second). Semakin besar nilai doorprize akan semakin banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponshor).

Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponsor).

Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding individu pemenang kejuaraan, karena setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk senang secara material (probability, gambling). Bisa jadi, orang yang mempunyai burung kualitasnya pas-pasan pun akan nekat ikut kontes karena mempunyai kesempatan memperoleh doorprize. Hitung-hitung beli kupon hadiah sambil bersilaturahmi sesama penghobby burung berkicau.

4. KRITERIA BURUNG JUARA

Meskipun hal ini ada yang lebih berkompeten bicara, yaitu para juri, namun sebagai penghobby saya juga berhak berpendapat. Menurut pengamatan saya, trend penilaian terhadap kriteria burung juara banyak mengalami perkembangan (saya tidak mengatakan kemunduran).

Hari ini, faktor gaya penampilan burung menjadi “key entry point” paling penting bagi para juri. Memang hal ini akan memudahkan juri untuk melihat kriteria-kriteria lainnya secara lebih mendalam, yaitu tentang irama lagu dan stabilitas. Sebagai gambaran saya akan membuat ilustrasi lomba untuk jenis Cucak Ijo.

Secara naluri, para juri akan menilai positif pada burung yang sejak pertama digantang akan menunjukkan secara fisik tanda-tanda: bulu kepala “njambul”, sayap sedikit mengembang, ke bawah sambil “ngentrok-ngentrok”, tidak terlatu banyak loncat (goyang), dan tetap gacor. Jangan berharap gacoan kita bisa menang apabila tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, meskipun kualitas irama lagu bisa dikatakan bagus, bahkan mungkin hanya untuk sekedar “dilirik” juri saja sulit.

Pada jaman dahulu, seorang juri harus bener-bener tajam telinganya untuk fokus mendengarkan kualitas irama lagu dan volume suara burung. Untuk bisa menilai kualitas irama lagu dibutuhkan pengalaman yang cukup lama, makanya pada jaman dulu seorang juri pasti sudah senior (bisa diidentikkah dengan pengalaman), dan pasti disegani.

Sebaliknya jaman sekarang, sangat mudah untuk menjadi seorang juri, banyak para juri masih sangat junior, sebab metode menilainya lebih mendahulukan visual daripada audio.

Seorang juri bisa “menembak” dulu performance fisiknya dulu, baru kemudian dilihat irama lagu. Apakah metode ini salah? Peserta sendirilah yang akan menilai hal ini.

5. NUANSA LOMBA

Saya masih ingat betul ketika jaman dulu saya berkali-kali menyelenggarakan lomba pasti ada seksi konsumsi yang salah satu tugasnya menyediakan konsumsi bagi para peserta, baik hanya berupa snack maupun makan siang. Begitu juga dengan event-event di tempat lain ketika itu, pasti disediakan kupon snack atau makan siang (meskipun hanya nasi bungkus, sudah cukup menyenangkan). Nuansa yang terbangun saat itu, adalah kita seperti menjadi tamu kehormatan dan rasa silaturahmi masih kental.

Kenapa saat ini hal seperti ini tidak ada lagi? Apakah dananya dialihkan ke hadiah pemenang karena peserta menuntut hadiah yang lebih besar? Atau dananya dialihkan menjadi keuntungan penyelenggara lomba?

6. KASTA JENIS BURUNG

Sepertinya istilah anak emas atau anak tiri tidak hanya terjadi di legenda-legenda jaman dahulu kala, namun justru semakin subur di event lomba burung jaman sekarang. Kalau kita ditanya burung jenis manakah yang kastanya lebih tinggi: kacer, murai, anis merah, anis kembang, kenari, cucak ijo, kolibri atau yang lainnya? Pasti sulit menjawabnya…… Namun, dalam kenyataan bahwa anis merah selalu mendapat hadiah kejuaraan berlipat-lipat kali nilainya dibanding jenis burung lainnya. Apakah ini cukup adil (fair)? Apakah hanya dengan alasan anis merah trendnya paling tinggi terus kemudian diberi hadiah berlipat-lipat? Nanti saya akan jawab melalui analisa managemen suatu lomba.

Sebenarnya masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang bisa kita dapatkan apabila semakin mendalami dinamika lomba burung di tanah air selama 10 tahun terakhir. Namun, secara umum saya menangkap 2 hal paling mendasar dalam lomba burung di masa sekarang, yaitu:

  1. Peserta semakin terjebak dalam orientasi ekonomi (kalau boleh dibilang industrialisasi burung berkicau). Saya tidak tahu siapa dahulu yang memulai pertama kali, apakah penyelenggara yang memancing atau peserta yang terlalu menuntut.
  2. Penyelenggara lomba (panitia) semakin sulit mengembangkan nilai-nilai lain yang lebih berkualitas (luhur), karena lomba semakin tidak menguntungkan secara finansial bagi panitia…

Tidak ada uang lebih untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang bersifat community, social, dan relationship bagi sesama penghobby.

BAGIAN II

Hadiah lomba membuat peserta makin matrek

Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai di sini, dalam pikiran saya masih terus bertanya: bagaimana caranya panitia bisa memberikan hadiah hingga puluhan juta rupiah kepada satu pemenang (hampir selalu jenis anis merah)? Untuk menjawab penasaran ini, saya mencoba melakukan semacam riset kecil-kedlan berbagai lomba yang diiklankan di majalah Agro Burung. Riset literatur ini dilakukan secara acak dalam majalah Agro Burung edisi Mei 2009 sampai dengan Mei 2010.

Untuk memudahkan melakukan analisa, dalam riset ini saya melakukan beberapa hal menyangkut pengelompokan, definisi, dan penggunaan asumsi, sebagai berikut:

A. JENIS LOMBA DIBAGI MENJADI 5 KLASIFIKASI (GROUP):

  1. Latpres: hadiah utama lebih kecil/sama dengan Rp 1.000.000,-
  2. Lomba Kecii: hadiah utama Rp 1.000.000-3.000.000,–
  3. Lomba Menengah: hadiah utama Rp 3.000.000 – 5.000.000,-
  4. Lomba Besar: hadiah utama Rp 5.000.000- 10.000.000,-
  5. Lb. Sangat Besar: hadiah utama minimal Rp 10.000.000,-

B. KLASIFIKASI NILAI HADIAH DIBEDAKAN MENJADI:

  1. Klas Hadiah Utama:
    1. Latpres: klas dengan peringkat hadiah paling tinggi (executive)
    2. Lomba: k!as dengan hadiah minimal Rp 3.000.000,- ke atas
    3. Klas Hadiah Non Utama:
      1. Latpres: klas dengan ranking hadiah kedua ke bawah (klas bintang/favofit)
      2. Lomba: klas dengan hadiah kurang dari Rp 3.000.000,-

C. JUMLAH PESERTA:

Menggunakan asumsi rata-rata peserta berdasarkan pengalaman pribadi selama mengikuti lomba selama akhir-akhir ini (estimasi berdasar pengamatan langsung).

TABEL 1. KLASIFIKASI LOMBA, PESERTA, DAN BESARAN BONUS LOMBA

Dari 61 sampling jenis lomba yang diriset, dapat disimpulkan bahwa semakin besar hadiah yang ditawarkan akan semakin besar potensi peserta yang mengikuti. Demikian juga, semakin besar lomba maka panitia harus semakin besar menyediakan bonus bagi pemenang. Dalam lomba latberan, saya tidak bisa mencantumkan nilai bonus pemenang karena biasanya bonus dalam latber berasal dari kontributor perorangan dan sangat bervariatif bentuk dan jumlahnya.

TABEL 2. ANALIS PENDAPATAN LOMBA

Dengan menggunakan antara total pemasukan dikurangi total hadiah untuk pemenang kemudian dibagi dengan total pemasukan, maka didapat nilai ratio brutto.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa semakin besar klas lomba (hadiah semakin besar), maka rationya akan semakin kecil.

Coba dibayangkan, bagaimana panitia bisa menyelenggarakan event lorriba sangat besar kalau hanya memegang sisa anggarannya 5%. Apakah dengan 5% ini bisa untuk membiayai honor juri, sewa tenda dan peralatan, konsumsi, iklan, keamanan, dll?

Berdasarkan pengalaman saya menyelenggarakan lomba jaman dahulu, nilai ratio brutto yang ideal adalah antara 30 – 35%, dimana panitia bisa sedikit leluasa mengelola lomba (masih ada uang lelahnya). Dengan dasar ini, maka dapat dikatakan bahwa lomba skala kecil justru semakin sehat secara finansial, atau semakin bisa mandiri.

Kemudian, dari mana panitia lomba berskala besar menutup kekurangan biayanya? Cara-cara yang bisa dilakukan adalah mencari sponsorhip atau mencari sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Berapa kira-kira dana tambahan yang harus dicari dari setiap klas lomba?

TABEL 3. PERKIRAAN DANA TAMBAHAN LOMBA

Dengan menggunakan angka ratio brutto ideal adalah 30 -35%, maka untuk lomba skala menengah memerlukan tambahan dana sekitar 24 juta, skala besar 35 juta, dan skala sangat besar 110 juta. Sementara lomba dengan skala kecil dan latpres sangat dimungkinkan bisa mandiri (tidak perlu mencari tambahan dana).

Apakah salah mencari dana tambahan dari sponshorship atau pihak ketiga pemberi sumbangan? Menurut saya sama sekali tidak salah. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah:

  • Apakah masih mudah mencari pihak sponsor yang sanggup menutup kekurangan dana sebesar itu?
  • Apakah industri lomba burung cukup menarik bagi sponsor untuk pemasaran produknya (produk elektronik, motor, rokok, pakan burung, perajin sangkar, dll)?
  • Apakah masih mudah mencari orang-orang yang dengan tulus memberikan sumbangan? Sebab, pada umumnya pemberi sumbangan adalah orang-orang yang juga aktlf mengikuti lomba burung. Apakah panitia juga enak rasa, jika tidak memenangkan gacoan pemberi sumbangan?

Saya hanya mengkhawatirkan apabila sltuasi dan kondisinya ternyata bertolak belakang, apakah di masa mendatang kita masih bisa menikmati lomba burung dengan skala besar (prestisius)? Mungkin sudah waktunya mulai dari sekarang semua pihak ambil bagian mendorong bagaimana suatu lomba burung bisa mandiri di dalam penyelenggaraannya:

Pihak Peserta:

  • Harus ada kesadaran kalau mau hadiah besar, harusnya mendaftar dengan harga tinggi.
  • Prestisius kemenangan burung bukan pada nilai hadiah, tetapi adalah kebesaran nama burung yang mengikat menjadi satu dengan si pemiliknya.
  • Nilai ekonomi burung harus dikembalikan pada seberapa sering berprestasi, yang pada akhirnya mempengaruhi harga transaksi burung ketika diminati orang lain, dan bukan pada hadiah langsung saat lomba.

Pihak Penyelenggara:

  • Harus mampu menciptakan kreativitas kemasan lomba yang menarik di luar faktor besaran nilai hadiah semata. Misal, menyisakan alokasi waktu saat lomba untuk acara “boot camp”, sarasehan, dsb.

Pihak Event Organizer (PBI, BnR, dsb):

  • Harus mampu mendorong komunitas penghobby bukan semata karena sudut pandang ekonomis, namun bisa menciptakan suatu social community yang positif, misal dari sudut pandang seni budaya.

Semua sepakat bahwa lomba burung adalah tradisi budaya yang bernilai luhur bagi bangsa kita, dan harus dipupuk dalam suasana harmonis.

Ada baiknya lomba burung nantinya tidak disebut sebagai LOMBA yang mengarah pada arti sempit berkompetisi (yang kadang menghalalkan segala cara).

- Dampak negatif dari industrialisasi lomba burung semakin bisa dilihat: antar peserta ribut/bertengkar, juri dimaki, antar event organizer saling menjelekkan, dsb.

Apakah ini akan dibiarkan terus-menerus sampai anak cucu kita yang bakalan mewarisi seni budaya yang luhur ini?

Kelas utama

Sekarang saya ingin mengetahui lebih jauh, mengapa klas utama bisa diberi hadiah berlipat-lipat kali dari klas di bawahnya? Sudah menjadi rumusan umum, bahwa klas utama jenis anis merah pasti akan diberi hadiah pemenang berlipat kali dengan jenis burung lain yang klas lombanya di bawahnya.

Contohnya begini, klas utama (paling bergensi) anis merah denganpendaftaran Rp 200.000,- jika menang mendapat hadiah Rp 10.000.000 atau lebih. Tetapi, di klas ketiga dengan pendaftaran Rp 100.000,- hanya mendapat hadiah Rp 2.000.000,-. Apakah ini cukup adil?

TABEL 4. RATIO HADIAH KLAS UTAMA VS KLAS NON UTAMA

Dari tabel di atas nampak, bahwa dalam setiap klasifikasi tomba menengah ke atas ratio untuk hadiah utama jauh lebih kecil dari klas non utama. Bahkan, mulai lomba skala besar dan sangat besar ratio klas utamanya minus.

Cara membaca data tersebut adalah demikian, contohnya untuk lomba skala besar (no. 4):

-      Ratio untuk hadiah klas utama = – 34%. Artinya, hasil pendaftaran (pemasukan) dari klas ini tidak cukup untuk menutup biaya hadiahnya sendiri.

-      Ratio untuk hadiah klas non utama – 36%. Artinya, pemasukan dari klas-klas ini (di bawah klas utama) mampu menutup biaya hadiahnya sendiri dan mungkin justru berlebih.

Kelebihan inilah yang berpotensi untuk menutup kekurangan untuk hadiah klas utama.

Arti dari semua ini adalah bahwa hadiah bagi klas utama yang nilainya berlipat kali daripada klas non utama, justru hadiahnya disumbangkan dari klas di bawahnya.

Dengan kata lain, yang kecil menyumbang yang besar…

Jangan sampai suatu saat berkembang menjadi yang kecil ditindas oleh yang besar. Apalagi kondisi ini ditunjang kenyataan bahwa pada umumnya pemenang klas utama ini adalah burungnya yang itu-itu saja. Anda mungkin tidak sulit menyebut burung anis merah mana yang menguasai setiap event lomba besar.

Memang tidak salah burung-burung itu menang, karena (katanya) belinya sudah ratusan juta rupiah. Namun, dengan menggunakan hitungan matematika biasa kita bisa menghitung bahwa hanya dengan menang puluhan kali di event besar maka harga belinya akan kembali. Lagi-lagi hitungan ekonomis… sayangnya pengembalian investasi ini disokong dari golongan lomba klas di bawahnya.

Pantas saja, para jawara-jawara (kalau boleh disebut begitu) hanya akan turun di klas-klas utama saja.

Saya jarang menjumpai burung-burung jawara ini muncul menjadi pemenang klas non utama. Mungkin kalah atau tidak diikutkan dengan pertimbangan ekonomi tadi atau karena takut malu bila kalah di klas yang lebih bawah?

Lalu bagaimana sebaiknya agar peserta klas non utama (lebih kecil dari klas utama) tidak merasa “diperas” oleh klas utama?

Ada baiknya para event organizer mulai memikirkan bagaimana indahnya apabila burung bisa bertarung di kualitas (klas) yang setara. Meniru pertarungan tinju profesional, bahwa antar petinju hanya akan bertarung di klas yang setara (klas nyamuk, klas ringan, klas welter, klas berat, dsb).

Seperti halnya dalam ilmu sosial, bahwa semakin tinggi status sosial orang, maka bukan nilai materiil (hadiah) lagi yang dikejar. Saya yakin, bahwa para pemilik burung-burung klas jawara bukan semata mencari hadiah langsurig dari setiap event lomba.

Saya percaya bahwa bos-bos ini masih mempunyai rasa malu apabila “menerima sumbangan” dari kelompok yang lebih kecil.

Di atas kita sudah membedah bagaimana fairness dari setiap klas lomba, selanjutnya kita akan melihat fairness dari hadiah yang diterima aiitara juara 1, 2, 3, dan seterusnya sampai dengan juara 10.

Mungkin para peserta lomba tidak pernah terusik dengan kenyataan bahwa juara 1 mendapat hadiah Rp 3.000.000,- dan juara 5 s/d 10 hanya mendapat hadiah Rp 150.000,- (hanya kembali uang pendaftaran).

Apa beda juara 1 dengan juara 10 secara hitungan matematika? Logikanya, juara-1 kualitasnya 10 kali di atas juara 10. Tapi, hadiah yang diberikan kenapa juara 1 bisa menjadi 20 kali juara 10?

TABEL 5. AGREGAT RANKING HADIAH LOMBA

Dari analisa agregat hadiah kejuaraan tersebut, terlihat bahwa lomba skala kecil jauh lebih fair bagi peserta lomba. Dengan kata lain, juara 10 di lomba skala kecil jauh dihargai daripada menjadi juara di lomba skala yang lebih besar. Atau, dengan sudut pandang terbalik, bahwa burung juara 1 akan lebih dihargai dalam lomba skala lebih besar (agregatnya lebih besar).

Tapi perlu diingat dari analisa sebelumnya, bahwa hadiah untuk klasifikasi klas utama disokong dari klas di bawahnya, maka sebaiknya para pesarta harus pandai-pandai memilih lomba yang akan diikuti.

Peserta harus bisa introspeksi diri (sadar diri) menilai gacoannya masing-masing, di klasifikasi lomba mana layak akan diikutkan. Apabila gacoannya masih klasifikasi kualitas/ prestasi “biasa”, maka jangan sekali-kali masuk ke lomba skala besar, kecuali hanya mau spekulasi.

Sebaliknya, bagi peserta yang gacoannya memang sudah klas “jawara” lebih baik masuk ke klasifikasi lomba besar karena akan cepat kembali investasinya (kalau hanya memikirkan hitungan ekonomi).

Pelajaran apa yang bisa saya petik dari kondisi lomba di jaman sekarang:

  1. Pada akhirnya, sekarang saya menjadi mengerti mengapa burung-burung “jawara” hanya akan muncul di klasifikasi event lomba besar dan hanya di klas utama saja. Di samping faktor hitungan ekonomi memang masuk akal, mungkin juga supaya gengsinya tidak turun bila kalah dalam skala lomba dan/atau klas yang lebih rendah.
  2. Saya semakin memahami mengapa hari-hari ini semakin banyak (dinamis) lomba skala kecil diadakan dimana-mana daripada lomba skala besar. Kita justru semakin dipusingkan mau ikut di latber atau latpres di mana, karena jadwalnya tumpang tindih dan hampir setiap hari ada. Tetapi justru sekarang semakin jarang ada lomba skala besar, mungkin panitia sulit mencari donatur untuk mencukupi biaya penyelenggaraan.
  3. Semakin sulit menemukan persaudaraan yang bertahan lama dalam sesama penghobby (community) burung berkicau. Justru, di media kita sering menemukan banyak polemik dan saling menjelekan teman/saudara lain.
  4. Kita harus bisa introspeksi di mana posisi gacoan-gacoan kita untuk bisa manempatkan diri di klasifikasi mana gacoan kita akan diterjunkan.

Pada akhir dari tulisan saya ini, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini.

Tanpa ada maksud ingin mengurangi daya tarik peserta terhadap suatu lomba, namun lebih mengarah ingin membangun situasi dan kondisi lomba lebih fair, berkualitas dan dicintai dalam kurun waktu sepanjang mungkin. Di samping itu, ini juga bentuk kepedulian saya terhadap seni budaya lomba burung berkicau agar bisa diturunkan kepada generasi kita selanjutnya.

Saya sendiri berpendapat, bahwa hobby harus dinilai dari sisi sense of love, bukan materi belaka. Ada lomba atau tidak ada lomba, saya tetap akan memelihara burung berkicau karena saya memang mencintainya. (Habis)

REVOLUSI LOMBA BURUNG

Ini adalah sebuah tulisan yang berisi analisis, tinjauan etis, dan tuturan “sejarah” lomba burung di Indonesia yang menurut Om Kicau sangat menarik dan pantas menjadi salah satu referensi pemahaman kita akan lomba burung. Ditulis oleh Yustinus Sapto Widoyo di Agrobis Burung, tulisan ini merupakan referensi “wajib” yang Om Kicau rekomendasikan untuk Anda para penghobi burung. Siapa Yustinus Sapto Widoyo? Simak saja tuturannya di bawah ini.

BAGIAN I

“Yang kecil menyokong yang besar”

Sudah lama sekali saya tidak aktif mengikuti perkembangan lomba burung nasional, dan baru mulai kembali terjun bulan Juni 2009, yaitu ketika saya kembali tugas kerja di Surabaya.

Awal aktif mengikuti hobby lomba burung berkicau pertama kali ketika bertugas di kota Probolinggo pada tahun 1997, dan kemudian pindah tugas ke Banjarmasin pada 1998 -2002. Justru ketika berada di Banjarmasin inilah, kecintaan saya terhadap kicauan semakin menggila, di samping sebagai pemain/peserta lomba, saya juga ikut terjun sebagai juri (klas lokalan) -maupun event organizer. Dengan bendera Liga Sampoerna, saya menyelenggarakan lomba hampir di seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, bahkan beberapa kali membuat big event di Kota Surabaya (waktu itu lokasinya di Kebun Bibit).

Sejak tahun 2003 sampai dengan awal tahun 2009 saya hampir dikatakan vacum mengikuti lomba burung (tapi tetap memelihara), yaitu selama bertugas sebentar di Jakarta kemudian pindah lagi ke Pekanbaru dan Medan.

Selama di Pekanbaru, saya beberapa kali iseng-iseng mengikuti lomba di sana. Bahkan, ketika setahun di Medan hampir tidak pernah ada lomba, namun saya masih suka keluyuran untuk mencari burung sampai ke pedalaman Aceh (Kab. Takengon). Sampai hari ini saya. masih bermimpi bisa memelihara murai batu “Brek” di dekat danau air tawar – Takengon, namun si empunya belum bersedia melepasnya.

Mulai bulan Mei 2009, saya kembali bertugas di Jawa, tepatnya di kota Surabaya.

Pada saat bos pertama kali memberitahu kepindahan saya ke Jawa, dalam hati saya berteriak kegirangan. Bukan karena daerahnya dekat keluarga besar saya, tetapi karena saya akan bisa aktif lagi menyalurkan hobby lomba burung. Dan, hal ini jugalah yang dikatakan oleh istri saya waktu pertama kali saya beritahu bahwa saya akan pindah ke Surabaya, spontan istri mengatakan: “Enak bangetlah papa, bisa lomba burung lagi sepuas-puasnya.”

Tidak lama kemudian saya melakukan kontak dengan teman-teman lama yang masih aktif di kicauan untuk menanyakan berbagai hal tentang lomba di masa kini, burung apa yang trend, dan organizer apa yang sedang “in”.

Saya mulai berlangganan majalah mingguan Agro Burung untuk mengikuti perkembangan hobby kicauan. Ternyata lomba burung berkicau bukan semakin surut, tetapi justru semakin semarak, bahkan klasifikasinyna mulai dari klas latberan tingkat RT (kalau tidak berlebihan dikatakan demikian) sampai dengan tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah.

Saya sungguh tercenggang, ketika membaca iklan-iklan rencana lomba, bahwa semua sudah berbandrol hadiah uang. Lomba satu dengan lomba lainnya seolah-olah “jor-joran” (bersaing) besar-besaran hadiah uang yang akan diberikan kepada pemenang.

Kemudian saya mencoba melakukan analisa sederhana untuk rhengetahui perbedaan lomba burung di masa kini dibanding masa lalu, Kurang lebih perbedaan tersebut/ antara lain:

1. HADIAH LOMBA

Jaman dulu berupa tropi (piala) dan piagam. Dahulu, dengan modal jumlah piagamyang bisa dikumpulkan orang bisa membuka harga jual gacoan setinggi-tingginya. Piala/tropi akan dipajang di lemari atau buffet ruang tamu untuk kebanggaan, bahkan beberapa penghobby membuatkan lemari khusus untuk tropi hasil lomba burung.

Tetapi jaman sekarang, semakin sulit menemukan lomba dengan hadiah tropi, semua hadiah mayoritas berupa uang tunai. Pada jaman dulu, hadiah material yang diberikan pemenang paling tinggi berupa barang, misal juara I mendapat hadiah piagam, tropi, plus vcd player (contoh).

Tetapi, jaman sekarang juara I bisa mendapat uang tunai 5 juta, 10juta, bahkan 30juta rupiah. Apakah lomba burung sudah menjadi suatu industri, sehingga faktor ekonomi menjadi ukuran tertinggi?

2. BESARAN HADIAH

Pada jaman dulu, apabila peserta ingin memperoleh hadiah lebih besar (uang tunai ataupun barang), maka harus bisa menjadi juara umum kelompok/paguyuban (BC) atau single fighter. Namun, di jaman sekarang justru juara umum hadiahnya jauh lebih kecil daripada juara pemenang tunggalnya (winner).

Menurut saya ada hal yang hilang dari perubahan jaman ini, bahwa nilai-nilai kekompakan team, paguyuban, sosial, kekeluargaani semakin menipis digantikan oleh kompetisi individualisme.

Orang/peserta didorong untuk meraih prestasi burungnya secara individual, sehingga hukum alamlah yang akan berlaku, yang paling kuat (hebat, harga beli mahal, koneksitas tinggi) yang akan berpeluang menang. Untuk mendapatkan uang besar, tidak perlu tergabung dalam “paguyuban”, cukup dengan memaksimalkan gacoannya sendiri dan menang.

3. DOORPRIZE

Daya tarik lomba jaman dahulu adalah besaran nilai doorprize yang disediakan oleh panitia, bisa berupa alat elektronik, motor, atau bahkan mobil (meskipun second). Semakin besar nilai doorprize akan semakin banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponshor).

Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponsor).

Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding individu pemenang kejuaraan, karena setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk senang secara material (probability, gambling). Bisa jadi, orang yang mempunyai burung kualitasnya pas-pasan pun akan nekat ikut kontes karena mempunyai kesempatan memperoleh doorprize. Hitung-hitung beli kupon hadiah sambil bersilaturahmi sesama penghobby burung berkicau.

4. KRITERIA BURUNG JUARA

Meskipun hal ini ada yang lebih berkompeten bicara, yaitu para juri, namun sebagai penghobby saya juga berhak berpendapat. Menurut pengamatan saya, trend penilaian terhadap kriteria burung juara banyak mengalami perkembangan (saya tidak mengatakan kemunduran).

Hari ini, faktor gaya penampilan burung menjadi “key entry point” paling penting bagi para juri. Memang hal ini akan memudahkan juri untuk melihat kriteria-kriteria lainnya secara lebih mendalam, yaitu tentang irama lagu dan stabilitas. Sebagai gambaran saya akan membuat ilustrasi lomba untuk jenis Cucak Ijo.

Secara naluri, para juri akan menilai positif pada burung yang sejak pertama digantang akan menunjukkan secara fisik tanda-tanda: bulu kepala “njambul”, sayap sedikit mengembang, ke bawah sambil “ngentrok-ngentrok”, tidak terlatu banyak loncat (goyang), dan tetap gacor. Jangan berharap gacoan kita bisa menang apabila tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, meskipun kualitas irama lagu bisa dikatakan bagus, bahkan mungkin hanya untuk sekedar “dilirik” juri saja sulit.

Pada jaman dahulu, seorang juri harus bener-bener tajam telinganya untuk fokus mendengarkan kualitas irama lagu dan volume suara burung. Untuk bisa menilai kualitas irama lagu dibutuhkan pengalaman yang cukup lama, makanya pada jaman dulu seorang juri pasti sudah senior (bisa diidentikkah dengan pengalaman), dan pasti disegani.

Sebaliknya jaman sekarang, sangat mudah untuk menjadi seorang juri, banyak para juri masih sangat junior, sebab metode menilainya lebih mendahulukan visual daripada audio.

Seorang juri bisa “menembak” dulu performance fisiknya dulu, baru kemudian dilihat irama lagu. Apakah metode ini salah? Peserta sendirilah yang akan menilai hal ini.

5. NUANSA LOMBA

Saya masih ingat betul ketika jaman dulu saya berkali-kali menyelenggarakan lomba pasti ada seksi konsumsi yang salah satu tugasnya menyediakan konsumsi bagi para peserta, baik hanya berupa snack maupun makan siang. Begitu juga dengan event-event di tempat lain ketika itu, pasti disediakan kupon snack atau makan siang (meskipun hanya nasi bungkus, sudah cukup menyenangkan). Nuansa yang terbangun saat itu, adalah kita seperti menjadi tamu kehormatan dan rasa silaturahmi masih kental.

Kenapa saat ini hal seperti ini tidak ada lagi? Apakah dananya dialihkan ke hadiah pemenang karena peserta menuntut hadiah yang lebih besar? Atau dananya dialihkan menjadi keuntungan penyelenggara lomba?

6. KASTA JENIS BURUNG

Sepertinya istilah anak emas atau anak tiri tidak hanya terjadi di legenda-legenda jaman dahulu kala, namun justru semakin subur di event lomba burung jaman sekarang. Kalau kita ditanya burung jenis manakah yang kastanya lebih tinggi: kacer, murai, anis merah, anis kembang, kenari, cucak ijo, kolibri atau yang lainnya? Pasti sulit menjawabnya…… Namun, dalam kenyataan bahwa anis merah selalu mendapat hadiah kejuaraan berlipat-lipat kali nilainya dibanding jenis burung lainnya. Apakah ini cukup adil (fair)? Apakah hanya dengan alasan anis merah trendnya paling tinggi terus kemudian diberi hadiah berlipat-lipat? Nanti saya akan jawab melalui analisa managemen suatu lomba.

Sebenarnya masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang bisa kita dapatkan apabila semakin mendalami dinamika lomba burung di tanah air selama 10 tahun terakhir. Namun, secara umum saya menangkap 2 hal paling mendasar dalam lomba burung di masa sekarang, yaitu:

1. Peserta semakin terjebak dalam orientasi ekonomi (kalau boleh dibilang industrialisasi burung berkicau). Saya tidak tahu siapa dahulu yang memulai pertama kali, apakah penyelenggara yang memancing atau peserta yang terlalu menuntut.

2. Penyelenggara lomba (panitia) semakin sulit mengembangkan nilai-nilai lain yang lebih berkualitas (luhur), karena lomba semakin tidak menguntungkan secara finansial bagi panitia…

Tidak ada uang lebih untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang bersifat community, social, dan relationship bagi sesama penghobby.

BAGIAN II

Hadiah lomba membuat peserta makin matrek

Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai di sini, dalam pikiran saya masih terus bertanya: bagaimana caranya panitia bisa memberikan hadiah hingga puluhan juta rupiah kepada satu pemenang (hampir selalu jenis anis merah)? Untuk menjawab penasaran ini, saya mencoba melakukan semacam riset kecil-kedlan berbagai lomba yang diiklankan di majalah Agro Burung. Riset literatur ini dilakukan secara acak dalam majalah Agro Burung edisi Mei 2009 sampai dengan Mei 2010.

Untuk memudahkan melakukan analisa, dalam riset ini saya melakukan beberapa hal menyangkut pengelompokan, definisi, dan penggunaan asumsi, sebagai berikut:

A. JENIS LOMBA DIBAGI MENJADI 5 KLASIFIKASI (GROUP):

1. Latpres: hadiah utama lebih kecil/sama dengan Rp 1.000.000,-

2. Lomba Kecii: hadiah utama Rp 1.000.000-3.000.000,–

3. Lomba Menengah: hadiah utama Rp 3.000.000 – 5.000.000,-

4. Lomba Besar: hadiah utama Rp 5.000.000- 10.000.000,-

5. Lb. Sangat Besar: hadiah utama minimal Rp 10.000.000,-

B. KLASIFIKASI NILAI HADIAH DIBEDAKAN MENJADI:

1. Klas Hadiah Utama:

a. Latpres: klas dengan peringkat hadiah paling tinggi (executive)

b. Lomba: k!as dengan hadiah minimal Rp 3.000.000,- ke atas

2. Klas Hadiah Non Utama:

c. Latpres: klas dengan ranking hadiah kedua ke bawah (klas bintang/favofit)

d. Lomba: klas dengan hadiah kurang dari Rp 3.000.000,-

C. JUMLAH PESERTA:

Menggunakan asumsi rata-rata peserta berdasarkan pengalaman pribadi selama mengikuti lomba selama akhir-akhir ini (estimasi berdasar pengamatan langsung).

TABEL 1. KLASIFIKASI LOMBA, PESERTA, DAN BESARAN BONUS LOMBA

Dari 61 sampling jenis lomba yang diriset, dapat disimpulkan bahwa semakin besar hadiah yang ditawarkan akan semakin besar potensi peserta yang mengikuti. Demikian juga, semakin besar lomba maka panitia harus semakin besar menyediakan bonus bagi pemenang. Dalam lomba latberan, saya tidak bisa mencantumkan nilai bonus pemenang karena biasanya bonus dalam latber berasal dari kontributor perorangan dan sangat bervariatif bentuk dan jumlahnya.

TABEL 2. ANALIS PENDAPATAN LOMBA

Dengan menggunakan antara total pemasukan dikurangi total hadiah untuk pemenang kemudian dibagi dengan total pemasukan, maka didapat nilai ratio brutto.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa semakin besar klas lomba (hadiah semakin besar), maka rationya akan semakin kecil.

Coba dibayangkan, bagaimana panitia bisa menyelenggarakan event lorriba sangat besar kalau hanya memegang sisa anggarannya 5%. Apakah dengan 5% ini bisa untuk membiayai honor juri, sewa tenda dan peralatan, konsumsi, iklan, keamanan, dll?

Berdasarkan pengalaman saya menyelenggarakan lomba jaman dahulu, nilai ratio brutto yang ideal adalah antara 30 – 35%, dimana panitia bisa sedikit leluasa mengelola lomba (masih ada uang lelahnya). Dengan dasar ini, maka dapat dikatakan bahwa lomba skala kecil justru semakin sehat secara finansial, atau semakin bisa mandiri.

Kemudian, dari mana panitia lomba berskala besar menutup kekurangan biayanya? Cara-cara yang bisa dilakukan adalah mencari sponsorhip atau mencari sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Berapa kira-kira dana tambahan yang harus dicari dari setiap klas lomba?

TABEL 3. PERKIRAAN DANA TAMBAHAN LOMBA

Dengan menggunakan angka ratio brutto ideal adalah 30 -35%, maka untuk lomba skala menengah memerlukan tambahan dana sekitar 24 juta, skala besar 35 juta, dan skala sangat besar 110 juta. Sementara lomba dengan skala kecil dan latpres sangat dimungkinkan bisa mandiri (tidak perlu mencari tambahan dana).

Apakah salah mencari dana tambahan dari sponshorship atau pihak ketiga pemberi sumbangan? Menurut saya sama sekali tidak salah. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah:

o Apakah masih mudah mencari pihak sponsor yang sanggup menutup kekurangan dana sebesar itu?

o Apakah industri lomba burung cukup menarik bagi sponsor untuk pemasaran produknya (produk elektronik, motor, rokok, pakan burung, perajin sangkar, dll)?

o Apakah masih mudah mencari orang-orang yang dengan tulus memberikan sumbangan? Sebab, pada umumnya pemberi sumbangan adalah orang-orang yang juga aktlf mengikuti lomba burung. Apakah panitia juga enak rasa, jika tidak memenangkan gacoan pemberi sumbangan?

Saya hanya mengkhawatirkan apabila sltuasi dan kondisinya ternyata bertolak belakang, apakah di masa mendatang kita masih bisa menikmati lomba burung dengan skala besar (prestisius)? Mungkin sudah waktunya mulai dari sekarang semua pihak ambil bagian mendorong bagaimana suatu lomba burung bisa mandiri di dalam penyelenggaraannya:

1. Pihak Peserta:

- Harus ada kesadaran kalau mau hadiah besar, harusnya mendaftar dengan harga tinggi.

- Prestisius kemenangan burung bukan pada nilai hadiah, tetapi adalah kebesaran nama burung yang mengikat menjadi satu dengan si pemiliknya.

- Nilai ekonomi burung harus dikembalikan pada seberapa sering berprestasi, yang pada akhirnya mempengaruhi harga transaksi burung ketika diminati orang lain, dan bukan pada hadiah langsung saat lomba.

3. Pihak Penyelenggara:

- Harus mampu menciptakan kreativitas kemasan lomba yang menarik di luar faktor besaran nilai hadiah semata. Misal, menyisakan alokasi waktu saat lomba untuk acara “boot camp”, sarasehan, dsb.

4. Pihak Event Organizer (PBI, BnR, dsb):

- Harus mampu mendorong komunitas penghobby bukan semata karena sudut pandang ekonomis, namun bisa menciptakan suatu social community yang positif, misal dari sudut pandang seni budaya.

Semua sepakat bahwa lomba burung adalah tradisi budaya yang bernilai luhur bagi bangsa kita, dan harus dipupuk dalam suasana harmonis.

Ada baiknya lomba burung nantinya tidak disebut sebagai LOMBA yang mengarah pada arti sempit berkompetisi (yang kadang menghalalkan segala cara).

- Dampak negatif dari industrialisasi lomba burung semakin bisa dilihat: antar peserta ribut/bertengkar, juri dimaki, antar event organizer saling menjelekkan, dsb.

Apakah ini akan dibiarkan terus-menerus sampai anak cucu kita yang bakalan mewarisi seni budaya yang luhur ini?

Kelas utama

Sekarang saya ingin mengetahui lebih jauh, mengapa klas utama bisa diberi hadiah berlipat-lipat kali dari klas di bawahnya? Sudah menjadi rumusan umum, bahwa klas utama jenis anis merah pasti akan diberi hadiah pemenang berlipat kali dengan jenis burung lain yang klas lombanya di bawahnya.

Contohnya begini, klas utama (paling bergensi) anis merah denganpendaftaran Rp 200.000,- jika menang mendapat hadiah Rp 10.000.000 atau lebih. Tetapi, di klas ketiga dengan pendaftaran Rp 100.000,- hanya mendapat hadiah Rp 2.000.000,-. Apakah ini cukup adil?

TABEL 4. RATIO HADIAH KLAS UTAMA VS KLAS NON UTAMA

Dari tabel di atas nampak, bahwa dalam setiap klasifikasi tomba menengah ke atas ratio untuk hadiah utama jauh lebih kecil dari klas non utama. Bahkan, mulai lomba skala besar dan sangat besar ratio klas utamanya minus.

Cara membaca data tersebut adalah demikian, contohnya untuk lomba skala besar (no. 4):

- Ratio untuk hadiah klas utama = – 34%. Artinya, hasil pendaftaran (pemasukan) dari klas ini tidak cukup untuk menutup biaya hadiahnya sendiri.

- Ratio untuk hadiah klas non utama – 36%. Artinya, pemasukan dari klas-klas ini (di bawah klas utama) mampu menutup biaya hadiahnya sendiri dan mungkin justru berlebih.

Kelebihan inilah yang berpotensi untuk menutup kekurangan untuk hadiah klas utama.

Arti dari semua ini adalah bahwa hadiah bagi klas utama yang nilainya berlipat kali daripada klas non utama, justru hadiahnya disumbangkan dari klas di bawahnya.

Dengan kata lain, yang kecil menyumbang yang besar…

Jangan sampai suatu saat berkembang menjadi yang kecil ditindas oleh yang besar. Apalagi kondisi ini ditunjang kenyataan bahwa pada umumnya pemenang klas utama ini adalah burungnya yang itu-itu saja. Anda mungkin tidak sulit menyebut burung anis merah mana yang menguasai setiap event lomba besar.

Memang tidak salah burung-burung itu menang, karena (katanya) belinya sudah ratusan juta rupiah. Namun, dengan menggunakan hitungan matematika biasa kita bisa menghitung bahwa hanya dengan menang puluhan kali di event besar maka harga belinya akan kembali. Lagi-lagi hitungan ekonomis… sayangnya pengembalian investasi ini disokong dari golongan lomba klas di bawahnya.

Pantas saja, para jawara-jawara (kalau boleh disebut begitu) hanya akan turun di klas-klas utama saja.

Saya jarang menjumpai burung-burung jawara ini muncul menjadi pemenang klas non utama. Mungkin kalah atau tidak diikutkan dengan pertimbangan ekonomi tadi atau karena takut malu bila kalah di klas yang lebih bawah?

Lalu bagaimana sebaiknya agar peserta klas non utama (lebih kecil dari klas utama) tidak merasa “diperas” oleh klas utama?

Ada baiknya para event organizer mulai memikirkan bagaimana indahnya apabila burung bisa bertarung di kualitas (klas) yang setara. Meniru pertarungan tinju profesional, bahwa antar petinju hanya akan bertarung di klas yang setara (klas nyamuk, klas ringan, klas welter, klas berat, dsb).

Seperti halnya dalam ilmu sosial, bahwa semakin tinggi status sosial orang, maka bukan nilai materiil (hadiah) lagi yang dikejar. Saya yakin, bahwa para pemilik burung-burung klas jawara bukan semata mencari hadiah langsurig dari setiap event lomba.

Saya percaya bahwa bos-bos ini masih mempunyai rasa malu apabila “menerima sumbangan” dari kelompok yang lebih kecil.

Di atas kita sudah membedah bagaimana fairness dari setiap klas lomba, selanjutnya kita akan melihat fairness dari hadiah yang diterima aiitara juara 1, 2, 3, dan seterusnya sampai dengan juara 10.

Mungkin para peserta lomba tidak pernah terusik dengan kenyataan bahwa juara 1 mendapat hadiah Rp 3.000.000,- dan juara 5 s/d 10 hanya mendapat hadiah Rp 150.000,- (hanya kembali uang pendaftaran).

Apa beda juara 1 dengan juara 10 secara hitungan matematika? Logikanya, juara-1 kualitasnya 10 kali di atas juara 10. Tapi, hadiah yang diberikan kenapa juara 1 bisa menjadi 20 kali juara 10?

TABEL 5. AGREGAT RANKING HADIAH LOMBA

Dari analisa agregat hadiah kejuaraan tersebut, terlihat bahwa lomba skala kecil jauh lebih fair bagi peserta lomba. Dengan kata lain, juara 10 di lomba skala kecil jauh dihargai daripada menjadi juara di lomba skala yang lebih besar. Atau, dengan sudut pandang terbalik, bahwa burung juara 1 akan lebih dihargai dalam lomba skala lebih besar (agregatnya lebih besar).

Tapi perlu diingat dari analisa sebelumnya, bahwa hadiah untuk klasifikasi klas utama disokong dari klas di bawahnya, maka sebaiknya para pesarta harus pandai-pandai memilih lomba yang akan diikuti.

Peserta harus bisa introspeksi diri (sadar diri) menilai gacoannya masing-masing, di klasifikasi lomba mana layak akan diikutkan. Apabila gacoannya masih klasifikasi kualitas/ prestasi “biasa”, maka jangan sekali-kali masuk ke lomba skala besar, kecuali hanya mau spekulasi.

Sebaliknya, bagi peserta yang gacoannya memang sudah klas “jawara” lebih baik masuk ke klasifikasi lomba besar karena akan cepat kembali investasinya (kalau hanya memikirkan hitungan ekonomi).

Pelajaran apa yang bisa saya petik dari kondisi lomba di jaman sekarang:

1. Pada akhirnya, sekarang saya menjadi mengerti mengapa burung-burung “jawara” hanya akan muncul di klasifikasi event lomba besar dan hanya di klas utama saja. Di samping faktor hitungan ekonomi memang masuk akal, mungkin juga supaya gengsinya tidak turun bila kalah dalam skala lomba dan/atau klas yang lebih rendah.

2. Saya semakin memahami mengapa hari-hari ini semakin banyak (dinamis) lomba skala kecil diadakan dimana-mana daripada lomba skala besar. Kita justru semakin dipusingkan mau ikut di latber atau latpres di mana, karena jadwalnya tumpang tindih dan hampir setiap hari ada. Tetapi justru sekarang semakin jarang ada lomba skala besar, mungkin panitia sulit mencari donatur untuk mencukupi biaya penyelenggaraan.

3. Semakin sulit menemukan persaudaraan yang bertahan lama dalam sesama penghobby (community) burung berkicau. Justru, di media kita sering menemukan banyak polemik dan saling menjelekan teman/saudara lain.

4. Kita harus bisa introspeksi di mana posisi gacoan-gacoan kita untuk bisa manempatkan diri di klasifikasi mana gacoan kita akan diterjunkan.

Pada akhir dari tulisan saya ini, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini.

Tanpa ada maksud ingin mengurangi daya tarik peserta terhadap suatu lomba, namun lebih mengarah ingin membangun situasi dan kondisi lomba lebih fair, berkualitas dan dicintai dalam kurun waktu sepanjang mungkin. Di samping itu, ini juga bentuk kepedulian saya terhadap seni budaya lomba burung berkicau agar bisa diturunkan kepada generasi kita selanjutnya.

Saya sendiri berpendapat, bahwa hobby harus dinilai dari sisi sense of love, bukan materi belaka. Ada lomba atau tidak ada lomba, saya tetap akan memelihara burung berkicau karena saya memang mencintainya. (Habis)

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain. Agar tidak tertipu, pastikan Anda membaca artikel ini (klik saja).

Cari cepat artikel di omkicau.com, silakan ketikkan kata kunci pada kolom pencarian di sini.

Cek artikel-artikel penting yang kami rekomendasikan:

Navigasi Utama:

Find us on Google+

About these ads

16 pemikiran pada “REVOLUSI LOMBA BURUNG INDONESIA

  1. Artikel yg bagus, kalo boleh usul event lomba bisa tidak dibuat spt ajang motoGp misalnya. Kontestannya sudah didata dahulu dan harus mempunyai ciri spesifik, karena yg akan ikut lomba ya burung itu – itu saja. Cuma juaranya mengacu pada total nilai di akhir. Gmn?…
    Maaf kalo kurang berkenan. Saya hanya hobby rumahan saja, belum ada niatan ke ajang lomba (wong cuma punya burung bahan). Salam.

  2. Salut dengan ulasannya yang detail dan menarik, sudah lama sekali sejak beliau pindah tugas dari Sumatera tidak berjumpa dengan Pak Sapto, rasanya senang bisa membaca ulasannya dan bangga sebagai bekas anak buah Pak Sapto. Makasih Om Duto sudah posting di Klub Burung sehingga saya bisa membacanya.

  3. saya setuju dengan apa yang om tulis diatas, sepertinya om udah senior soal lomba. masalhnya sekarang, untuk mengembalikan nilai2 yang om utarakan diatas tentu tidak mudah, apalagi sekarang ini pihak penyelengara lebih mengutamankan keuntungan mereka, dari pada sprotifitas lomba itu sendiri. sehingga kalau menurut saya banyak peserta yang merasa dirugikan. bagaimana kalau om buat penataran untuk para juri? agar juri2 lomba burung kita lebih punya kwalitas bukan hanya sekedar dari pengalamnya saja, tapi mereka juga harus mampu menciptakan lomba yang berkwalitas tinggi, dengan menjunjung sportifitas mereka sendiri. saya setuju dengan kupon nasi bungkusnya om, semoga pihak penyelengara sekarang, juga bisa melakukan hal yang sama. makasi om

  4. hebat benar uraianya jelas n lengkap. sejauh ini menurut saya lomba yg fair hanya di paburi (tanpa teriak jadi penonton bisa tahu mana burung yg layak juara) jk ada selisih maka juri akan menerangkan kelebihan dan kekurangan burung yg menjadi permasalahan itu.dan suasana kekerabatan disitu sangat kental sekali (bukan memuji tapi datang n buktikan sendiri) salam kicau mania

  5. lomba yg fair hanya di paburi (tanpa teriak jadi penonton bisa tahu mana burung yg layak juara) jk ada selisih maka juri akan menerangkan kelebihan dan kekurangan burung yg menjadi permasalahan itu

  6. wah…analisa yg daleemmm…
    ane pernah ngerasain lomba tahun ’97an, memang jauh lebih “adeeemmm…”^_^
    tiket beli dilapangan dalam amplop, rame-rame antri konsumsi makan siang, undian door prize rameee…kalo gaco kerja bagus, pulangnya bawa piala gueedeee…^^
    mungkin gak, ada yg ngadain lomba kaya gitu lagi?^^

  7. sy berharap smoga event organizer dan juri2 di event lomba kicau manapun beserta kicau mania bisa mengambil langkah yg positif dari artikel ini, salam om yus from kicau mania bekasi

  8. sungguh sangat menarik, ada beberapa point dlm artikel ini yg saya inget dan perlu ditumbuh kembangkan kembali, al:
    1. menurunnya nilai persaudaraan dan kebersamaan.
    2. tolok ukur pemeliharaan burung adalah bisnis semata.
    3. persaingan PRISTICE event lomba antara “paguyuban yg satu dg yg lain”.
    4. beberapa kriteria penilaian lomba yg sering kali msh membingungkan.
    5. dll.
    saya memelihara burung dari th 1997-sekarang…tapi ikutan lomba bisa dihitung dg jari, pertama karena blm punya gaco yg bagus dan kedua lbh suka melihat dari pd ikutan lomba. yg patut disayangkan adalah tidak ada wadah/tempat/waktu untuk MENSUPPORT, diskusi tentang perawatan yg BAIK DAN BENAR agar burung tetep sehat dan bernyanyi. khususnya support bagi pemula.

    salam.

  9. Menarik sekali ulasannya…dan sangat tepat om Kicau memposting ulang artikel ini disini…
    memang agak capek bacanya karena artikel sangat panjang….tapi artikel ini sangat-sangat cerdas mengkaji perkembangan hobi burung di Indonesia…

    semoga direspon oleh kawan-kawan penggiat lomba burung dengan bijaksana….

  10. betul om sekarang hobi burung sudah seperti industri, sekarang orang pelihara burung bukan karena hobi untuk dengar suara burung tapi tujuan utama gimana burung bagus dan menghasilkan uang, jarang yang pelihara untuk klangenan dan kalo ikut lomba hanya sekedar ngetes suara momongan, sekarang pasti tujuannya ikut lomba menang dapat hadiah atau harga jual naik.

Om dan Tante, tanya masalah burung? Gunakan Halaman Curhat. Mohon maaf karena keterbatasan waktu dan ilmu jika banyak pertanyaan yang tidak/belum terjawab. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s